
Raka sangat bahagia, saat melihat Debby tersenyum, tertawa bahkan saat Debby sedang cerita. Terlihat sekali wajah manisnya Debby. Entahlah Raka merasa kalau diri sangat mengagumi Debby. Mangkanya Raka sangat senang jika stiap kali bertemu dengan Debby.
Saat itu juga Naila melihat kedatangan seseorang yang membuat nya merasa deg degan. Ya Naila melihat kedatangan Emiil di acara pernikahan Devi dan Denis.
Naila deg degan bukan karena perasaannya kembali. Tetapi Naila khawatir dengan suaminya, yang takut marah saat melihat Emiil.
Fandi yang sedang mengobrol dengan Raka, melihat kedatangan Emiil ke pernikahan Devi. Fandi tau saat ini Naila merasa tidak nyaman dengan kedatangan Emiil di tempat pernikahan Devi.
Emiil melihat Naila di tempat prasmanan sedang mengambil makanan, di mana Emiil tidak melihat Brian di samping Naila. Ya memang kebetulan Brian saat ini sedang buang air kecil, jadi terpaksa meninggalkan Naila.
Emiil berjalan menuju pelaminan untuk bersalaman dengan Devi dan Denis.
"Selamat atas pernikahan kalian. Walaupun kamu tidak mengundang ku, aku tetap datang Devi. Bagaimana pun kami itu masih teman ku Dev." Sambil bersalaman dengan Devi.
"Maaf, aku tidak tau kalau kamu lagi di tempat ini. aku menghargai Naila,dan kakak ipar ku, dengan masa lalu kamu dan Naila. Mangkanya aku tidak mengundang kamu, maaf bukan Emiil.."
"Gak seperti itu juga Dev, kita kan temenan masa kamu jahat banget gak ngundang aku. Lagian Naila juga sekarang Naila sudah menjadi milik orang lain..." Belum selesai Devi bicara Denis sudah menyelak nya.
"Saya yang menyuruh untuk tidak mengundang kamu". Timpal Denis." Maaf saya melakukan itu, untuk kebaikan semuanya. Terimakasih kamu sudah datang ke acara pernikahan kami."
"Sama sama. Sekali lagi selamat ya." Emiil bersalaman dengan Denis juga.
"Emiil aku mohon jangan menggangu Naila ya, di tempat ini." Devi memohon. Emiil pun hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Lalu Emiil berjalan meninggalkan pelaminan di mana Devi dan Denis berada. Sebenarnya Emiil saat ini sedang mencari Naila, namun Naila kenapa bisa hilang dari pandangan hanya sebentar saja. Saat pandangan Emiil melihat ke arah sudut ruangan, di mana Naila sedang duduk di kursi, dan sedang menikmati makanannya. Emiil langsung tersenyum saat melihatnya, dan Emiil pun langsung menghampiri Naila.
Ekhemm.... Emiil berdehem saat di samping Naila. Naila pun terkejut mendengar suara yang pernah dia kenal. Naila pun menoleh ke arah suara itu, dan melihat Emiil yang kini sedang tersenyum ke arahnya.
"Hai... Naila Aprilia, kamu di sini.? " Sapa Emiil." Boleh aku duduk di sini.?" Naila mengangguk.
"Emiil.. Kamu datang di pernikahan Devi.?" Jawab Naila dengan sedikit gugup. Naila khawatir kalau takut suaminya melihat dirinya bersama Emiil.
"Eeeemmmm.... Gimana ya, aku datang kesini sebenarnya aku tidak diundang Devi.. Aku kemarin main ke toko tempat Devi kerja, dan kata temannya, kalau Devi sudah berhenti dan akan menikah. Aku pun tidak percaya, sampai akhirnya aku datang dan ternyata benar kalau Devi menikah hari ini. Jahat sekali ya Devi, sampai tidak mengundang aku ke pernikahannya."
"Mungkin Devi lupa kali tidak mengundang kamu Mill..?" Emiil tersenyum mendengar Naila bicara.
Sebenarnya saat ini Emiil merasa jantungnya kembali berdebar saat bersama Naila. Jujur sampai saat ini Emiil belum bisa melupakan Naila.
"Maaf, kalau alasan nya mereka itu karena aku. Aku minta maaf ."
"Gak apa-apa aku paham. Sebenarnya yang mereka khawatir kan itu benar adanya Naila. Sebenarnya aku belum bisa melupakan kamu, bagiku sulit untuk melupakan kamu. Bahkan sampai saat ini Nai, aku belum bisa melupakan kamu dari hatiku." Tidak ada Jawaban dari Naila. Emiil tersenyum saat melihat Naila hanya diam dan menunduk kan kepalanya." Mungkin kalau kata kata pisah itu tidak keluar dari mulutku. Mungkin sekarang kamu sudah menjadi istri ku ya Nai. Tapi nyata nya itu sudah terjadi, kamu sudah menjadi milik orang lain. Bahkan saat ini kamu sedang mengandung benih dari cinta kalian, pasti pria itu sangat bahagia kan Nai. Mendapatkan gadis baik, kuat,dan...." Belum selesai Emiil bicara Naila sudah memotong nya.
"Cukup Emiil, jangan kamu lanjutkan lagi pembicaraan kamu. Aku mohon Miil, jangan kamu ingat lagi hubungan kita. Semua itu sudah berlalu, jangan kamu ingat kembali aku mohon. Saat ini ada hati yang aku jaga untuk tidak tersakiti, dan kamu harus bisa melupakan hubungan kita yang sudah berlalu." Naila mengatakan itu sambil meremas gaun nya. Agar Naila bisa mengatakan nya dengan jelas. " Maaf aku harus pergi, aku tidak ingin mejadi fitnah. Saat seseorang melihat kita, dan menilai nya tidak baik untuk hubungan aku dan suamiku. Aku mohon Emiil, lupakan aku. Saat ini aku sangat mencintai suami ku,aku tidak ingin menyakiti perasaannya. Apalagi Sampai dia berpikiran buruk saat aku bertemu dengan kamu, semoga kamu mengerti. Permisi.." Naila pun berjalan meninggalkan Emiil yang masih duduk menatap kepergian Naila.
Sebenarnya tanpa Naila sadar, suaminya melihat Emiil menghampiri Naila. Dan mendengarkan pembicaraan mereka. Brian sebenarnya kesal, ingin sekali Brian menghajar pria yang saat ini menghampiri istrinya. Brian sampai mengepalkan kedua tangannya, untuk memendam rasa kesalnya nya itu.
Namun Brian tidak bisa berbuat apa-apa, karena paman Tommy menghalangi nya. Pak Tommy ingin membuktikan kalau Naila itu adalah wanita yang bisa menjaga suatu hubungan. Apalagi saat ini Brian sudah menikahi keponakannya. Pak Tommy ingin membuktikan kepada Brian, kalau Naila adalah istrinya yang bisa menjaga perasaan suaminya, dan menjaga rumah tangganya.
__ADS_1
Dan ternyata benar, kalau Naila bisa menjaga perasaan agar suaminya tidak marah dan kecewa pada nya.
Brian berjalan menyusul istrinya yang saat ini sedang berjalan keluar dari acara pernikahan Devi. Naila menghindari tempat itu, karena Naila tidak mau sampai ada yang lihat kalau dirinya sedang menangis.
Denis, Devi dan Fandi melihat Naila berjalan keluar aula. Ada rasa khawatir di benak mereka saat melihat Naila yang berjalan dengan cepat.
Emiil terkejut saat ini pak Tommy berada di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan tajam ke arah Emiil.
Brian berlari mengejar Naila. Mata Brian mencari sekitar parkiran, namun tak nampak Naila. Brian tersenyum saat melihat warna dress yang Naila gunakan ada di balik pohon, tepat di belakang mobilnya. Brian menghampiri istrinya yang kini sedang duduk dengan menundukkan kepalanya.
"Sayang...." Naila pun segera menghapus air matanya, dan menoleh ke arah yang memanggil sayang.
"Mas, kamu di sini.?"
"Iya mas nyariin kamu di dalam. Kamu kenapa di sini, ini." Sambil menujuk ke arah mata Naila." Kamu kenapa menangis, siapa yang membuat kamu menangis.?"
"Ini, sebenarnya aku nangis karena... Eeemmmm...." Naila bingung ingin menjawab apa kepada suaminya.
"Karena Emiil iya. Karena mantan kamu itu, yang sudah membuat kamu menangis. Tadi aku melihat kamu duduk di dekat nya."
Naila gelagapan saat mendengar suaminya tau, jika dirinya duduk dengan Emiil.
Bersambung
__ADS_1