
"Cukup.. cukup... Sudah ka Naila mohon sudah, hentikan... Hiks hiks hiks...." Brian yang mendengar Naila menangis karena ketakutan, langsung berhenti memukul Emiil....
"Saya ingatkan kamu, berani sekali lagi menyentuh milik saya. Habis kamu sama saya.!" Ancam Brian." Ayo kita balik..." Brian menggenggam tangan Naila.
Saat Naila sudah masuk di kursi mobil, dan Brian hendak masuk. Dari belakang Emiil menepuk pundak Brian.
Dan.. Buuuughhh .. Buuuggghh.... Emil pun bergantian menghajar Brian.
"Aaaa... Ka Brian..." Naila yang melihatnya segera keluar kembali.
Naila menghampiri kedua pria yang sedang berkelahi tersebut, dan memisahkan Keduanya.
"Cukup... Emiil lepaskan dia. Emiil lepaskan Mas Brian, dia calon tunangan ku.." Teriak Naila.
Akhirnya membuat Emiil menghentikan tangannya saat hendak memukul Brian. Emiil berdiri menatap mata Naila lekat lekat, seakan mencari kebohongan di mata Naila. Namun nyatanya gagal, tidak ada kebohongan di mata Naila.
"Kamu sedang tidak berbohong kan Nai. Dia itu bukan kekasih kamu kan, jawab Nai..?" Naila menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak berbohong, sekarang aku miliknya. Dan kami akan menikah dalam waktu tiga bulan lagi. Maaf Emiil, jika ini membuat kamu harus kecewa."
"Gak, aku yakin kamu berbohong sama aku Nai. Aku masih cinta sama kamu Nai, aku yakin kamu juga masih cinta kan sama aku Nai. Maafkan aku Naila, kita perbaiki hubungan kita kembali. Aku sayang kamu Nai, aku masih sayang sama kamu.?" Sambil menggenggam tangan Naila dengan erat.
Brian yang melihatnya kembali panas, berdiri menghampiri Emiil yang sedikit memaksa Naila.
"Brengs...ek ..." Brian menarik pundak Emiil, karena Emiil membuat Naila ketakutan. Bbbuuugghhh... Brian memberikan Bogeman ke wajah Emiil, sampai Emil terkapar di aspal.
Naila semakin takut melihat marah nya Brian dan Emiil.
"Sudah, ka sudah jangan pukul dia lagi. Ayo kita pulang.!" Naila berusaha menenangkan
" Sudah ku katakan, Lepaskan tangan kamu dari Naila. Apa kamu tuli , apa yang Naila ucapkan kalau saya siapa nya. Saya tidak mengenal kamu, tapi kamu berani menyentuh Naila seperti tadi, habis kamu sama saya.!" Sambil menunjuk ke arah Emiil, dengan tatapan marah.
"Ternyata setiap kakak kamu, mereka selalu menyukai kamu ya Nai.?" Dengan senyuman menyeringai, Emiil memberikan ke arah Brian.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Siapa kakak yang kamu maksud.? Saya bukan kakaknya Naila, saya calon suaminya. Kamu mungkin baru mengenal Naila, tapi saya sudah mengenal Naila sejak sebelum kamu mengenal nya." Sambil menggenggam tangan Naila." Ayo kita pulang, aku tidak mau mengotori tangan aku untuk bocah ingusan seperti dia..!"
Brian membukakan pintu untuk Naila, lalu Brian masuk ke dalam mobilnya. Dan melaju kendaraan nya ke arah pintu keluar.
Brian mengendarai mobil cukup cepat, karena di jalan itu cukup sepi menuju jalan raya nya.
Bbbbrrrrrruuuuuuuuummmm.... Brian menginjak Gas mobil, hingga mobil melaju sangat cepat. Tidak ada suara dari Naila ataupun Brian, yang terdengar suara mesin mobil saja.
Naila sudah sangat takut.
"Ka, jangan kencang kencang. Aku takut, aku mohon..." Tidak ada suara dari Brian, dan akhirnya Brian mengurangi kecepatan pada mobilnya.
Sedikit senyuman di bibir Naila, saat Brian mengurangi kecepatannya.
"Luka nya aku obati ya ka.?"
Bbbbrrruummmm.... Bukan nya menjawab Brian malah menginjak Gas mobilnya.
"Ka Brian, kenapa di gas kencang lagi. Aku takut." Tidak ada jawaban dari Brian .
Naila sampai memejamkan mata, karena bentakan Brian. Sampai kedua bahu Naila naik, karena terkejut dengan suaranya.
Brian merasa tak tega melihat Naila yang sepertinya sangat takut.. Brian pun menghentikan laju, di pinggir jalan.
Brian menarik nafasnya, lalu di buang nya dengan kasar.
"Huuuufffhhh......Aku minta maaf, bukan maksud aku membuatmu takut. Lebih baik nanti saja kita bicara nya, aku tidak ingin bertengkar di jalan seperti ini."
Brian mengendarai mobilnya kembali, tak ada suara yang terdengar di dalam mobil itu. Naila bukan nya marah, dengan sikap Brian. Naila hanya takut kalau Naila salah bicara Brian kembali kesal.
20 menit perjalanannya, Brian memasuki kawasan yang Naila tidak mengenal tempat itu. Karena itu bukan jalan yang menuju kontrakannya atau rumah bunda Rossa.
Saat mobil berhenti di depan rumah dengan pagar bercat hitam. Naila nampak bingung. Rumah dengan dua lantai, bernuansa biru langit. Terlihat rumah itu sangat bersih dan rapih.
__ADS_1
Brian turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Naila.
"Ayo..." Tangan Naila digenggamnya. Dan Naila hanya mengikutinya dari belakang.
Kini Naila duduk di sofa di samping Brian, di mana mereka berada di ruang tamu.
"Siapa Pria tadi.?" Sambil menatap Naila Brian bertanya." Dan kalian pernah punya hubungan apa selama ini.?"
"Dia Emiil, dia dulu satu kerjaan dengan aku dan Devi. Dan kami pernah mempunyai hubungan, dan sudah mempunyai niat untuk hubungan serius." Naila menjelaskan dengan menundukkan kepalanya.
Ada perasaan sakit saat mengingat kejadian itu.
"Apa, kalian pernah ingin memiliki hubungan serius. Maksudnya kalian berdua ingin menikah Nai, jawab aku. Sepertinya dia sangat mencintai kamu Nai, apa kamu juga masih mencintainya.?" Brian bertanya dengan wajah memerah karena merasa kesal. Brian merasa sakit saat bertanya seperti itu kepada Naila." Kalau kamu masih mencintainya, kita akhiri saja Nai hubungan kita ini.?"
Naila langsung menatap Brian, apa benar Brian mengucapkan itu." Apa maksudmu mengakhiri hubungan ini.?"
"Ya kalau kamu masih mencintainya kita akhiri hubungan ini. Mumpung baru sebulan hubungan kita, dan belum ke tahap yang serius." Mendengar itu,air mata yang Naila tahan kini berhasil lolos.
Brian tak tega melihat Naila menangis, Brian akhirnya membelakangi Naila.
"Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang di antara hubungan kalian Nai. Jika kalian masih saling mencintai, kita akhiri saja. Lupakan perjodohan kita ini Nai, walaupun aku berat mengatakannya. Tetapi aku tidak mau kamu nanti nya menyesal, karena menjalani perjodohan kita ini Nai."
"Apa stiap pria begitu mudahnya mengatakan cinta dan mengakhiri hubungan itu. Tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Hiks hiks hiks..." Naila menghapus air matanya. "Jika memang kamu mau mengakhiri hubungan ini, ya sudah kita akhiri hubungan ini. Dan aku tidak akan menampakkan diri aku di sini atau kembali dengannya lagi. Hiks hiks hiks..."
Naila pun membalik badan nya membelakangi Brian. Dan berjalan meninggalkan Brian yang seorang diri
"Dan aku tidak akan menampakkan diri aku di sini atau kembali dengannya lagi." Itulah kata-kata terakhir yang membuatnya sadar. Dan langsung menoleh ke belakang di mana Naila yang sudah bejalan menuju halaman.
"Naila.."
Cuaca pun sepertinya mendukung perasaan Naila, yang kini berubah menjadi mendung. Rintikan air pun mulai menetes dan membasahi jalan.
Tiupan angin dan disertai turun nya air hujan yang mengenai dan membasahi wajah Naila. Di saat Naila akan melangkah menginjak jalan yang sudah mulai basah karena air hujan.
__ADS_1
Bersambung....