
"Bu jangan pergi meninggalkan Naila sendirian di sini Bu. Naila dengan siapa, jika kalian pergi, kenapa kalian pergi hanya berdua, kenapa Naila tidak di ajak".
Itu lah kata kata yang Naila ucapkan, dan Brian kembali mengingat apa yang di ucapkan Bu Dina saat naik motor bersamanya.
Dari situlah Brian baru paham. Apa yang di ucapkan oleh Bu Dina saat itu, jika di gabungkan dengan kejadian apa yang barusan Brian lihat.
Flashback of.
"Begitulah Nai ceritanya. Kenapa aku mau menerima perjodohan bunda dan ibu kamu."
Hiks hiks hiks hiks... Naila menangis mendengar apa yang Brian katakan. Dan itu benar-benar membuat Brian merasa tak tega mendengarnya.
Naila menutup mulutnya dengan tangan sebelah, agar Isak tangisnya tidak terdengar dengan yang lain. Sedangkan tangan satunya di genggam erat oleh Brian. Lalu Brian menyandarkan kepala Naila di pundak nya, Brian tidak peduli dengan tatapan dari para pengunjung restauran tersebut.
Setelah cukup tenang Naila kembali duduk seperti semula. Brian melihat mata Naila yang menyipi, brian menghapus sisa air mata di pipinya. Brian pun langsung memberikan minuman kepada Naila, agar Naila sedikit tenang.
"Sudah ya jangan nangis lagi, mata kamu sudah sipit tak terlihat lagi tuh.?" Brian mencoba menghibur Naila.
"Memang mata ku sipit KA.?" Brian mengangguk.
"Kamu terlihat jelek Nai, dengan wajah seperti itu..?"
"Memang aku jelek, kenapa kakak mau di jodohkan dengan Nai.
"Ya karena kamu cantik, mangkanya aku mau menerimanya. Kalau kamu jelek seperti ini, sudah nangis hidung merah mata sipit persis badut. Ya aku harus mikir mikir lagi ini urusannya." Brian berusaha menahan tawanya.
Naila melihat ke arah Brian yang sedang menahan tawanya. Dan Naila tau kalau Brian sedang menjahilinya.
"Iiihh kamu nyebelin banget sih." Naila memukul lengan Brian, dan mencubit pinggang Brian.
Dan alhasil Brian tertawa, begitupun juga Naila.
"Hahahah... Ampun Nai, sakit Nai. Aduh aduhh... Baru juga di mulai hubungan kita, kamu sudah menganiaya aku". Brian tertawa melihat Naila yang cemberut.
"Biarin, kamu ngeselin ka. Dari dulu jahil nya gak berubah.." Naila cemberut tapi ada senyuman kecil di bibirnya.
" Kalau sikap dingin aku bisa lah aku ubah, tapi jiwa jahil ku sulit untuk ku ubah Nai." Brian terkekeh..
__ADS_1
Brian menggenggam kedua tangan Brian, Naila pun terkejut dengan sikap Brian seperti itu. Jantung Naila terasa berdetak sangat cepat saat ini, saat Brian menatapnya.
"Naila Aprilia, apakah kamu mau memulai hubungan kita ini.?" Naila mengangguk, Brian tersenyum." Apakah kamu mau melanjutkan hubungan kita ini ke tahap yang lebih serius, maksud aku." Brian sengaja menggantung ucapannya, membuat Naila penasaran.
"Maksud aku,aku ingin menjalani hubungan yang serius dengan kamu. Aku ingin menikahi kamu Nai, untuk menjadi istriku." Naila menatap mata Brian lekat lekat, yang Naila lihat ada ketulusan di mata Brian." Mungkin bagimu ini terlalu cepat, setidaknya aku sudah mengatakan kalau aku serius ingin memiliki hubungan ini."
"Apa ini tidak terlalu cepat ka untuk kita, untuk saling mengenal kita lebih baik satu sama lain.?"
"Mengenal yang seperti apa lagi Nai. Keluarga, kita sudah mengenal keluarga masing-masing sejak dari kita kecil. Mengenal diri kita lebih jauh lagi, Mau mengenal yang seperti apa.? Kita sudah saling kenal, kita hanya perlu mendekat kan diri kita kembali. Bagaimana Kamu mau kan Nai.?"
Naila mengangguk, dan Brian tersenyum.
"Aku ingin kamu katakan Nai, bukan hanya mengangguk kan kepala saja.?"
"Iya aku mau ka, kita jalani hubungan kita ini. Jujur aku senang bisa menjalani hubungan kita ini ka.?"
"Senang, senang kenapa.?"
"Senang bisa dekat dengan kalian, dan juga bisa melakukan keinginan ibu dan bunda. Kita sebagai anak hanya bisa berbakti. Karena aku sekarang tidak mempunyai mereka lagi, dengan cara ini aku bisa berbakti dengan orang tuaku. Semoga mereka bisa tersenyum melihat aku bersama kamu ka.?"
Brian tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.
"Iya aku mau ka". Naila tersenyum, begitu juga dengan Brian.
Brian menautkan tangan nya di tangan Naila, ada senyuman kebahagiaan di bibir mereka. Entahlah Naila merasa saat ini dia tidak seperti biasanya, dia merasa bahagia.
Kini Naila sudah berada di dalam mobil, Brian saat ini mengantar Naila pulang ke kontrakan.
Sepanjang perjalanan,tangan mereka saling berpegangan. Brian enggan untuk melepaskan tangan Naila,sedangkan Naila sendiri hatinya merasa seperti sedang lari maraton.
Saat sampai di kontrakan, Brian pun turun. Dan mengantarkan Naila sampai depan pintu kontrakan. Di sana ada Devi yang sudah membuka pintu untuk Naila, namun Devi melihat pemandangan sepasang kekasih baru saling berpegangan tangan.
"Aduh rasanya bagaikan obat nyamuk ini ya. Lepas kali, udah sampe, gak akan kemana mana pula.." Ledek Devi, Brian dan Naila tersenyum.
Akhirnya tangan mereka pun terlepas, Brian masih menatap Naila.
"Sekarang aku pulang dulu ya, kamu masuk, jangan tidur malam malam." Naila mengangguk.
__ADS_1
"Iya kakak, aku gak akan tidur malam, paling pagi membayangkan wajah kamu itu. Dah aaah lebih baik aku masuk,dari pada jadi obat nyamuk. Bay.." Devi pun membalik badannya, lalu masuk ke dalam.
Sedangkan Naila dan Brian hanya tersenyum..
"Teman kamu lucu..." Kata Brian dengan tersenyum.
"Lucu. Cie cie jadi Devi lucu nih, aku bilangin ke orangnya ya."
"Ekhem... Cemburu bilang aja, jangan ngeledek.." Sindir Brian.
"Idih.. Siapa juga yang cemburu." Brian mencebikkan bibir nya." Iihh beneran tau.."
"Iya iya aku percaya kamu cemburu..." Brian masih betah ngeledek Naila..
"Tapi masih lucu kamu, kamu itu selain lucu gemesin tau ga.?" Menoel hidung Naila.
"Jadi ka Brian yang aku kenal suka gombal ya.?" Brian menggelengkan kepalanya.
"Gak cuma sama kamu aku gombal begini." Kembali Naila yang mencebikkan bibirnya.
Brian tersenyum." Yasudah aku pulang dulu ya, nanti aku wa kamu ya.?"
"Iya, hati hati ya ka." Brian pun mengangguk.
Brian melambaikan tangan sebelum masuk ke mobilnya, Naila pun membalas nya. Setelah Brian mengendarai mobilnya, setelah sudah tidak terlihat barulah Naila masuk ke dalam.
Devi di dalam menatap Naila,dengan tersenyum meledeknya. Naila menghampiri Devi, lalu mem..eluk Devi dengan menggerakkan ke kiri dan ke kanan.
"Devi, apakah ini yang nama bahagia. Aku baru merasakan sebahagia ini. Saat aku di rumah bibi, aku tidak pernah sebahagia ini." Devi sebagai sahabatnya pun ikut merasakan bahagia.
"Entahlah Dev, aku saat ini sangat bahagia. Saat di rumah bibi, aku bahagia saat di luar, ketika kembali ke rumah aku merasa sedih kembali." Devi melihat Naila menangis." Jika dengan seperti ini,aku bisa membahagiakan ibu dan ayah di sana. Aku akan lakukan itu Dev, demi mereka."
"Kalau itu di posisi ku, aku juga akan melakukan hal yang sama Nai. Apalagi keluarga mereka sangat sayang dan peduli dengan kamu, aku senang melihat sahabat ku ini bahagia."
"Trimakasih Devi." Naila tersenyum." Aku akan bilang ke paman tentang niat ka Brian dan bunda Rossa. Semoga Paman senang mendengarnya."
"Amiin... Aku hanya bisa berdoa untuk mu sebagai sahabat Nai.."
__ADS_1
"Terimakasih Devi". Devi pun mengangguk.
Bersambung..