
Ya Naila dan Brian berjalan di pasir pantai dengan deburan ombak di bibir pantai. Brian tersenyum saat melihat Naila berlari lari di tepi pantai, bermain dengan ombak berbuih. Dan Brian mengambil foto Naila dengan senyuman dan pemandangan yang natural.
"Sayang lihat kesini." Panggil Brian.
Saat Naila menoleh, cekrek... Suara kamera terdengar dari kamera Brian. Dan Brian tersenyum saat melihat hasil jepretan nya.
"Cantik.."
Brian menghampiri Naila, dan memberi tau hasil jepretan nya. " Bagus kan sayang.?"
"Iya mas bagus..Mas sudah yuk masuk..!" Aja Naila dan Brian pun mengangguk.
Sepanjang jalan Naila dan Brian masuk ke dalam penginapan, dengan saling berpegangan tangan.
Saat malam nya,Naila yang sedang asyik mengirim pesan kepada Devi dan Debby. Membuat Brian tersenyum melihatnya, Brian tidak melarangnya akan hal itu. Brian berjalan keluar kamarnya, entah kemana hanya Brian yang tau.
Cukup lama Brian keluar. Sampai jam 10 malam barulah Brian masuk ke dalam kamarnya, menghampiri istrinya yang sedang tertidur.
"Sayang". Brian membangunkan Naila dengan sangat lembut.
"Eemmm kenapa si mas.? Aku ngantuk nih". Rengek Naila, dan Naila tertidur kembali.
Brian tersenyum mendengar Naila merengek saat tidur. Seperti layaknya anak kecil. Sambil membelai pipinya Naila dengan lembut seraya tersenyum.
"Bangun sebentar sayang, aku ingin menunjukkan sesuatu ke kamu."
Akhirnya Naila membuka matanya dengan perlahan. Naila mengucek matanya karena bangun tidurnya.
Naila melihat Brian dengan mata sayup-sayup." Ada apa mas aku ngantuk nih.?"
Cup
Brian meng.... ecup bibir Naila karena benar benar merasa gemas.
Kalau tidak mengingatnya dan sudah ku buatkan. Kamu bisa aku terkam, sekarang juga Nai..
Hanya bisa diucapkan dalam hati, berjuang keras menahan rasa gemas nya itu.
Naila pun tersenyum saat Mendapatkan itu. " Ada apa si mas, sudah malam tau.?"
"Sebentar yuk." Brian tersenyum lalu mengeluarkan kain dari dalam kantong celananya nya.
"Kain hitam itu untuk apa si mas.?"
"Jangan banyak bertanya, nanti jadi kelamaan.." Brian menutup mata Naila menggunakan kain hitam itu.
Brian membantu Naila untuk berdiri, lalu membantunya untuk berjalan. Sepertinya Naila merasa seperti berjalan menuju luar, terdengar suara deburan ombak yang semakin terdengar sangat jelas. Serta tiupan angin yang menyentuh kulit Naila yang begitu dinginnya semilir nya angin malam.
Kini Brian sudah membawa Naila di halaman, dan membantunya untuk duduk di sebuah kursi. Mata Naila masih ditutup oleh kain hitam.
"Duduk di sini ya, hap.." Saat Naila berhasil duduk dengan sempurna." Aku buka penutup matanya tapi kamu jangan membuka mata dulu ya sayang." Naila pun mengangguk.
Brian membuka kain penutup matanya, dengan senyuman berharap kejutannya akan berhasil.
"Jangan buka mata kamu dulu ya sayang, sampai aku bilang buka. Baru kamu boleh buka mata kamu, oke."
__ADS_1
"Iyaa mas.." Jawab Naila dengan mata yang masih tertutup, dan ada senyuman manis di bibirnya.
Brian tersenyum melihat istrinya amat menurut padanya.
"Nah aku hitung sampai tiga ya, dalam kehitungan ketiga kamu boleh buka mata kamu. Siap ya 1 2 3, buka mata kamu sayang.."
Naila membuka matanya secara perlahan, dan terkejut dengan apa yang di lihat. Di depannya Brian sedang tersenyum dengan memegang kue tart berwarna pelangi, dengan lilin yang sudah menyalah di atas kue nya.
Naila terharu, sampai menitikkan air matanya.
Happy birthday Naila
Happy birthday Naila
Happy birthday Naila Aprilia
Happy birthday to you.
"Selamat ulang tahun istri ku, selamat ulang tahun kesayangan ku. Doa ku yang terbaik untukmu, Semoga kamu selalu di berikan kesehatan kebahagiaan dalam hidup kamu. Amiin.."
"Aamiiinn..."Naila mengusap wajahnya. Dengan perasaan masih sangat terharu dengan apa yang di berikan suaminya kini.
"Sekarang kamu tiup lilin ya, sebelum nya kamu baca doa dulu..." Naila mengangguk.
Naila memejamkan mata, Berdoa lalu setelah itu meniup lilin nya.
Hufh hufhh .. Naila dan Brian tersenyum saat lilinnya mati.
"Terimakasih ya mas, kamu memberikan kejutan ini untuk aku. Aku sendiri aja lupa dengan ulang tahunku ini, tapi kamu mengingatnya." Dengan perasaan terharu .
Naila melihat sekitarnya di tempat ini di mana di hiasi lilin , dan bunga. Dan di meja pun terdapat makanan dan minuman, dengan di hiasi lilin kecil mempercantik hiasan di atas meja.
Naila tersenyum melihatnya." Semua ini kamu mas yang buat.?"
"Iya di bantu pengurus tempat ini, tapi kalau makanannya aku pesan hihihi..." Brian menggaruk keningnya.
"Terima kasih ya mas. Muuaaacchh.."
Brian dapat kec.... upan dari Naila. Brian pun tersenyum." Lagi lagi, masa satu aja. Yang sebelah dan yang lainnya ngiri nih.?"
"Nanti saja." Jawab nya malu malu.
"Waduh kode berat nih. Yayaya nanti ya.?" Goda Brian membuat Naila terkekeh..
Dan akhirnya mereka pun menikmati makan malam yang sudah Brian siapkan. Setelah selesai makan, Brian menggenggam tangan Naila.
" Tutup matamu ."
"Untuk apa lagi si mas.?"
"Tutup saja sayang." Dengan pasrah Naila pun akhirnya menutup matanya.
Brian mengeluarkan kotak berwarna merah. "Buka sayang mata kamu."
Naila pun membuka matanya..
__ADS_1
Dan lagi lagi Naila di buat terharu atas kejutan yang Brian berikan pada nya. Sebuah kalung cantik dengan huruf N. Membuat makna huruf yang terkesan bagi Brian untuk Naila .
"Suka gak.?" Naila mengangguk, Naila bingung harus mengatakan apalagi.
"Aku pakai kan ya.?"
"Iya." Brian membantu memasangkan kalung ya di leher Naila. Naila pun tersenyum saat kalung itu sudah terpasang.
"Cantik sayang."
" Trimakasih mas." Brian mengangguk.
Angin laut saat malam, berhembus cepat. Membuat kulit Naila terasa sedikit menggigil. Brian melihat kalau Nia sedang mengusap lengannya .
" Kamu kedinginan sayang.?" Naila mengangguk." Yasudah masuk yuk.?"
Dan akhirnya Naila dan Brian pun masuk.
Setelah mereka masuk, Brian menatap istrinya nampak termenung.. Entah apa yang membuatnya sedih, Brian pun berjalan menghampiri Naila
"Sayang kamu kenapa si, ko nampak sedih gitu..?" Tanya Brian.
Naila tersenyum lalu menggeleng kan kepalanya.
"Aku tidak kenapa-kenapa aku hanya terharu dengan sikap kamu ke aku. Memberikan kejutan ini untuk ku.
Naila memandang lurus kedepan, dan Brian duduk menemani Naila di sampingnya.
"Kamu tau mas, semenjak ayah dan ibu tiada. Aku seperti lupa dan tidak peduli dengan tanggal lahir ku. Toh bagi ku tak ada gunanya, sama aja gak ada yang istimewa. Bahkan aku saja sampai lupa tanggal ulang tahun ku, selain paman Melly dan KA Fandi. Mereka lah yang selalu mengingat hari itu, dan mereka juga yang memberikan hadiah untuk ku. Terkadang paman dan ka Fandi mengajak ku ke luar, itu pun di saat malam hari, dan kadang lewat tanggal mereka kasih kejutan ke aku ."Naila tersenyum saat mengingat ketika masih di rumah bibinya.
"Maksud kamu Fandi kakak kamu itu, apa dia sering ngajak jalan kamu juga.?" Naila mengangguk.
"Iya dia selalu baik sama aku. Terkadang dia suka ngajak aku untuk menemaninya Dia bermain futsal."
"Terus kamu mau di ajak nemenin dia main futsal.?"
" Kenapa enggak, dari pada aku bosen di rumah. Mending aku nemenin ka Fandi, liat dia bermain futsal. " Naila asyik bercerita tidak melihat raut wajah Brian yang sedang menahan kesalnya.
"Selain Fandi siapa lagi.?" Brian memancing pertanyaan ke Naila.
"Hanya ka Fandi dan Emiil saja. Ya dua pria itu yang hanya berani mengajak aku keluar, terang terangan di depan bibi.."
"Berarti mereka pria hebat ya yang berani mengajak kamu, berarti mereka spesial dong buat kamu.?" Brian sudah sangat kesal sampai mengepalkan tangannya.
"Ya hanya mereka yang berani mengajak ku ke....." Naila membelalakkan matanya dan tersadar karena dirinya di pancing pertanyaan oleh Brian.
Bersambung....
Hai hai hai Teman-teman sekalian. Author ucapkan terimakasih untuk kalian yang audah membaca cerita ku ini. Author gak akan pernah bosen untuk ingetin kalian, untuk jangan lupa like dan komentar positif untuk cerita ini . kesannya memaksa ya . Tapi enggak ko, bagi yang memberikan nya suka rela. hihihi..
Jujur tanpa like dan komentar kalian, author sedikit galau nih.
...Cuma ingetin Besok 17 Agustus, bagi yang ikut memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia. kalian harus tetap Semangat ya. SEMANGAT 💪💪👍...
... ...
__ADS_1