
Naila tersenyum saat mendapati suaminya kini berada di sampingnya. Bibir yang terlihat pucat, masih bisa memberikan senyuman kepada Brian. Brian pun mengecup keningnya, dan Naila pun memejamkan matanya. Merasakan tenang saat suaminya mengecup keningnya..
" Mas...." Mata Naila terlihat mengembun.
" Uuuusssstttt.... Jangan menangis ya, ada mas di sini... Mas yakin kamu kuat. Mas akan di sini menemani kamu, berdoa terus ya. Biar kamu dan baby kita sehat". Ucap Brian sambil menghapus air mata Naila, lalu mengecup keningnya.
Naila pun mengangguk.. Brian terus menggenggam tangan Naila, dan juga membelai rambut Naila. Semakin lama, mata Naila terpejam dan tertidur karena kelelahan..
Saat di lihat Naila pulas, Brian menatap wajah Naila yang sedang tertidur.. Mata Brian memerah, dan mengembun. Air mata pun lolos dari mata Brian.. Yang saat ini Brian rasakan, dia takut terjadi sesuatu kepada istrinya saat ini.
Semoga semuanya baik baik saja. Aku takut kamu kenapa kenapa Nai...
Ucap Brian, lalu Brian mengecup kening Naila. Lalu Brian meninggalkan Naila yang sedang istirahat. Brian keluar ruangan, dan melihat di luar keluarganya sudah menunggunya..
Brian pun duduk di kursi di sebelah Bunda. Bunda dapat melihat mata putranya yang merah, seperti habis menangis.
Bunda pun menggenggam erat tangan putra sulungnya. Bunda bisa merasakan putra nya saat ini, sedang khawatir dengan kondisi Naila..
Brian melihat bunda Rossa yang mencoba menenangkan dirinya.
"Naila akan baik baik aja kan Bun.? Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan Naila.?"
"Bunda yakin Naila akan baik baik saja sayang. Kita berdoa ya, semoga semuanya baik baik saja. Memang apa yang di katakan dokter tentang kondisi Naila.?"
Brian pun mengatakan kepada bunda, apa yang dokter katakan kepada nya.. Semuanya pun terkejut dengan apa yang di katakan Brian tentang kandungnya Naila..
Semuanya pun terdiam, karena sedih mendengarnya.Terutama Devi dan Debby, yang menangis saat mendengar kondisi Naila.
"Naila... hiks.. hiks... hiks...." Debby dan Devi menangis,lalu memeluk Denis yang berada di tengah-tengah mereka.
Pak Haris mengusap punggung Brian, untuk menenangkan putra nya. Bunda pun juga turut menitikan air matanya.
"Kamu harus kuat Brian, yang penting sekarang kondisi Naila baik. Ayah yakin Naila itu wanita kuat, kamu juga harus yakin istri kamu itu wanita kuat. Kita berdoa jika memang Naila melahirkan hari ini atau besok. Kita berdoa agar semua lancar dan baik baik saja, agar kedua nya sehat dan selamat."
Aaamiiinn.... Jawab Semuanya.
__ADS_1
Brian melihat ke arah Devi dan Debby. Yang di mana Brian menatap nya dengan tatapan tak ramah.. Denis sendiri sedikit takut dengan raut wajah Brian saat ini.
Pak Haris dan bunda saling menatap. Mereka takut kalau Brian akan marah kepada Devi dan Debby.
Debby sendiri pun juga ketakutan dengan tatapan kakaknya itu.
"Ka jangan di sini kalau ingin memarahi mereka.?" Brian menatap kearah Denis dengan tatapan dingin nya.
Devi sendiri melihat raut wajah kakak iparnya yang terlihat sedikit marah. Dan menunjukan tatapan tak ramah kepada Devi. Dan itu tidak membuat Devi takut, karena bagi Devi. Dia sering melihat wajah orang orang yang lebih menyeramkan dan tak ramah kepada nya dari Brian. Devi hanya merasa tak enak, akan kondisi Naila saat ini.
.
"Ka, jangan marah kepada istri ku.."
"Denis biarkan, lagian aku dan Debby tidak salah. Kami pun juga melindungi Naila, jadi semuanya bukan salah aku dan Debby."
"Maksud kalian, kalau kalian tidak salah apa. Lihat Naila dan hampir saja kami kehilangan bayi kami.. Kenapa kamu bilang bukan salah kalian.?"
"Ka.... Jangan marah dengan Devi. Justru kalau tidak ada Devi, yang ada di rumah sakit ini bukan hanya Naila. Tetapi aku pun juga ada berada di sini bersama Naila.." Timpal Debby.
"Apa maksudmu Debby. Sebenarnya apa yang terjadi, pada kalian..?" Tanya Denis.
" Semua itu kerena pria buaya hidung belang itu. Dia menghampiri aku dan Naila, karena dia mengenal Naila. Di saat Devi sedang berada di toilet, dia menghampiri kami berdua..."
"Seorang pria hidung belang. Maksudnya pria siapa yang kamu maksud, apa Emiil mantan nya Naila itu.?" Tanya Brian dengan menahan marahnya.
"Bukan. Bukan Emiil, pria itu bernama Sandi. Dia itu pria yang dulu ingin melamar Naila, dan akan menjadikan Naila istri ke 3 nya.." ucap Devi membuat semuanya terkejut, dan tak percaya
" Betul ka, apa yang di katakan Devi benar. Tadi ada pria bernama Sandi, dan dia mengganggu Naila, di saat kami hanya berdua.. karena Devi sedang ke toilet.." kata Debby.
Debby dan Devi pun menceritakan apa yang terjadi.Raut wajah Brian menunjukan muka marah, apalagi saat mendengar Naila di ganggu. Apalagi sampai pipi Naila di sentuh oleh pria itu,dengan lancang. Dan itu sama saja itu pel*ce*an.. Brian tak terima mendengar nya, sampai Brian mengepalkan kedua tangannya.
Denis yang mendengar kalau istrinya telah melindungi Naila dan juga Debby. Di sisi lain Denis bangga dengan cerita yang Debby katakan ...
Brian menyesal karena sudah sempat marah adik iparnya.
__ADS_1
"Maafkan kakak Dev. Yang sempat marah sama kamu."
"Gak apa-apa ka, aku tau kakak gak berniat memarahi aku dan Debby. Aku paham di posisi Ka Brian saat ini... Tapi kakak tenang saja, pria itu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Dan dia juga sudah diurus dan di bawa ke kantor polisi..."
"Terimakasih, sekali lagi maafkan kakak ya.?"
"Santai aja ka, lagian aku tidak marah ko... Yang terpenting sekarang adalah kondisinya Naila. Dia baik baik saja kan.?"
"Sekarang dia baik baik saja. Hanya saja tadi kakak kaget, karena kata dokter kalau kondisi Naila stress dan ketakutan. Dan tekanan darahnya pun tinggi. Kalau tidak cepat cepat di tangani, kemungkinan kami akan gagal menjadi peran orang tua. Tapi kondisi Naila sekarang sudah ditangani. Hanya kata dokter Naila harus di rawat inap, takut kontraksi dan perut kram nya datang kembali..."
"Ka tapi Naila akan baik baik saja kan.?" Debby dengan wajah memelas. Brian merasa bersalah karena sudah membentak nya tadi.
"Kita doakan saja, semoga keduanya baik baik saja... Maafkan kakak ya, tadi sudah marah sama kamu. Mana bisa kakak marah sama kamu dek.?"
Debby pun mengangguk." Iya ka aku juga minta maaf sama kakak, karena aku tidak bisa melindungi Naila.."
"Tidak apa-apa, Naila wanita yang kuat ko. Di samping itu ada Devi yang melindungi kalian.." Brian dengan senyum nya." Kalau begitu kakak mau ke musholah dulu ya, sudah masuk waktu ashar... Bunda ayah semuanya aku titip Naila dulu.."
"Nak ayah ikut... Yuk Denis kita ke musholah." Denis pun mengangguk.
Lalu para pria pun kini ke musholah, yang menunggu Naila 3 wanita..
5 menit saat Brian meninggalkan ruang tunggu. Seorang perawat datang menghampiri.
"Ada apa ya suster...?"
"Permisi, maaf mengganggu.. Ibu Naila di dalam, minta di panggil kan suaminya."
"Suaminya sedang shalat, ada apa dengan anak saya. Dia baik baik saja kan sus.?"
"Ibu Naila merasakan kram dan mulas kembali. Dan sepertinya ibu Naila akan melahirkan, karena merasa kan kontraksi. Kata dokter sudah pembukaan 8, jadi ibu Naila meminta suaminya untuk menemaninya..."
" Kalau begitu,apa boleh saya menemani putri saya di dalam.. Kalau suaminya datang, baru suaminya yang menemaninya.."Perawat itu pun mengangguk kan kepalanya..
Bunda pun langsung masuk keruangan Naila, saat di perbolehkan masuk oleh perawat..
__ADS_1
Bersambung....