
Beberapa orang melihat kejadian itu, ada beberapa orang yang merekam kejadian yang jarang mereka lihat .
Bagaimana tidak, seorang wanita, mampu melumpuhkan pria sampai tersungkur ke lantai. Sampai pria itu, kesakitan.
Dan saat itu datanglah dua orang keamanan, menghampiri tempat yang kini menjadi ramai...
Dua orang security datang lalu memegangi, Sandi yang sudah tak berdaya.
"Kenapa bapak baru datang, seharusnya sebagai keamanan anda harus datang tepat waktu... Bawa dia, karena dia sudah melecehkan kakak saya. Bukan hanya itu, dia juga sudah berbuat kasar dengan saudara saudara saya."
"Baik kalau begitu pria ini akan saya bawa ke pos. Dan kami akan mengurusnya." Devi mengangguk.
Lalu dua keamanan itu membawa sandi ke pos keamanan. Setelah Sandi si bawa pergi.
"Dev...!" Devi pun menoleh ke arah Debby dan Naila.
Devi terkejut melihat wajah Naila yang sudah berkeringat. Debby sudah terlihat panik, karena Naila mencengangkan tangannya dengan sangat kencang.
"Naila, kamu kenapa.? Coba kamu atur nafas kamu."Naila pun mengatur nafasnya, Debby dan Devi membantu untuk mengatur nafasnya.
Lalu ada seorang gadis yang memberikan minum kepada Naila..
"Ini mbak minum dulu.." Mengarahkan botol minum kepada Naila..
Devi tersenyum." Terimakasih mbak..." Gadis itu pun mengangguk.
"Nai sekarang kamu minum dulu. Setelah ini kita ke dokter ya.?"Naila mengangguk..
Naila pun meminum air yang di berikan oleh seorang gadis...
Setelah minum, Devi dan Debby membantu Naila untuk berdiri. Dan mereka pun kini berada di dalam mobil, dengan Debby yang mengendarai mobilnya.
Devi sendiri kini sedang menemani Naila duduk di belakang. Karena Naila merasa perutnya merasakan sakit,dan Devi menemani Naila.
"Nai, kamu atur nafas kamu ya. Ya ampun aku takut banget. Kamu panik ya tadi, karena pria sin*ing tadi.."
__ADS_1
"Ayo Nai, kamu tarik nafas, lalu buang..."
Huuufffhh.... Hhhuuufffhh... Huffhhh.... Naila mengatur nafasnya apa yang di arahkan Devi dengan sedikit tenang. Bukan hanya Naila, Debby pun juga ikutan seperti Naila..
"Devi mungkin bisa, aku panik juga tadi. Soalnya nya aku takut banget, Karena tadi dia ingin menampar Debby, dan dia juga menarik tangan ku.."
Aaaa.... Naila kembali merasakan sakit, di bagian perutnya..." Devi perut aku sakit ..." Naila menggigit bibirnya sendiri.
"Debby cepetan dikit, Naila kesakitan..." Devi yang mulai panik, Devi pun juga menahan sakit. Karena Naila mencengkeram tangan Devi dengan sangat erat.
"Iya iya... Ini aku udah cepat, itu di depan macet. Karena lagi lampu merah, sedikit lagi tuh kayaknya ada rumah sakit. Kita kesitu aja ya...?" Jawab Debby yang juga sedikit panik dengan ke adaan Naila..."
"Terserah... Yang penting sampai rumah sakit...Aaaaaaaa kkyyaaaaa....aaduuuhhh..." Teriak Devi saat tangan nya di cengkram oleh Naila.
Lampu merah, berubah warna menjadi hijau, jalan pun lancar. Tidak butuh waktu lama, Debby ngegas mobil nya agar sampai rumah sakit terdekat..
Saat sampai di rumah sakit, Naila langsung di tangani oleh seorang dokter. Debby dan Devi pun langsung lemas, setelah Naila di bawa oleh perawat ke ruang persalinan...
"Semoga Naila tidak apa apa... Ya Tuhan lemas kaki ku, rasa nya tak ada tulang di kaki ku ." Ucap Debby yang duduk lemas, terutama pada kaki nya .
"Kamu kira kamu saja yang lemas. Aku pun sama, lihat nih tangan ku. Semuanya penuh dengan cakaran tangan Naila..." Timpal Devi, yang mengusap lengannya akibat cakaran Naila...
Hhoooosshh... Hooossshhh.... Terdengar suara nafas Brian yang menggebu-gebu...
"Debby, Devi Di mana Naila sekarang..?"
"Naila sedang di dalam ka, lagi di tangani sama dokter..." Jawab Debby..
"Apa yang terjadi, Kenapa Naila sampai seperti ini. Padahal HPL nya masih 3 Minggu lagi loh perkiraan nya..." Raut wajah Brian terlihat khawatir." Semoga kamu dan anak kita tidak kenapa-kenapa. Ya Allah selamatkan anak dan istri ku..." Brian menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Lalu salah satu seorang perawat pun keluar kamar. Dan Brian pun segera menghampiri perawat itu..
"Keluarga pasien..?"
"Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya .?"
__ADS_1
"Silahkan tuan masuk. Dokter akan memberitahu tuan ." Brian pun mengangguk..
Lalu Brian masuk kedalam ruangan, di mana kini Brian duduk berhadapan dengan seorang dokter wanita...
"Bagaimana keadaan istri saya dan kandungan nya dok..?"Wajah Brian terlihat khawatir...
" Istri anda sudah mulai tenang. Setelah tadi tekanan darah istri anda cukup tinggi. Apa istri anda mengalami sesuatu yang buruk,dan membuatnya panik, atau stress. Karena itu dampak nya akan buruk pada bayi dan istri anda. "
"Dampak buruk apa dok. Tapi istri saya dan calon anak kami baik baik saja kan dok..?"
"Dampak buruk nya, anda berdua akan gagal menjadi peran orang tua. Karena itu sangat membahayakan sekali pada janin istri anda."
Bagaikan tertusuk pisau belati. Brian terdiam mendengar apa yang di katakan dokter itu. Kalau mereka hampir saja kehilangan anak mereka, yang selama ini mereka nantikan.
"Astaga... Tidak mungkin. Ya Tuhan selamat kan anak dan istri ku ."
"Tapi tuan tidak perlu khawatir, istri anda sudah ditangani dan istri anda pun mulai tenang. Dan saya menyarankan agar istri harus berada di rumah sakit, dan harus di rawat, untuk beberapa hari kedepan. Karena istri anda tadi sempat mengalami kontraksi. Dan Kata istri anda, dia juga merasakan sakit dan kram di bagian di perut dan pinggang. Nah agar kami bisa mengontrol, dan menangani kondisi istri anda dengan cepat. Saya menyarankan agar istri anda harus di rawat di sini...?"
"Baik, lakukan yang terbaik untuk istri dan calon anak kami... Tapi maaf dok, bukan kah kandungan istri saya baru memasuki usia 37 Minggu. Apa sudah bisa untuk dilahirkan, dan apa itu tidak membahayakan istri dan anak saya dok.?"
Dokter itu tersenyum melihat Brian yang terlihat begitu khawatir dengan kondisi istrinya..
"Insyallah tidak pak, karena usia 37 Minggu itu, sebenarnya sudah siap untuk awal lahir normal. Dan kami lihat ibu Naila sangat kuat, dan kami yakin ibu Naila bisa melahirkan dengan normal. Karena janinnya sudah mulai kontraksi, agar kami bisa melihat posisi bayi nya. Dan kami akan melihat kelanjutannya, dan perkembangan nya..."
"Baik, saya percayakan istri dan kandungan nya kepada dokter. Lakukan yabg terbaik, saya harap kedua duanya selamat dan sehat."
"Insyaallah tuan. Kami sebagai dokter hanya bisa berusaha. Selanjutnya atas izin Allah, dan dari itu juga kami minta bantuan dari keluarga juga. Untuk mendoakan pasien agar bisa ditangani dengan cepat dan dua dua nya pun sehat dan selamat."
"Amiinn... Pasti dok, pasti. Kalau begitu apa boleh saya melihat istri saya dok..?"
"Silahkan, anda bisa menemui istri anda sekarang."
"Trimakasih dok, kalau begitu saya permisi..." Dokter wanita itu pun mengangguk kan kepalanya..
Kini Brian melihat kondisi istrinya. Yang di mana, Naila terbaring lemas. Mata Brian pun terlihat merah dan mengembun. Saat melihat kondisi Naila, dengan tangannya terpasang jarum infus..
__ADS_1
Brian menghampiri dan duduk di samping Naila. Naila yang sedang terpejam pun, langsung membuka matanya. Saat dirinya mencium aroma parfum yang di gunakan Brian.
Naila tersenyum saat mendapati suaminya kini berada di sampingnya. Bibir yang terlihat pucat, masih bisa memberikan senyuman kepada Brian. Brian pun mengecup keningnya, dan Naila pun memejamkan matanya. Merasakan tenang saat suaminya mengecup keningnya..