
Naila akhirnya meninggalkan Emiil yang masih duduk termenung dengan apa yang Naila ucapkan padanya. Emiil sangat menyesal dengan segala ucapannya dan perbuatannya kepada Naila.
Devi dan Debby mengejar-ngejar Naila dengan membawa bingkisan mereka.
Naila merasa kesal dengan ucapan Emiil.
Tanpa mereka sadari sejak dari tadi, saat Naila meninggalkan Emiil. Ada seseorang sedang menatap Naila dengan tersenyum menyeringai.
"Tinggal tunggu saja, saat pulang nanti". Orang itu tersenyum menyeringai.
Devi dan Debby mengejar-ngejar Naila, dan mengajak Naila untuk pulang. Sebelum sampai rumah, Devi dan Debby menenangkan Naila terlebih dahulu. Setelah Naila terlihat cukup tenang barulah Debby bertanya.
"Bagaimana kamu sudah tenang. Mau pulang sekarang atau nanti. Apa mau kerumah bunda, istirahat di sana ya.?"
"Gak Deb, aku pulang ya. Sudah jam setengah tujuh. Aku sudah telat pulang,pasti mas Brian sudah pulang. Aku gak mau dia sampai marah , aku pulang saja ya."
" Beneran kamu mau pulang. Yasudah aku gak bisa maksa, tapi kalau ada apa-apa telpon aku dan Debby ya.?"
"Iya Dev, nanti aku hubungi kalian. Yasudah antar aku pulang ya ." Debby dan Devi pun mengangguk.
Dan akhirnya Naila pun diantar pulang oleh Debby. Saat sampai depan pagar, satpam rumah membuka pintu untuk Naila.
"Selamat malam Mbak Naila."
"Malam pak Dedi. Mas Brian sudah pulang.?"
"Sudah Bu sejak tadi jam 5 pulang ya."
"Ow begitu, yasudah trimakasih ya pak saya masuk dulu." Pak Dedi pun mengangguk.
Ada perasaan takut saat Naila melangkah masuk, namun Naila berusaha tenang.
Ceklak... Naila membuka pintu kamarnya dan melihat kalau suaminya kini sedang duduk di sofa. Ya Brian saat ini sedang duduk di sofa dengan memegang handphone, dengan mata nya tertuju pada layar pipihnya nya.
__ADS_1
Naila mendekati Brian, dan duduk di sampingnya. Dengan berusaha tenang dan berusaha tersenyum agar Naila terlihat baik baik saja.
"Mas, kamu sudah pulang dari tadi ya. Kamu sudah makan belum.?" Naila bertanya dengan gugup.
"Hemm..." Jawab Brian, namun matanya masih tertuju pada layar handphone nya.
"Ooh iya mas, aku tadi membeli atasan celana dan sepatu untuk kamu. Semoga kamu suka mas, lihat dulu deh mas.."
Naila memberikan dengan tangan sedikit gemetaran ke Brian. Brian pun mengambil bingkisan itu dari tangan Naila. Dengan ekspresi wajahnya yang datar.
Naila pun tersenyum saat Brian mengambil bingkisan yang Naila berikan.
"Kamu pergi dengan siapa sampai jam segini.?" Sambil menatap Naila." Kamu tau kan, suami kamu pulang jam berapa.?" Naila mengangguk." Terus kenapa kamu pulang sampai jam segini. Ngapain saja kamu di Mall, apa yakin kamu hanya pergi dengan Devi dan adik ku.?" Dengan tatapan tajam
"Maafin aku mas, aku lupa tidak melihat jam. Saat aku liat sudah jam 6 aku Devi dan Devi buru buru pulang." Naila mengatakan nya dengan sangat gugup.
Ya Naila takut saat ini tatapan Brian sangat menyeramkan. Dan Naila hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brian saat ini. Sambil memegang tangan suaminya Naila meminta maaf.
"Yakin kamu hanya pergi sama Devi dan Debby. Dan yakin kamu hanya berbelanja dengan mereka. Kamu tidak sedang berbohong kan Nai."
Naila tidak mengerti maksud ucapan suaminya itu " maksudnya mas, aku memang pergi bersama Devi dan Debby. Dan aku juga berbelanja dengan mereka. Aku gak berbohong mas, ko kamu bicara seperti itu.?"
Brian tersenyum sinis.
Bbbraaakk... Brian membanting bingkisan yang Naila berikan tadi ke lantai. Dan Naila terkejut dengan apa yang Brian lakukan saat ini.
"Bisa bisanya kamu berbohong sama aku. Ini apa hah..." Brian memberikan foto dan video di handphone miliknya.
Dan di saat Naila lihat, ada foto dirinya bersama Emiil. Bukan hanya foto, ada video Naila sedang berpegangan tangan dengan Emiil. Naila sangat terkejut dengan apa yang Naila lihat saat ini. Dan Brian melihat ke arah Naila dengan tatapan marah.
"Mas ini, aku bisa jelasin ke kamu."
"Apa jelasin apa hah... Ini buktinya sudah jelas. Kamu ketemuan dengan mantan kamu itu kan, iya kan Nai. " Brian membentak Naila. Sampai Naila terkejut memejamkan matanya.
__ADS_1
"Mas kamu dapat video dan foto ini dari mana. Mas aku bisa jelasin ke kamu semuanya, kamu yang tenang."
" Kamu bilang tenang Nai. Bisa kamu bilang kaya gitu. Masalah kiriman ini dari mana kamu tidak perlu tau, oow iya Kemarin saat aku ketemu Riska kamu kesal dan marah kamu cuekin aku seharian . Dan ini balasan kamu Naila ke aku , iya Nai." Naila menggeleng kan kepalanya.
"Kamu masih cinta sama dia Nai, sampai kamu dan dia sampai saling berpegangan tangan seperti itu. Aku sudah bilang Nai, kalau kamu tidak mau perjodohan ini, bilang dari awal. Jangan seperti ini, diam diam kamu bertemu dengan dia. Kamu ingin balik sama dia, pria yang selalu melindungi kamu dari bibi kamu itu. Mantan terindah kamu itu iya kan Nai, iya kan." Bentak Brian membuat Naila tak kuat lagi menahan air matanya saat ini.
Dan untuk pertama kali dalam rumah tangga bersama Brian. Dan baru sekarang ini Brian membentak Naila. Dan Naila benar benar amat ketakutan dengan marah nya Brian, wajah dingin dan amarah nya Brian kembali seperti dulu.
"Mas dengarkan aku sebentar aja mas, aku gak bohong aku memang sama Devi dan Debby.. Kalau kamu tidak percaya kamu tanya saja sama adik kamu Debby." Sambil menggenggam erat tangan Brian.
Dan Brian melihatnya tangan nya di genggam oleh Naila, merasa sangat marah. Karena Brian mengingat Naila menggenggam tangan Emiil.
"Aku melihat tangan kamu ini, mengingat kamu dan dia saling berpegangan tangan. Aku tanya Nai, Apa kamu ingin kembali dengan dia Nai. Bilang Naila jangan sembunyi sembunyi bertemu dengan di dengan cara seperti ini. Aku akan mengantarmu kepadanya, agar kamu bisa bersama dengan dia.."
Plaaakkk... Naila menampar wajah Brian. Dan Brian diam seketika dengan apa yang Naila lakukan kepadanya. Brian memegangi bekas tamparan di wajahnya yang terasa panas.
Brian di buta kan rasa cemburu dengan salah paham, dan Brian enggan mendengar kan penjelasan dari Naila. Ya Brian sangat marah dan cemburu Dangan apa yang dia lihat foto dan video yang berpegangan tangan.
Otak nya tidak bisa berjalan dengan normal, tidak bisa mendengar kan penjelasan Naila.
"Kalau kamu marah sama aku dengan aku pulang telat, aku minta maaf.
Kalau aku ingin bertemu dengan dia, untuk apa aku sembunyi sembunyi bertemu dengan dia. Dengan terang terangan pun aku bisa bertemu dengan dia di depan kamu, tanpa kamu anterin aku, aku pun bisa." Naila tak kuat menahan rasa sesak dan amarahnya
Hiks hiks hiks...Naila menangis tersedu-sedu..
"Aku masih punya hati nurani dan harga diri mas. Jika aku ingin mengkhianati kamu, kenapa aku serahkan kehormatan aku sama kamu mas. Aku masih menghargai hubungan keluarga kamu dan keluarga ku mas. Kamu di buta kan api cemburu, karena kiriman gambar dan video itu ke kamu. Hati aku sakit mas, kamu tidak percaya dengan aku untuk menjelaskan nya. kamu lebih memilih percaya bukti itu, dari pada istri kamu mas. Aku kecewa sama kamu mas, aku benar benar kecewa sama kamu. " Teriak Naila, sambil menangis.
Naila pun pergi meninggalkan Brian di kamar seorang diri. Dan Brian termenung dengan apa yang telah terjadi padanya. Brian tersadar sudah menyakiti wanita yang begitu amat dia cintai, bahkan sampai menangis.
Kenapa aku harus menyakiti Naila, kenapa harus membuat Naila menangis. Padahal aku sudah dititipkan untuk menjaga dan melindungi Naila. Kenapa aku yang menyakiti nya, kenapa. Kenapa aku tidak mendengarkan penjelasan nya Naila lebih dulu. Kenapa aku lebih percaya dengan foto dan video yang di kirim kan Riska.
Bersambung
__ADS_1