
Ada rasa sesak dan sakit di hati Brian, saat mendengar cerita Naila. Bertapa kejamnya, bibi Farida dan Jenny memperlakukan Naila saat itu. Naila menceritakan nya pun dengan mata yang basah,saat mengingat kejadian yang membuatnya sedih.
Dalam benak Brian, jika ada dirinya di sana. Tak akan Brian biarkan Naila di perlakukan kejam oleh bibinya itu. Walaupun Brian dulu suka menjahili Naila,dan suka memarahi Naila. Tetapi jika ada seseorang yang memarahi dan menjahati Naila, Brian pun sudah pasti akan menolongnya.
Karena jika tidak ada Denis di samping Naila, sudah pasti ada Brian yang menolong nya. Apalagi Naila sepantaran dengan Debby adiknya, sudah pasti Brian akan melindungi Naila, seperti Brian melindungi Debby. Walaupun jiwa jahil nya saat melihat Naila, rasanya ingin menjahilinya. Namun Brian juga peduli dengan Naila.
" Sudah jangan di ingat, biarkan itu sudah tidak ada. Jangan kamu ingat cerita yang membuat kamu menjadi sedih kembali. Sekarang ada aku di sini, aku tidak ingin kamu sedih sayang..." Naila mengangguk.
"Nai, kenapa dua barang ini kamu masih menyimpannya. Apa barang ini spesial dan berarti buat kamu.?" Naila tersenyum.
Naila pun mengangguk.
"Barang ini memang berarti banget mas buat aku. Dan ini juga dua barang yang spesial buat aku, karena ini dari kamu." Brian tersenyum.
"Kenapa gitu, itu kan barang yang di berikan anak laki-laki kecil. Untuk seorang gadis kecil yang saat cengeng..?" Sambil menahan senyum.
"Ya memang barang itu dari seorang anak laki-laki. Tetapi barang itu spesial di saat gadis kecil itu sudah mulai mengerti arti kata spesial. Saat gadis kecil itu duduk sekolah SMP, dan mengerti barang ini spesial untuk aku."
"Ooow... Ya, spesial nya seperti apa.?"
Naila tersenyum,memandang dua barang yang pernah Brian berikan saat kecil itu.
"Barang inilah yang menemani ku di saat rasa kesepian, dan kangen masa masa kita kecil dulu mas. Apalagi boneka ini, dia yang selalu setia mendengarkan kesedihan ku saat aku selalu di sakiti bibi. Hanya dengan boneka ini, aku mencurahkan isi hatiku. Aku tidak mungkin setiap hari, bini selalu menyakiti aku. Dan aku selalu bilang ke paman, dan pasti nantinya Pama dan bibi pun bertengkar, karena paman membela aku. Aku tidak mau, merek bertengkar Karena aku mas." Naila tersenyum menatap boneka beruang biru itu." Mangkanya aku meluapkan isi hatiku hanya dengan dia. Aku menganggap nya sahabat ku."
Brian tak kuasa mendengarnya,Brian membawa istrinya kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Sudah sayang cukup jangan kamu ceritakan kesedihan kamu itu. Hatiku sakit saat mendengar nya. " Naila tersenyum mendengar suaminya bicara.
"Kamu tau mas, harapan aku saat di rumah bibi itu apa.?"
"Apa sayang.?"
"Aku berharap, aku bisa keluar dari rumah itu. Dan bisa di pertemukan oleh pria baik, yang akan mencintai aku, dan menikahi aku dengan kasih sayangnya. Dan berharap juga agar aku di pertemukan kembali oleh kalian semuanya." Naila berhenti pembicaraan nya dan membuang nafasnya.
" Sebenarnya aku tidak yakin untuk bertemu dengan kalian kembali, dan mungkin aku pikir aku akan menikah dengan pria lain. Tapi Tuhan berkehendak lain, dia mendengar kan doa ku. Aku gak nyangka akhirnya aku di pertemukan dengan kalian, dan sekarang aku di nikahi kamu. Pria yang dulu nya galak, tapi hati kamu baik mas. Aku bersyukur sekali, sekarang aku bisa berkumpul kembali dengan kalian."
Brian tersenyum. "Aku pun juga sama akhirnya aku bertemu kembali dengan kamu. Sekarang kita mulai kembali hubungan kita, dan kita mulai kembali dengan baby kita nanti." Naila mengangguk.
Next dua hari kemudian.
Hari di mana yang di nanti Devi dan Denis. Ya hari ini hari akad pernikahan Devi. Devi yang kini sedang di rias,dan menggunakan baju pengantin terlihat sangat cantik.
Bukan hanya para wanita saja yang terlihat cantik dan anggun. Para pria pun juga tak mau kalah. Brian dan Fandi pun menggunakan kemeja putih dan juga setelan jas vest. Brian dan Fandi terlihat memberikan kesan macho dan kece, dengan di tambahkan dasi sebagai pemanis. Dengan memakai vest warna coklat susu, penampilan Brian dan Fandi sebagai groomsmen tidak hanya terlihat elegan tapi juga lebih santai. Tak lupa dokter Alvin, tetangga Brian sekaligus sahabat Brian, dia pun menggunakan setelan jas yang sama dengan Brian sebagai groomsmen. Sedangkan pak Tommy menggunakan setelan jas berwarna Salem. Pak Tommy pun juga tak kalah tampan, walaupun sudah berumur tetapi beliau masih terlihat sangat tampan dan gagah.
Kini para pria sedang menunggu di ruang tamu, sedangkan para wanita masih sibuk dengan riasan nya. Brian pun jadi tak sabar menunggu kedatangannya Naila, akhirnya Brian pun menyusul istrinya. Di mana Naila dan yang lainnya sedang di rias di kamar tamu di lantai bawah.
Yaelah Brian yang jadi pengantin siapa, kenapa kamu yang gak sabar si.? Pusing othor jadinya.
Tok tok tok.... Brian mengetuk pintu kamar, di mana Naila dan yang lainnya berada.
Ceklak,, pintu terbuka. Ternyata Naila yang membuka pintunya dengan senyuman manisnya. Brian terpaku menatap kecantikan yang terpancar di wajah Naila. Brian masih terdiam menatap akan kecantikan istrinya. Ya selama Naila mengandung, Naila terlihat sekali aura kecantikan. Di mana itu membuat Brian semakin jatuh cinta kepada Naila.
__ADS_1
Naila melihat suami yang diam seperti patung, merasa heran dengan sikap suaminya. Naila tersenyum, dan menyentuh lengan suaminya.
"Mas..." Brian pun tersadar.
"Sayang, maaf aku melamun.." Naila hanya tersenyum mendengarnya.
" Sayang, kamu cantik banget menggunakan dress ini, dan juga makeup kamu.. Ya ampun, istri ku semakin hari semakin cantik..." Brian tersenyum dengan memberikan pujiannya untuk istrinya.
"Masa sih mas, aku cantik. Terimakasih mas pujiannya." Naila tersenyum tersipu malu.
"Kamu selalu cantik buat aku sayang." Sambil menoel hidung Naila." Ow iya kalian sudah belum si makeup nya. Ko lama banget si dari tadi.?"
"Aku dan yang lainnya si sudah selesai di makeup mas. Hanya Devi yang belum selesai, kami sedang menunggu Devi selesai di rias."
"Astaga, jadi kamu sudah selesai di rias. Kamu lama keluar hanya menunggu Devi aja." Naila menjawabnya dengan mengangguk." Ya ampun Naila sayang, kenapa harus menunggu Devi si. Kan ada suami kamu yang lagi nungguin kamu..."
"Tapi aku ingin liat Devi selesai di rias mas.? Masa gak boleh si, boleh ya mas.?"
Pinta Naila yang sedikit merengek, dengan wajah melas nya. Membuat Brian tak tega melihatnya, dan akhirnya Brian pun pasrah.
Hhhheeemmmh.... Brian membuang nafasnya." Yasudah boleh, kamu masuk lagi sana, mau nemenin Devi di dalam kan.?" Naila mengangguk." Yasudah aku menunggu kamu di ruang tamu dengan yang lainnya ya.?"
"Iya mas, terimakasih ya kamu sudah ngertiin aku." Brian mengangguk.." kalau begitu aku masuk lagi ya, gak apa-apa kan kamu aku tinggal masuk ke dalam. Jangan marah ya mas. Muuuaaach...." Naila mengecup bi..bi* Brian.
Tentunya raut wajah Brian memancarkan senyuman. Sekarang Naila tau obat penangkal untuk suaminya itu, yang bagi Naila sedikit Taksum(otak me*um) hehehe....
__ADS_1
bersambung....