Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Rencana paman Tommy


__ADS_3

"Sekarang kamu makan dulu ya Nai, nanti paman antar kamu." Naila pun mengangguk." Paman ke kamar dulu ambil kunci motor paman, kamu habisin makanan kamu ya nak." Dengan prihatin pak Tommy menatap keponakan nya itu.


Naila pun melanjutkan makan nya, setelah selesai makan Naila pun bersiap-siap. Paman Tommy pun kini mengetuk pintu kamar Naila.


"Nai..."


"Iya paman, sebentar..." Teriak Naila dari kamar nya. Pintu kamar pun terbuka, dan kini Naila sudah siap menggunakan pakaian sedikit tebal. Karena Naila merasakan tubuhnya sedikit mengigil.


Paman pun tersenyum." Bagaimana kamu sudah siap.?" Naila pun mengangguk. "Yuk kita berangkat sekarang."


Kini pak Tommy dan Naila sudah melaju kendaraan di malam hari, kini mereka sudah sampai di tempat tujuan Naila pertama.


Kini Naila sudah selesai dengan urusannya, paman pun ingin mengajak Naila untuk tempat mengobrol.


"Naila, paman ingin bicara sama kamu.?"


"Bicara apa paman.?"


"Nanti kita cari tempat ngobrol sebentar."


Naila pun mengangguk.


Lalu mereka menaiki motor kembali, dan paman berhenti di sebuah kedai kopi. Di mana tempat itu terlihat bagus, dan bisa untuk mengobrol santai.


Pak Tommy pun mematikan motornya di depan kedai kopi tersebut. Pak Tommy mengambil tempat di luar dan di pojokan agar leluasa untuk bicara. Di sana juga tersedia martabak keju, dan pak Tommy memesannya untuk Naila, dan coffe latte untuk keponakan kesayangannya itu.


Setelah pesanan sampai di atas meja di depan mata Naila, Mata Naila tertuju pada martabaknya yang terlihat masih mengepul asap nya. Pak Tommy pun tersenyum melihat tingkah keponakannya itu. Walaupun sudah dewasa terkadang sikapnya terlihat masih ada sisi anak anaknya.


"Paman, ko cuma ingin ngobrol sampai kesini segala. Ini lagi martabaknya, terlihat sekali dia melambai lambai ke Nai untuk minta di makan." Naila tersenyum ke arah pak Tommy dan sesekali melirik ke arah Martabak nya.

__ADS_1


Pak Tommy terkekeh mendengar ucapannya Naila." Sengaja paman ingin ngajak kamu kesini, ini untuk kamu. Sengaja paman pesankan, pasti kamu tadi makan nya cuma sedikit kan.?" Naila mengangguk." Yasudah kamu makan yang banyak kalau perlu abisin. Kalau kurang nanti paman pesankan lagi untuk kamu".


"Jangan paman ini sudah banyak, iya tadi aku tidak berselera makan. Karena pria sin... ting itu, datang datang ingin melamar Nai."


"Nah itu dia yang paman ingin ceritakan, dan kita bicarakan sekarang. Paman tau siapa dia dan dari mana tempatnya. Tapi sebelumnya kamu makan dulu martabaknya.!" Naila pun mengangguk.


Di lahapnya martabak keju yang masih terlihat asap nya, tak lupa Naila menyeruput kopi latte nya. Pak Tommy sampai tersenyum melihat Naila.


Bagi pak Tommy dulu ibunya Naila adalah masalalu nya. Setidaknya dia pernah mengkhianati Dina, dan membuatnya terluka. Dan sekarang Tommy ingin menjaga dan melindungi milik Dina dan juga milik adiknya. Melalui putri mereka saat ini, Tommy ingin melindungi Naila semampunya, walaupun tidak bisa selalu setiap saat . Setidaknya sekarang Tommy ingin melindungi Naila dari kejahatan istrinya, dan juga pria yang sudah melamar Naila untuk di jadikan istri ke 3.


Kini di hadapan Tommy, potongan martabaknya hanya tersisa 3 potong. Karena sudah di makan oleh Naila dan dirinya. Melihat cara makan Naila, teringat cara Naila saat masih kecil.


"Sudah kenyang Nai.?"


Naila tersenyum dan mengangguk.


"Sudah paman, Naila sudah kenyang."


"Yasudah sekarang kita mulai." pak Tommy membuang nafasnya.


" Huuuff.... Begini Nai, pria yang tadi melamar kamu, paman kenal orang itu. Dia orang kampung sebelah dari rumah kita, dia itu juragan tanah. Walaupun usianya masih di bilang muda, dan di bawah usia paman, dia itu sudah memiliki 2 istri. Nah caranya dia itu agak licik Nai. Setelah dia melihat wanitanya, dia akan mencari tau siapa gadis yang dia akan jadikan target. Dan dia juga akan terus menerus melakukan yang membuat keinginannya itu tercapai. Paman tidak ingin itu terjadi paman tidak ingin kamu sampai sama dia, apalagi sampai istri ke 3 nya. Dan bibi kamu, dia akan terus melakukan apa yang dia inginkan agar tercapai."


"Terus aku harus bagaimana paman, aku tidak ingin menjadi istrinya. Apalagi sampai istri ke 3 nya aku gak mau paman." Hiks.. Hiks... Hikss.... Naila pun akhirnya menangis.


"Kamu jangan sedih paman akan bantu kamu, tapi ada yang kamu harus lakukan.?"


"Apa paman.?"


"Kamu harus keluar dan pergi meninggalkan rumah paman.!" Naila semakin terlihat sedih." Naila kamu jangan salah paham, paman tidak mengusir kamu. Kamu harus mengungsi, kalau bisa kamu keluar dari kota ini."

__ADS_1


"Maksud paman aku juga harus pergi dari kota ini.? Aku harus kemana paman aku tidak tau, aku juga sudah tidak punya tempat tinggal selain sama paman.?"


Wajah Naila semakin terlihat sedih, dan pak Tommy merasa bersalah. Karena ulah istrinya yang menjual rumah peninggalan orang tua Naila, jadi Naila tidak punya tempat tinggal.


"Begini nak kamu bisa hidup di kota lain, paman akan membantu kamu. Sudah lama paman pikirkan kalau ada masalah seperti ini, dan sekarang saatnya. Besok paman antarkan kamu ke rumah teman paman kerja, dia mempunyai usaha toko roti di kota Jakarta Utara sana. Nanti kamu kemas kemas pakaian kamu, dan besok kita berangkat bagaimana.?"


"Berarti aku harus berhenti kerja paman.?"


" Ya nak itu benar, karena kamu harus pergi dan meninggalkan semuanya. Kemarin saat Emiil berniat serius, paman coba membatalkan nya . Tapi saat tau Emiil kini membatalkan niatnya, paman memikirkan rencana awal paman ini Nai."


Saat mengucapkan itu ada rasa tak tega pada paman Tommy. Naila nampak berpikir walaupun terlihat raut wajah sedihnya.


' Benar kata paman, apa yang membuatku harus bertahan di sini. Emiil sendiri saja sudah tidak bisa mempertahankan nya, dan aku kerja pun rasanya lelah. Bukan lelah kerja di sana ,tapi lelah di rumah, kerjaan selalu menumpuk tiap harinya. Aku selalu di hina oleh bibi dan Jenny, di tambah lagi perasaannya Ka Fandi itu yang buat aku tak nyaman. Selain itu aku juga sudah lelah,aku tidak ingin paman khawatir dengan ku. Selain itu juga mereka juga sering bertengkar kerena paman selalu membelaku, ya aku harus mengambil keputusan ini'. Gumam Naila dalam hatinya.


Pak Tommy masih mengamati Naila yang masih berpikir.


"Bagaimana Nai.?"


"Baik paman aku Terima tawaran paman, aku akan hubungi Devi dan juga aku harus bilang tempat kerja ku aku mau berhenti.". Pak Tommy mengangguk.


"Baiklah itu tinggal kamu urus sendiri saja. Besok paman antarkan kamu di mana tempatnya ya.?" Naila mengangguk.


Kini Naila dan pak Tommy sudah sampai rumah. Dan Naila pun langsung masuk ke kamarnya. Karena kamar Naila letaknya paling belakang dekat dapur, Naila melewati kamar Melly.


Saat berada di dalam kamarnya.


"Aku harus aktifkan handphone ini, dan aku juga harus beritahu Devi dengan rencana ini. Aku tidak bisa lanjut kerja di Sana, aku juga harus pergi dari sini."


Dan Melly pun mendengar ucapan Naila, saat dia akan pergi dari rumah. Melly saat terkejut mendengarnya.

__ADS_1


Ceklak, Naila terkejut karena ada yang membuka pintunya. Naila tersenyum karena Melly lah yang datang ke kamarnya. Melly duduk di samping Naila dengan wajah cemberut.


__ADS_2