
Sedangkan Naila tersenyum mendengarnya temannya masih ngeledekin dirinya.
Keesokan harinya, Naila dan Devi bekerja seperti biasa nya. Ada senyuman yang menghiasi di bibir Naila, dan Naila bekerja hari ini juga cukup semangat. Mungkin karena hubungannya dengan Brian, yang sudah terpasang cincin di jari nya.
"Ekhemm kaya nya ada yang lagi seneng ni.?" Goda Anto Naila tersenyum mendengarnya.
"Apaan sih bang Anto. Emang gak boleh aku senyum senyum.?"
"Ya boleh aja si Nai, cuma kalau senyum senyum sendirian ya Abang takut lah." Anto terkekeh.
Naila hanya menggelengkan kepalanya mendengar Anto yang memang suka ngeledek Naila.
Bagas yang memang melihat jari manis Naila terpasang cincin, Bagas mengerti maksud senyuman Naila hari ini.
"Selamat ya Nai" Bagas melambaikan tangannya untuk bersalaman.
Naila pun merasa bingung. " Selamat untuk apa.?"
"Itu di tangan kamu, kamu habis di lamar kan dengan pria yang bernama Brian.?" Naila terkejut mendengar Bagas tau nama Brian." Kenapa kamu heran, aku bisa tau namanya Brian...?" Naila pun mengangguk.
Bagas tersenyum." Nai, aku tau dia itu anak dari ibu Rossa kan.?"Naila pun mengangguk." Nah Bu Rossa itu pelanggan setia kami di sini. Beliau kalau ada acara, pasti peesan di sini. Aku dan Anto pernah mengantar pesanan beliau kerumahnya itu. Mangkanya kami kenal Brian, karena dia pernah mengantar Bu Rossa ke sini.?"
"Ow begitu, memang iya si. Bunda pernah bilang kalau dia itu suka pesan kue di sini kalau lagi ada acara arisan nya."
"Iya kan, jadi kamu sama Brian itu.?" Naila mengangguk. " Aku senang dengar nya.?"
"Beneran gas kamu gak apa-apa.?" Tanya Naila untuk menyakinkan.
"Ya benar Nai,masa aku bohong. Kenapa kamu gak percaya.? Nai, aku berpikir, kalau kita memiliki hubungan. Kalau kita sedang ada masalah, kita gak akan bisa sedekat ini. Kalau kita temanan kita masih bisa bercerita tertawa sama sama.?" Bagas tersenyum, Naila pun ikut tersenyum.
"Trimakasih Gas, kamu memang pria baik.?"
__ADS_1
"Jangan memuji berlebihan Nai.?" Naila tersenyum.
"Ekhem ekhem.... Lagi lagi saya jadi obat nyamuk di antara kalian berdua". Celetuk Anto.
"Gak jelas kamu Anto". Timpal Bagas.
Akhirnya mereka bertiga pun tertawa. Naila senang Bagas tidak kesal atau marah, karena Naila pernah menolak perasaan nya dulu. Tapi Bagas malah bersikap baik dengan Naila.
Malam harinya, Naila di jemput oleh Brian. Karena hari ini bunda ingin bicara dengan Naila.
Dan kini Naila telah duduk di kursi bersama keluarga Brian.
"Naila sayang, bunda ingin bicara sesuatu ke kamu.?"
"Bicara apa bunda.?"
"Ayah dan bunda termasuk calon suami kamu. Tuh yang itu, yang lagi senyum senyum di samping kamu.?" Menujuk Brian yang di samping Naila menggunakan bibir nya di majuin ke arah Brian." Ingin membicarakan masalah pernikahan kalian, karena sepertinya calon pengantin nya sudah tidak tahan ingin mempersunting kamu "
Sedangkan Naila saat ini merasa malu dengan ucapan Bu Rossa.
"Bunda ingin mempercepat pernikahan kalian Nai, bagaimana menurut kamu nak.? Dan bunda juga ingat kalau Minggu besok adalah tanggal di mana, kedua orang tua kamu pergi untuk selamanya.
Di saat itu mata Naila mulai basah, ternyata bunda Rossa mengingat di mana hari kepergian orang tuanya untuk selamanya.
Brian menggenggam erat tangan Naila untuk menguatkan Naila. Brian pun juga tersenyum menatap Naila, Naila tau maksud dari tatapan Brian.
'Jangan nangis, ada kami di sini'.
Naila pun mengangguk, dan menghapus air matanya. Tangan Brian tak melepaskan tangan nya sedikit pun.
Setelah di bicarakan kembali, mereka sepakat untuk datang ke makam orang tua Naila. Dan juga mengunjungi paman Tommy untuk membicarakan soal pernikahan Naila.
__ADS_1
Dua Minggu kemudian, Naila meminta cuti libur selama 2 hari. Karena Naila akan ke makam kedua orang tuanya, sekaligus ingin mengunjungi kerumah paman Tommy. Brian dan keluarga berserta Devi pun juga ikut bersama Naila.
Kini mereka sudah sampai di makam Bu Dina dan pak Fahmi. Merekapun mengirimkan doa untuk Fahmi dan Dina.
"Assalamu'alaikum ayah ibu, Naila datang jenguk kalian. Yah Bu, hari ini Naila datang bersama keluarga bunda Rossa, sahabat ibu dan ayah. Bu Naila merindukan ibu dan ayah. Ibu, ayah. Selama ini Naila selalu mengatakan Naila selalu sedih kan,selalu kesepian. Karena Naila kehilangan kalian sebagai pelindung Naila, sebagai tempat kasih sayang Naila. Kalian tau Sejak Naila kecil Naila selalu bilang kalau aku ingin sekali membuat ibu dan ayah bahagia, dan Naila juga ingin berbakti dengan kalian. Tapi kalian sudah meninggalkan aku seorang diri, dan aku tidak bisa melihat senyum bahagia kalian lagi. Dan sekarang dengan datangnya Nai ke sini, Naila bersama bunda dan semuanya pasti ibu dan ayah sudah bahagia. Bu, mungkin dengan ini,Naila akan membuat keinginan ibu tercapai. Karena ibu sudah menjodohkan aku dengan ka Brian. Ibu dan ayah pasti senang mendengarnya, kalian yang tenang ya di sana. Doa Naila tak pernah putus untuk ayah dan ibu, semoga kalian berdua tenang di surga sana". Naila menci...um batu nisan milik ke dua orang tua nya yang berada di sebelah kiri kanan Naila.
Bunda Rossa pun mendekat ke arah Naila,lalu mengusap pundak Naila. Brian yang melihat pemandangan itu tersenyum. Dua orang wanita yang dia sayangi.
"Dina, Fahmi. Kalian tidak usah khawatir lagi, putri kalian sudah bersama kami. Dan satu lagi, aku sudah mengatakan kepada putri kamu tentang perjodohan kita dulu Din. Dan anak anak kita setuju akan perjodohan yang pernah kita lakukan. Naila, dia bukan hanya menantu untukku, tetapi dia juga anakku. Kamu dan Fahmi yang tenang ya di surga sana, putri kamu sudah bersama kami sekarang." Bunda Rossa merangkul pundak Naila.
'Naila bersama kami Bu, yah. Kalian bahagialah di sana. Aku juga akan menjadikan Naila menjadi istriku. Aku akan melindunginya, aku juga akan mengikuti apa yang pernah ibu ucapkan. Aku akan Menjaga melindungi dan menyayangi Naila, karena aku sudah jatuh cinta dengan Naila putri kalian.' Ucap Brian dalam hati.
Setelah menaburkan bunga di makam dan berdoa untuk kedua orang tua Naila. Mereka pun melanjutkan niatnya untuk mengunjungi rumah paman Tommy.
Karena Naila sudah memberikan kabar ke paman Tommy. Jadi Naila tak perlu khawatir untuk hal itu, sudah pasti paman Tommy ada di rumahnya. Menanti kedatangan keponakan kesayangannya, yang sudah dia anggap seperti putri nya sendiri.
Kini Naila dan keluarga bunda Rossa sudah sampai di kediaman rumah pak Tommy.
Pak Tommy yang memang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Naila, sangat bahagia saat melihatnya.
"Kesayangan paman, akhirnya kamu datang nak.." Pak Tommy mem.eluk Naila .
"Paman, Naila kangen sama paman.. Bagaimana keadaan paman.?"
"Sama sayang, paman pun juga kangen sama kamu." Sambil menoel hidung Naila." Bukan hanya paman, tuh Melly pun sangat merindukan kamu nak.?"
Lalu ayah Haris dan bunda Rossa menghampiri pak Tommy. Pak Tommy pun terkejut, ternyata teman lamanya datang . Dan kini berada di hadapannya..
Ayah Haris,bunda Rossa dan paman Tommy pun tersenyum.. Sudah sekian lama, mereka tidak bertemu. Dan kini mereka di pertemukan kembali.
Bersambung...
__ADS_1