Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Raka dan Debby


__ADS_3

Tanpa izin tanpa apapun, Brian langsung menyambar kesempatan di depan mata nya saat ini. Brian melahap bi...bir Naila yang ranum.


Mmmmpppphhh..... Mmmmpppphhh... Mata Naila sudah melotot, tapi Brian tidak peduli.


Setelah puas dengan permainan dan kejahilan nya, barulah Brian melepaskan permainan yang membuat Naila hampir kehabisan nafasnya.


Brian Lalu tersenyum menatap istrinya itu, yang sedikit maju bibir nya.


"Itulah resikonya kamu berniat menjahilinya suami mu Brian Alamsyah. Mangkanya jangan jahilin aku, kenakan sering sering lah seperti ini. Aku semakin suka sayang.." Brian tersenyum melihat Naila yang cemberut, dan bibirnya sedikit bengkak karena ulah suami nya.


30 menit kemudian Brian sampai di rumah bunda Rossa. Dan Raka masih setia menunggu Brian dan Naila datang. Raka di sana di temani oleh Denis.


Raka tersenyum saat melihat teman kecilnya kini datang bersama istrinya teman masa kecilnya juga.


Raka tersenyum.


"Hallo brother, apa kabarnya nih. Ya ampun udah lama banget kita gak ketemu." Raka menghampiri Brian yang juga menghampiri Raka. Mereka saling berpe...lukan persahabatan karena sudah lama tidak bertemu.


"Bagaimana kabar kalian sehat sehat kan.?"


"Ya seperti yang kamu lihat, aku sehat kamu sendiri bagaimana ka.?"


"Ya beginilah, seperti yang kamu lihat Alhamdulillah baik." Raka melihat ke arah Naila, dan tersenyum.."Hallo Naila, apa kabarnya. Masih ingat gak sama aku, teman masa kecil dulu.?" Raka mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Naila pun juga membalas salamnya Raka.


"Iya aku ingat, kamu dan mas Brian sama nya suka ngejahilin aku." Jawab Naila dengan tersenyum.


"Yayaya itu semuanya karena ide jahilnya Brian."


"Sama saja kalian itu. Tidak seperti Denis yang selalu membantuku, dan selalu baik dengan aku."Naila memuji Denis dan Denis pun tersenyum.


Dan itu membuat Brian sedikit tidak nyaman dengan ucapan istrinya, yang memuji adiknya.


"Hahahaha... Iya ya padahal kalian begitu dekat, ternyata kamu malah menikah dengan Brian yang suka menjahili kamu... Jodoh memang tidak ada yang tau ya.?" Dan itu malah membuat Denis merasa tak enak hati.


Naila dan Brian hanya menanggapinya dengan tersenyum.


Dan Raka batu tersadar sepertinya ada yang salah dengan ucapannya.


"Ow iya aku punya sesuatu buat kalian. Nih hadiah untuk kalian.?" Raka memberikan kotak berwarna hitam.

__ADS_1


"Semoga kalian suka dengan Hadiahnya..?"


"CK kamu pakai kasih hadiah segala sih Ka.?" Brian mengambil pemberian Raka.


"Iya pakai repot repot segala, Terimakasih ya hadiahnya..?" Raka mengangguk..


"Terus untuk aku dan Debby gak ada nih, hanya kakak dan Naila..?" Sindir Denis, Raka tersenyum karena sindiran Denis.


"Ada ." Raka mengambil dari tas nya.


"Ini,.semoga kamu suka Den..?"


Denis mengambil kotak yang lebih panjang dari milik Brian.


"Waahh dapet padahal tadi aku hanya berguyon saja ka.Aku buka ya?" Dengan tidak sabar Denis pun membukanya.


" Wah minyak wangi, wanginya enak lagi. Trimakasih ya Raka.."


Raka pun mengangguk. Dan akhirnya mereka ber 3 pun mengobrol. Sedangkan Naila lebih memilih masuk menemui Debby dan bundanya.


Lalu saat sorenya Denis pamitan ingin jemput Devi.


" Ow iya jadi kan nanti malam, kita bakar bakar. Aku jemput do'i dulu, kasian dia sendirian kalau di sini ada Naila dan Devi .?"


"Jiah dia bawa pasangan, kasian banget nasib saya di sini." Raka pura pura nampak murung.


Sedangkan Denis dan Brian malah terkekeh.


"Alah kau ini bang Raka, aku tau maksud kamu datang kesini. Selain untuk bertemu dengan kami, kau ada maksud lain kan bang.?" Denis meledek dengan menaikkan turun kan kedua alisnya.


"Hahahah.... Dasar kau ini Den, aku serius kesini untuk bertemu dengan kalian. Tidak ada maksud terselubung yang kami maksud."


Brian tersenyum mendengar adik dan sahabatnya itu saling meledek.


"Iya deh kami percaya, Abang bohong saja saya percaya. Apalagi Abang jujur, saya paham bang." Denis terkekeh.." saya tinggal dulu bang Raka, hehehe.... Ka aku jemput Devi ya.?" Brian mengangguk.


Denis kini berjalan meninggalkan Raka dan Brian berdua, untuk menjemput Devi.


Dan saat malam hari, Brian, Naila,Devi Denis, Debby dan Raka. Mereka mengadakan barbeque di halaman rumah Bunda. Dan tentunya pak Haris maupun bunda tak mau kalah, mereka berkumpul bersama-sama.

__ADS_1


Suasana pun sangat mendukung, dan udara malam pun sangat sejuk. Para pemuda sedang bekerja keras membuat makanan yang mereka bakar matang. Sedangkan pak Haris dan bunda hanya melihat para anak anaknya sedang tersenyum.


Bunda yang sejak dari tadi penasaran melihat suaminya tersenyum sendiri langsung bertanya suaminya.


"Kenapa yah, dari tadi tersenyum melihat mereka..?"


"Ayah bahagia saja, melihat senyuman anak anak kita itu. Kalau kita memiliki cucu pasti kita lebih bahagia ya Bun.?"


"Iya yah, kita akan sangat bahagia pasti nya. Kita tunggu saja kabar dari Brian dan Naila." Pak Haris pun mengangguk.


"Sayang, bukannya putra kedua kita kemarin meminta izin untuk menikahi Devi. Bagaimana kita bicarakan kembali niat serius Denis.?" Tanya pak Haris melihat ke arah istrinya dengan tersenyum.


"Iya yah, nanti kita tanyakan lagi ke Denis." Pak Haris pun mengangguk.


Sedangkan Debby sejak tadi teramat kesal dengan Raka, karena dirinya selalu meledek Debby.


"Hei anak manja, bantuin tuh Naila dan Devi jangan diam saja.?"


"Hei siapa yang manja, aku tidak manja hanya tidak bisa. Aku takut tangan aku terbakar kepanasan. Lagian aku nanti pasti jadi bau asap, dan berkeringat aku malas." Debby sambil memajukan bibirnya.


Raka tersenyum melihat Debby yang cemberut.


"Alah alesan , kamu kan memang manja. Urusan bisa apa tidak, itu belakangan. Ya kan Dev.?" Raka langsung memberikan pertanyaan ke Devi.


" Yoi..." Jawab Devi dengan tersenyum.


Devi dan Raka walaupun baru kenal, tapi mereka seperti orang yang mengenal lama. Denis justru tersenyum, mendengar Devi membantu ucapan Raka. Denis tidak memiliki rasa cemburu, saat Devi ikut dekat dengan Raka, karena Denis tau siapa yang di incar Raka..


"Devi kamu ko membela dia si.? Dia itu nyebelin tau ga, tuh tanya Naila salah satu korban kejahilan Raka.


"Bukan membela Deb, kenyataan. Tidak ada kata tidak bisa selagi kita mau berusaha."


Denis, Raka, Brian, dan Naila. Menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Devi.


"Iya iya, yasudah sini aku bantuin. Aku kan malas kalau harus mandi lagi karena bau asap tau gak ." Sambil cemberut Debby pun membantu bakar bakar .


"Kamu mau mau kena asap atau apapun ,masih terlihat cantik dan wangi ko Deb." Kata Raka dengan senyuman nya.


"Tidak usah memuji, aku memang cantik." Jawab ketus Debby.

__ADS_1


Bibir Debby pun terlihat tersenyum walau sedikit. Dan Raka pun tau, kalau Debby tersenyum.


Brian Denis tersenyum melihat Raka dan Debby. Ya mereka sebagai kakak tidak pernah mengatur dan melarang Debby untuk dekat dengan siapapun. Apalagi Raka yang terang terangan menyukai Debby.


__ADS_2