
Pak Tommy memberikan senyuman hangat kepada Naila, keponakannya yang dia anggap seperti putri nya sendiri. Yang begitu amat dia sayangi. Pak Tommy merasa bersalah karena kejahatan istrinya, nasib keponakan nya jadi harus menderita.
"Ayah..." Panggil Naila, dengan mata yang sudah mengembun. Dan hanya tinggal menunggu mengalir nya saja.
"Anak ayah, sini nak. Ayah kangen sama kamu." Pak Tommy merentangkan tangannya.
Naila pun mendekati pak Tommy, dan berada dalam pel..ukan pak Tommy. Pria yang sudah mendidik nya dan merawatnya setelah kedua orang tuanya tiada.
Mereka terakhir bertemu saat pernikahan Naila, setelah selesai acara pernikahan, dan pak Tommy pun kembali. Dan Naila pun belum bertemu kembali dengan beliau.
"Ayah Nai kangen sama ayah..?"
"Sama nak, ayah kangen. Tidak ada kamu tidak ada yang membuatkan makanan spesial untuk ayah. Gak ada yang membuatkan kopi terenak untuk ayah." Kata pak Tommy sambil menghapus air matanya Naila.
Devi, Melly, dan Brian melihat nya pun ikut terharu. Termasuk Fandi dan wanita di sampingnya itu, juga turut bersedih melihat Naila begitu merindukan sosok ayahnya.
"Jadi selama ini, kopi buatan Melly gak enak ya yah.?" Celetuk Melly dengan tiba tiba. Membuat Naila dan pak Tommy menoleh ke arah anak gadis itu dan tersenyum.
"Melly, sini sayang kakak kangen banget sama kamu.?" Melly pun mendekat ke arah Naila, lalu Naila memeluk Melly.
Hanya dengan Melly lah Naila dekat, dan begitupun juga Melly, menganggap Naila seperti kakaknya sendiri.
"Sama ka, Melly juga kangen sama kak Nai. Gak ada tempat Melly curhat lagi, selama kakak gak di sana Melly kesepian ka.."
"Naila, sekarang hanya Melly lah yang selalu mengerti ayah, Melly sering membuatkan paman kopi. Ya walaupun pernah ayah di buatkan kopi dengan rasa asin, yang Melly masukkan ke dalam kopi itu bukan gula tapi garam. Masyaallah nikmat banget sampai ke tenggorokan gak ilang ilang asin nya.."
Mendengar itu membuat semuanya menjadi tertawa.
"Ayah, itu kan aku salah masukin garam." Jawab Melly dengan tersenyum malu.
Semuanya pun jadi tertawa ceria karena meledek Melly.
Pak Tommy menatap ke arah Devi dan memberikan senyuman untuk Devi. Yang tak lain sahabat baik keponakan, suka duka mereka saling lalui. Pak Tommy pun sudah menganggap Devi juga seperti keponakannya sendiri.
"Bagaimana kabar paman, Devi senang paman datang kesini." Lalu Devi pun menc... ium punggung tangan pak Tommy.
" Alhamdulillah paman baik nak. Devi, paman senang mendengarnya kalau kamu akan menikah dengan Denis. Anggap paman seperti keluarga mu ya, paman akan senang jika kamu menganggap paman ini keluarga."
"Iya paman, justru Devi yang berterima kasih. Karena paman mau datang kesini dan sudah menganggap Devi seperti keluarga paman."
"Sama sama nak, paman pun juga senang. Karena kamu menganggap paman ini jadi keluarga kamu. Semoga pernikahan kamu lancar dan langgeng ya nak. Paman selalu mendoakan kebahagian untuk kalian". Pak Tommy mengusap kepala Devi, dan Devi pun tersenyum.
__ADS_1
"Amiiin.... Terimakasih paman..." Semuanya pun tersenyum. Dan Devi pun merasa senang dengan ucapan paman Tommy, yang menganggap nya keluarga.%%¹¹
Kini Naila mendekat ke arah Fandi, Fandi tersenyum ke arah Naila.
"Hai anak manja bagaimana kamu sehat sehat kan. ?"
"Iya ka, Alhamdulillah aku sehat sehat. Bagaimana kakak juga sehat kan.?"
"Alhamdulillah... Kamu harus jaga kesehatan apalagi di perut kamu ada baby nya. Calon keponakan kakak, kamu harus sehat gak boleh sakit.."
"Iya ka..." Naila tersenyum mendengarnya, dan termasuk Brian ada sedikit senyuman di bibir nya.
Fandi menatap ke arah Brian.
"Maaf ya, kalau perkenalan kita, membuat kamu tidak nyaman. " Brian mengangguk dan tersenyum.
"Gak apa-apa lupain aja." Fandi mengangguk.
Dan sejak tadi sebenarnya, wanita yang bersama Fandi terus menatap Brian dan Naila dengan senyuman.
"Ka ini siapa, pacar kakak.?" Fandi mengangguk.
"Ya ini yang kakak ingin kenalkan pada kalian. Dan kalian pasti terkejut siapa gadis ini sebenarnya.?"
Fandi dan wanita itu saling menatap dan tersenyum.
"Naila, kak Brian kalian tidak mengenal aku.?" Brian dan Naila saling menatap dan merasa heran dengan gadis di hadapannya ini." Aku Sarah, teman masa kecil kamu Nai. Anaknya pak Hasan, tetangganya Ka Brian.?"
"Sa... Sarah." Wanita itu mengangguk.
" Kamu Sarah teman kecil kita.?" Ada rasa tak percaya di benak Naila dan Brian..
"Iya, aku Sarah teman kecil kalian,
Denis dan Debby. Masa kamu gak ingat si.?"
Naila terkejut mendengarnya, saking senangnya Naila dan Sarah pun saling berpe..lukan. Entahlah Naila merasa sangat bahagia hari ini, karena bertemu dengan keluarganya dan teman masa kecilnya kembali.
Brian tersenyum melihatnya, teman masa kecilnya kini bertemu kembali.
"Aaaaaaah... Ya ampun Sarah, akhirnya kita bertemu lagi. Ya Allah gak nyangka banget deh rasanya, kaya mimpi tau gak sih. Akhirnya kita bisa ketemu lagi?" Masih dengan saling berpe...lukan.
__ADS_1
Lalu Naila dan Sarah pun saling berpegangan tangan. Mereka saling tersenyum y
"Iya ya, gak nyangka kita bertemu lagi. Ternyata mas Fandi itu kakak sepupu kamu Nai.?" Naila mengangguk.
"Hallo kak Brian, bagaimana kabarnya sekarang.Gak nyangka ya, ternyata Naila yang menjadi istri kakak. Padahal dulu kakak itu jahat sekali kepada Naila. Hihihi...."
Brian terkekeh mendengarnya..
"Kabar ku baik Sarah, gak nyangka ya kita bertemu lagi. Dan kamu ternyata pacarnya Fandi, selamat untuk kalian ya..? Brian dan Sarah saling bersalaman.
" Iya selamat juga buat kalian berdua, sekarang sudah menjadi suami istri. Jangan galak galak ya ka sama Naila, karena sahabatnya sudah kumpul kembali.." Sarah terkekeh..
" Sekarang mas Brian gak seperti itu, dia menjadi pria yang baik tau Sarah.." Sarah pun mengangguk kan kepalanya.
"Sarah ow iya kenalin ini Devi, sahabatku sekaligus keluarga bagi ku. Dia ini yang akan menjadi pengantin wanita dari Denis teman kita".
"Ow ya, ya ampun selamat ya. Aku senang mendengarnya, calon istrinya ternyata cantik juga . Pasti Denis bucin tingkat dewa deh sama kamu Dev."
"Hahaha... Bisa aja, kamu memujinya terlalu berlebihan. Lagian aku tidak secantik apa yang kamu ucapkan. Ow iya Senang bisa kenal kamu, trimakasih ya sudah datang ke sini. Semoga kita bisa berteman baik juga.?"
"Iya sama-sama, kamu calonnya Denis. Dan itu sudah pasti jadi temanku juga.."
Dan akhirnya mereka pun mengobrol bersama. Tak ada lagi canggung antara Brian dan Fandi, mereka pun juga turut mengobrol.
Banyak kenangan yang Naila dan Sarah ceritakan. Setiap cerita pun di dampingi dengan senyuman dan tawa.
Pak Tommy pun ikut gabung cerita,tak ada kata yang tua muda semuanya pun sama saling bercerita.
Pak Tommy Melly Devi dan Sarah. Mereka masih berbincang tertawa bersama meledek Melly. Sedangkan Brian menghampiri Fandi yang kini sedang menyendiri di luar.
"Kenapa di sini, kenapa gak gabung dengan saudara kamu di dalam.?"
"Gak kenapa kenapa saya hanya ingin keluar saja, sambil menikmati Rokok. Kamu gak merokok Brian.?"
" Sebenarnya saya juga perokok, tetapi saya berusaha untuk tidak merokok di rumah ataupun di dekat Naila. Semua itu demi kebaikan Naila, di tambah lagi sekarang Naila sedang hamil. Saya tidak bisa jika harus merokok di dekatnya, tapi jika di luar saya perokok."
Fandi tersenyum mendengarnya.
"Saya senang jika Naila mendapatkan pria yang pengertian seperti kamu.Maaf ya waktu itu saya membuat kamu marah, karena saya. Tapi percayalah, sekarang saya sudah mengubur itu semua dalam."
"Ya saya yakin ucapan kamu itu bisa di percaya. Ow iya bagaimana kamu bisa mengenal Sarah teman kecil Naila. Padahal selama ini kami mencari dia kemana, sebagai teman kecil kami.?"
__ADS_1
Fandi tersenyum, dan mengingat kembali bagaimana bisa bertemu dengan Sarah waktu pertama kali, dan Sampai sekarang. Dan sampai Fandi bisa membuka hatinya untuk Sarah, dan melupakan perasaan terlarang nya kepada Naila.
Bersambung....