
Tanpa Naila sadari, Emiil melihat adegan itu sejak tadi. Ada api cemburu yang Emill rasakan saat ini,saat melihat Naila di perlakukan layaknya pasangan kekasih.
'Gak mungkin kalau cowok itu menganggap Naila adiknya. Pasti cowok itu punya rasa sama Naila, gue yakin itu.' Gumam Emiil dalam hati.'
Lalu Emiil melanjutkan mengendarai motor sampai ke parkiran. Saat Naila menunggu di depan toko, Emiil lewat di depan Naila. Emiil menunjukkan wajah cuek nya.
"Emiil kamu baru datang.?"
"Hemm. Aku ke Gudang dulu mau absen". Naila pun mengangguk. Emiil pun meninggalkan Naila yang masih menatap nya dari belakang.
"Emiil kenapa ya, ko berubah cuek sih.?"
Lalu Naila memegang handphone nya, dan melihat pesan dari Emiil.
✉️" Sayang aku tunggu di depan Mall ya. Kita sarapan bubur Juki dulu di dekat lampu merah.
✉️" Sayang aku sudah sampai nih di depan pintu masuk, kamu di mana. Sudah OTW belum..? "
" Astaga, jadi Emiil menunggu di pintu masuk. Berarti dia melihat aku dan Ka Fandi tadi, pantas saja dia cuek sama aku. Dia sudah sarapan belum ya, coba aku tanya dulu. "
Lalu Naila mencari Emiil di tempat Emiil yang tak lain gudang barang. Di sana Naila melihat emiil yang sedang berdiri di depan kaca, melihat jalan yang di padati kendaraan.
" Emiil... "
" Hemm... "
" Maaf aku baru liat pesan kamu. Ayo katanya mau ngajak makan bubur pak juki di dekat lampu merah sana.?"
"Gak jadi, lagian aku ngajak kamu di waktu yang gak pas. Sekarang kamu balik ke toko kamu, aku mau ke dalam".
"Emiil, kamu marah sama aku ya.?" Emiil tidak menjawab pertanyaan Naila.
"Yasudah aku balik dulu."
"Heeemm." Mata Emiil masih menatap lurus ke depan, tanpa menoleh ke arah Naila.
Dengan perasaan sedih dan lemas, Naila berjalan meninggalkan Emiil yang mendiami dirinya. Emiil sendiri sebenarnya dia gak bisa marah dengan Naila, hanya untuk saat ini Emiil hanya kesal melihat adegan Fandi yang memperlakukan Naila lebih dari kata adik.
Saat siang hari pun, Emiil lewat depan Naila, Emiil pun cuek dengan Naila.
Entah kenapa hari ini kepala Naila terasa berat, mungkin karena Naila kelelahan. Karena semalam Naila tidak bisa tidur, padahal saat menyetrika baju Naila ngantuk.Tapi saat di dalam kamar matanya, sulit untuk terpejam.
Naila bekerja tidak seperti biasanya, hari ini Naila nampak malas. Malas bukan karena Emiil cuek, masalah di cuekin seseorang Naila sudah terbiasa. Hanya saja Naila tak semangat karena Rasa pusing nya yang saat ini Naila rasakan.
__ADS_1
Saat Siang hari Naila hanya di toko, yang biasa nya dia keluar untuk membeli makan. Hari ini Naila enggan untuk keluar, Naila hanya di toko saja.
"Loh Dev ko kamu sendiri,Naila kemana.?"
"Naila di toko, Kata nya kepalanya pusing. Ini aku lagi beli teh hangat buat Nai."
"Terus bagaimana keadaannya dia sekarang.?" Ada rasa khawatir pada Emiil saat mendengar Naila sakit." Naila udah minum obat belum.?"
"Belum,ini aku beli makanan buat dia minum obat."Emiil pun mengangguk.
Kini Devi dan Emiil sudah membeli makanan, Emiil yang ingin tau ke adaan Naila, Emiil pun ke tokonya.
"Maura, Naila dimana.?"
"Di dalam tuh,dia lagi sakit ya.? Mending suruh pulang aja istirahat kasian tau, dia ngelindur manggil manggil ibu nya.?"
"Seriusan, Makasih ya."Devi dan Emiil masuk kedalam di mana Naila sedang menundukkan kepalanya di atas meja.
"Ibu... Ayah...Nai rindu, Nai ingin ikut dengan kalian." Naila bergumam dengan mata terpejam.
"Naila, Nai bangun yuk. Nai ini aku sudah beli teh hangatnya. Di minum dulu yuk, tubuh kamu panas banget sih Nai. Kamu pulang aja ya.?"Tak ada jawaban dari Naila, dia terus mengigau memanggil orang tuanya.
"Coba sini biar aku yang bangunin." Devi pun bergeser untuk Emiil. "Naila, Nai ini aku Emiil. Sayang buka mata kamu Nai, ini aku."Devi melihat ke arah Emiil.
"Dev, aku titip Nai sebentar. Aku akan antar Naila kerumah sakit. Badannya panas banget, aku jadi khawatir." Devi mengangguk.
Sedangkan Emiil pergi sebentar mengambil sesuatu, tidak lama Emiil pun kembali. Lalu Nai di bawa ke mobil, lalu Emiil membawa Naila ke rumah sakit.
Kini Nail sedang dirawat di rumah sakit, Naila tak sadarkan diri. Dan kini hanya Emiil lah yang menemaninya di rumah sakit.
Saat sedang menunggu Naila sadar, ada panggilan telpon. Saat Emiil lihat terpampang nama ka Fandi.
"Fandi, bukannya ini cowok yang nganter Nai tadi pagi." Di angkat panggilan itu.
"Hallo Nai, kamu pulang jam berapa. kakak jemput kamu ya.?"
"Maaf, ini bukan Naila."
"Siapa ini kenapa handphone nya Nai sama kamu .?"
"Saya kekasihnya, sekarang Nai nya sedang di rumah sakit. Tadi Naila pingsan, karena tubuhnya panas. Jadi saya bawa Nai ke rumah sakit."
"Jangan bercanda kamu, mengaku sebagai kekasihnya Nai.?"
__ADS_1
"Buat apa saya bercanda masalah hubungan. Kalau anda tak percaya, silahkan tanyakan pada Naila nya langsung." Ada wajah kemenangan di wajah Emiil, saat mengakui dirinya kekasih Naila. "Kalau anda mau datang silahkan datang ke rumah sakit, Nanti saya Sherlock alamat nya."
Tut... panggilan pun terputus.
Fandi menunjukkan rasa kesalnya dengan melempar jaketnya. Karena Fandi akan bersiap siap ingin menjemput Naila. Malah mendapatkan kabar Naila sakit.
Fandi bukan kesal mendengar Naila sakit, dan tak jadi mengajak Naila buat melihatnya sparing futsal. Fandi kesal karena mendengar suara pria dan mengaku dia itu kekasih Naila.
Fandi sebenarnya diam diam menyukai adik sepupunya itu. Sudah lama Fandi menyimpan hatinya untuk Nai, menganggap Naila lebih dari kata adik .
Kini Fandi duduk lemas bersandar di dinding, dengan tangannya yang terkepal di letakkan di keningnya.
Flashback
Di suatu ketika,Fandi sedang jatuh sakit.Dari tempat kerja Fandi izin untuk pulang. Di rumah tidak ada keluarga yang kebetulan seluruh keluarga sedang berkumpul di rumah keluarga ibunya di Surabaya.. karena Di sana keponakan ibu sedang mengadakan pernikahan. Niat Fandi dia akan menyusul dengan Naila,namun apalah daya Fandi malah sakit.
Karena tidak ada orang,tepat sore hari Naila pulang kerja. Melihat lampu rumah nya sudah menyala.
"Loh siapa yang nyalakan lampu, bukannya paman dan bibi sedang ke Surabaya. Kan ka Fandi besok baru pulang, di rumah ada siapa ya. Aku jadi takut". Dengan keberaniannya Naila membawa sapu, untuk berjaga-jaga kalau memang ada orang jahat.
Naila melihat sekeliling ruangan, namun tidak ada siapapun. Rumah tidak terlihat berantakan semuanya rapih seperti awal tadi pagi.
Uuhuuuk...Uuuhuuuk..Uuuhuuuk....
Terdengar suara batuk dari kamar Fandi.
"Loh, ko ada suara batuk ya di kamar ka Fandi.?"Naila mengintip celah pintu
Alangkah terkejutnya ternyata memang Fandi yang berada di kamarnya. Sapu yang Naila bawa di letakkan kembali di depan kamar, lalu Naila menghampiri nya.
"Kakak, sudah pulang.?"
Uhuk..uhuk...uhukk Fandi terbatuk-batuk.
"Iya Nai ,kakak Pulang. Kakak gak enak badan seperti nya." Terlihat bibir Fandi yang pucat.
Lalu Naila menyentuh keningnya Fandi yang terasa panas.
"Ya ampun ka, panas banget kening kakak. Kakak sudah makan belum.?"
Fandi menggelengkan kepalanya.
"Yasudah sebentar ya, aku ambilkan handuk buat kompres kakak.?" Fandi mengangguk.
__ADS_1