Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Api cemburu Brian


__ADS_3

"Kalau itu di posisi ku, aku juga akan melakukan hal yang sama Nai. Apalagi keluarga mereka sangat sayang dan peduli dengan kamu, aku senang melihat sahabat ku ini bahagia."


"Trimakasih Devi." Naila tersenyum." Aku akan bilang ke paman tentang niat ka Brian dan bunda Rossa. Semoga Paman senang mendengarnya."


"Amiin... Aku hanya bisa berdoa untuk mu sebagai sahabat Nai.."


"Terimakasih Devi". Devi pun mengangguk.


Tak terasa hubungan Brian dan Naila berjalan 1 bulan lamanya. Dan kebetulan hari ini Debby sedang menginap di kontrakan Naila dan Devi.


Debby Sekarang juga terlihat dekat dengan Devi, selain Devi orang nya asal ceplas-ceplos. Devi pun mudah akrab dengan setiap orang, termasuk Debby.


"Nai, tanpa sadar kamui itu ternyata calon kakak ipar kami ya.?"


"Iya, aku juga baru tau Deb. Hihihi..."


"Andai saja Devi itu calon kakak ipar ku juga, pasti asyik deh. Kita bertiga kan akrab,jadi gak usah pura pura sok Deket untuk kenal aku."


Mendengar itu Devi yang sedang minum langsung tersedak.


Uhukk ukhuk ukhuk .. Naila membantu menepuk bahu Devi yang sedang terdesak.


"Kamu kenapa Dev.?" Tanya Debby yang terkekeh.


"Kamu bicara apaan sih Deb. Ngelantur omongan kamu.?"


"Eeh Dev, kamu pernah tau kan kalau ucapan itu adalah doa. Ya anggap aja aku sedang berdoa. Hihihi..." Debby cekikikan sendiri.


Naila sebagai pendengar antara dua teman dekatnya itu hanya bisa tersenyum.


Sedangkan Devi memandang Debby dengan tatapan aneh.


'Heran benar benar kembar, kaga ini kaga onoh sama aja '. Gumam Devi dalam hatinya.


Keesokan paginya, saat Naila libur. Brian menjemput Naila, untuk ngajak Naila menemaninya membeli kemeja kerja nya.


"Memang kakak mau beli apa si.?"


"Aku mau beli kemeja Nai, kemeja biru aku kemarin itu terkena noda. Dan hanya tinggal satu kemeja yang warna nya biru." Naila mengangguk." Nai, aku boleh minta sesuatu tidak.?"


"Apa.?"


"Kalau bisa kamu jangan panggil aku kakak. Aku berasa kakak kamu beneran tau gak, buka calon suami kamu.?" Naila tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Memang kamu mau aku panggil apa si ka.?"


"Tuh kan ,ka lagi , ka lagi. Baru juga di bilangin Nai, ganti apa panggilan kamu ke aku. Sayang, Yank, cinta, honey, baby, atau apalah. Ini mah kakak, ka Brian, gatel kuping aku jadinya dengar kamu manggilnya itu." Gerutu Brian.


Naila yang mendengarnya hanya tersenyum, baru tau kalau kalau sikap Brian itu seperti ini.?


"Naila, ko kamu hanya tersenyum si.? Kamu ngeledek aku ya.?" Naila menggelengkan kepalanya." Terus kamu kenapa kamu senyum senyum sendiri seperti itu.?"


"Lucu aja ka, kamu yang aku kenal saat kecil. Identik dingin jutek, sekarang kamu jadi posesif seperti ini. Sampai kakak tadi aja, melihat ada pria yang ngeliatin aku aja langsung kamu halangi."


"Ya karena dia ngeliat nya sampai seperti itu, kalau biasa aja aku gak akan halangi kamu." Jawab nya dengan ketus.


Naila mencebik kan bibirnya, berlaga ngeledek.


"Iya deh mas Brian sayang." Brian tersenyum mendengarnya, merasa bahagia.


"Lagi lagi kamu manggil aku apa Nai.?"


"Mas Brian sayang, memang kenapa kamu gak suka Mas.?" Naila menahan senyumnya.


Brian mengerem mobil nya dan melihat ke arah Naila, dengan senyuman.


"Suka suka banget Nai. Kamu panggil aku dengan sebutan itu ya. Kalau kamu masih manggil aku dengan panggilan kakak, aku akan minta hukuman ke kamu.?" Brian dengan senyuman menyeringai.


"Hukumannya apa ka?"


Justru Brian tersenyum jahil ke arah Naila." Kalau kamu manggil aku dengan sebutan kakak Brian lagi, kamu harus kasih aku..?" Brian memajukan bibirnya,ke arah Naila.


Sambil menaikan ke dua alisnya mengarah ke Naila, seraya meledek Naila. Lalu Brian melaju kendaraan nya kembali.


"Itu mau nya kamu.?"


"Ko mau nya aku, itu kan hukuman kamu tau. Kalau kamu manggil aku dengan sebutan itu. Kalau kamu lancar memanggil dengan panggilan kesayangan, jadi aku gak perlu repot-repot kasih hukuman ke kamu."


Brian tersenyum, sedangkan Naila sendiri bibirnya cemberut.


Kini Brian dan Naila sudah sampai di salah satu toko, yang menjual kemeja. Brian sedang mencoba kemejanya di ruang ganti.


Di saat Naila sedang menunggu Brian, sambil melihat lihat kemeja yang lain. Naila mendengar ada yang memanggilnya.


"Naila.." Saat Naila menoleh alangkah terkejutnya yang memanggilnya itu adalah Emiil.


"Emiil.. Kamu di sini.? Dan kamu juga sudah bisa jalan kembali." Ada senyuman di bibir Naila.

__ADS_1


Emiil mengangguk." Ya aku di sini, aku juga sudah bisa berjalan kembali Nai. Tiga bulan aku berada di kursi roda, dan baru dua Minggu aku kembali beraktivitas kembali." Naila mengangguk. " Bagaimana kabar kamu Nai..?" Emiil mengarahkan tangannya untuk bersalaman, Naila pun mengarahkan tangannya untuk bersalaman dengan Emil.


"Kabar aku baik Emiil, kabar kamu sendiri bagaimana.?" Alangkah terkejutnya Naila saat Emiil tiba tiba mem..eluknya.


"Kabar aku baik Nai. Aku kangen kamu Nai, aku sangat merindukan kamu Nai. Naila maafkan aku ya, saat itu aku sudah membuat kamu terluka." Saat ini yang Naila rasakan, nafasnya terasa sesak.


Naila tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Bahkan, Naila tak sanggup untuk menolak saat Emiil mem..eluk nya


Tanpa Naila sadari ada seseorang yang melihat adegan itu, dengan perasaan marah. Ya api cemburu kini sudah menjalar ke hati Brian, saat melihat Naila dan seorang pria. Tangannya terkepal sangat erat, dadanya begitu sakit. Matanya merah dan rahangnya nya pun mengeras karena menahan emosinya.


Brian menghampiri Naila.


"Naila.." Emiil melepaskan pelu..kannya.


Emiil melihat pria yang berdiri di samping Naila dengan menggenggam tangan Naila. Emiil sedikit kesal dengan pemandangan yang buat dia tidak suka.


"Ayo kita pulang, aku sudah selesai." Naila pun mengangguk dan meninggalkan Emiil yang masih menatapnya.


Emiil pun berjalan menghampiri Naila yang berjalan menuju arah parkiran. Saat di parkiran Emiil menarik tangan Naila, dan Naila pun terkejut ternyata Emiil lah yang menariknya.


Brian yang melihatnya merasa geram.


"Lepaskan tangan kamu dari tangan Naila.!"


"Kenapa saya harus melepaskan tangan Naila, siapa kamu memang nya.?" Emiil dengan wajah menantang.


"Kamu.."Brian ingin menghajar Emiil, namun di tahan oleh Naila.


"Jangan ka.. Aku mohon." Brian akhirnya menarik tangannya saat ingin menghajar Emiil.


"Kamu membela nya Nai.?" Naila menggeleng." Lalu apa. Siapa dia sebenarnya, kenapa dia sampai berani memeluk kamu seperti tadi.?"


"Kalau ingin tau siapa saya. Saya adalah orang yang berarti bagi Naila. Naila begitu mencintai saya, dan Naila juga berarti untuk saya. Jadi saya katakan lepaskan tangan kamu." Dengan beraninya Emiil berkata seperti itu.


Naila terkejut dengan ucapan Emiil yabg baru saja dia dengar. Bukan hanya Naila, Brian pun sangat marah mendengar nya.


"Brengs..ek.. " Ucap Brian


BBBRRRUUUGGGHHHH.... Brian memukul tepat di wajah Emiil. Habis Emiil di pukuli oleh Brian, dan Emiil sudah lemah terkapar di aspal.


"Cukup.. cukup... Sudah ka Naila mohon sudah, hentikan... Hiks hiks hiks...." Brian yang mendengar Naila menangis karena ketakutan, langsung berhenti memukul Emiil....


"Saya ingatkan kamu, berani sekali lagi menyentuh milik saya. Habis kamu sama saya.!" Ancam Brian." Ayo kita balik..." Brian menggenggam tangan Naila.

__ADS_1


Saat Naila sudah masuk di kursi mobil, dan Brian hendak masuk. Dari belakang Emiil menepuk pundak Brian.


bersambung...


__ADS_2