
Ada rasa rindu yang Naila rasakan saat ini, ketika menyebutkan nama kedua orang tuanya. 23 tahun sudah Naila hidup tanpa ayah dan ibunya, Naila sangat merindukan kedua orang tuanya.
Hari hari terus berganti, kini seminggu sudah berlalu. Naila seperti biasa hari hari selalu di lakukan untuk pekerjaan rumah, kerjaan, dan rumah lagi . Walaupun malam hari Naila selalu memegang kerjaan.
Karena sudah 5 hari lalu Emiil sudah berangkat ke Bali untuk menyelesaikan tugas yang di berikan atasannya. Jadi Naila hanya di rumah , karena memang biasanya hanya Emiil yang mengajak Naila jalan, Itu selain Fandi dan pamannya.
Di saat Naila sedang libur kerja, dan setelah memasak, Naila pun mencuci pakaian.
Braak.... Bu Faridah melemparkan setumpuk pakaian ke arah Naila. Tak lama kemudian Jenny pun datang dengan membawa cucian.
"Eeh Naila kamu cuci semua pakaian itu, awas jangan sampai ada yang ketinggalan.!"
"Tapi bi, ini kenapa sebanyak ini. Bukan nya ini cucian bersih ya.?" Naila melihat pakaian yang di lemparkan Bu Farida masih bersih.
"Iya itu memang ada yang bersih, itu baju baru saya dan Jenny. Kami baru membeli nya sekarang kamu cuci semua, ingat jangan ada yang sampai rusak." Kata Bu Farida sambil mengancamnya.
Naila menunduk dan mengangguk
"Ii..iya bibi nanti Naila cuci Semua." Bu Farida tersenyum menyeringai.
"Di cuci yang bersih dan wangi ya Naila, selamat menikmati cucian." Sambil melambaikan tangan lalu jenny pun pergi meninggalkan Naila.
Bu Farida pun dengan tersenyum meledek, akhirnya juga meninggalkan Naila yang masih berada di tempat mencuci baju.
"Ya ampun cucian segini banyaknya, apa mereka sengaja memperlakukan aku seperti ini. Rasanya aku sudah lelah sekali jika harus terus bersabar. Kalau bukan karena paman dan rumah ku masih ada, pasti aku sudah pergi dari tempat ini.." Gumam Naila.
Dan akhirnya Naila melanjutkan mencuci pakaiannya. Setelah selesai mencuci dan menjemur pakaian, tubuh Naila terasa lelah. Akhir Naila masuk ke kamar nya untuk beristirahat sejenak, untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Naila membuka handphone nya tapi tak ada pesan dari Emiil sama sekali.
"Hah... Mungkin Emil sedang sibuk mangkanya dia tidak menghubungi ku atau memberi kabar." Naila pun menyimpan nya kembali.
Malam harinya setelah selesai makan, Naila kini berada di kamarnya. Kini Naila sedang membalas pesan kepada temannya si Devi .
✉️" Hei yang lagi libur enak ya di rumah.?"
✉️"Enak apa, seharian ini pekerjaan rumah ku banyak banget Dev. Biasa bibi selalu memberikan pekerjaan tambahan untukku.
✉️"Eeit... Tuh nenek sihir kurang ajar ya, mentang-mentang kamu libur seenaknya ngasih kerjaan. Mending kamu pindah deh Nai, dari pada di situ tekanan batin."
✉️"Ingin nya,tapi aku tidak enak sama paman. Dia yang sudah mengurus ku dari kecil, hanya dia satu satunya keluarga yang ku punya".
✉️"Iya juga ya, hanya paman mu yang kamu punya. Yang sabar ya semoga kelak ada kebahagiaan untuk kamu."
__ADS_1
✉️" Aamiin... Semoga.
Akhirnya mereka pun saling membalas pesan. Sampai mata mereka terasa mengantuk..
Seminggu kemudian di mana adalah hari yang tak di ingin kan Naila. Seminggu ini Naila benar benar merasa kesepian, karena beberapa hari ini Emiil tak membalas pesan .
'Emiil kenapa ya ko dia tak membalas pesan ku. Pesan ku juga tak berubah warna biru, aku takut Emiil kenapa-kenapa.' Gumam Naila dalam hati.
Saat siang hari, saat membeli makan siang. Naila berniat ingin ke gudang ingin bertanya ke teman Emiil di bagian gudang.
Saat selesai membeli makan, Naila melewati pintu masuk depan Mall. Yang di mana jalan itu menuju dekat gudang .
Saat hendak berjalan, Naila berpapasan dengan Agus. Pak Agus ini orang yang berangkat ke Bali dengan Emiil, yang tak lain sepupu nya Emiil.
"Pak Agus..." Panggil Naila,Agus pun menoleh.
Saat hendak berjalan Agus pun menoleh ke arah yang memanggil namanya.
"Iya Naila,ada apa.?" Agus pun seraya tersenyum.
"Pak maaf saya mau tanya, pak Agus yang kemarin ke Bali dengan Emiil kan ya.?"
"Iya Nai, ada apa ya.?"
"3 hari yang lalu, cuma saya baru masuk kemarin. Ada apa sih Nai, kamu kangen sama saya.? Ingat Nai saya sudah mempunyai istri". Ngeledek Naila dan Naila hanya tersenyum.
"Apa sih pak, sorry pak saya bukan pelakor.heheheh..." Kedua nya pun terkekeh." Ini pak Saya hanya ingin tanya, ko Emiil belum datang ya. Apa dia masih libur.?"
Raut wajah Agus berubah seketika, akan pertanyaan Naila. Ada rasa tak tega saat melihat Naila.
"Nai, maaf sebelumnya kalau saya nanti membuat mu sedih. Emiil sepertinya mengundurkan diri dari sini, jadi dia tidak akan kembali ke sini."
Naila terkejut mendengarnya.
"Apa Emiil berhenti kerja, kenapa ko bisa.? Dia juga gak bilang sama aku, aku kirim pesan pun dia tak membalas nya. Ada apa pak sebenarnya, apa yang terjadi dengannya. Dia baik baik aja kan pak, jawab pak.?" Mata Naila mulai mengembun.
Agus melihat Naila pun tak tega, kalau dia jelaskan pun lebih tak tega dengan Naila. Karena Emiil memberikan pesan untuk tidak menyampaikan nya ke Naila.
"Jawab pak, Emiil kenapa berhenti bekerja tiba tiba. Emiil tidak kenapa-kenapa kan pak.?"
"Eeemm... Sebenarnya Emiil itu mengalami kecelakaan saat di sana, seminggu yang lalu. Dan baru di pulangkan 3 hari yang lalu, dan keadaannya sekarang masih tidak tenang. Emiil mengalami kelumpuhan, itu yang menyebabkan Emiil tidak bekerja lagi ".
Mendengar kabar itu, tubuh Naila terasa lemas. Untung saja ada Agus, jadi bisa di tahan oleh Agus.
__ADS_1
' Emiil kecelakaan, dan dia tidak bisa berjalan. Kenapa dia tidak bilang sama aku, kalau dia sedang sakit. Hiks.Hiks... " Naila menangis.
"Mungkin dia tidak ingin membuatmu khawatir Naila."
Sore harinya Naila memutuskan untuk menjenguk ke rumah Emiil, dengan meminta alamat nya ke Agus. Kini Naila berada di kediaman Emiil, dan Naila di perbolehkan masuk oleh keluarga Emiil.
Di dalam rumah ada wanita paruh baya tersenyum ke arah Naila, yang tak lain Emiil. Yang bernama ibu Emillia
Naila dengan begitu sopan mencium cium punggung tangan ibu nya Emiil.
"Selamat sore Bu, saya Naila saya temannya Emiil kerja. Saya datang kesini ingin menjenguk Emiil, apa Emiil nya ada bu."
Bu Emillia pun tersenyum." Jadi ini yang namanya Naila, yang membuat anak saya jatuh cinta. Pantas saja Emiil sering meminta saya untuk melamar kamu, ternyata kamu gadis yang cantik dan sopan." Naila tersenyum.
"Trimakasih Bu." Naila menunduk karena tersipu malu dengan pujian
"Yasudah Nak kamu masuk saja ke kamar Emiil, dia tidak mau keluar. Letak kamar nya ada di lantai atas dari tangga, kamarnya di sebelah kanan pojok ya nak". Ibunya Emiil memberi tau letak kamar putranya.
Karena memang Emiil sendiri yang menyuruh nya. Karena Emiil dapat kabar dari Agus, kalau Naila ingin menjenguknya.
Kini Naila berada di depan kamar, yang di beri tau ibunya Emiil.
Tok tok tok... Naila membuka pintu kamarnya, terlihat Emiil yang sedang berada di tempat tidurnya.
Naila tersenyum saat dia melihat pria yang ia rindukan itu.
"Emiil.." Naila kini duduk di samping Emiil.
Emiil yang enggan menjawab panggilan Naila hanya diam, menatap lurus kedepan.
"Emiil, bagaimana ke adaan kamu. Maaf aku baru menjenguk kamu, aku baru tau kamu sakit hari ini." Emiil masih diam, tapi Emiil tidak mau menatap Naila ." Emiil kenapa kamu diam saja, kenapa kamu tidak menatap aku seperti biasa. Apa kamu tidak merindukan aku Emiil.?"
'Sangat Nai, aku sangat rindu dengan kamu sayang'. Itulah Emiil hanya berani di ungkapkan dalam hatinya.
"Terus setelah kamu sudah menjengukku apa yang kamu pikirkan sekarang Nai.? Kamu kasihan sama aku atau kamu malu melihat aku yang seperti ini.?"
Naila terkejut dengan apa yang Emiil ucapkan.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Emiil, aku tidak berpikir seperti itu. Aku kesini sungguh aku khawatir dengan kamu, dan aku juga sangat merindukan kamu."
"Tapi nyatanya tatapan mata kamu mengisyaratkan kamu kasian sama aku kan." Naila menggelengkan kepalanya.
" Mangkanya aku tidak ingin kamu atau siapapun datang kesini, aku tidak mau dapat tatapan rasa kasihan dari kalian."
__ADS_1
Naila pun terkejut dengan apa yang Emiil katakan, pria yang dia kenal baik kini jadi kasar saat bicara dengan nya saat ini.