Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Menatap Mata Indahnya


__ADS_3

"Tau nih, ka Brian. Nanti aku bilang ayah dan bunda, biar ka Brian di marahi ayah dan bunda. Hiks hiks hiks...." Ancam Debby menatap kakaknya dengan perasaan kesal.


Brian makin tak tega di tambah melihat adiknya juga ikut menangis.


Flashback Of.


Begitu lah ingatan Naila saat mengenal laki laki bernama Brian saat anak anak. Dan sekarang Brian tumbuh dewasa terlihat tampan dan gagah. Dan di tambah lagi Brian yang ia kenal sekarang menjadi sosok Brian yang hangat, dan murah senyum.


Saat sore harinya, Naila kini sudah pulang dan berada di kontrakan. Devi yang kebetulan memang hari nya libur , karena besok barulah Naila yang libur.


"Devi, hari ini aku keluar dulu ya. "


"Mau ke mana beb.?"


"Mau keluar sama ka Brian say, gak apa-apa kan aku keluar sama dia.?"


"Ya gak apa-apa sih, kalau kamu mau keluar. Tapi ingat jangan pulang malam ya, apa lagi kita belum kenal betul keadaan kampung ini.?" Devi memberitahu Naila, dan Naila pun mengangguk.


"Siap bos, nanti aku gak pulang malam. Aku juga pasti ngabarin kamu Devi pulang jam berapa.?"


"Bagus, kita sama sama saling mengingatkan ya Nai. Bukan nya bawel atau apa, soalnya aku menganggap kamu juga bukan hanya teman. Aku sudah menganggap kamu sudah kaya saudara ku sendiri. Mangkanya kamu kenapa-kenapa aku juga khawatir, Bukan bawel atau gimana.?" Kata Devi dengan sungguh-sungguh.


Naila tersenyum mendengar temannya nya itu bicara.


"Devi, aku juga menganggap kamu bukan sekedar teman. Aku menganggap kamu udah kaya kakak, tempat untuk berbagi cerita. Mangkanya saat aku ingin pindah dari rumah bibi aku memberi tau kamu dulu."


"Uuuuuhhhh sweet banget sih kamu Nai." Devi pun mem...eluk Naila.


"Iiihhhh apaan si, lepas Dev. Aku gak bisa nafas nih.!" Naila berusaha melepaskan tangan Devi yang berada di kedua pundaknya.


Dan akhirnya merek berdua terkekeh

__ADS_1


"Naila, Brian itu ganteng ya. Ya sempurna lah, apa dia dari kecil ya caem begitu.?" Sambil menaikan kedua alisnya.


Naila tersenyum saat mengingat masa kecilnya bersama Brian. "Ya ka Brian memang sudah ganteng dari dulu. Hanya saja dia itu dulu dingin, kalau sama orang baru. Di tambah lagi dia galak, sombong dan jahilnya itu." Naila merasa lucu mengingat masa kecilnya.


"Masa sih, tapi kaya nya gak deh. Dia keliatan sangat ramah loh. Apalagi kalau senyum kaya tadi pagi, beeeeuuuhh... Meleleh hati ku rasa nya Nai, liat senyumnya nya dia itu."


"Ya bukan hanya kamu aku juga merasa gak percaya dengan sikapnya dia seperti tadi pagi. Dia jadi murah senyum, ramah, dan baik. Dulu kalau dia baik, aku yakin ada hal yang aneh dari dia harus di curigai. Bukan hanya aku saja beranggapan seperti itu, dua adiknya pun sama berpikir seperti itu ".


"Ooow ya segarang dan sedingin apa sih dia dulu..?"


"Beruang kutub". Jawab Naila.


Dan Devi pun tertawa mendengarnya.


Sedangkan di sana Brian saat sedang bersiap-siap akan pulang kerja. Brian bersin bersin.


Huaaaaciimmm... Huuuaaaaciiiimm.. Huaaacciiimm... Brian menutup hidung nya dengan tisu. Lalu Brian juga mengepalkan tangannya, lalu di tiup, lalu di letakkan di dua telinganya. Karena Brian merasakan telinganya berdengung.


"Tidak, hanya hidung saya sepertinya gatal Mangkanya bersin bersin. Telinga saya juga berdengung ya. Huuuff hufhh..." Brian melakukan hal yang sama seperti tadi.


"Wah berarti bapak ada yang ngomongin tuh." Jawab salah satu karyawan di tempat kerja Brian.


"Masa si, siapa yang ngomongin saya ya.?"


"Mana saya tau pak, mungkin pengagum pak Brian kali.?" Jawab salah satu karyawan yang bernama Indri.


"Waduh pengagum, saya mana punya pengagum. Saya bukan selebritis yang banyak pengagum nya. Yasudah saya duluan ya, yuk semuanya."


"Ya pak, hati hati pak Brigan ( Brian ganteng)." Kata salah satu karyawan wanitanya, yang berlaga genit.


Sedangkan Brian hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat karyawan yang terlihat centil di depannya. Brian tidak menanggapi kelakuan dari mereka.

__ADS_1


POV Brian


Brian bekerja di salah satu di perusahan terkenal, yang bernama ABADI KENCANA SEJAHTERA. Dan Brian bekerja di bagian keuangan di perusahaan itu. Brian sendiri sudah 8 tahun bekerja di sana, awal nya Brian hanya karyawan magang. Dan karena tekun dan kejujuran Brian dalam bekerja. Brian pun diangkat menjadi karyawan tetap, dan di kontrak sampai usia Brian 50 tahun.


Karir Brian pun sangat bagus, Brian bisa membiayai ke dua adiknya kuliah. Bukan hanya itu, Brian juga sudah memiliki rumah pribadi untuk Brian dan keluarga nya nanti, dan tabungan untuk kedua orang tuanya pun Brian sudah mempunyai itu. Yang belum Brian dapatkan saat ini hanyalah pendamping hidup untuk masa depannya. Ya usia Brian kini menginjak 28 tahun, namun Brian masih betah dengan kesendirian.


Bukan nya Brian tak ingin, Brian sebenarnya ingin. Hanya saja Brian masih mencari dan akan memantapkan pilihan nya itu.


POV and


Malam tepat pukul 7 malam. Naila dan Brian kini sudah berada di sebuah Cafe, di mana Brian mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.


Dengan makanan dan minuman yang sudah tersedia di meja mereka. Entah kenapa Brian senang sekali menatap mata indah Naila, yang sangat begitu indah. Wajahnya yang terlihat tenang, Brian seperti kehilangan sosok Naila yang ceria saat masa kecil dulu. Brian menatap Naila lekat lekat, seperti mencari sesuatu yang Naila sembunyikan.


"Nai, bagaimana kehidupan kamu selama tinggal sama paman kamu. Cerita sedikit boleh.?"


Naila tersenyum kecut.


"Tidak ada yang istimewa ka, aku tetap merasa kesepian."


"Maksudnya, apa paman Tommy tidak memperlakukan kamu dengan baik.? Nai, aku seperti tidak mengenal kamu yang dulu, Naila yang manja, bawel, dan ceria. Dan kadang kelakuan kamu dulu itu sedikit tomboi loh, tapi kenapa kamu berubah Nai.?"


"Paman sangat baik sama aku ka, Justru karena paman lah aku bisa tinggal di kota ini ka. Kalau kakak bertanya kakak seperti tidak mengenal ku, aku pun juga sama. Aku sendiri saja tidak mengenal akan sikap ku yang seperti ini ka. Naila yang kakak kenal dulu sudah hilang, hilang bersama kepergian kedua orang tua ku dan juga kalian semua."


"Kamu jangan seperti itu, kamu harus bisa semangat. Setidaknya untuk diri kamu sendiri Nai, agar kamu bisa bahagia."


" Hidupku tidak semangat semenjak mereka pergi. Seorang anak berusia 12 tahun, yang hanya mempunyai kedua orang tua. Justru anak itu pun juga kehilangan ayah dan ibunya. Keinginan anaknya itu hanyalah satu membuat kedua orang tuanya bahagia, dan tersenyum melihat aku sukses nanti. Tapi mereka sudah tiada apa yang di inginkan nya lagi sudah tidak ada ka. Hiks hiks hiks..." Naila berusaha untuk tidak menangis,, namun apa daya usahanya itu gagal.


Air matanya pun kini berhasil lolos dari pelupuk matanya. Brian yang tak tega melihatnya, lalu mendekat duduk di samping Naila. Lalu Brian membawa Naila kedalam pelu...kannya, sampai Naila benar benar tenang.


Dan entah kenapa Naila merasa tenang di perlakuan seperti oleh Brian. Brian mengambil kan minum untu Naila, dan Naila pun mengambil minuman yang di berikan Brian.

__ADS_1


__ADS_2