
"Menjauh dari ku, aku menganggap Naila lebih dari kata adik. Ayah aku mohon jangan halangi aku, ayah tega aku mencintai Naila tapi ayah malah menerima lamaran Naila. Lebih baik Naila aku bawa dari sini, ayo Naila ikut kakak."
Mata Fandi di tutupi rasa cintanya ke Naila. Bukan cinta yang mungkin Fandi rasakan saat ini, lebih tepatnya Fandi terobsesi kepada Naila. Mangkanya Fandi kekeh ingin memiliki Naila, Fandi menghapus kata adik untuk Naila. Baginya Naila itu wanita yang telah membuatnya jatuh cinta, dan rasa ingin memilikinya begitu besar.
Naila begitu amat takut dengan apa yang Fandi lakukan saat ini. Brian mengikuti langkah Fandi saat membawa Naila keluar pintu nya. Bunda Rossa, Debby pun juga sangat takut. Devi Denis paman Tommy dan ayah Haris juga mengikuti kemana Fandi membawa Naila, yang juga diikuti oleh Brian.
"Ka Fandi aku mohon lepasin aku. Aku takut ka, kakak jangan seperti ini."
"Aku tidak akan membuat kamu terluka Nai, kamu tenang saja ya.?"
Mata Brian mengikuti setiap langkah Fandi yang membawa Naila. Saat berada di luar, Fandi di kepung dengan Denis, Devi, Brian ayah Haris dan paman tommy.
Saat mata Fandi fokus melihat ke arah Brian. Devi yang melihat Fandi sedang lengah langsung memukul tangan Fandi . Hingga benda yang ada di tangan Fandi terjatuh. Denis pun mengambil kuda kuda dan langsung menendang nya, hingga Fandi tersungkur. Naila berlari ke arah Brian, dan mem..eluknya.
Brian yang melihat Debby dan bundanya. Debby langsung menghampiri Naila yang terlihat syok.
Brian langsung menghampiri Fandi, menarik kerah bajunya.
"Kau sudah membuat Naila terluka dan ketakutan. Kakak macam apa kamu, harus nya melindungi ini malah melukai."
Buuughh Buuughh... Buuuggghh... Habis Fandi di berikan Bogeman oleh Brian.
Dari jauh Farida berlari melihat putra nya di keroyok oleh Brian.
"Heeeiiiii... Siapa kalian menghajar Fandi seenaknya.."Farida Sambil memukul pundak Brian.
Brian pun langsung bangun dengan nafas terengah-engah." Siapa kalian hah. Mau jadi jagoan di sini, biar saya panggilkan RT sini biar kalian di bawa." Suara Bu Farida sangat kencang.
Bu Farida, melihat sang suami berada di barisan itu. Bu Farida menghampirinya.
"Kamu juga mas, melihat anaknya di keroyok, malah di lihat saja. Ayah macam apa kamu hah.." Sambil mendorong pak Tommy.
Bu Farida tidak melihat kalau di samping pak Tommy ada Haris. Haris melihat kelakuan Farida yang begitu tidak sopan dengan suami nya sendiri..
Lalu Farida melihat Naila yang sedang berdiri bersama Debby. Bunda yang sedang mengambil minum untuk Naila tidak melihat kalau Farida di sana.
" Ini dia anak tak tau diri, bisa nya membuat panas keadaan." Sambil menarik tangan Naila.
__ADS_1
"Hei lepasin tangan Naila, jangan kotori tangan Naila dengan tangan kamu." Bentak Debby.
Karena tidak suka dengan ucapan Debby, Bu Farida mendorong Debby sampai terjatuh.
Plaaakk sebuah tamparan melayang di pipi Naila. Naila pun akhirnya terjatuh,karena masih terlihat syok dengan sikap Fandi.
Naila,,Debby.. Teriak semua orang.
Ibu, teriak Fandi dan pak Tommy. Pak Tommy menarik Farida menjauh dari Naila.
Bunda yang mendengar keributan diluar segera menghampiri. Dan melihat pak Haris, Denis membantu Debby berdiri. Devi dan Brian membatu Naila.
Bu Farida terkejut saat melihat Rossa sahabatnya dulu kini ada di depannya dengan tatapan tajam menghunus ke arahnya.
"Farida kamu apakan anak anak ku.." Suara bunda Rossa membuat Farida terkejut." Kamu apakan putri ku ini."
Pipi Naila yang memerah tamparan dan juga mengeluarkan darah segar, karena tamparan Bu Farida yang begitu keras.
Dan seketika tubuh Naila lemas, dan pandangan Naila terasa gelap. Dan akhirnya Naila tak sadarkan diri.
Nailaa... Teriak Brian dan Devi, yang terlihat Naila tak sadarkan diri.
"Bawa Naila ke kamarnya nya saja, Naila pasti sadar. Dia hanya syok." Ucap pak Tommy. Melly antarkan KA Brian ke kamar kakak kamu.!" Melly mengangguk.
"Ayo Ka, aku antar ke kamar Ka Naila." Brian pun mengangguk lalu menggendongnya mengikuti Melly.
Melly membuka pintu, dan Brian meletakkan Naila di tempat tidurnya. Brian dan Devi amat ketakutan, begitupun juga Melly yang menangis melihat kakaknya itu.
"Kakak bangun ka.. Hiks ." Melly menangis.
Brian melihat Melly yang begitu terpukul melihat Naila seperti itu.
Devi mengambil handuk dan baskom isi air, untuk membersihkan darah di bibir dan di leher Naila.
"Sayang bangun, jangan buat aku takut.." Brian menggenggam erat tangan Naila.
Sedangkan di ruang tamu, anak istri pak Tommy. Sedang duduk bersama keluarga Bunda Rossa.
__ADS_1
"Farida, kamu tidak akan saya biarkan. Kamu akan saya laporkan ke polisi karena sering menganiaya Naila putri ku." Ancam Bunda Rossa.
"Tidak, aku mohon Rossa jangan bawa aku ke polisi." Ucap Bu Farida dengan berderai air matanya.
"11 tahun kamu selalu menyakiti Naila, sebenarnya kami ingin sekali melaporkan kamu dari kemarin. Tapi Naila melarangnya, karena dia menganggap kamu bibinya. Tapi kamu seperti nya tidak pantas di anggap sebagai bibi untuk Naila."
"Jangan kau dengar kan anak pembohong itu. Dia itu pintar sekali memutar balikkan fakta, dan dengan wajah polosnya dia. Kalian sudah termakan oleh wajahnya."
"Hei nenek sihir, tutup mulutmu. Semuanya ini bukan dari mulut Naila. Naila tak pernah menjelekkan kalian, tapi orang lain lah yang melaporkan kepada kami. Bukan hanya itu, rumah ayah Fahmi pun kau jual habis, dengan sikap tamak mu itu." Hardik Denis menujuk ke arah Farida, yang tak terima Naila di jelek jeleki.
Jenny yang mendengar nya merasa takut, dan meminta ayahnya untuk bicara.
"Ayah kenapa diam saja, bantu ibu di depan mereka. Mau istri ayah di bawa ke polisi.?"
"Ayah pasrah jenny dengan sikap ibu mu itu. Ayah lelah berapa kali kamu dan ibu mu sering membuat ayah malu." Ucap pak Tommy dengan tegasnya." Kemarin ayah masih sabar dengan sikap ibu mu, tapi sekarang ayah tidak peduli dengan ibu mu itu. Kalian sudah membuat ayah malu. Terutama kamu Fandi, kamu tega seperti itu kepada Naila. Padahal kamu tau Naila sangat takut akan kekerasan, dia sering di lakukan kasar oleh ibu mu. Kenapa kamu melakukan itu, kamu di butakan rasa obsesi kamu ingin memiliki Naila. Harusnya kamu melindunginya, dengan kasih sayang kamu sebagai kakak. Tapi kamu berbuat seperti itu, padahal kalian hidup bersama, tapi kamu memiliki rasa itu. Ayah benar benar malu sama kamu ,sebagai anak tertua." Ucap pak Tommy dengan perasaan kecewa kepada putranya.
"Ayah maafkan Fandi."
"Maaf, kenapa kamu baru sadar hah. Kamu lihat Naila terluka karena benda tajam itu di bagian lehernya. Berapa kali ayah bilang sama kamu, kamu buang perasaan itu ke Naila. Naila adik kamu, hanya kita yang Naila punya. Tapi kamu tidak mendengarkan ucapan ayah mu ini."
Pak Tommy sudah sangat kecewa dengan Fandi.
Lain pak Tommy,lain juga Naila. Kini Brian Devi dan Melly sedang menemani Naila, yang belum sadar juga.
Bu.. ibu, ayah Naila ingin ikut dengan kalian." Naila mengigau terus memanggil ibunya.
"Naila, bangun dong sayang. Kamu jangan seperti ini, ada aku, kamu gak boleh bilang seperti itu.." Brian terus di samping Naila.
Brian yang baru pertama kali melihat Naila seperti itu merasa takut. Sedangkan Devi dan Melly sudah terbiasa melihat Naila yang memanggil orang tuanya. Namun mereka juga khawatir dengan kondisinya Naila sekarang.
Perlahan Naila membuka matanya, Brian merasa tenang saat melihatnya.
bersambung..
...****************...
***Hai hai semuanya, Bagaimana kabar kalian semoga sehat ya.
__ADS_1
Ow iya aku ingin mengucapkan banyak terimakasih buat kalian semua. Yang sudah memberikan like, komen hadiah dan vote kalian.. Semuanya itu berarti banget buat aku, aku jadi semangat banget buat bikin ceritanya. Jujur saja tanpa kalian aku mah apa atuh, cuma remahan rengginang saja***..
...Sekali lagi terimakasih ya buat kebaikan kalian semua. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak, komentar, hadiah dan vote kalian. I Love you all...🙏🙏🙏...