Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Kue Semprong


__ADS_3

Kini tiga mangkuk cendol pun sudah kosong, dengan di lahap Brian dan Naila. Akhirnya Brian pun kini sedang membayar es yang di makan, dan juga yang di bungkus untuk di bawa pulang.


Naila yang sedang menunggu di kursi kayu panjang, tepat di depan warung penjual cendol itu.


Mata Naila melihat sekeliling tempat, dan senyum Naila pun nampak lebar. Naila kegirangan saat melihat sebuah gerobak berwarna biru nampak keluar dari dalam gang. Yang di mana gerobak itu bertuliskan Kue Rangi, Naila bertepuk tangan.


"Waaah.... Itu dia yang di cari cari. Ini namanya pucuk dicinta ulam pun tiba. Mas, mas Brian.." Panggil Naila.


Brian yang baru selesai membayar segera menghampiri istrinya.


"Ada apa si sayang.?"


"Mas, coba kamu lihat itu. Tuh gerobak biru di bawah pohon asem itu." Sambil menujuk ke arah yang di maksud.


Mata Brian pun mengikuti,ke mana arah Naila tunjuk. "Yang gerobak biru itu Nai,yang banyak anak anak itu.?" Naila mengangguk." Memang itu tukang apa.?"


"Itu tukang kue rangi mas, yang aku cari. Yuk kesana yuk mas."


"Beneran Nai, kalau itu tukang kue rangi yang kamu maksud.? Kalau bukan bagaimana, nanti kamu ngambek lagi.?"Tanya Brian memastikan.


"Iiiihh... Mas Brian ,kan aku yang lihat sejak tadi. Memang kamu, kalau gak percaya biar aku aja yang kesana. " Jawab ketus Naila.


"Jangan jangan kita kesana sama sama ya. Yuk, kita kesana." Ajak Brian,Naila pun mengangguk.


Brian pun mengikuti langkah Naila di belakangnya, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Naila kenapa jadi galak begini ya.? Berasa jadi seperti macan betina, gak boleh salah langsung nyakar.


"Mas cepetan, ko lama banget si. Keburu abang nya jalan nanti, Iiihh...." Rengek Naila..


"Iya iya maaf. Yuk kita kesana." Brian segera berjalan menghampiri Naila yang kini berada di depannya sedikit jauh.

__ADS_1


Kini Naila dan Brian sudah berada di dekat Abang penjual kue Rangi, yang Naila inginkan. Brian dan Naila masih menunggu, karena masih ada anak kecil yang sedang menunggu pesanan nya yang lagi di buatkan.


Naila melihat kue tersebut sudah tidak sabar menunggu. Naila sampai menelan Silva nya sendiri, karena kepingin makan kue itu. Bagi Naila kue nya itu sangat menggoda, apalagi dengan tambahan gula aren, dan kue nya pun di masak dengan api dari potongan kayu kecil kecil.


Brian tentu sejak tadi memperhatikan tingkah istrinya yang seperti anak kecil. Dengan bergelayut di lengannya, dan menggoyangkan tangan Brian. Naila seperti layaknya nya anak kecil, yang merengek minta jajan kepada ayahnya.


"Mas....~" Dengan bibir cemberut.


"Iya sebentar Naila." Saat anak gadis kecil itu pergi dengan membawa kue nya . Bergantian Brian yang memesannya.


" Pak pesan 6 ya pak. Yang satu biar di makan di sini, dan yang lima di bungkus." Abang penjual itu pun mengangguk.


Naila tersenyum senang karena pesanannya sedang di buatkan. Kue yang terbuat dari tepung kanji dan parutan kelapa,yang di panggang dengan cetakan khusus di atas tungku dan tutup rapat. Dan setelah matang pun di tambah kan gula aren.


Dan tanpa waktu lama, kue rangi milik Naila pun sudah matang. Kini Naila sedang menikmati kue nya dengan duduk di kursi kayu panjang,tepat di bawah pohon. Dengan di temani Brian sambil menunggu kue yang lainnya matang.


Naila memakannya pun sangat nikmat tanpa menawarkan Brian yang berada di sampingnya. Brian yang memperhatikan istrinya sejak tadi, hanya tersenyum saja.


Hanya memakan kue itu saja, dia sebahagia itu. Unik ya wanita itu, apalagi wanita hamil. Naila kamu itu semenjak hamil, kamu itu menggemaskan sekali sih. Beruntung nya aku memiliki kamu, apa mungkin ini hukuman kali ya. Dulu aku membencinya, karena dia itu bawel, gak bisa diem, Cengeng, dan manja pula. Dan sekarang kebalikan, dia kini sudah menjadi istri ku. Aku begitu amat menyayangi nya, apalagi dengan sikap manja nya dia. Bagiku semuanya itu sangat menggemaskan, dan semakin membuatku jatuh cinta dengan nya.


"Uuupss.... Sorry mas, kue nya aku makan semuanya. Aku lupa nawarin kamu mas, maaf ya.?" Naila tersenyum, dengan mata genit, Seperti anak kecil.


Brian tersenyum." Gak apa-apa sayang, aku senang kamu memakannya sampai habis. Jangan mikirin aku, yang penting kamu dulu, lagian kan kue nya masih ada lima lagi. Kalau kurang kan masih ada, kalau aku mah gampang sayang." Kata Brian sambil mencubit ujung hidung Naila.


Kini Naila dan Brian sedang berada di dalam mobil. Brian melanjutkan untuk mencari makanan yang Naila ingin kan, yaitu kue semprong. Brian melihat sisi kiri kanan jalan, sambil mencari penjual kue yang Naila inginkan. Sedang Naila sebegitu asyik menikmati kue Rangi, dengan menjilati gula aren di atas kue berbahan tepung kanji tersebut.


Saat melewati kawasan perkampungan, di pertigaan jalan. Brian tersenyum, kali ini keberuntungan ada padanya. Ya Brian melihat bapak penjual kue semprong, yang di pikul itu yang sedang duduk di sebuah pos pangkalan ojek. Karena bapak itu ada di sisi kanan jalan, akhirnya Brian pun memutar balik mobilnya, menuju penjual semprong itu.


Brian dan Naila kini turun dan menghampiri bapak penjual kue semprong. Bapak penjual itu sedang beristirahat, dengan menggunakan topi sebagai alat pengganti kipas. Nampak wajah lelah, pada pria yang tak lagi muda. Dan masih kuat untuk bejalan keliling dengan memikul dua tempat menyimpan kue semprong nya.


Brian dan Naila saling memandang,ada rasa tak tega melihat bapak penjual nya yang kini sedang kelelahan.

__ADS_1


"Permisi bapak, saya ingin membeli kue semprong nya.?"


"Aaah iya neng, boleh. Mau beli berapa.?"


"Satu bungkus ini berapa pak.?" Tanya Brian sambil memegang kue yang sudah di bungkus plastik bening.


"Harga satu bungkusnya, 15 ribu nak. Isinya ada 12 kue ." Jawab bapak itu dengan senyuman, dan dengan wajah yang penuh harap.


"Oh 15 ribu ya pak. Yasudah kalau begitu saya beli 20 bungkus ,kira kira ada apa tidak ya pak.?" Brian tersenyum menatap bapak penjual kue tersebut.


"Aaahh, 20 bungkus nak.?" Brian mengangguk." Ada ada, kebetulan bapak tadi habis mengambil kue nya, jadi masih bagus bagus. Alhamdulillah, akhirnya ada yang borong kue bapak. Sebentar ya nak bapak siap kan dulu" Brian mengangguk.


Ada wajah bahagia pada bapak penjual kue semprong tersebut, setiap kali memasukkan kue nya ke dalam kantong. Mulutnya selalu mengucapkan rasa syukur nya.


Naila dan Brian saling memandang dan tersenyum, karena melihat bapak penjual kue nya begitu semangat menyiapkan kue kue nya ke dalam kantong.


"Sayang, kamu haus gak.? Aku mau ke warung sebentar, ingin beli minum.."


"Iya mas aku lumayan haus, kamu haus juga mas.?" Brian mengangguk."


"Yasudah aku beli minum dulu, kamu tunggu sini ya."


"Iya mas."


Akhirnya Brian pun berjalan menuju warung, untuk membeli minuman. Sedangkan Naila sedang duduk di kursi kayu panjang. Sambil memperhatikan bapak penjual kue menyiapkan pesanannya Naila dan Brian.


" Sepertinya Eneng bukan orang sini ya.?"


"Iya pak saya bukan orang sini. Saya hanya lewat sini, yang kebetulan lagi nyari-nyari kue ini pak". Bapak penjual itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Naila." Maaf pak, bapak baru keluar ya. Kue nya masih banyak.?"


"Tidak neng, bapak sudah dari pagi. Yang beli nya aja baru 2 bungkus tadi. Mangkanya bapak seneng bener, dagangan bapak di borong Eneng." Naila tersenyum." Ow iya neng ini mau di taro di mana kue nya..?"

__ADS_1


"Ow sebentar ya pak, biar nanti di dalam mobil saja. Tunggu suami saya dulu." Bapak penjual kue pun mengangguk.


Bersambung..


__ADS_2