Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Makan malam bersama Brian.


__ADS_3

Air matanya pun kini berhasil lolos dari pelupuk matanya. Brian yang tak tega melihatnya, lalu mendekat duduk di samping Naila. Lalu Brian membawa Naila kedalam pelu...kannya, sampai Naila benar benar tenang.


Dan entah kenapa Naila merasa tenang di perlakuan seperti oleh Brian. Brian mengambil kan minum untu Naila, dan Naila pun mengambil minuman yang di berikan Brian.


"Maaf kan aku ya, sudah membuat kamu kembali sedih'."


"Kakak tidak perlu meminta maaf, aku memang seperti itu jika mengingat almarhum ayah dan ibu. Kadang air mata tidak bisa aku bendung saat mengingat mereka. Aku sangat merindukan sosok ayah dan ibu ka, sangat merindukan kasih sayang mereka." Naila masih menatap pandangannya lurus kedepan.


Brian menyentuh tangan Naila.


"Naila sekarang kamu tidak sendiri lagi. Sekarang kamu disini, aku sudah bertemu dengan kamu. Dan di sini ada aku, Denis, Debby, ayah dan bunda. Jadi kamu jangan sedih lagi, anggap saja kami keluarga kamu. Ada ayah bunda, anggap Mereka orang tua kamu. Asal kamu tau Nai, kami semuanya selalu mencari kamu. Apalagi saat kami tau rumah peninggalan keluarga kamu sudah dijual, kami semakin semangat mencari kamu." Naila menatap wajah Brian, karena mendengar keluarga nya mencari dirinya."Dan sekarang kamu di sini di hadapan kakak, dan ada keluarga kakak yang sudah menganggap kamu seperti saudara." Brian menghapus air mata di pipi Naila.


Naila saat ini merasa jantung nya sedang berdebar, sepertinya jantung Naila saat ini sedang lari maraton. Saat Brian menatapnya dan menghapus air matanya. Dan Naila pun merasa tenang saat bersama Brian, entah kenapa Naila merasa senang jika bersama Brian.


"Apa, jadi keluarga kakak selama ini mencari aku.?" Brian mengangguk. Benarkah itu Ka.?"


"Iya Naila Aprillia, kami semua mencari kamu. Apalagi saat aku tau tentang bibi kamu yang tidak menyukai kamu. Kami semua mencari kamu, bunda, ayah Debby Denis."


" Bagaimana kakak tau tentang bibi aku ka.?"


"Kamu tau Raka, teman kecil kita.?"


"Iya aku ingat, Raka yang waktu itu memasuki petasan di kantong celana aku kan.?" Brian terkekeh, di saat Naila mengingat saat di jahili olehnya dan teman nya." Itu kan teman kakak, bukan teman aku.?"Naila tersenyum seraya menyindir Brian.


"Iya iya itu teman kakak." Brian menjawabnya seraya tersenyum. " Nah Raka itu mempunyai sepupu, kata nya . Rumah sepupu nya itu dekat rumah bibi kamu. Tapi itu rumah bibi kamu yang dulu, kalau yang sekarang Raka tidak tau. Nah di tambah dari situ, aku membantu ayah dan bunda untuk mencari kamu..?"


"Ow seperti itu ka.?"Brian mengangguk.


"Kakak boleh tanya. Tapi kakak takut kamu sedih atau kamu tidak mau menjawab nya.?"

__ADS_1


"Tanya aja ka, kalau aku bisa jawab aku akan jawab".


"Eeemmm. Bagaimana selama kamu tinggal di rumah bibi kamu, apa kamu di perlakukan baik dengan mereka. Dan apa benar yang di bilang Raka, kalau bibi kamu sangat jahat dengan kamu Nai.?"


Naila bingung harus jawab apa, tapi memang perlakuan bibi nya membuatnya sakit hati. Apalagi saat mengingat dirinya di lamar oleh Sandi, pria yang sudah memiliki istri dua. Dan Naila akan di jadikan istri ketiganya, itu sungguh membuat Naila sangat sakit hati. Setiap caci maki yang di lontarkan dari bibinya sejak Naila kecil, benar benar membuat dirinya merasa sekarang menjadi lemah, dan tak seceria dulu.


Naila tersenyum kecut, saat mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Bukan hanya hinaan dan makian, tetapi kekerasan pun Naila sering mendapatkan nya dari bibinya itu.


"Hiks.. Hiks... Aku gak bisa menyembunyikan itu ka, orang lain yang tau sendiri perlakuan bibi ke aku. Jika apa yang di ucapkan Raka seperti itu, ya memang Benar adanya. Bibi sering berbuat jahat sama aku ka, setiap hinaan, cacian, dan perlakuan buruk dari bibi. Itu sudah menjadi makanan sehari-hari ku, semenjak aku ikut dengannya. Hiks.. hiks.. hiks.." Brian yang mendengarnya merasa geram dan kesal akan perlakuan bibi nya kepada Naila. Lalu Naila tersenyum ." Tapi aku beruntung karena masih ada Paman, Melly, dan ka Fandi. Merekalah yang sayang dan peduli dengan ku, mereka bertiga baik dengan ku. Entah jika mereka juga membenci ku, mungkin aku akan menyusul ayah dan ibuku ke..?" Brian meletakkan jari telunjuknya di bibirnya Naila.


Brian menggelengkan kepalanya.


" Sssuuutt... Jangan lanjutkan ucapan itu ya. Sudah jangan lanjutkan ceritanya, kamu setiap cerita selalu menangis. Nanti Air mata kamu bisa habis kalau nangis terus. " Lagi lagi Brian menghapus air mata Naila di pipinya." Jangan sedih lagi ya, sekarang kamu sudah di sini. Apalagi kalau bunda tau ,kamu ada di sini. Aku yakin bunda Bahagia sekali Nai, dan bunda tidak ingin kamu bersedih kembali. Jadi jangan sedih lagi ya, kakak juga tidak akan membiarkan bibi kamu mendekati kamu, percaya sama kakak". Naila mengangguk, saat menatap sorot mata Brian yang dapat memegang ucapannya.


Brian memberikan Naila minuman. Sikapnya Brian teramat manis bagi Naila, tapi Naila menepis segala pikiran Yanga takut membuatnya berharap nantinya.


Kini Brian dan Naila sedang menikmati makanan nya. Diam diam Brian menatap Naila yang sedang menikmati makanan nya.


'Akhirnya aku menemukan kamu Nai, pasti bunda senang sekali saat tau Naila di sini'. Ucap Brian dalam hatinya


Kini Brian dan Naila selesai menikmati makan malam nya.


" Naila."


" Emm, iya ka ada apa.?"


"Besok kamu kerja pulang jam berapa.?"


"Besok aku libur ka, kenapa memang.?" Brian tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Kalau kakak ajak kamu main kerumah mau gak. Pasti bunda senang melihat kamu.?"


Naila tersenyum saat Brian ingin mengajaknya main kerumahnya .


Naila mengangguk." Serius ka, aku mau banget. Kapan ka,.?" Brian tersenyum mendengarnya pertanyaan Naila yang beruntun.


Brian mengangguk." Ya, besok aku ingin ajak kamu ke rumah. Besok kakak jemput kamu ya.?" Naila mengangguk." Bagaimana kamu senang mendengarnya.?"


"Senang ka". Brian pun tersenyum karena melihat senyuman indah dari Naila.


'Senyuman itu'. Kata hati Brian.


Tepat pukul 10 malam, kini Naila sudah berada di kontrakan. Devi melihat wajah bahagia dari temannya itu, Devi jadi ikut Bahagia melihatnya.


"Aku liatin dari tadi tuh muka Bahagia banget, ada apa nih. Bagi bagi dong senangnya kamu itu.?" Devi menggoda Naila.


"Iya Dev, aku bahagia banget besok Ka Brian ngajak aku ke rumah nya.?" Dengan senyuman di bibir Naila.


"Ow ya, bagus dong. Jadi kamu akan bertemu dengan orang baik yang sudah kamu Anggap keluarga itu.?" Naila tersenyum dan mengangguk." Aku jadi senang mendengarnya, semoga saja kamu menjadi bagian keluarga nya. Aaamiiin ".


"Aaamiin..." Naila pun mengikuti ucapan Devi tanpa sadar, dan Devi terkekeh mendengar.


" Eeh.. Maksudnya apaan nih, aku main jawab Aamiinn aja lagi...?" Naila baru sadar.


Alhasil Devi pun tertawa geli mendengar jawaban Naila yang baru sadar itu.


"Semoga para malaikat mencatat jawaban Aamiin kamu itu Nai. Lalu ucapan aku itu di ijabah, kalau kamu nanti akan jadi bagian keluarga Brian sebenarnya. Khikhikhik..." Devi terkikik geli.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2