Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Dia menyukai kamu


__ADS_3

Dan dari kejadian itulah Dina memutuskan hubungannya,dan menjauh dari Farida dan Tommy. Dua bulan kemudian Dina pindah kerja di pabrik lain, dari situlah Dina mengenal Fahmi. Dan seiring nya waktu,mereka menjalin hubungan. Dan saling mengenal hanya 6 bulan dan mereka langsung menikah, dan dari situlah Dina tau kalau Tommy kakak iparnya. Dan Fahmi pun mengerti dan dari situ Fahmi mengajak Dina untuk pindah di Daerah Tangerang. Dan di saat itu juga Rossa ikut tinggal bersama di dekat rumah Dina.


Flashback of


"Dina aku merasa bersalah meninggalkan anak mu dengan Farida.Aku akan bantu mencarinya di mana anakmu". Gumam Rossa dalam hati.


Seminggu kemudian di mana Naila sedang di ajak jalan bersama Emiil. Sengaja Emiil mengajak Naila ke sebuah taman saat sore hari nya. Sambil berjalan dan saling berpegangan tangan .


Emiil begitu bahagia karena sekarang Naila bisa dia ajak keluar, Naila sangat sulit jika di bawa keluar alasan nya pasti karena bibi nya. Karena Emiil sudah meminta izin dengan paman nya jadi setidaknya aman untuk Naila saat di rumah.


"Sayang..."


"Iya Emiil ada apa.?"


"Eeemm.... Aku cuma mau bilang,jika aku nanti pergi kamu jangan sedih ya.?"


Naila pun berhenti dan langsung menatap Emiil. Entah kenapa ada rasa sedih saat Emiil mengucapkan kata itu. Naila kembali mengingat saat ayahnya bicara saat ayahnya akan pergi untuk selamanya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, aku tidak suka Emiil."Naila melepaskan genggaman tangannya dari Emiil. "Kenapa Kamu bicara seperti itu,memang kamu mau kemana-mana.?" Mata Naila sudah mengembun.


"Naila kamu kenapa, kenapa kamu menangis.?" Emiil menghapus air mata Naila." Sayang aku minta maaf jika sudah membuat kamu menangis."


"Kamu Kenapa bicara seperti itu,aku tidak suka. Memang kamu mau kemana, pakai bilang seperti itu.?"


"Naila sayang dengerin aku ya, Aku di suruh pak bos untuk menemani dia ke Mall yang ada di Jogjakarta. Mungkin aku seminggu atau dua mingguan lah di sana. Karena aku juga harus membantu ngecek barang di sana, ini demi kenaikan jabatan aku nanti sayang. Mangkanya aku bilang seperti itu ke kamu".


"Dua Minggu di sana, dua minggu juga aku di sini sendirian gak ada kamu..Tapi kamu akan kesini lagi kan.?"


"Iya dong sayang, aku kesini lagi. Ow iya bulan besok, keluarga ku akan datang. Dan berarti kamu harus siap jika orang tuaku meminta kamu untuk menjadi istri ku.?" Ada wajah kebahagiaan yang terpancar di wajah Naila.


Naila mengangguk, dan tersenyum.


" Ya aku siap lahir batin Emiil, jika itu niat baik kamu. Dan aku juga akan menerima kamu, aku senang mendengar nya."


"Waduh siap lahir batin, kalau di ajak nikah seminggu lagi kamu mau.?" Naila pun mengangguk." Waaah enak itu, udah jangan lama-lama sekarang aja yuk. Kalau perlu malam ini kita nikah, bagaimana.?" Emiil tersenyum dan geli sendiri dengan ucapannya sendiri .

__ADS_1


Naila terkekeh mendengarnya.


"Emiil kamu tuh, ngajak nikah kaya orang ngajak main bekel.. Pernikahan itu buka untuk main main, Masa sekarang bilang sekarang juga nikah."


" Aku ingin punya banyak Emiil junior dari kamu Naila, aku juga ingin punya kesebelasan. Biar suatu saat ada pertandingan aku masukkan anak anakku untuk bermain pertandingan itu". Naila dan Emiil pun terkekeh. "Habis aku gak sabar takut kamu di ambil orang, apalagi kakak mu itu aku was-was Kalau sama dia.?" Emiil keceplosan bicara, dan Emiil menutup mulutnya.


"Ka Fandi, ada apa dengan kakak ku. Kenapa kamu was was dengan dia". Emiil enggan untuk menjawab,kalau dia menjawab pasti hubungan yang akan ada pertengkaran.


"Jangan di bahas lagi, lupakan saja.!"


"Apa lupakan, kamu yang bilang kenapa kamu yang menyuruh lupakan. Kamu bilang gak, kalau gak aku marah sama kamu."


Emiil masih diam, dan Naila sudah merasa kesal. Dan akhirnya Naila berjalan meninggalkan Emiil yang masih diam di tempat.


Karena melihat Naila yang sudah pergi, Emiil pun mengejar Naila.


"Naila, Naila." Naila tak menghiraukan panggilan Emiil. Akhirnya Emiil menarik lengan Naila." Kamu mau kemana hemm....?"


Tak ada jawaban dari Naila, akhirnya Emiil lah yang harus mengalah.


"Baik aku minta maaf sudah membuat kamu marah. Aku juga akan ceritakan ke kamu Maksud dari ucapan aku tadi, tentang kakak kamu. Aku juga gak tau kamu akan percaya apa tidak dengan cerita ku ini."


Flashback


Tetapi saat di parkiran Fandi memanggil Emiil.


"Tunggu..." Emiil pun menoleh dan tersenyum entahlah hanya Emiil yang tau maksud dari senyuman nya itu.


" Eeh.. Kak Fandi, ada apa ya.?"


Fandi memutar kedua bola matanya karena jengah.


"Cukup jangan panggil saya seperti itu, saya muak dengar nya".


"Jadi saya harus memanggil kamu siapa.?"

__ADS_1


"Lupakan, saya memanggil kamu hanya ingin bertanya. Apa benar kamu mempunyai hubungan dengan Naila.?" Fandi menatap Emiil dengan tatapan menyelidik.


Sedangkan Emiil tidak terpengaruh dengan tatapan Fandi dia hanya tersenyum mendengar pertanyaan Fandi.


"Khikhikhik... Kamu lucu, berapa kali saya dan Naila bilang. Kalau saya dan Naila itu memang memiliki hubungan, dan hubungan kami ini lagi hangat-hangatnya. Kita kan baru jadi jadian, ya ibarat jagung rebus lagi hangat-hangatnya." Sambil tersenyum meledek.


Fandi mengepalkan kedua tangannya, dan Emiil tau kalau pria di hadapannya ini sedang marah. Emiil sudah ancang-ancang kalau Fandi ngelakuin sesuatu.


"Saya peringatkan kamu, putuskan saja hubungan kalian.!"


"Loh kenapa, memang hak kamu apa. Kamu hanya kakak sepupunya, bukan orang tua nya. Dan kami menjalin hubungan bukan karena di paksa, jadi untuk apa di putuskan." Emiil menunjukkan senyum menyeringai ke arah Fandi." Lagian saya sudah pedekate sama Naila cukup lama, ya sayang aja jika harus di akhiri hubungan kami. Apalagi dengan permintaan konyol dari kamu yang hanya kakak sepupunya. Lagian Kenapa kamu memaksa banget buat saya akhiri hubungan kami yang sedang hangat-hangatnya. Kamu tidak menyukainya kan.?"


Emiil menatap Fandi dengan tatapan menyelidik.


"Saya menyukai Naila, sangat menyukainya. Bukan hanya suka, saya jatuh cinta dengan Naila. Saya menganggap Naila lebih dari sekedar adik sepupu."


"Gi...la bagaimana bisa kakak menyukai adik sepupunya sendiri. Kalian hidup bersamaan sejak kecil, masa iya kamu menyukai Naila. Aku sudah yakin kalau kamu ada hati sama Naila. Satu lagi saya gak akan mengakhiri hubungan saya dengan Naila, kecuali Naila sendiri yang bilang kalau dia juga menyukai kamu".


Tangan Fandi sudah terkepal sangat kencang.


"Brengs...ek .." Fandi melayangkan pukulannya di wajah Emiil, namun sama Emiil di tahan nya pukulan Fandi.


Tatapan Emiil menunjukkan tatapan membunuh." Dengarkan baik baik, saya tidak peduli kamu itu kakaknya Naila atau siapapun. Sepertinya memang saya harus membawa Naila dari kamu dan ibumu.. kamu hanya kakaknya bagi Naila, sampai kapanpun kamu adalah kakaknya. Camkan itu". Lalu Emiil melepaskan tangannya dengan kasar.


Emiil pun langsung meninggalkan Fandi yang masih memegangi tangannya...


Flashback of


"Begitulah Nail, kenapa aku katakan seperti tadi.karena kakak kamu menyukai kamu, apa kamu tidak merasakan sikap kakak kamu yang berlebihan..?"


Naila menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak merasakan sikapnya berubah, kakak memang baik dengan ku. Dia selalu melindungi aku di saat bibi ingin kasar dengan ku ".


"Tetapi kamu juga tidak menyukai dia kan, aku hanya takut kamu tiba tiba terhanyut akan kebaikan dan perhatian kakak kamu itu ."

__ADS_1


"Gak dong Emiil, aku sudah menganggap kak Fandi itu seperti kak aku. Sama seperti paman yang menganggap aku sebagai putri nya, dan aku pun menganggap paman seperti ayah aku".


Ada rasa rindu yang Naila rasakan saat ini, ketika menyebutkan nama kedua orang tuanya. 23 tahun sudah Naila hidup tanpa ayah dan ibunya, Naila sangat merindukan kedua orang tuanya.


__ADS_2