
" Buka yang lain, buka apa ya.?" Devi memikirkan perkataan suaminya itu.
" Aaaaahhh... Maksud Kamu buka amplop kondangan mas. Ayo ayo mas, kita lihat isi amplop nya, aku juga penasaran. Hihihi....."
Denis pun menepuk keningnya, karena merasa frustrasi dengan jawaban istrinya itu.
"Astaga Devi, bukan buka amplop. Tapi buka yang lain, kenapa otak kamu ke amplop sih.?" Denis merasa gemas dengan sikap Devi yang tidak peka.
"Bukan buka amplop. Terus buka apa si Denis, sumpah aku gak ngerti." Devi kebingungan di tambah lagi ekspresi Denis sedikit cemberut.
"Buka lahan pertanian, biar aku bisa nabur bibit unggul ku. Haaaah... Kamu masih gak paham....?" Denis dengan wajah menahan kesalnya.
Ingin sekali Denis menerkam Devi saat ini juga, namun Denis harus bisa menahan nya. Denis tidak ingin memaksakan Devi agar menuruti keinginannya, untuk pertama kalinya. Denis ingin memberikan kesan manis, agar Devi bisa mengingat nya dengan indah tentang malam pengantin nya itu .( Cihiiii.... Gaya loh Denis. Author jadi malu nih... Hihihi....)
Devi nampak berpikir keras, karena melihat wajah Denis, yang kini sudah berstatus sebagai suaminya itu. Devi merasa pernah mendengar perkataannya Denis itu, tapi entah siapa yang mengucapkannya ya.?
Devi melotot saat mengingat kalau Naila pernah mengatakan itu bersama Debby juga. "Bibit unggul, tanda nya. Apa yang di maksud Denis itu. Malam pengantin yang... Bod*h kamu Devi, masa kamu ga peka si. Pantas Denis cemberut begitu, saat aku ingin sekali membuka kado dan amplop kondangan. Jadi ini yang di maksud Denis, abis lah aku malam ini.." Devi bergumam sendiri dalam hatinya.
Devi cengar-cengir, kepada Denis.
" Maaf ya Denis, aku memang gak peka..?"
"Eeemmm...." Jawab nya dengan melirik Devi ." Terus sekarang kamu sudah peka,apa yang aku maksud.?" Sambil menahan senyumnya.
Devi mengangguk kan kepalanya, dan senyuman di bibir Denis pun tersenyum mengembang.
" Beneran kamu paham apa yang aku maksud.?" Devi mengangguk." Apa kamu sudah siap.?"
__ADS_1
"Hihihi..... Siap 100 % mah belum Denis. Tapi kalau untuk beberapa persen aku sedikit siap. Sekedar pemanasan saja, asal kamu tidak marah sama aku. Hihihi...." Jawab Devi dengan cengengesan.
"Oke, kita melakukan pemanasan saja dulu. Tapi jika memang terlanjur panas, ya kita mulai olah raganya ya. Bagaimana kamu siap gak.?" Devi mengangguk, sedang kan Bibir Denis berkedutan menahan tawanya.
Entahlah sebenarnya Denis bingung apa yang dia bicarakan itu. Denis sudah merasa gemas dengan sikap Devi, yang tidak peka akan keadaan nya saat ini ..
Denis membawa Devi ke tempat tujuan nya, yaitu tempat tidur yang sudah di hias dengan bunga-bunga. ( Beuuh..) kini berdua duduk saling berhadapan, dengan Denis yang sudah menggenggam tangan Devi dengan erat. Tentunya jantung Devi pun ikut berdebar sangat cepat saat ini. Devi merasa kalau saat ini jantung nya seakan sedang bermain trampolin di dalam. Jantung Devi seperti loncat loncatan saat ini.
Denis sendiri paham apa yang saat ini Devi rasakan. Karena Denis tau kalau Devi tidak bisa di tatap terus menerus seperti ini. Karena selama ini setiap kali Denis menatap wajahnya, Devi seakan mengalihkan pandangannya dari Denis. Dan itu membuat Denis semakin merasa gemas, sekaligus penasaran dengan sikap istrinya ini.
"Eeemmmm.... Den... Denis, aku mohon jangan tatap aku seperti itu, aku malu jika kamu tatap seperti itu.?" Kata Devi dengan gugup, dengan muka memerah.
" Kenapa, kan kamu sudah SAH menjadi istri ku sekarang. Masa aku masih gak boleh menatap wajah istri ku sendiri, terus aku harus menatap siapa dong..?" Denis menggoda Devi saat ini..
"Eeemmm ... Boleh si, cuma aku belum terbiasa akan hal ini. Aku malu Denis kalau terus kamu pandangi seperti ini....?" Jawab nya Devi dengan gugup.
" Yasudah kamu tutup mata kamu, biar kamu gak malu. Sampai kamu terbiasa akan hal baru yang akan kita lakukan ini. Sayang sekarang kamu tutup mata kamu, dan kamu rasakan saja nanti ya. Kita sama sama yang pertama melakukan ini, aku janji aku tidak akan melakukan yang akan membuat kamu kesakitan.. Aku akan melakukan nya juga dengan hati hati, Kamu percayakan sama aku.?" Devi pun mengangguk, dan Denis pun tersenyum mendapatkan anggukan dari Devi.
Denis tersenyum saat melihat Devi sudah memejamkan matanya. Tentunya Denis merasa senang bukan main, karena saat ini gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta. Kini sudah berada di hadapannya.
Denis menarik nafasnya, lalu membuangnya. Denis melakukan nya sampai 3x, agar dirinya tidak gugup. Denis lalu tersenyum, dan mendekat kan wajahnya, ke wajah Devi. Semakin lama wajah mereka, sudah tidak memiliki jarak. Dan Denis bisa merasakan hembusan nafas dari Devi saat ini. Denis pun akhirnya juga memejamkan matanya, dan tidak ada jarak saat ini.
Dan bibi* mereka saat ini,sudah menempel. Denis dan Devi pun saat ini bisa merasakan bibi* nya. Denis pun berhasil mengecu* bibi* Devi untuk pertama kalinya. Karena bagi Denis, kalau Devi tidak seperti wanita lain yang mudah memberikan ci* man nya kepada pria. Devi tidak seperti itu, Mangkanya Denis bisa jatuh hati kepada Devi, karena Devi itu istimewa bagi Denis.
Denis mencoba memperdalam lagi permainan nya,di mode awal nya itu. Karena Denis tau, kalau ini yang pertama kalinya bagi Devi. Karena ci*man nya Devi, masih terbilang kaku.
Dan tiba tiba mata Devi terbuka, dan menyentuh Denis untuk di hentikan awal pemanasan nya.
__ADS_1
Devi kehabisan nafas, berusaha menetralkan rasa sesak nya karena merasa sangat gugup. Terlihat sekali wajah Devi memerah karena sangat malu saat di tatap Denis, apalagi permainan awalnya masih terlihat kaku.
"Baru juga tahap pemanasan di awal. Kamu sudah kehabisan nafas, dan berhenti. Bagaimana kita melakukan olahraga nya sayang, untuk ketahap selanjutnya.?" Denis menggoda Devi dengan senyum nakal nya.
"Maaf Denis, untuk pemanasan aja aku masih kaku. Aku tidak seperti kamu yang sepertinya sudah terbiasa, dengan pemanasan itu..." Sindir Devi, dan Denis pun tersedak mendengar perkataan Devi.
Denis pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan tersenyum salah tingkah.
"Memangnya kamu mau ngapain sayang. Kamu haus.?" Devi menggelengkan kepalanya." Terus kamu mau ngapain , hemm...?" Denis mencoba mengalihkan pembicaraan nya.
" Eeemmm..... Sebenarnya aku tiba-tiba teringat ucapan Debby tadi. Dia bilang dia memberikan kado untuk aku, agar kamu senang katanya. Dan hadiahnya juga harus di buka malam ini juga, katanya spesial buat kita. Mangkanya aku langsung minta menghentikan pemanasan nya..."
"Kamu mengingat, perkataan Debby. Yang memberikan kado untuk kamu, dan segera di buka juga secepatnya. Di saat kita sedang melakukan pemanasan , Astaga Devi. Gimana aku tidak gemas sama kamu. Terus kamu mau cari dan buka kado dari Debby itu.?" Devi pun mengangguk. Denis pun membuang nafasnya dengan kasar.." Yasudah kamu buka hadiah dari Debby, sekarang. Setelah itu, aku tidak mau kamu membuka hadiah pemberian dari yang lainnya. Bisa bisa sampai pagi kalau kita membuka semua hadiahnya.."
"Maaf Denis, kamu jangan marah dong. Aku kan hanya mengingat nya perkataan Debby. Hanya kado nya Devi aja ko.?"
Flashback
Saat Debby sedang membantu Devi melepaskan mahkota kecil dan jepitan di kepala Devi. Karena acara pun sudah selesai, Devi pun sudah lelah. Dan Mangkanya Debby membantu melepaskan nya.
"Devi, aku punya sesuatu buat kamu dan Denis kembaran ku. Tetapi hadiahnya buat kamu, kamu pakai ya. Aku yakin Denis akan terkejut dan nantinya kamu akan begitu sepesial di mata Denis. Aku yakin, Denis akan menyukai hadiah pemberian ku ini.?" Debby sambil tersenyum." Tapi di bukanya harus malam ini, jangan besoknya. Karena ini sepesial buat kalian, ingat ya malam ini juga harus di buka dan di pakai.!"
"Memang apaan sih Debby, hadiahnya. Ko kamu sampai bilang kalau Denis akan menyukai hadiah pemberian kamu itu. Tapi kenapa harus aku yang pakai, kenapa tidak Denis saja yang pakai hadiahnya." Jawab Devi.
Debby pun diam seketika, dan langsung tertawa terbahak-bahak. Mendengar perkataannya Devi, Debby tertawa geli sekali sampai mengeluarkan air matanya.
Flashback of.
__ADS_1
bersambung..
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak 👍, dan komentar kalian ya. Agar author semangat untuk membuat ceritanya 🙏🙏🙏🤗...