Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Emiil vs Fandi


__ADS_3

Lalu Naila menyentuh keningnya Fandi yang terasa panas.


"Ya ampun ka, panas banget kening kakak. Kakak sudah makan belum.?"


Fandi menggelengkan kepalanya.


"Yasudah sebentar ya, aku ambilkan handuk buat kompres kakak.?" Fandi mengangguk.


Naila berkutat di dapur sedang membuat bubur. Tak lupa Naila juga membuatkan teh hangat, menyediakan baskom yang sudah di isi air, untuk mengompres Fandi..Tak lupa juga Naila mencari obat parasetamol untuk meredakan rasa demam, agar tidak terlalu tinggi demam nya.


Setelah bubur nya matang,Naila membawa nya beserta teh hangat dan juga alat kompres. Ke kamarnya Fandi,Naila membawa dengan sangat hati-hati.


Tak.Tak.Tak..Naila meletakkan gelas dan juga mangkok bubur di atas meja.


Fandi yang tertidur merasa keningnya seperti di sentuh oleh seseorang, Fandi pun terbangun.


Naila tersenyum, melihat kakaknya membuka matanya. Dengan mata yang sayup Fandi tau kalau Naila sedang tersenyum.


"Ka bangun sebentar yu, aku sudah membuatkan kakak bubur. Ayo di makan dulu, aku juga sudah membuat teh hangat. Biar Kaka enakkan, habis itu minum obatnya." Fandi menggelengkan kepalanya. "Ayo dong ka ,makan dulu. Pasti kakak belum makan kan, ayo makan dulu.!"


"Yasudah, kakak mau." Naila pun tersenyum, lalu Naila membantu Fandi untuk duduk dan bersandar. "Kepala kakak pusing banget Nai." Fandi memijat kepalanya sendiri.


"Sabar ya ka,nanti sehat lagi ko. Aku suapi kakak ya, kalau aku bilang aaaa. Kakak buka mulut kakak ya.?" Fandi mengangguk.


"Yuuk Ka, aaaaaa..."Naila sudah mengarahkan sendok berisikan bubur di depan mulut Fandi. Fandi pun membuka mulutnya." Aaamm,,, pintar kakak." Naila tersenyum.


Sudah pasti Fandi pun ikut tersenyum. Fandi merasa saat ini dirinya seperti anak kecil yang sedang di urus sama ibunya. Suapan demi suapan, sudah masuk ke mulut Fandi. Sesekali Naila menyeka bibir Fandi saat ada sisa bubur di ujung bibir Fandi.


Benar benar jarak mereka saat ini sangat dekat, dan itu terlihat jelas di mata Fandi. Bertapa Cantik dan manisnya Naila saat di lihat dari jarak dekat seperti ini. Jantung Fandi berdebar sangat cepat ketika Naila memperlakukan dirinya sangat telaten.


Setelah bubur nya habis, Naila membantu Fandi untuk meminum obat. Tak lupa teh hangatnya pun di minum oleh Fandi. Kini Fandi sudah merebahkan dirinya di kasur, dengan di selimuti seluruh tubuhnya. Sedangkan Naila saat ini meletakkan kompresan di kening Fandi.

__ADS_1


Naila menemani Fandi di kamarnya, dan Naila hanya meninggalkan nya saat ingin mandi dan ganti baju saja. Sedangkan saat makan saja Naila membawa nya ke dalam kamar Fandi.


Naila menemani Fandi, karena Naila tau kalau orang sakit kadang suka membutuhkan sesuatu. Jadi Naila saat malam hari masih berada di kamar Fandi. Sambil memainkan handphone nya,dan mengganti kompres nya. Sampai sampai Naila tertidur di kamar Fandi.


Di keesokan harinya, Fandi membuka matanya terlebih dahulu. Fandi merasa lebih baik, tidak seperti kemarin yang menggigil. Saat Fandi menoleh ke samping ,Fandi terkejut karena tangannya menggenggam tangan Naila.


'Astaga, jadi Naila semalaman nungguin aku. Dan dia juga tertidur di sini, kasian banget sih malah tidur di karpet lagi. Pasti semalam aku merepotkan dia, baik banget sih kamu Nai. Terbuat dari apa hati kamu, mau merawat ku seperti ini.' Gumam Fandi dalam hati.


Saat Naila menunjukan dirinya akan terbangun, Fandi menutup matanya kembali.


Hoooaaam....Naila menutup mulutnya dengan tangannya. "Jam berapa ya ini, sepertinya sudah siang. Astaga sudah jam 8, aku kesiangan. Tapi jika aku kerja, kasian Ka Fandi yang masih sakit. Siapa yang akan mengurus nya, apa aku libur saja ya.? Ya sudah aku hubungi Devi kalau aku gak bisa masuk." Akhirnya Naila menghubungi Devi kalau dirinya tidak masuk kerja.


Dan Naila merelakan hari kerja untuk libur, hanya untuk mengurus Fandi yang sedang sakit.


Flashback of.


Dari situ lah Fandi merasa dirinya tertarik kepada Naila.Bukan hanya itu Fandi juga jatuh hati kepada adik sepupunya itu. kesan nya ya gimana gitu, adik sepupu sendiri di sukai.Tapi bagi Fandi itu sah sah saja, karena cinta itu buta. Ya cinta itu buta tidak memandang apapun, yang Fandi rasakan hanya rasa bahagianya saat dekat dengan Naila. Apalagi saat melihat Naila tertawa bahagia, Fandi juga akan merasakan hal yang sama.


Tok...Tok... Tok... Fandi pun membuka pintu, di sana ada Naila yang sedang tersenyum ke arah Emiil...


"Kak Fandi.."Ucap Naila.


"Naila..."Fandi pun langsung menghampiri Naila.


Fandi melihat kalau tangan Naila berpegangan dengan tangan pria yang ada di samping Naila. Sedangkan Emiil menunjukkan senyuman nya ke arah Fandi, entah maksudnya apa. Tapi Fandi tidak suka dengan senyuman Emiil.


"Kamu kenapa Nai, kalau sakit harusnya tadi kamu di rumah, gak usah kerja.? Kakak sampai khawatir loh,saat tau kamu di rawat. Kakak langsung kesini."Sambil membelai kepala Naila.


Emiil yang melihat nya merasa panas, dan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.


Naila tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Tadi Naila hanya pusing, tau tau tubuh Nai menggigil gitu. Untung saja ada Emiil yang membawa aku kesini."Naila tersenyum ke arah Emiil, tentunya Emiil pun membalas senyumannya.


Dan Fandi tak menunjukkan reaksi sama sekali, wajahnya hanya datar.


"Ow iya ka, kenalkan ini Emiil. Ka Emiil itu pacar Nai, dia pria baik yang Nai kenal selain kakak dan paman. Emiil ini Kak Fandi,dia ini kakak aku. Dia kakak sepupu aku,dia kakak yang terbaik yang Aku kenal ." Emiil tersenyum mendengarnya.


"Oow ya, jadi ini kakak kamu sayang.?" Sengaja Emiil menekankan kata sayang di hadapan Fandi.


Sambil melihat ke arah Fandi dengan tersenyum yang penuh maksud. Cukup hanya Fandi dan Emiil saja yang tau dari senyuman dan tatapan itu


"Hallo kak ,saya Emiil. Saya kekasihnya Naila, sekaligus temannya di tempat keja." Emiil memberikan tangan ke Fandi dengan tersenyum kemenangan. Namun Fandi tak membalas jabatan tangan Emiil.


"Heeem...kakak tau ko Nai, tadi dia yang ngabarin kakak, kalau kamu sakit ". Fandi mengacuhkan jabatan tangan Emiil.


Emiil hanya tersenyum den menurunkan tangannya kembali.


"Ow yah.Bagus kalau begitu jadi kakak tidak khawatir sama aku. Kak, kakak tidak memberikan kabar ke paman kan.?"


"Kenapa memangnya Hem..? Tapi maaf kakak sudah memberi kabar ke ayah kalau kamu di rawat di sini".


"Yasudah kalau kakak sudah memberitahu paman. Aku hanya tidak ingin membuat paman khawatir sama keadaan aku ka.?"


"Wajar ayah khawatir sama kamu Nai, kamu kan keponakan kesayangan ayah.Seperti kakak yang khawatir sama kamu,karena kamu..."


"Ekhem..."Emiil berdehem sengaja agar Fandi tidak melanjutkan ucapannya itu.


"Sayang maaf ya, aku ganggu sebentar. Sayang aku mau ke toilet sebentar, gak apa-apa kan kamu aku tinggal. Soalnya kan sudah ada kakak kamu, jadi aku gak khawatir buat ninggalin kamu di sini.Gak apa apa kan sayang.?" Lagi lagi sengaja Emiil menekankan kata sayang,dan kakak.


Agar Fandi itu sadar diri kalau dia itu kakak nya, jadi harus bersikap sewajarnya layaknya seorang kakak .


Bersambung

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak 👍 dan komentar kalian. karena itu benar benar membuat author sangat bahagia dan semangat untuk membuat cerita nya 🙏🙏🙏...


__ADS_2