
Aku sudah membuat istri ku kecewa dan membuatnya sedih. Suami macam apa aku ini. Aku tidak mempercayai istri ku, malah percaya dengan Riska. Dan kini dia memanfaatkan kejadian kemarin, dan kini Naila marah oleh ku. Astaga aku bodoh sekali sebagai suami, maafin aku sayang.
Brian duduk di sofa sambil merenung kesalahannya dan rasa penyesalan nya di ruang tamu. Karena waktu masih menunjukkan jam 8 malam.
....
Saat jam 9 malam Naila membuka matanya, dan terbangun karena rasa laparnya mulai melanda.
Naila mengulet layaknya anak bayi,dan itu membuat Brian betah memandang istrinya.Saat mata Naila terbuka tepat di hadapannya ada Brian yang tengah tersenyum menatap Naila.Ya Brian sejak tadi memperhatikan Naila yang terlelap dengan tidurnya.
"Selamat malam sayang.." Tidak ada jawaban dari bibir Naila. Brian tersenyum kecut saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari Naila
"Kamu lapar ya.. Nih aku sudah membawa makanan, minuman, dan juga vitamin untuk kamu agar anak kita sehat di perut. Di makan ya, aku suapi kamu ya.?" Sambil memegang piring dengan berisikan, nasi dan lauk nya.
Naila sebenarnya masih kesal oleh suaminya saat ini. Namun rasa laparnya membuat Naila harus membuang gengsinya untuk marah kepada Brian yang tak lain adalah suaminya.
Bukan hanya itu, sepertinya cabang bayi di kandungan Naila saat ini, sedang tidak di pihaknya Naila. Dan entah kenapa juga Naila melihat makanan yang suaminya bawa membuat Naila menelan Silva nya kembali. Akhirnya Naila pun menyerah, Naila mengangguk kan kepalanya untuk menerima makanan yang Brian sudah siapkan.
Brian pun tersenyum, dengan perasaan senang Brian menyendok nasi dari piring. Dan di arahkan ke arah Naila.
"Gak usah di suapi,Aku bisa sendiri. Sini biar aku makan sendiri saja." Dengan suara sedikit jutek nya.
Naila mencoba mengambil sendok dari tangan Brian, namun Brian justru menjauhi tangannya dari Naila.
"Biar aku suapi ya.?"
"Gak, biar aku saja. Aku masih bisa makan sendiri, aku sedang tidak sakit. Hanya hati aku saja yang sakit, jadi aku masih bisa kalau buat makan."
Brian menatap mata istrinya, masih memancarkan kemarahan. Dan sebenarnya Brian merasa sakit, saat istrinya yang begitu amat dia sayangi. Kini sedang dalam mode marah, karena kesalahannya.
Brian tersenyum, bagaimana pun Brian harus bisa membuat dirinya di maafkan oleh Naila.
"Biar mas aja yang suapi kamu makan ya. Mas tau hati kamu sakit karena mas sudah melukainya. Justru itu mas ingin mengobatinya, mas tulus melakukan nya sayang. Agar mas di maafkan sama kamu sayang. Mas mohon kamu jangan menolaknya ya.?" Naila tidak menjawab.
Naila pun akhirnya membuat mulut nya untuk menerima suapan dari tangan Brian. Ada rasa tak tega dengan kata-kata yang keluar dari suaminya yang terus berusaha untuk meminta maaf.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa marah sama kamu mas. Walaupun kamu sering membuat ku kesal dan sedih, tapi dengan perjuangan kamu untuk tetap meminta maaf sama aku. Mana bisa aku kuat dan tahan untuk marah sama kamu. Apalagi dengan sikap kamu yang lembut dan perhatian kamu yang seperti ini. Jujur saja aku tersentuh mas dan tak tega jika harus marah sama kamu. Tapi aku masih kesal sama kamu mas, hanya kesal aja tidak sepenuhnya marah mas.
Hanya bisa diucapkan dalam hatinya saja. Sambil menerima suapan demi suapan dari tangan suaminya saat ini, yang disertai senyuman manis ke arah Naila. Membuat Naila menjadi salah tingkah di buat nya.
Saat sendok mendarat kan kembali ke mulut Naila, Naila menahannya untuk menolak.
"Sudah kenyang.?" Tanya Brian, Naila mengangguk.
Dan Brian meletakkan kembali sendok nya di atas piring, lalu di letakkan di atas meja. Brian membersihkan sisa makanan di bibir Naila dengan tisu, dan itu membuat hati Naila bergetar dengan apa yang di lakukan suaminya saat ini.
"Minum dulu ya. Kamu mau minum obatnya kapan sayang, hemm...? Mau sekarang atau nanti.?"
"Nanti dulu.." Brian mengangguk.
Naila ingin meletakkan gelas nya.
"Sini biar aku bantu." Brian yang mengambil gelas nya dan di letakan di atas meja." Sayang kamu tunggu sini ya, Aku tinggal sebentar. Membawa piring ke dapur." Naila mengangguk.
Brian pun berjalan membawa piring ke dapur, Naila melihat kalau suami sangat lelah sekali. Ada rasa tak tega di benak Naila, saat melihat suaminya.
' Apa aku keterlaluan, apa aku jahat ya mendiami mas Brian seperti ini. Aku tidak tega mendiami mas Brian seperti tadi. Tapi mas Brian keterlaluan, dia lebih percaya dengan wanita itu ketimbang istrinya sendiri. Aku kesal dengan sikap mas Brian. Iiiihhhh..... Sambil memukul guling yang Naila pegang.
Tidak lamanya Brian datang dengan membawa nampan berisi gelas dan piring kembali, dengan berisikan nasi dan lauknya.
Kenapa mas Brian membawa nasi kesini. Apa mas Brian belum makan.?" Gumam Naila dalam hatinya.
Kini Brian tersenyum ke arah Naila, saat dirinya duduk di kursi di dekat Naila.
"Aku makan dulu ya sayang, gak apa-apa kan aku makan di sini.?" Naila mengangguk.
"Kamu baru makan.?" Tanya nya singkat.
"Iya aku baru makan, nunggu kamu makan dulu. Kayaknya aku gak tenang aja kalau kamu belum makan. Aku mau makan sendiri juga iseng, lebih baik aku makan di sini di temani kamu.." jawab Brian dengan senyuman.
Lalu Brian makan nasi dan lauknya, makan nya pun sangat lahap. Terlihat sekali kalau Brian sangat lapar, karena makan nya begitu lahap.
__ADS_1
Ya ampun mas apa kamu belum makan, sampai kamu makan nya begitu lahap seperti itu.
Gumam Naila dalam hatinya
Brian mengamati wajah Naila, dan Brian pun tersenyum. Brian merasa kehamilan Naila membuat aura Naila terpancar. Naila nampak begitu amat cantik, walaupun setiap harinya Naila selalu cantik, tapi semenjak Naila hamil, semakin tambah cantik.
Naila yang di tatap dengan seperti itu membuatnya menjadi salah tingkah.
"Ngapain kamu ngeliatin aku sampai seperti itu. Hentikan jangan lihat aku seperti itu, aku gak suka."
Padahal bukan gak suka, Naila hanya menjadi salah tingkah dengan tatapan suaminya. Dan apalagi di tambah dengan senyuman nya yang begitu manis, jantung Naila terasa berdebar saat di tatapnya oleh Brian. Padahal Brian kini sudah menjadi suaminya tapi getaran seperti itu, Naila sering merasakan. Entahlah Naila meras dirinya benar benar sudah jatuh cinta oleh Brian. Jujur kalau lagi gak ngambek Naila sudah pasti langsung mem... eluk nya . Karena kebetulan lagi ngambek jadi Naila gengsi untuk melakukan itu.
"Kenapa memangnya gak boleh.? Aku memandang istri aku ko, bukan gadis lain."
Naila menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.Dan Brian tersenyum dengan sikap Naila, entah kenapa Brian menyukai saat Naila menjadi salah tingkah seperti itu.
Untuk mengalihkan tatapan suaminya seperti biasa Naila menonton film di yukyuk. Film kesukaan nya, dan sesekali Naila mengintip Suaminya, yang masih menatap nya dengan tersenyum.
Kenapa betah sekali menatapku seperti itu, padahal aku sudah mengalihkan nya.
Gumam Naila, dan Brian masih mendengar jelas Naila bicara.
Karena Brian suka sekali meledek Naila, padahal istrinya sendiri dalam mode ngambek dengannya. Hanya dengan memandangi saja sudah membuat Naila menjadi salah tingkah, dan hanya dengan begitu saja Brian suka.
Astaga benar benar bucin ini si Brian ckckck....
Tanpa terasa nasi dan lauk yang Brian bawa di piring nya kini sudah habis tak tersisa.
"Sayang kamu mau minum obatnya kapan. Sekarang ya.! biar kamu kalau sudah minum obatnya, terus kamu ngantuk kamu bisa langsung istirahat.?"
Naila pun mengangguk.
Brian menyiapkan obatnya yang untuk Naila minum, setelah itu Brian memberikan Naila gelas ,dan Naila pun langsung meminum obatnya. Tak lupa juga susu hamil yang Brian buatkan untuk Naila pun di minumannya tanpa tersisa.
Setelah selesai dengan obat dan susu khusus Naila, Brian membawa kembali nampan berisi gelas dan pring ke dapur. Tidak lama Brian membawa gelas dengan berisikan air minum, dan di letakkan di atas meja di sampingnya.
__ADS_1
Brian pun duduk di samping Naila, menemani Naila sedang menonton filmnya. Naila tak menolak, Brian di samping nya. Hanya saja Naila masih mendiami.