Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Denis Jemput Naila


__ADS_3

Kiki pun menceritakan masalahnya dengan Naila ke Rara dan Devi. Devi dan Rara sampai menggelengkan kepalanya dan ikut kesal mendengarnya.


" Kamu parah Ki, Naila bukan orang seperti itu. Harus nya kamu bilang kalau kamu suka sama dia bukan diam. Bagas gak akan tau kalau kamu juga suka sama dia Ki.?" Devi tersenyum sinis ke arah Kiki." Naila sebenarnya malas kalau kerja, di bawa bawa masalah asmara. Naila lebih milih menghindar dari pada menimpali nya. Aku mau liat Naila dulu.?"


Devi pun masuk ke dalam produksi, di sana Naila sedang menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.


"Nai..?"


"Hem.. kenapa Devi.?"


"Kamu gak apa-apa.?"


"Aku kenapa memangnya.


"Itu tadi sama Kiki.? Aku liat ekspresi kamu marah dengan Kiki.?"


"Ow itu, kesal ya kesal tapi udahlah jangan di perpanjang. Dia salah paham dan cemburu gitu saja."


"Cemburu, memang cemburu dengan siapa.? Sama kamu, memang kamu sama siapa yang dia suka..?" Tanya Devi dengan suara berbisik." Yang aku tau dia suka sama Ba... Sama Bagas . Kamu jalan sama Bagas jadi nya Mangkanya Kiki marah.?" Naila mengangguk.


"Sini sini.. Aku ceritakan, tapi kamu janji jangan ngeledekin ya. Mulut kamu suka ember soalnya." Devi mengangguk.


Naila menarik Devi ke arah pintu belakang produksi. Naila menceritakan kejadian semalam, terutama saat Bagas mengungkapkan isi hatinya.


"Kamu tolak Nai si Bagas. Idih jahat banget, Bagas kan ganteng, anak orkay bro. Dia di sini kan cuma nyaru aja,masa kamu tolak si.?"


"Aku tau ya Kiki suka sama dia, mana mungkin aku samber gitu aja. Aku bukan pagar makan tanaman. Selain itu aku juga gak ada perasaan apapun ke Bagas, aku menganggap Bagas teman baik aja." Naila menatap arah lain." Jujur saja, aku masih mengingat Emiil ."


"Kamu belum move on dari Emiil Nai.?" Naila menggelengkan kepalanya.


"Sudah ya aku mau lanjut kerja lagi.?" Devi pun mengangguk.


Naila meninggalkan Devi yang masih sendiri, lalu Devi pun ikut masuk.


Jujur saja saat ini Naila lagi sangat rindu dengan Emiil. Bagaimana tidak, Emiil pria yang berani terang-terangan membawa Naila di depan bibi Farida. Bahkan Emiil berani mengatakan kalau dia mempunyai hubungan dengan Naila.


"Emiil, bagaimana keadaan kamu sekarang. Apa kamu sudah bisa beraktivitas kembali. Semoga kamu cepat sehat, dan kembali beraktivitas ." Gumam Naila seorang diri.


Di lain tempat, Emiil sedang latihan berjalan. Ya semenjak dia mengakhiri hubungannya dengan Naila, Emiil menyesal. Dan Emiil bertekad ingin cepat sehat dan menemui Naila. Karena Emiil tau Naila sudah tidak bekerja di sana, Emiil akan mencari Naila.


Kata dokter Emiil masih bisa berjalan kembali. Ada syaraf yang kejepit, jadi harus di perbaiki. Dan Emiil mengikuti Semua apa yang orang tuanya ucapkan, untuk demi dirinya bisa pulih kembali.


"Maafkan aku Nai, aku akan mencari kamu. Kita mulai kembali hubungan kita ini, dari awal." Kata Emiil saat melihat selembar fotonya dan Naila..

__ADS_1


Lain di tempat Emiil, lain juga di tempat Brian. Saat malam hari Brian yang sedang berkutat di depan layar laptopnya. Nampak heran karena kedua orang tua nya menghampiri Brian.


"Ayah, Bunda. Ada apa duduk sini, sepertinya ada yang penting.?"


Pak Haris dan Bunda Rossa duduk di bibir tempat tidur. Brian pun menggeser kursinya untuk duduk di dekat orang tuanya.


"Brian, kami kesini ingin bicara sama kamu. Apa selama ini kamu sudah memiliki wanita, maksudnya apa kamu sudah punya pacar nak?" Tanya pak Haris.


Brian menanggapi nya hanya tersenyum.


"Iya nak, kami tau selama ini kamu sibuk kerja. Terakhir kamu membawa seorang gadis cantik bernama Ardena dan itu cukup lama kamu tidak membawanya kesini lagi."


"Itu karena hubungan kami sudah berakhir Bun. Dan bunda tau Sendiri aku paling malas berpacaran, memahami, mengerti, dan mengalah, dengan sikap wanita yang selalu cari perhatian dan kadang manja nya mereka . Ujung ujung nya mereka hanya mengincar uang ku saja, di belakang ku dia main api.


"Terus kamu mau sampai kapan nak umur kamu sudah hampir kepala tiga loh Brian.?"


"Terserah bunda dan ayah, sekarang Brian harus berbuat apa. Jujur Bun Brian malas berpacaran, mangkanya semenjak aku dan Ardena putus aku sibuk membantu ayah dan bunda mencari Naila. Agar aku tidak terus mengingat Ardena. Aku tidak seperti putra bunda yang pandai dekat dengan wanita, dan aku juga tidak pintar memilih wanita. Brian yakin bunda dan ayah akan memilih yang terbaik untuk Brian."


"Jadi kamu ingin kami yang memilih pilihan untuk kamu. Kami tidak ingin kamu menyesal nantinya..?" Ucap bunda menyentuh tangan putranya.


"Insya allah gak Bun. Brian akan menerimanya." Brian tersenyum.


"Dan apalagi jika dengan......" Brian bergumam, dan tersenyum saat ingin menyebutkan nama seseorang...


"Aaaah apa Bun, memang Brian ngomong apa ya..?" Brian menggaruk keningnya karena kepergok kalau dia hampir keceplosan.


Pak Haris dan bunda Rossa tersenyum.


Keesokan harinya,saat pagi pagi Naila sudah datang. Dan akan siap bertempur di produksi untuk membuat orderan yang sudah di pesan yang baru masuk tadi dari Bu Leni. Karena orderan akan di kirim sebelum jam 11, Naila pun sudah standby bersama 2 temannya.


Tiba tiba Kiki datang menghampiri Naila.


"Naila..."


"Hem... Kenapa Ki.?" Naila tersenyum ke arah Kiki. Kiki pun membalas senyumannya.


"Aku ingin bicara sama kamu boleh, sebentar saja ko.?" Naila melihat ke arah Anto dan Bagas,yang juga sedang melihat ke arah Naila dan Kiki.


Naila pun mengangguk." Iya boleh, sebentar aja ya. Soalnya lagi buat orderan Ki.?"


"Ya sebentar doang ko Nai." Naila pun mengangguk.


"Hei Abang Abang ku yang ganteng, aku tinggal sebentar ya.?" Kata Naila.

__ADS_1


"Oke, Naila." Jawab Anto, dan pekerjaan Naila diambil alih oleh Anto .


Kini Naila sedang bersama Kiki,di tokonya. Kiki menunduk dan Naila nampak heran.


"Naila. Aku mau minta maaf sama kamu atas ucapan ku kemarin. Tidak seharusnya aku bicara seperti itu, semalam Devi menceritakan ke aku. Dan aku rasa aku udah keterlaluan sama kamu Nai.?" Kiki mengulurkan tangannya ke arah Naila." Aku minta maaf sama kamu ya Nai.?"


Naila melihat wajah Kiki penuh dengan rasa penyesalan dan tulus meminta maaf kepadanya. Naila pun tersenyum ke arah Kiki, lalu membalas uluran tangan Kiki, dan bersalaman.


"Sama sama Ki, aku juga menganggap kamu hanya salah paham sama aku. Aku juga minta maaf ya sudah marah sama kamu kemarin, nada aku sedikit membentak kamu".


"Nggak ko Nai, memang pantas aku kamu bentak. Tidak seharusnya masalah pribadi di bawa ke kerjaan, maaf ya.."


"Sama sama Ki, sudah aah jangan minta maaf terus, lebaran udah lewat tau. Hihihi."


Trimakasih ya Nai, sudah mau memaafkan aku.?"


"Sama sama, ya sudah aku balik lagi ya ke produksi.?" Kiki pun mengangguk.


Dan akhirnya Naila pun kembali ke produksi menyelesaikan tugasnya.


Dan akhirnya salah paham mereka pun selesai.


Siang harinya selesai istirahat, handphone Naila bergetar. Terdengar suara panggilan masuk di handphone nya.


"Ya hallo, Denis ada apa"


"Naila, kamu pulang jam berapa.?"


"Jam 4 kenapa Den.?"


"Nanti aku jemput kamu ya, pas pulang kerja.?"


"Memang mau kemana.?"


"Aku ingin ngajak kamu keluar. Masa sama ka Brian aja kamu di ajak nya, aku kan juga ingin ngajak kamu keluar Nai.?"


"Iya iya, gitu aja ngambek."


" Ya sudah nanti aku jemput kamu ya Nai, sampai jumpa lagi.?"


"Iya."


Panggilan terputus dan Naila pun kini melanjutkan tugasnya untuk stok besok. Karena besok adalah hari Minggu, di mana hari produksi libur.

__ADS_1


__ADS_2