
Lalu di dapur itu, Naila melanjutkan masak nya. Dengan di bantu oleh Melly untuk mengiris bawang dan cabai dan lain-lain nya. Melly senang nisa membantu kakaknya itu, karena kak Naila lah yang bisa di ajak bercerita.
Setelah masakan selesai tentunya masakan nya di cicipi dulu oleh Naila dan Melly. Setelah rasanya menurut mereka sempurna barulah masakan nya di letakkan di atas piring. Lalu di tata di atas meja, oleh Melly dan Naila. Setelah selesai Melly dan Naila tersenyum bahagia.
"Iiih ka Naila itu keren lah, kalau kata orang Italia mah nyebut nya perfectos.."
"Hahahah... Apaan si kamu dek, memang kamu pernah dengar orang Italia bicara itu.?" Melly menggelengkan kepala dan tersenyum. "Lah terus kamu tau dari mana, kata perfectos itu.?"
"Dari iklan wafer yang lagi ngehits itu ka.?"
Naila semakin cekikikan dengar nya. "Hadeuuhh... Kamu tuh ada aja, itu lezatos, bukan perfectos..."
"Aah sama aja ka, yang penting ada tos, tos nya, ya kan ka.?" Dan mereka berdua pun saling tertawa.
Karena merasa gerah, akhirnya Naila pun mandi membersihkan badannya. Selesai Mandi Naila duduk di tempat tidurnya, melihat handphone nya. Ternyata banyak pesan yang dikirim oleh Emiil.
✉️" Hallo sayang, lagi apa nih.?
✉️" Kamu lagi sibuk ya, gak apa-apa semangat ya sayang.
✉️"Jangan terlalu cape , dan jangan lupa makan ya sayang.
✉️" Yasudah, nanti kamu bales ya. Aku gak tau lagi kangen aja sama kamu."
Naila membaca pesan dari Emiil seperti itu, rasanya geli sekali membacanya. Ya bagi Naila, Emiil itu pria pertama yang menjadi pacarnya. Selebihnya Naila selalu menjauh ketika ada yang menyatakan perasaannya. Dan selanjutnya cowok itu juga menjauh dari Naila.
✉️"Hallo juga Emiil, maaf baru bales ya. Tadi aku lagi masak, di bantu Melly adikku.
✉️" Dan trimakasih kamu sudah perhatian sama aku. Nanti aku makan ko, kamu juga jangan lupa makan ya ".
Dan di sebrang sana Emill yang membaca pesan nya pun tersenyum.
Dan mereka pun saling membalas pesan, dan Naila pun selalu tersenyum saat melibat pesan manis yang di kirim dari Emiil.
Di saat itu juga, terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Tok.. Tok... Tok... Terlihat wajah pak Tommy yang tersenyum di balik pintu.
"Eeh paman masuk sini." Naila segera menyimpan handphone nya di bawah bantal.
"Sepertinya ada yang lagi seneng nih, saat membaca pesan. Dari siapa hayoo, paman jadi kepo deh...?" Menggoda Naila, dan Naila pun tersenyum.
"Apa sih paman, pasti denger Melly ngomong kepo ya. Hihihi...."
__ADS_1
"Bukan Nai, tapi dari tempat kerja paman. Ow iya kamu lagi seneng banget kayaknya, boleh dong paman tau.?"
"Apa sih paman, aku biasa aja sih". Naila jawab nya dengan tersipu malu.
Pak Tommy pun mengerti. "Yasudah yang penting kamu bahagia, tapi nanti cerita ke paman ya". Naila pun mengangguk.
"Kamu sudah makan belum, makan bareng yuk.
" Emmm... Paman saja dulu aku nanti saja". Naila dengan menundukkan kepala nya.
Pak Tommy pun paham, maksud dari penolakan nya itu. "Ayo sama paman, kamu duduk nya di samping paman."
Lalu Naila pun mengangguk kan kepalanya. Lalu Naila dan pak Tommy ke ruang makan bersama, di sana ada Kak Fandi yang sudah menunggu Naila di kursi.
"Ka Fandi". Panggil Naila, dan Fandi pun menoleh dan tersenyum.
"Sini Nai samping kakak". Fandi menepuk kursi di samping nya.
Yang di mana kursi itu di sampai pak Tommy. Naila pun tersenyum dan mengangguk, dan akhirnya Naila duduk di tengah-tengah Fandi dan pamannya.
Sedangkan bu Farida tidak suka melihat jika Naila duduk di kursi bersama mereka.
Selesai makan, Naila membersihkan meja, serta mencuci piring. Selesai itu Naila melanjutkan menyetrika baju di kamar belakang.
"Naila, kamu sudah malam masih menyetrika baju sih. Bukannya istirahat, memang gak lelah apa.?" Naila hanya tersenyum mendengar ucapan Fandi.
"Yasudah asal kamu jangan terlalu cape. Ow iya, nih ambil." Naila pun mengambil bingkisan yang Fandi berikan ke Naila.
"Apa ini ka.?"
"Liat saja nanti saat di kamar, semoga kamu suka ya."
"Terimakasih ka."
"Sama sama, kalau begitu kakak balik ke kamar ya. Kamu jangan malam malam setrika bajunya, kamu juga kan butuh istirahat." Naila pun mengangguk.
"Sekali lagi terima kasih ka."
"Iya sama-sama kakak balik ya". Naila pun mengangguk. Fandi sambil tersenyum lalu meninggal kan Naila, untuk kembali ke kamarnya.
Naila pun melanjutkan pekerjaan nya lagi, dengan tersenyum Naila melanjutkan menyetrika baju.
Hooooaaammm.... Naila menutup mulutnya, karena menguap.
__ADS_1
"Jam berapa ya ini.?" Naila melihat jam dinding, sudah menunjukkan jam 11 malam. "Ya ampun jam 11 malam, pantas saja aku sudah ngantuk. Udahan aah setrika nya, badan aku sudah lelah."
Naila pun tidak lupa mencabut colokan setrika nya,lalu menutup pintu. Tak lupa Naila membawa pemberian dari Fandi ke kamar nya.
"Apa ya isi nya. Aku jadi penasaran, coba ah aku liat." Naila membuka bingkisan paper bag, dan terlihat sebuah kotak berwarna hitam.
Saat di buka ternyata jam tangan, yang saat itu Naila inginkan saat Fandi ngajak Naila jalan. "Ya ampun, ini kan jam tangan yang waktu itu. Ka Fandi membelinya, ya ampun ka Fandi." Naila tersenyum sekaligus terharu melihat jam tangan itu.
Ternyata di dalam kotak itu ada selembar kertas kecil, yang tak lain sebuah tulisan dari Fandi.
"JAM YANG CANTIK DAN MANIS. UNTUK GADIS MANIS AGAR SELALU TERSENYUM MANIS. "
Terdengar pesan masuk di handphone Naila.
✉️"Bagaimana suka gak pemberian kakak, bagus gak. Kalau kamu suka besok kamu pakai ya, kakak ingin liat kamu pakai jam itu.
✉️" Iya ka terimakasih kasih ya ka, besok pasti aku pakai jam nya.
✉️"Nai, maafin Ibu aku ya. Ibu selalu marahin kamu terus ya, tadi Melly cerita ke kaka.
✉️" Gak ko, lagian aku sudah biasa ko ka. Sudah jangan di bahas lagi.
✉️"Nai besok kamu ikut kakak ya. Kaka mau main futsal,;temani kakak ya.?"
✉️"Aku gak berani ka, takut gak boleh sama ibu.
✉️" Pasti boleh, masalah ibu urusan kakak nanti. kamu ikut ya, Please... Ini sparing soalnya dek, biar kakak semangat Nai.? "
✉️" Liat besok ya ka, aku gak bisa janji.
✉️"Oke kakak tunggu besok, tapi kakak harap kamu ikut. Yasudah kamu tidur ya dek, selamat mimpi indah.
Naila membaca pesan Fandi hanya menggelengkan kepala nya. Ya memang terkadang Naila bisa keluar rumah hanya saat ada Fandi, Dan Fandi suka meminta Naila untuk menemaninya saat bermain Futsal.
Esok harinya, Naila di antar kerja oleh Fandi. Sebenarnya bu Farida tidak suka melihat kedekatan anak nya dengan Naila. Namun apa daya bu Farida tidak bisa jika marah dengan putra nya itu.
Saat sampai di depan Mall, Naila pun turun dari motor Fandi.
"Dek nanti pulang kabarin ya, nanti kakak jemput kamu lagi.?"
"Iya ka". Sebenarnya Naila tidak mau ikut nemenin kakaknya itu. Namun Naila tidak enak kalau menolaknya.
" Kamu jangan lupa makan ya." Naila mengangguk. "Yasudah kamu masuk sana".Fandi mengacak-acak rambut Naila.
__ADS_1
Fandi pun tersenyum manis ke arah Naila. Naila terkejut dengan sikap kakaknya itu, entah kenapa sikap kakaknya berlebihan seperti itu.
Tanpa Naila sadari, Emiil melihat adegan itu sejak tadi. Ada api cemburu yang Emill rasakan saat ini,saat melihat Naila di perlakukan layaknya pasangan kekasih.