Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Mau dong


__ADS_3

Brian dan Naila masuk ke dalam kamar, Brian sedikit cemberut melihat Naila amat bahagia mendengar nama Fandi datang. Brian hanya duduk di tempat tidur, tanpa adanya bersiap untuk kumpul dengan keluarga pak Tommy.


Naila mengikat rambutnya yang terlihat mulai panjang. Dan Brian masih mengamati Naila saat merapikan rambutnya.


"Senang banget si kaya nya. Pas mendengar nama Fandi datang.?"


"Iya dong mas, Kita itu jarang ketemu. Apalagi sekarang ada Sarah datang aku jadi tambah senang."


"Yakin, kamu senang hanya karena Sarah yang datang. Bukan karena Fandi kan yang datang.?" Naila baru sadar, kalau dia disini dengan si pria pencemburu.


Naila menahan senyum nya, saat melihat suaminya yang kini sedang cemburu. Ekspresi raut wajah Brian saat ini, membuat Naila gemas. Dengan pipi di kembungkan, dan bibir cemberut. Bukan hanya itu, wajahnya nya pun menoleh ke arah lain, layaknya anak kecil yang sedang ngambek.


"Ya pastinya ya karena ada Ka Fandi juga dong mas. Selama aku di sini, dia yang sudah baik sama aku. Bukan hanya itu, Ka Fandi selalu membelikan aku sesuatu setiap pulang kerja..." Ucap Naila, dengan tersenyum.


Naila sengaja ngeledekin Brian dengan memanas manasi suami nya yang cemburuan itu.


Brian langsung menatap Naila dengan tatapan tak suka nya.


"Sekarang juga ayo kita pulang. Kita pamitan sama keluarga kamu. Aku gak mau tau, ayo siap siap ..." Brian hendak bangun dan mengambil Hoodie nya.


Hihihi ... Naila terkekeh sendiri, dan Brian menoleh kearah Naila. Brian baru sadar kalau istrinya hanya menggoda agar dirinya cemburu.


Bibir Brian terbentuk sedikit senyuman, dan Naila tau kalau suaminya sedang tersenyum.. Brian meletakkan kedua tangannya di pinggang dan membuang nafasnya. Brian menatap Naila dengan tatapan tajam.


"Kamu sengaja ya membuat aku cemburu,dengan ucapan kamu..?" Naila tersenyum.."Sekarang kamu sudah pintar ya buat ngejahilin aku balik, awas kamu ya." Nada bicara Brian penuh dengan ancaman. Tapi bukan ancaman yang menyeramkan, karena di bibirnya terlihat senyuman menyeringai.


"Hukuman apa tuh, mau dong.hihihi...." Goda Naila..

__ADS_1


"Iih kami tuh di ancam malah begitu, liat aja setelah kita pulang. Kamu aku beri hukuman loh, aku kurung di kamar mau kamu..."


"Mau dong, hihihi...." Naila justru memeluk Brian dengan manja. Brian justru terkekeh dengan sikapnya Naila..


"Habis nya dari kemarin kita diam diaman terus mas. Aku lagi ingin sama kamu mas, aku bete tau dari kemarin kita diam diaman.?"


"Kan kamu yang ngambek sama aku, bukan aku yang ngambek sama kamu.?" Goda Brian, membuat Naila tersenyum.


"Yasudah kita balik besok ya, soalnya lusa aku juga sudah masuk kerja."


"Yasudah besok kita balik ya mas..."Brian pun mengangguk." Mas.. Sekarang kita keluar ya, gak enak sama paman dan bibi.?"


"Gak enak sama paman dan bibi,


apa karena ada Fandi.?"


" Lagian kamu masih aja cemburu sama Ka Fandi. Ya jelas karena gak enak sama paman dan bibi lah. Kamu tuh mas, jelas jelas ini sudah ada buktinya. Ini hasil perbuatan kamu, masih aja kamu cemburu. Kamu masih ragu sama aku. Hah..?"


Brian justru yang terkekeh mendengar nya.." Ya gak lah, ngapain aku ragu. Jelas terbukti akulah pemenang nya. Buktinya nih hasil petualangan aku, setiap malam."


Dengan sombongnya sambil menyentuh perut Naila yang membuncit.


Naila pun mencebikkan bibirnya. Brian justru terkekeh, saking gemasnya Brian mencubit pipinya Naila.


Kini Naila dan Brian sudah bergabung dengan keluarga pak Tommy. Di sana juga sudah ada Fandi dan Sarah. Mereka kini sedang menikmati makan malam bersama .


Pak Tommy tersenyum melihat keluarga nya, semuanya berkumpul. Hanya Jenny lah yang tak hadir di tempat itu. Entahlah pak Tommy tak tau di mana Jenny berada. Selama ibu nya di penjara, Jenny jarang pulang.

__ADS_1


Fandi mengamati semua keluarga nya, terutama kepada kedua orangtuanya. Fandi melihat, ayahnya begitu perhatian kepada ibunya. Dan ibunya pun melayani ayahnya, dengan menyendok kan nasi dan lauk di atas piring. Dulu mana pernah Fandi melihat adegan seperti itu.


Dulu seluruh keluarga, makan sendiri sendiri. Tidak berkumpul seperti ini, yang terlihat harmonis. Dulu setiap kali keluarga ingin makan, dan terlihat ada Naila. Bu Farida dan Jenny selalu pergi, dan meninggalkan meja makan. Mereka berdua tidak ingin makan satu meja dengan Naila. Mangkanya setiap kali makan, Naila lah yang menyediakan masakan untuk keluarganya. Dan menyendok kan nasi dan lauk, di atas piring pak Tommy.


Selesai makan, Naila, Sarah, dan juga keluarga pak Tommy sedang menonton tv. Mereka asyik mengobrol dan juga nonton tv. Pak Tommy yang duduk di samping Bu Farida, terlihat romantis. Bagaimana tidak, pak Tommy duduk sambil merangkul pundak istrinya. Dan pundak pak Tommy pun dijadikan sandaran untuk istrinya..


Naila dan Melly, melihat pemandangan seperti itu dan mereka saling tersenyum. Pemandangan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Pak Tommy begitu amat perhatian dengan istrinya saat ini. Begitupun Bu Farida, nada bicaranya pun sekarang penuh dengan kelembutan. Sudah tidak memakai nada tinggi, dan ketus. Dan Bu Farida pun juga sekarang, menjadi murah senyum, tidak lagi menunjukkan wajah tidak sukanya. Mau kepada Naila atau Sarah, kekasih Fandi.


Sedangkan Brian dan Fandi, mereka duduk di luar. Ya Brian dan Fandi sedang menikmati rokok mereka. Sebenarnya Brian tidak ingin merokok, tetapi Fandi meminta menemaninya mengobrol di luar. Dan sesama pria kalau mengobrol, tidak di temani kopi, dan rokok. Rasanya ada yang kurang, dan gak asyik. Kalau Kata Fandi, hihihi....


" Trimakasih ya, kamu sudah mencabut tuntutan ibu ku. Dan membebaskan ibu ku, dan aku tidak tau harus mengatakan apalagi selain terimakasih sama kamu." Ucap Fandi.


Fandi Sambil menghisap rokok lalu mengeluarkan asap rokoknya dari hidung dan mulut.


Ssssrrrruuuuup.... Aaaaah..... Bunyi Brian yang sedang menyeruput kopi, yang masih terlihat mengeluarkan uap ngebul.


"Semua itu aku lakukan, hanya demi istri ku Naila... Aku tak tega menolak permintaan nya itu, apalagi ibu mu sudah ada perubahan selama di sana. lagian ibu mu selama di sana, berperilaku dengan baik. Mangkanya itu aku mencabutnya,dan membebaskan ibu mu."


"Beruntungnya Naila mendapatkan suami yang pengertian seperti kamu. Aku mohon, sama kamu Brian. kamu lindungi Naila ya, jangan buat dia kecewa, ataupun terluka"


"Kamu tenang saja, tanpa kamu minta aku sudah pasti akan melindunginya. Dan bukan Naila yang beruntung mendapatkan ku. Tetapi aku lah yang beruntung mendapatkan istri seperti Naila. Istri ku itu, selain cantik wajahnya, dan cantik pula hatinya. Dan bukan hanya itu saja, dia itu bagaikan obat untukku. Dengan adanya Naila, semua sikap dingin, angkuh, sombong. Semua nya hilang karena Naila.. Naila segalanya untukku, Mangkanya aku tidak akan membiarkan ada orang yang menyakiti, dan membuat Naila terluka. Aku pastikan aku akan melindunginya, karena aku amat begitu menyayangi Naila istri ku..." Kata Brian dengan pandangan nya menatap lurus kedepan.


Fandi yang mendengarnya tersenyum. Fandi menilai Brian itu pria bucin. Tapi apa yang di katakan Brian itu benar adanya. Naila itu selain cantik wajahnya, dia juga cantik hatinya. Bagi yang belum mengenal Naila, pasti akan menilai Naila biasa saja. Tapi kalau sudah mengenal Naila lebih jauh lagi, Naila itu gadis yang istimewa.


Dan Fandi sekarang sudah bisa melupakan Naila, dan mengikhlaskan nya dengan Brian. Karena kini Fandi sudah mendapatkan gadis yang benar benar baik, menyayangi dia dan keluarganya. Ya Sarah adalah gadis baik, yang mempunyai hati yang baik juga..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2