
"Denis kamu di sini.?"
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu di sini. Sedang apa, dan ini siapa.?" Sambil menunjuk ke arah Emiil yang kini juga menatap Denis.
Denis menatap Emiil dengan tatapan tak suka dan dengan nada dan ekspresi yang tak enak. Emiil sadar siapa pria di hadapannya itu, dan Emiil pun melihat raut wajah Devi saat ini yang sedikit ada rasa khawatir.
Ekhem.... Emiil berdehem, dan berdiri di samping Devi.
"Maaf nih, kamu jangan salah faham. Saya dan Devi hanya berteman saja, jadi kamu jangan marah sama Devi. Kami juga tidak ngapa ngapain. Kami hanya mengobrol saja, karena kami pernah satu kerjaan dengan Naila juga. Jadi saya di sini hanya mengobrol dengan Devi yang kebetulan bertemu." Emiil tersenyum.
" Baik kalau begitu, saya mau pamit. Devi maaf ya karena kamu mengobrol sama aku, pacar kamu jadi kesal. Maaf sekali lagi, dan jangan marah sama Devi. Kalau begitu saya permisi, Dev aku pamit ya. Trimakasih atas waktu ngobrol nya ". Devi mengangguk.
Emiil pun pergi meninggalkan Devi dan Denis di sana. Denis masih menatap Devi dengan ekspresi wajah datar nya.
"Kenapa kamu gak percaya dengan pria itu. Semuanya benar, aku tadi gak sengaja bertemu, dan dia minta ngobrol karena kami sudah lama gak bertemu. Dia dulu teman ku dan Naila bekerja."Devi mencoba menjelaskan dengan Denis agar tidak salah paham.
"Benar kah, kalau itu temanmu dan Naila.?" Devi mengangguk." Baik lah aku percaya sama kamu, aku yakin kamu jujur sayang.
Denis tersenyum dan Devi pun tersenyum juga karena merasa lega, kalau Denis percaya dan tidak marah.
"Terimakasih ya, aku hanya takut kamu marah." Devi mem...eluk lengan Denis.
Bagaimana Denis bisa marah dengan sikapnya Devi yang seperti itu, justru membuat Denis tersenyum.
"Aku boleh tanya sama kamu.?" Devi mengangguk." Memang nya dia teman kamu dan Naila di mana.?"
"Ow itu dia dulu satu kerjaan sama aku dan Naila. Hanya saja dia di bagian gudang, sedangkan aku dan Naila jadi SPG nya. "
__ADS_1
"Aku kira dia mantan kamu. Kan dia ganteng masa kamu gak tertarik cowok seperti dia.?" Goda Denis.
"Kalau dia benar mantan aku bagaimana." Goda Devi balik.
Justru itu membuat Denis yang terkejut mendengarnya. Devi berusaha menahan tawanya melihat ekspresi kekasihnya itu.
Nah kan dia berubah wajahnya, mangkanya jangan mancing mancing. Devi mau di pancing, kepancing balik kena kan loh.
Gumam Devi dalam hatinya.
"Tuh kan jadi dia benar mantan kamu yank.? Ko tega kamu bilang begitu sama aku, pake bilang dia mantan kamu segala lagi.?" Denis dengan raut wajah bete nya.
"Loh ko kamu kesal, tadi kamu nanya, aku jawab kamu kesal. Lagian dia memang ganteng, ibarat artis wajahnya mirip Aliando Syarif. Bohong kalau aku gak suka Yank." Devi menahan senyum nya saat raut wajah Denis terlihat cemberut.
"Tapi sayang nya dia bukan mantan aku, dia mantannya Naila."
"Serius Yank dia bukan mantan kamu.?" Tanya Denis lagi, untuk memastikan.
Devi pun mengangguk." Iya dia bukan mantan aku, dia mantan nya Naila. Mangkanya jangan suka mancing pertengkaran, akhirnya kena sendiri kan. " Devi terkekeh, sedangkan Denis menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Yank, kamu bilang dia mantan naila.'' Devi mengangguk." Dia tau kalau Naila sudah menikah dengan kakak ku.?"
Devi mengangguk." Dia baru tau kemarin si, kalau Naila sudah menikah. Mangkanya tadi aku gak sengaja ketemu dia, di toko. Dia teman lama nya Bagas, aku juga kaget pas dia ke toko, dan teman sekolahnya Bagas. Bukan hanya itu dia dan Bagas masih sepupuan . Sempit banget ya dunia ini, hihihi"
Denis mendengar Devi tertawa turut tertawa pula.
"Terus terus bagaimana lagi. Dia baru tau kemarin kalau Naila menikah, terus tanggapan dia apa.?"
__ADS_1
"Ya dia belum percaya dan belum rela. Kalau Naila menjadi milik orang lain, Mangkanya dia nanya aku, apa benar Naila sudah menikah. Yang aku tau dari Naila, kalau dia itu berniat ingin menikahi Naila. Tapi karena musibah kecelakaan, dia frustasi, karena dia tidak bisa berjalan lagi. Mangkanya dia meminta Naila untuk mengakhiri hubungannya. Sebenarnya Naila tidak mau putus, Naila juga cinta banget sama dia saat itu. Tapi Emiil nya kekeh keras kepala minta putus, dan Naila pun akhirnya menerima permintaan Emiil. Walaupun sebenarnya Naila tak mau, Naila menerima dengan perasaan nya yang hancur saat itu. Kasian sama Naila ,sudah patah hati dengan Emiil, terus di lamar pria gak jelas, untuk di jadikan istri yang ketiga lagi. Mangkanya Naila di bawa paman untuk tinggal di tempat ini, karena paman Tommy tak tega dengan Naila."
Denis mendengar kan Devi cerita panjang lebar, ada perasaan geram juga saat mendengar tentang Naila patah hati karena Emiil. Dan ada senang juga karena berkat pamannya, akhirnya Naila dan Ka Brian di satukan kembali.
Ya walaupun sebelumnya Denis juga pernah memiliki rasa suka ke Naila. Tapi melihat kakak dan keluarganya bahagia, di tambah lagi Naila pun juga sayang sama Kakak nya. Denis berusaha mengikhlaskan Naila untuk kakak nya. Karena bagi Denis sekarang ada Devi yang amat dia sayangi, apalagi Devi mempunyai sikap yang lucu, dan manis seperti Naila dan Debby kembarannya. Dan ada lagi nilai plusnya Devi di mata Denis, yang membuat Denis benar benar sudah jatuh hati kepada Devi.
"Tapi ko itu dia bisa jalan lagi. Terus dia kesini mau ngapain lagi.?" Denis mulai sedikit kepo dengan cerita Devi.
"Dia berobat terapi, untuk cepat bisa jalan demi Naila. Dan dia mencari Naila kembali, namun nyatanya gagal Naila sudah menikah dengan kak Brian."
"Pria cepat putus asa, belum apa-apa sudah menyerah. Udah ada penyemangat untuk apa menyerah, sekarang penyemangat nya sudah di ambil orang baru keleyengan.." kata Denis, sedangkan Devi menggelengkan kepalanya.
"Bukan seperti itu Denis. Tapi memang Emiil dan Naila mungkin belum berjodoh. Ya kita doakan saja Emiil cepat mendapatkan gadis baik, pengganti Naila." Kata Devi dan Denis mengangguk.
"Amiiin....." Ucap Denis,dan Devi yang kembali tersenyum.
"Sayang, kamu ko di sini. Kamu gak ke toko.?" Tanya Devi yang melihat Denis sedang menatap nya .
"Iya tadi aku di toko. Terus komandan Brian menelpon aku, untuk pulang sore, dan menyuruh ngajak kamu. Di pertengahan jalan aku tadi liat kamu sama pria itu. Ya sekalian aku ikutin kamu, aku duduk di sana tuh." Sambil menunjuk arah kursi tepat dua kursi di belakang Devi." Semakin lama, aku gak tahan liat kamu dan dia dekat dan tertawa bersama. Ya aku hampiri aja, kalau dia berani macam-macam aku hajar dia ." Kata Denis dengan nada kesal.
Terlihat sekali Denis cemburu, dari raut wajahnya. Sedangkan Devi tersenyum mendengarnya. Ada rasa bahagia kalau Denis cemburu, jujur saja keseringan setiap punya mantan, Devi yang sering cemburu. Bukan karena apa apa, Devi cemburu karena tidak percaya diri, karena setiap punya mantan selingkuhan nya selalu dengan gadis yang cantik cantik. Sedangkan Devi, hanya menganggap dirinya seperti Upik abu . Sedangkan wanita yang merebut mantan Devi, mereka sangat cantik, mungkin bisa di bilang sempurna. Mangkanya setelah dua kali berpacaran dan dua kali juga di khianati. Devi jadi sulit untuk dekat dengan pria lain, dan membuka hatinya kembali.
Sekali nya suka, pria itu malah menyukai sahabatnya. Yang tak lain pria itu Emiil. Ya Emiil menyukai Naila, dan Devi tidak mau merusak persahabatan karena Pria. Jadi Devi mengalah untuk itu demi sahabat nya.
Dan kini di hadapannya ada pria yang begitu menyayangi dirinya. Pria yang begitu menyayangi, mengagumi dirinya. Sungguh itu di luar ekspektasi Devi sendiri. Di saat orang orang sering mengucilkan dirinya, hanya Naila dan Denis lah yang menerima nya. Di saat orang menilai Devi gadis kasar, begajulan, sombong, jutek, cewek gak jelas. Tapi hanya Naila dan keluarga Denis lah yang menilai Devi gadis baik baik, dan istimewa.
Bersambung....
__ADS_1