
Setelah membersihkan, dan di sana juga hanya ada 1 kasur lantai. Naila berniat ingin membeli kasur 1 lagi, dan membeli perlengkapan lainnya.
Saat hendak membeli barang, pak Tommy memberikan sebuah amplop kepada Naila. Naila terkejut karena melihat isi amplop tersebut berisikan buku tabungan dan ATM.
"Apa ini paman.?"
"Itu rekening Bank kamu, untuk pegangan kamu."
"Tidak perlu paman, uang gajian aku masih ada dan cukup."
"Naila itu hak kamu, itu tabungan hasil penjualan rumah peninggalan orang tua kamu. Yang di jual oleh bibi kamu, paman sengaja meminta bagian kamu itu. Dan paman masukkan sisanya setelah membelikan motor kamu. Dan Maaf paman baru berikan kamu sekarang, karena kalau di pegang kamu, nanti bibi kamu akan merebut nya dari kamu. Karena kamu sudah tidak di rumah, kamu pegang ini dan kamu simpan baik-baik ya nak.?" Naila pun mengangguk.
"Iya paman, terima kasih ya. Ya ampun paman, paman itu baik banget sama aku. Harus bagaimana lagi aku membalas kebaikan paman ini, selain mengucapkan terimakasih kepada paman.?" Dengan mata yang sudah basah karena terharu dengan kebaikan pamannya itu.
"Kamu ngomong apa si Nai, gak usah membalas segala. Kamu itu keponakan paman, Sampai kapan kamu tetap keponakan kesayangan paman. Dengan melihat kamu sehat dan bahagia, itu sudah buat paman bahagia. Semoga kebahagiaan menyertai kamu ya nak, sekarang paman tidak khawatir akan kamu selalu di marahin bibi kamu. Pesan paman Kamu harus jaga diri baik-baik, jadi lah Naila yang selalu ceria seperti dulu ya nak." Naila mengangguk.
"Terimakasih paman, paman juga harus jaga kesehatan ya di rumah."
"Ya nak, kamu jangan khawatir. Pasti paman dan Melly akan merindukan kamu. Nanti kalau paman dan Melly rindu kamu, paman akan main kesini jenguk kalian."
"Ya paman ajak Melly ya paman.?" Pak Tommy mengangguk.
"Yasudah yuk,kita berangkat keburu panas". Naila mengangguk.
Akhirnya Naila dan pak Tommy menaiki motor dan berangkat menuju pasar untuk membeli keperluan baru mereka.
Naila sedang memilih barang yang akan di gunakan untuk dirinya dan Devi.
Dari membeli kasur busa, Bantal guling, kompor dan perlengkapan lainnya. Tidak terlalu banyak yang Naila beli, hanya untuk keperluan yang penting di kontrakan.
Setelah selesai membeli barang, Naila dan pak Tommy kembali ke kontrakan Naila. Dan mereka menata barang barang, setelah selesai pak Tommy pun pamitan, kepada Naila. Kalau pak Tommy akan kembali ke toko roti karena akan bertemu teman lamanya, sekaligus pamitan untuk kembali kerumah.
Akhirnya pak Tommy pun ke toko roti untuk berbincang dengan teman lamanya, setelah cukup lama Tommy mengobrol, pak Tommy pun akhirnya pamit untuk Pulang.
__ADS_1
Keesokan harinya, Naila dan Devi memulai aktifitas baru nya. Yang bekerja di toko Bakery. Di sana pun sudah ada 1 karyawan yang sudah datang,menunggu kedatangan temannya yang memegang kunci toko.
5 menit kemudian, karyawan yang bernama Rara datang.
"Hallo semuanya, selamat pagi yang cerah. Maaf ya kalian pasti nunggu, tadi ada kendala panggilan alam yang membuat aku betah di WC. Heheheh" Rara cengengesan, sedangkan teman pria yang bernama Bagas hanya menggelengkan kepalanya.
Ceklak... kunci pintu sudah terdengar terbuka. Semuanya pun berjalan masuk ke dalam toko, sedangkan Naila dan Bagas mereka masuk ke dalam produksi.
Tidak lama Anto pun datang, dan langsung masuk ke produksi.
Devi sedang di ajarkan oleh Rara, sedangkan Naila di ajari oleh Anto dan Bagas
" Nai, kamu bisa kan pecahkan kuning telur dari putih nya.?" Naila mengangguk.
" Nah sekarang kamu ambil telur nya ,berapa butir ada di catatan. Lalu kamu pisahkan ya semua telur dari kuning dan putihnya. Setelah selesai kamu timbang tepung, gula, mentega pokoknya yang sudah ada di catatan. Pokok nya berat bahan bahannya harus sesuai sama yang di catatan ya. Sekarang itu dulu ya, yang kamu kerjakan". Naila mengangguk.
Naila melakukannya dengan cekatan, Lutfi dan Anto tersenyum melihat Naila yang sepertinya sudah biasa mengerjakan itu.
Setelah selesai menimbangnya, Naila menuangkan bahan bahannya menjadi kan satu ke dalam tempat untuk di mikser . Setelah itu Naila juga membantu para seniornya untuk menyiapkan isian roti nya .
"Iya dulu aku pernah kerja di pabrik roti, hanya 1 tahun aku bekerja di sana. Itu juga hanya di bagian packing aja , tapi kadang kadang aku suka bantuin di bagian produksi. Dan aku iseng melihat cara mereka membuat bahan bahannya, dan aku coba liat mereka membuatnya. Aku sedikit bantuin mereka, aku praktekkan di rumah juga. Awalnya gagal dan bantet, berkali kali aku belajar. Eeeh .... Berhasil juga ternyata.."
"Wah berarti kamu berbakat Nai, kamu mudah menangkap apa yang kamu lihat. Dan kamu praktekkan di rumah, kamu secara otodidak Nai." Timpal Anto yang sedang menyiapkan isiannya.
"Aku belajar seperti itu, ya hanya iseng iseng. Aku pikir siapa tau aku bisa membuatnya sendiri di rumah. Atau aku bisa bekerja di tempat lain, dengan sedikit kebiasaan ku ini untuk aku jadikan pengalaman ku." Naila yang membantu Bagas mengoleskan mentega ke atas beberapa loyang besar.
Dan Naila melakukan nya, seperti sudah terbiasa. Sedangkan Devi, dia juga di bantu Rara untuk melayani pembeli roti. Ya karena Devi sudah biasa berjualan, jadi Devi sangat ramah dengan pembeli kue dan roti.
Saat jam 10 , Bu Leni sudah datang ke toko. Dan beliau pum bertanya ke Devi dan Naila.
"Hallo semuanya.. Bagaimana Dev, kerjaan baru nya. Semoga kamu betah dan kalian bisa bekerja sama ya say.?"
"Iya Bu insya Allah saya betah."
__ADS_1
"Bagus, yasudah lanjutkan ya. Saya mau ke produksi melihat Naila.?" Devi dan Rara pun mengangguk.
Bu Leni pun berjalan meninggalkan Devi, dan Rara. Lalu Bu Leni berjalan menuju produksi dimana Naila sedang membentuk adonan roti dengan dicampur isi roti.
Bu Leni tersenyum melihat cara kinerja Naila yang begitu cekatan. Bu Leni memperhatikan Naila bekerja dari depan pintu.
"Ekhem.... Assalamu'alaikum.?" Sapa Bu Leni dengan senyum ramahnya
"Waalaikumsallam Bu." Jawab ketiga karyawan yang masih fokus membentuk roti.
"Bagaimana Naila, ada kesulitan yang kamu tidak tau.?"
"Alhamdulillah belum ada Bu, dari pagi bang Anto dan bang Bagas bantuin Naila ."
"Bagus dong, kalian bertiga kompak, saling membantu dan bekerja sama."
"Itu karena basic kamu sudah bisa Nai, hanya tinggal di ulanginya lagi aja." Celetuk Anto.
" Naila mah sudah bisa mba, hanya saja harus di asah lagi kemampuannya. Selebihnya dia memang Naila bisa." Anto memujinya.
"Ooh ya kamu pernah kerja membuat Roti Mau.? "
"Tidak Bu, hanya bagian packing aja. Hanya saja saya sering membantu nya kalau lagi kewalahan kalau orderan nya masuk banyak." Jelas Naila.
"Bagus dong Naila, ya sudah semangat ya bekerja. Semoga kamu betah kerja di sini, dan kalian semua bisa bekerja sama dengan baik".
"Baik Bu"..Jawab serentak.
"Oke semangat ya bekerjanya. Kalau begitu saya masuk dulu". Para karyawan pun mengangguk.
Dan akhirnya Bu Leni pun meninggalkan para karyawan, dan masuk ke ruangannya.
Bu Leni memang pemilik toko Roti, dia mempunya outlet sebanyak 5 anak cabang. Hanya saja, Bu Leni lebih suka duduk di ruangannya yang berada di toko di mana Naila bekerja. Selain itu juga karena tidak jauh dari rumahnya, dan bisa menjemput anaknya sekolah.
__ADS_1
Suaminya Bu Leni yang bernama Alfin, dia bekerja sebagai karyawan tetap di perusahaan-perusahaan bagian Admin. Sedangkan pak Tommy dan pak Alfin mereka adalah Teman SMA. Pak Alfin sendiri juga mengenal Fahmi yang tak lain ayah dari Naila. Mangkanya Alfin menyuruh Tommy agar Naila untuk bekerja di toko milik istrinya. Dan di sana belakang toko ada kontrakan di mana pemiliknya adalah teman dari istrinya, dan masih bersaudara.
Bersambung....