
"Yasudah itu terserah kamu, yasudah nanti aku bilang ke paman. Besok pagi aku chat ya, kamu siap siap aja kemas pakaian kamu.?"
"Ok beb..."
Mereka pun masih teleponan sampai salah satu dari mereka memutuskan panggilan telponnya.
Keesokan paginya, Naila masih di dalam kamarnya. Karena Naila baru selesai memasak, untuk keluarga nya. Dan Naila juga masih mengemasi barang-barang yang dia butuhkan. Karena sebagian pakaian nya Naila sudah mengemas nya.
Dan masalah Devi ingin ikut pun, pamannya pun tak keberatan, itu tandanya Naila tidak sendirian dan ada temannya. Bukan hanya itu pak Tommy lebih percaya Naila kepada Devi. karena pak Tommy tau, Devi itu sudah menganggap Naila seperti saudara nya sendiri.
Di ruang makan hanya ada bu Farida, Melly dan pak Tommy. Karena Jenny sendiri masih tertidur di kamarnya.
Naila datang dengan membawa sebuah ransel yang cukup besar. Lalu tas itu Naila letakkan di atas sofa di ruang tamu, Bu Farida mengamati tas itu saat Naila membawa nya .
"Nai, makan dulu sini nak."
"Iya paman". Naila pun duduk di samping Melly, dan Melly pun tersenyum melihat Naila duduk di samping nya.
"Hei, mau kemana kamu bawa tas besar seperti itu. Kamu tidak lagi habis merampok isi rumah ku kan?"
"Ibu jaga ucapan kamu itu, lebih baik diam. Karena kita sedang sarapan, jadi jangan ada yang ribut.!" Suara pak Tommy dengan tegasnya membuat Bu Farida diam.
Akhirnya Semua keluarga pun kini menikmati makanan nya tanpa ada suara sedikitpun. Yang terdengar suara dentingan sendok dan piring saat saling beradu.
Selesai sarapan, pak Tommy menyuruh Bu Farida tetap duduk di kursinya.
"Bu, Naila ingin pamitan katanya. Dia ingin tinggal di luar, ngekos sama teman-teman nya.?"kata pak Tommy.
"Ya bagus deh kalau seperti itu. Tanda nya dia sadar diri, karena sudah menyusahkan kita di sini terlalu lama."
Naila merasa sedih dengan ucapan bibi nya itu.
"Ibu, jaga ucapan kamu.?"
"Paman sudah jangan marah lagi. Bibi, ya Naila sadar diri, mangkanya Naila ingin keluar dari rumah ini. Agar bibi tidak terus menerus menarik urat ke Nai. Di sini Naila ingin minta maaf jika selama di sini Naila selalu membuat bibi marah, dan selalu menyusahkan bibi."
"Bagus deh kalau kamu sadar, saya jadi tidak perlu capek-capek tarik urat sama kamu. Sudah kan tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, saya mau ke kamar lagi.?"
__ADS_1
"Iya Bi." Dengan angkuhnya Bu Farida masuk kedalam kamarnya, dan menutup pintunya.
"Nai, paman minta maaf ya atas sikap bibi kamu yang seperti itu.?"
"Iya paman tidak perlu minta maaf, semoga saja nanti bibi bisa baik sama aku.?"
"Aaammmiiiin...." Kata pak Tommy dan Melly dengan mengangkat tangannya.
Naila melihat wajah Melly nampak murung." Kamu kenapa Melly.?"
"Eeemmm ... Aku cuma sedih aja, Kaka akan pergi jauh. Aku sedih tidak ada teman ngobrol yang asyik seperti ka Nai. Kakak apa boleh kalau aku rindu kakak, aku telpon kakak.?"
Naila tersenyum.. ''kenapa tidak, tapi kamu chat kakak dulu, lagi kerja atau gak nya" Melly mengangguk...
Pak Tommy tersenyum lihat putri bungsu nya akrab dengan Naila
"Yasudah, kita berangkat ya. Melly ayo bareng ayah, ayah antar kamu ke sekolah.?"
"Iya yah", Melly memakai tas nya. Setelah semua siap kini mereka semuanya meninggalkan kediaman rumah Bu Farida.
"Paman kamu gak kerja Nai.?" Devi suaranya agak di kencangkan. Karena berada di atas motor.
"Kalau paman kerja yang nganterin kita siapa.? Aah kamu ada aja si pertanyaan nya Dev.?" Naila tersenyum dengar teman nya bicara.
"Aaah iya iya ko aku dodol banget ya.?"
"Emang iya."
" Sembarangan, kadang kamu kalau ngomong pedes ya kaya mulut tetangga.?" Devi dan Naila terkekeh.
Dan motor pun kembali melaju menyusul motor pak Tommy.
Kurang lebih 3 atau 4 jam perjalanan, kini motor paman pun berhenti. Naila pun ikut berhenti di belakang motor pamannya. Pak Tommy menghubungi seseorang dengan sangat serius, lalu menutup nya. Tidak lama datanglah seorang wanita cantik keluar dari toko bakery.
"Hallo pak Tommy, selamat datang .Apa kabar bapak yang satu ini". Wanita itu bersalaman kepada oak Tommy.
"Alhamdulillah baik Len.Bagaimana kabar kamu juga Leni.?" Pak Tommy pun membalas jabatan tangan wanita itu yang bernama Leni . "Alhamdulillah baik, Bagaimana kabar Alfin suami mu itu..?"
__ADS_1
"Ow dia baik, dia lagi keluar biasa jemput anak lagi sekolah. Ow iya Pak Tommy jadi ini keponakan kamu yang kamu cerita kan ke suami ku.?" Pak Tommy mengangguk.
"Iya ini keponakan saya, nama nya Naila Aprilia." Sambil menujuk ke arah Naila, dan Naila tersenyum
"Nah yang ini namanya Devi, dia sahabat nya." Sambil menujuk ke arah Devi, dan Devi pun juga tersenyumlah." Maaf ya saya mengajak Devi juga, karena mereka berdua selalu bersama. Dan saya lebih aman kalau Naila bersama Devi dari pada sendirian di luar.!"
"Gak apa apa Tommy. Yasudah masuk keruangan saya yuk, kalian juga ikut masuk ya.!" Naila dan Devi pun mengangguk.
Kini pak Tommy Devi dan Naila berada di ruangan Bu Leni. Begini sebenarnya kalian pas sekali datang kesini hari ini. Karena karyawan produksi di sini sudah mengundurkan diri 2 hari yang lalu,dan karyawan di toko pun juga sudah seminggu aku pecat."
" Di pecat, memang kenapa Leni dia di pecat". Tanya pak Tommy.
"Dia ketahuan gak jujur, jadi saya tidak mau dia bekerja lagi. Walaupun dia gesit dalam bekerja, ya kalau gak jujur percuma saja saya pertahankan. Ya kan Tom.?" Pak Tommy pun mengangguk.
"Nah di antara kalian, yang bisa memasak siapa.?"
"Naila Bu, jujur saya tidak pandai memasak." Celetuk Devi, disertai cengengesan.
Bu Leni tersenyum mendengar jawaban polos dari Devi.
"Naila kamu bisa memasak.? Kalau kamu saya tempatkan di produksi, apa kamu mau.? Buat bantu bantu produksi Roti."
"Siap Bu, insyaallah saya bisa membantu untuk produksi Roti." Jawab Naila yakin.
Pak Tommy dan Bu Leni tersenyum mendengar jawaban dari Naila.
"Naila itu memang pandai memasak, dia itu sering membuatkan makanan untuk keluarga saya. Bukan hanya itu,saya juga sudah terbiasa makan masakan nya Naila, ya kan Nak.?" Naila pun tersenyum, Bu Leni pun tersenyum .
"Baik kalau begitu, Devi kamu di toko bantu menjadi SPG ya. Nanti kamu bisa di ajarin sama Rara, dan kiki. Dan kamu Naila, kamu di produksi ya ,nanti di bantu sama Anto dan Bagas di sana." Naila dan Devi pun mengangguk." Nah untuk tempat tinggal kalian, di belakang toko ini ada kontrakan . Hanya muter toko ini saja dia di sebelah kanan dikit, nah di sana ada kontrakan. Tadi pagi saya liat masih ada yang kosong, saya juga sudah memesan kontrakan untuk kalian. Tinggal kalian bicarakan saja ke yang punya rumah.?" Naila dan Devi mengangguk.
Setelah urusannya kerjaan selesai, dan akan mulai hari esok. Kini Naila dan Devi di beri tahu letak kontrakan yang akan menjadi tempat tinggal mereka.
Memang di belakang toko ada banyak kontrakan berjejer. Terlihat sekali kontrakan nya terlihat bagus, dan pemilik rumah pun memberikan potongan harga kepada Naila dan Devi. Karena pemilik kontrakan nya teman dari Bu Leni.
Dan di sana juga hanya ada 1 kasur lantai. Setelah membersihkan kontrakan, Naila berniat ingin membeli kasur 1 lagi, dan membeli perlengkapan lainnya.
Saat hendak membeli barang, pak Tommy memberikan sebuah amplop kepada Naila. Naila terkejut karena melihat isi amplop tersebut berisikan buku tabungan dan ATM.
__ADS_1