Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Menerima


__ADS_3

"Maaf bunda Naila tidak mengerti pesan dari ibu dan ayah. Pesan apa bunda.?"


Bunda Rossa tersenyum.


"Pesan mereka untuk menitipkan kamu kepada kami. Dan berjanji untuk melakukan perjodohan antara kamu dan Brian.."


Naila sangat terkejut dengan ucapan bunda Rossa. Naila melihat Brian yang sedang menatap nya dengan sangat serius, lalu Naila melihat melihat ke arah Devi.


Devi sendiri bingung harus menjawab apa, tapi Devi yakin kalau Naila pasti punya jawaban yang terbaik untuk nya sendiri.


"Jadi selama ini, kalian sudah menjodohkan aku dengan Ka Brian.?" Bunda Rossa mengangguk kan kepalanya dan tersenyum.


"Bukan hanya itu, sayang. Sebenarnya sebelum mereka pergi, mereka pernah berpesan kepada bunda. Untuk melanjutkan perjodohan yang pernah bunda dan Ibu mu dulu ucapkan. Bunda juga tidak tau kenapa ibu mu berbicara seperti itu, sebelum mereka meninggal kan kamu untuk selamanya. Ayah Haris sudah bilang untuk membatalkan perjodohannya itu, biarkan kalian mencari jodohnya masing masing. Tetapi ibu dan ayah kamu ingin tetap melanjutkan nya.


Flashback..


Di saat pak Haris, Rossa ,Dina dan Fahmi sedang mengobrol. Ibu Dina dan Fahmi mengucapkan sesuatu.


"Rossa, kalian ingat tidak saat kita ingin menjodohkan putri ku dan Brian ..?" Bunda Rossa mengangguk.


"Iya Dina, aku ingat kenapa.?"


"Bagaimana kita lanjutkan perjodohan itu kembali.?" Usul Bu Dina.


"Yakin kamu Din,ingin melanjutkan perjodohan itu kembali. Bagaimana kalau nanti mereka tidak mau di jodohkan.?" Jawab bunda Rossa.


"Iya Dina bukanya kami menolak, tetapi setiap anak itu mempunyai hak nya untuk memilih jodoh nya. Lebih baik kita batalkan saja apa yang pernah kita ucapkan dulu Nai. Aku takut nanti saat dewasa anak anak tidak ingin di jodohkan, dan nantinya membuat anak anak terluka.?"


Dina menunjukan wajah sedihnya.


"Kalian tau, aku hanya mempunya kalian sebagai keluarga ku. Sedangkan dari keluarga mas Fahmi, kalian tau sendiri. Dan kami sudah percaya sama kalian, bisa menjaga putri ku kelak. Jika kami tiada, hanya kalian lah yang kami percaya."


"Kamu bicara apa sih Dina, kenapa kalian bicara seperti itu. Walaupun kelak mereka tidak berjodoh, Naila akan kami anggap seperti putri kami. Dan kami akan menjaganya semampu kami." Kata bunda Rosa yang sudah merasa takut mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Kalian ada Tommy, kenapa kalian tidak percaya dengan Tommy.?"Timpal ayah Haris.


"Bukan aku tidak percaya dengan mas Tommy, aku tidak percaya dengan istrinya itu. Kalian sudah tau kan, aku tidak perlu menjelaskan nya." Dina menundukkan kepalanya.


"Sudahlah Bu, kita tidak bisa memaksa mereka. Sudah kita pindah topik pembicaraan lain. Masalah Naila kelak Naila akan menemukan kebahagiaan nya sendiri, kita yakin ya.." Pak Fahmi mencoba menenangkan istrinya.

__ADS_1


Seminggu sehabis mengatakan itu, di saat acara perpisahan sekolah Naila. Bu Dina menitipkan Naila kepada bunda Rossa.


Rossa kami titip Naila ya, nanti kami menyusul kesana. Soalnya Naila sudah di sekolah, kasian nanti dia mencari kami tapi tidak ada kami".


"Iya, tapi kalian nanti kalian ke sana ya.?"


"Iya.."


Dan akhirnya bunda menyusul Debby dan Denis ke acara perpisahan sekolah.. setengah jam bunda Rossa menemani di sana, tetapi Dina dan Fahmi tak kunjung datang.


Tidak lama setelah itu ada seseorang yang menghubungi handphone bunda Rossa. Dan mengatakan kalau Bu Dina dan ayah Fahmi mengalami kecelakaan tabrak lari dan keadaannya tidak tertolong.


Dari sana lah bunda Rossa tubuhnya lemah bagaikan tak bertulang.


Flashback of.


Bunda menceritakan semuanya ke Naila. Tanpa ada yang di kurangi atau di tutupi.


Hiks hiks hiks... Naila menangis di pelukan Devi. Debby yang berada di sampingnya Naila menenangkan Naila.


"Ayah, ibu.. hiks hiks hiks...." Bunda Rossa pun tak tega mendengar Naila menangis menyebut nama orang tuanya.


"Naila jika kamu tidak mau dengan perjodohan ini, aku tidak memaksanya. Kamu bisa menolak nya, dan aku akan terima.."Ucap Brian dengan santai.


Naila mengamati raut wajah Brian, yang tidak seperti tadi saat Naila datang ada senyuman di bibirnya.


"Brian.." bunda Rossa menatap putranya tersebut, terlihat ada wajah kekecewaan pada Brian.


"Tidak apa-apa bunda, aku tidak mau Naila menerima nya karena terpaksa". Brian tersenyum." Kalau begitu aku permisi ya."


Naila melihat Brian hendak berdiri.


"Tunggu ka Brian." Brian melihat Naila yang kini tersenyum ke arahnya. "Kakak bisa duduk kembali.?" Brian pun mengangguk.


Lalu Brian duduk di tempatnya semula, Brian sendiri tidak mengerti maksud dari Naila.


"Aku tau, ini begitu cepat, aku sangat terkejut mendengar tentang ini. Benar kata ibu ku hanya kalian lah yang aku punya saat ini. Dan aku juga tidak menolak untuk melakukan perjodohan ini." Mendengar ucapan Naila semua tertuju mengarah kepada Naila..


Terutama Brian, hati saat ini merasa lega. Tidak seperti tadi yang terasa sesak.

__ADS_1


"Maksud kamu Nai.?"


"Aku menerima perjodohannya ini. Dan apa kakak juga menerima perjodohan ini, yang sudah di buat oleh kedua orang tua kita.?"


"Ya aku mau menerima perjodohan ini." Ada senyuman di bibir Brian dan Naila.


"Naila, kalau kakak ku ini jangan di tanya. Dia sudah menunggu sangat... mmmmppphh....." Debby yang hendak bicara segera di tutup mulutnya oleh Denis, dan itu membuat Brian melototi Debby.


"Ya sudah bunda senang sekali mendengarnya. Akhirnya kamu akan menjadi bagian di keluarga kami." Bunda memeluk Naila.


"Trimakasih bunda, bunda memang selalu baik untuk Naila."


"Sama sama sayang, sudah jangan menangis lagi ya." Sambil menghapus air matanya Naila.." Naila kamu tau wajah kamu mirip sekali dengan ibu mu, cantik nya, senyumannya. Bunda merasa seperti melihat Dina pada diri kamu ini."


Saat sore harinya, Naila dan Devi berada di taman, mereka berniat untuk pulang.


"Balik yuk Dev.?"


"Yakin kamu mau balik sekarang, gak mau ngobrol dengan calon kamu.?" Devi tersenyum meledek.


"Apa sih kamu Devi, ngeledek Mulu sih kamu dari tadi.?" Naila tersenyum karena malu.


"Loh ko di bilang ngeledek, memang kamu gak mau jalan dulu gitu sama Brian. Jujur aku sih gak enak gabung dengan kalian, aku ini hanya orang luar bukan bagian dari kalian.."


"Apaan si kamu Devi,kamu itu sudah aku anggap saudara. Berarti kamu bagian dari kami ."


"Iya kamu juga bagian dari kami Dev, jadi jangan bilang tidak enak."


Tiba tiba suara Brian datang dari arah belakang.


"Eehh..." Naila dan Devi menoleh sumber suara di belakangnya.


Brian tersenyum, dan berjalan mendekat ke arah Naila dan Devi.


"Devi, Naila sudah menganggap kamu saudaranya. Kamu juga baik dengan Naila, berarti kamu juga bagian keluarga kami . Jadi jangan sungkan."


"Iya ka Brian."


Naila dan Devi pun tersenyum. Brian melihat ke arah Naila, dan Naila mendapat tatapan mata dari Brian menjadi salah tingkah. Dan itu justru membuat Brian tersenyum akan salah tingkah Naila.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2