
"Naila.."
Cuaca pun sepertinya mendukung perasaan Naila, yang kini berubah menjadi mendung. Rintikan air pun mulai menetes dan membasahi jalan.
Tiupan angin dan disertai turun nya air hujan yang mengenai dan membasahi wajah Naila. Di saat Naila akan melangkah menginjak jalan yang sudah mulai basah karena air hujan.
Ada tangan yang menahan Naila. Dan Naila tau kalau itu Brian, tapi Naila enggan untuk menoleh.
"Maafkan aku, aku mohon jangan pergi." Tidak ada kata yang keluar dari mulut Naila.
Greeeppp.... Tiba tiba Brian mem..eluk Naila dari belakang." Maafkan aku, maaf sudah membuat kamu menangis."
Di saat itu Naila menangis, Naila tidak bisa melepaskan pel...ukan dari Brian.
" Hiks.. hiks . Hiks... Lepas Brian, aku mohon lepas.."
"Gak aku gak akan lepaskan kamu Nai, sebelum kamu memaafkan aku.?"
Dan untuk beberapa menit, posisi mereka masih seperti itu. Brian di belakang Naila, dan mem..eluk nya.
Kini keduanya telah berada di dalam rumah. Karena baju yang mereka gunakan basah terkena tiupan angin, saat hujan membuat baju mereka basah. Dan akhirnya Naila mengganti baju dengan Kaos milik Bria. Kaos yang terlihat kebesaran di tubuh Naila, namun masih terlihat cantik saat Naila menggunakannya..
Kedua nya kini duduk di sofa, Naila terlihat masih mendiami Brian.
"Kamu masih marah sama aku.?" Naila menggelengkan kepalanya." Kenapa kamu diam kalau tidak marah sama aku."
Brian menggenggam tangan Naila, dan mengangkat dagu Naila,agar Brian bisa melihat mata Naila.
__ADS_1
"Coba lihat aku.!" Naila menatap Brian.
"Aku harus bagaimana agar kamu mau memaafkan aku.?"
"Kamu gak salah, aku yang salah. Aku ingin cerita siapa Emiil itu, tapi aku mohon kamu jangan marah ya.?" Brian mengangguk.
"Emiil, dia pria baik satu kerjaan dengan ku. Kami menjalin hubungan selama 1 tahun. Dia yang membuat aku nyaman selain Devi,dan paman. Dia juga akan melamar ku, menjadikan aku istri nya. Tepat nya 5 bulan yang lalu, sebelum aku tinggal di sini. Dia akan datang melamar ku, namun musibah menimpah nya. Emiil mengalami kecelakaan, dan membuat kaki tidak bisa berjalan. Dia frustasi akan kejadian itu, aku tidak tau kalau Emiil kecelakaan. Saat aku tau aku menjenguknya, dia malu bertemu dengan ku. Di saat itulah dia meminta Hubungan kita di akhiri, di meminta aku untuk melupakan apa yang pernah kita inginkan. Aku sudah menjelaskan kalau aku ingin tetap menjalani hubungan kita. Tapi dia menolak, kekeh meminta mengakhiri hubungannya dengan aku. Di saat itu juga aku menerima mengakhiri hubungan kami dengan berat hati."
Brian menatap Naila sungguh tak tega.
" Hiks. Hiks. Di saat itu juga aku pulang, dan aku mengalami kecelakaan kecil. Aku menabrak seorang pria, untungnya orang itu tidak apa-apa. Hanya terjatuh tak ada luka, tapi aku mengajaknya ke kelinik dia tidak mau. Hanya tubuhku saja mengalami sakit karena goresan bekas aku terjatuh. 3 hari kemudian saat aku pulang dari kontrakan Devi, aku melihat ada tamu datang. Kamu tau siapa yang datang ka kerumah bibi.?" Brian menggelengkan kepalanya." Yang datang adalah pria yang aku tabrak itu, yang aku ajak ke dokter untuk tanggung jawab dia menolak. Dan dia datang kerumah untuk meminta pertanggung jawaban karena aku sudah menabraknya."
"Ko bisa minta tanggung jawab, kan dia tidak mau. Tanggung jawab apa yang dia minta dari kamu.?" Brian penasaran dengan cerita Naila.
"Dia memintaku untuk menikah dengannya. Untuk menjadi istrinya yang ke 3." Mata Naila kembali berembun, karena mengingat kejadian itu. Bertapa sakit hatinya, saat bibinya memaksa untuk menerima tawaran pria itu .
"Brengs...ek.. Gil..a itu namanya Nai. Lalu apa bibi menerima lamaran tersebut.?" Brian mendengar nya sudah emosi.
"Stre..ss.. Benar benar sakit bibi Farida itu.." Brian mengutuk bibi nya Naila." Lalu apa yang terjadi.."
"Untung saja paman datang, dan menolong ku.. Lalu mengusir pria yang bernama Sandi itu dari rumah. Bukan hanya itu, paman juga yang sudah mengajak aku untuk tinggal di kota ini. Paman yang mengajak aku kerja di toko milik sahabat nya paman, sampai sekarang."
"Berarti kejadiannya belum lama, masih 5 bulan yang lalu.?" Naila mengangguk." Keterlaluan bibi Farida itu. Aku minta maaf karena sudah membuatmu menangis. Jujur aku ingin menanyakan tentang kamu selama di sana, tapi lagi lagi aku tidak tega melihat stiap aku bertanya kamu menangis. Karena kamu mengingat kejadian selama di rumah paman kamu."
"Aku memang menutupi sikap bibi yang jahat dengan aku. Walaupun bibi seperti itu, tetapi bibi masih keluarga aku. Dia bagian dari keluarga ku,dia istri dari paman Tommy."
"Tetapi kamu yang sakit Nai,aku yang tidak terima perbuatan bibi kamu." Brian menghapus air mata Naila." Tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti kamu kembali. Maafin aku ya, sudah membuat kamu menangis." Brian membawa Naila kedalam pelu..kannya.
__ADS_1
Kini Naila dapat kembali tersenyum, saat merasa dirinya tenang di pelukan hangatnya Brian.
Brian seketika tersenyum mengingat sesuatu.
"Naila, aku punya sesuatu untuk kamu. Sebentar ya.?" Naila mengangguk.
Brian meninggalkan Naila yang duduk di sofa seorang diri. Naila tersenyum dengan sikap manis Brian, walaupun Brian memiliki sikap posesif kepadanya. Tapi sikapnya itu masih wajar tidak berlebihan.
Tap tap tap.. Senyuman manis terlihat di bibir Brian, dan Naila pun ikut tersenyum.
Brian duduk di samping Naila dengan senyuman di bibirnya.
" Kenapa sih mas.?"
Naila terkejut karena saat ini Brian sedang berlutut di hadapan Naila dengan mengeluarkan kotak kecil dan membukanya di depan Naila. Ya Brian saat ini sedang melamar Naila, Naila tak percaya apa yang dilakukan Bria saat ini.
"Naila Aprilia, mungkin kamu tau aku seperti apa. Aku yang kamu kenal dulu galak, jahil, dingin arogan. Kini aku telah jatuh cinta sama kamu. Aku tidak bisa seperti pria lain pintar merangkai kata, aku hanya bisa berkata dan melakukan apa yang aku rasakan. Naila Aprilia, mau kah kamu menikah dengan ku, menjadi istri ku, dan menjadi ibu dari anak-anakku. Menua bersamaku, sampai maut yang memisahkan kita, aku ingin kamu menjadi istriku di dunia dan di surga.?"
Naila tersenyum dan mengangguk..
"Iya aku mau menikah dengan kamu, dan menjadi istri kamu. Menjadi ibu dari anak anak kamu, menua bersama kamu, menjadi istri mu di dunia dan di surga. Aku mau menerima kamu mas Brian Alamsyah. " Brian tersenyum mendengarnya, apalagi di akhir kalimat yang begitu manis saat Naila menyebutkan nya.
Brian segera mem..eluk Naila. Saat ini Brian merasa sangat bahagia dengan jawabannya dari bibir Naila.
"Trimakasih sayang. Dan Trimakasih karena begitu manis panggilan mu untukku."
Naila terharu, dan air mata pun sudah tak bisa di bendung lagi. Naila merasa sangat bahagia. Jika memang seandainya ini adalah mimpi, Naila tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini.
__ADS_1
Brian memasang kan cincin di jari manis kiri Nail, lalu mengecup tangan Naila. Naila tersenyum bahagia, begitupun juga Brian. Brian mem..eluk Naila kembali, dan membelai rambut Naila yang begitu lembut.
Bersambung...