Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Bertemu kembali


__ADS_3

Brian tersenyum." Ya sudah tidak apa-apa, siapa tau bunda suka kue buatan kamu. Kan lumayan kalau bunda ada acara, bunda bisa pesan sama kamu Nai.?"


"Betul betul betul... Hihihi...." Naila terkekeh, begitupun juga Brian.


Kini Brian dan Naila sudah berada di atas motor. Kini Naila berpegangan di pinggang Brian, sebenarnya Naila bingung harus berpegang di mana. Namun tangan Brian menarik tangan Naila untuk melingkar di pinggang nya.


Naila nampak gugup, namun lain dengan Brian. Justru Brian tersenyum melihat Naila yang berpegangan melingkari pinggangnya.


20 menit perjalanan Naila dari kontrakan menuju rumah Brian, menggunakan motor nungging, atau si lancip. Kini mereka sudah sampai di kediaman rumah Brian. Di mana seluruh keluarga Brian sedang berkumpul, pas sekali hari weekend, jadi waktunya kumpul dengan keluarga.


Kini Naila sudah turun dari motor, begitupun juga Brian. Entah kenapa jantung Naila kembali merasa berdebar.


Brian tau perasaan Naila saat ini, terlihat Naila memegang bingkisan nya dengan sangat erat.


" Naila ayo masuk.!" Naila mengangguk.


'kenapa aku merasa sesak ya. Jujur aku juga sangat merindukan bunda, tapi dadaku ini kenapa sesak sekali.' Gumam Naila dalam hati.


Brian dan Naila pun berjalan menuju pintu rumah, namun saat menoleh kebelakang Naila masih diam di tempat. Dan akhirnya Brian kembali mendekati Naila.


"Ko diam si Nai, ayo masuk.!" Dan akhirnya Brian pun menggenggam tangan Naila, lalu menggandeng nya.


Naila terkejut dengan perlakuan Brian yang seperti itu. Naila hanya bisa mengikuti langkah Brian yang ada di depan nya.


"Assalamu'alaikum Bunda.." kata Brian dengan senyumnya, namun tangannya masih menggenggam tangan Naila.


Bunda Rossa dan pak Haris yang sedang duduk santai di ruang tamu. Dan mendengar ada yang mengucapkan salam mereka pun akhirnya melihat siapa yang datang.


"Waalaikumsallam... " Lalu datang lah bunda Rossa, yang melihat putra nya datang bersama seorang wanita.


Senyuman manis menghiasi di bibir wanita yang sudah tak lagi muda. Namun masih memancarkan kecantikan nya di wajahnya itu.


Bunda Rossa tersenyum melihat Naila. Naila merasa terharu bisa melihat wanita yang dulu dia anggap seperti ibunya itu.


Naila menci.. um punggung tangan bunda Rossa, dan bunda Rossa menyentuh kepala Naila. Setelah itu Naila tersenyum ke arah bunda Rossa.

__ADS_1


"Siapa namamu nak.?" Bunda Rossa tersenyum.


"Aku Naila bunda". Bunda Rossa terkejut mendengar namanya Naila.


Bunda Rossa menatap wajah anaknya, seakan bertanya apa ini Naila yang kita cari.?


Brian yang mengerti dari tatapan bunda nya, lalu mengangguk kan kepalanya dan tersenyum. Lalu bunda Rossa menatap wajah Naila, yang kini bunda sentuh. Dan seketika air mata Bunda pun mengalir, begitu pun juga Naila. Yang sudah tak kuasa menahan air matanya itu untuk menetes di pipinya.


"Jadi kamu Naila anak almarhumah Dina.?" Naila mengangguk.


"Iya Bun, aku Naila anak ibu Dina dan ayah Fahmi. Hiks hiks hiks...." Dan Naila pun akhirnya menangis.


"Anak bunda, sini sayang. Uuuuuuhh.. Sini sayang ..!" Sambil merentangkan tangannya seraya ingin mem.eluk Naila.


Akhirnya Naila pun kini berada di pelu.kan Bu Rossa. Naila sangat merindukan pelukan seorang ibu yang sudah lama ia inginkan rasakan. Di pelu..kan Bu Rossa lah, Naila kini kembali merasakan hangatnya dekapan ibu.


'Cukup lama aku merindukan dekapan seorang ibu, yang begitu hangat. Kini aku merasakan nya kembali, Trimakasih tuhan kau mempertemukan ku dengan wanita yang ku anggap seperti ibuku.'


Brian pun yang melihatnya ikut menitikan air mata, karena terharu melihat dua wanita yang kini sedang melepaskan rindu. Ya Brian tau kalau Naila begitu dekat dengan Bunda nya itu, begitupun sebaliknya. Mangkanya Brian berusaha keras untuk mencari Naila selama ini.


"Bunda kamu kenapa sayang, kenapa kamu menangis dengan gadis ini.?"


Bu Rossa melepas Naila, namun tangan beliau merangkul pundak Naila. Bu Rossa tersenyum melihat ke arah suaminya.


"Ayah, pasti ayah gak akan percaya. Ayah gadis ini, yang selama ini kita cari. Dia Naila Aprilia, anak dari Fahmi dan Dina sahabat kita.?"


Pak Haris terkejut mendengar kalau gadis di depannya itu adalah Naila. Pak Haris melihat ke arah Brian, dan Brian pun mengangguk sebagai bentuk jawaban kalau itu benar.


"Kamu benar Naila .?" Naila pun mengangguk.


"Iya ayah,aku Naila anak ayah Fahmi." Naila menge.. cup punggung tangan pak Haris sebagai bentuk rasa hormat.


"Naila, akhirnya putri kamu sekarang kembali. Trimakasih ya Allah, Fahmi putri kamu sekarang bersama kami". Pak Haria mem..eluk Naila.


Pak Haris sudah menganggap Naila seperti putri nya sejak Naila kecil.

__ADS_1


"Trimakasih Brian kamu memang putra ayah yang hebat. Kamu bisa membawa Naila kembali kesini." Brian pun tersenyum.


Dan dari dalam ada pria yang mendengar dan memperhatikan ayah dan Bunda nya, sangat dekat dengan gadis yang datang bersama kakak nya. Ya pria itu adalah Denis, lalu Denis pun menghampiri ayah dan bundanya.


Naila menangis tersedu-sedu, pak Haris menghapus air mata Naila.Dan itu dilihat oleh Denis, bertapa bahagia nya wajah kedua orang tuanya saat ini. Walaupun ada air mata di antara merek, tapi Denis melihat senyum di bibir mereka semuanya.


"Sudah jangan sedih lagi, sekarang kamu tidak sendiri lagi. Ada ayah ,bunda Brian Denis dan Debby." Naila pun mengangguk.


"Ayah, bunda." Panggil Denis membuat semuanya menoleh ke arah Denis." Siapa dia bunda, kenapa kalian menangis dan tersenyum seperti ini.?"


"Denis, tebak ini siapa.?" Tanya pak Haris, dan Denis menggelengkan kepalanya.


Mata Denis masih mengamati wajah gadis yang ada di depannya. Entah kenapa Denis sendiri seperti kenal bahkan merasakan rindu dengan gadis di hadapannya ini. Naila hanya tersenyum melihat sahabatnya itu, saat kecil hanya dia yang selalu menolongnya.


"Denis ini gadis saat kecil , teman kamu dan Debby bermain. Dia gadis yang selalu kamu tolong dan kamu bela sayang, Ini Naila sahabat kalian nak." Ucap bunda Rossa.


Denis melihat Naila, bibir Denis bergetar saat tau gadis yang ada di hadapannya ini ternyata Naila.


"Naaila...?" Naila pun mengangguk.


"Iya Denis, ini aku Naila." Tanpa menunggu aba-aba Denis segera mem...eluk Naila.


Pel...ukkan seorang sahabat, saudara yang tidak pernah bertemu bertahun tahun. Semua itu tak luput dari pandangan Brian. Brian merasa bahagia melihat adiknya dan kedua orang tua nya bisa berjumpa dengan Naila kembali. Setelah Denis dan Naila rasa cukup, mereka pun saling melepaskan pelu...kannya. Brian tersenyum menatap Naila, sahabat masa kecilnya kini berada di hadapannya. Begitupun sebaliknya, teman masa kecil, yang dahulu selalu membela dan menolongnya kini ada di hadapannya. Sekian lama tidak bertemu, kini dapat bertemu kembali.


" Ya sudah kita masuk yuk, kita mengobrol di dalam.!" Ajak bunda dan di angguki oleh Semua nya.


Bunda Rossa tak pernah melepaskan tangan nya Naila, sampai duduk pun kini bunda Rossa duduk di samping Naila.


"Sini sayang samping bunda." Suruh bunda Rossa dan Naila menurut.


" Loh ini apa sayang, kamu bawa apa nak.?"


"Ini kue untuk bunda dan semuanya. Dan ini buatan aku sendiri, semoga kalian suka dengan kue nya.?"


"Ya ampun sayang kenapa jadi repot repot si Nai.? Jadi ini kue buatan kamu, baik bunda terima pasti Bunda yakin ini pasti sangat enak." Bunda Rossa mengambil bingkisan yang Naila berikan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2