Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Teman masa kecilku


__ADS_3

Brian tersenyum lalu mengacak-acak rambut Naila." Jadi kamu belum sarapan Nai.?"Naila menggelengkan kepalanya.


" Yasudah kita beli bubur di depan sana ya, biar kamu bisa minum obatnya. Kamu tinggal di situ dengan siapa, sama keluarga paman.?"


"Tidak ka, aku sama Devi teman baikku."


Brian mengangguk, lalu mereka berhenti di depan penjual bubur ayam. Lalu Brian membeli 3 porsi bubur ayam, satu untuk Brian dua untuk Naila dan Devi.


Lalu Brian melanjutkan mobilnya kembali. Dan berhenti di pinggir jalan tempat kejadian tadi.


"Di mana rumah kamu Nai.?"


"Itu ka, aku ngontrak di sana sama Devi teman aku. Dan itu tempat kerja aku di sebelahnya, cat kuning." Naila menujuk toko tepat dia bekerja.


Brian mengangguk.


"Kakak boleh minta nomor handphone kamu Nai.?" Naila pun mengangguk, lalu mereka tukeran no telpon." Yuk kakak antar kamu ke kontrakan, pasti kaki kamu masih sakit kan.?"


"Hanya sedikit ka sakitnya."


" Tetap saja Nai Yasudah kakak antar, biar kakak tau rumah kamu.?" Naila pun mengangguk.


Akhirnya Brian pun turun dari mobil dan mengantarkan Naila ke kontrakan.


"Ini ka kontrakan aku, sebentar ya." Belum juga Naila mengetuk pintu, Devi sudah membukanya dari dalam.


"Ya ampun Naila, kami dari mana sih. Aku nyariin kamu, muter-muter keliling sini. Aku tanya pak Mukhlis katanya melihat kamu, tadi katanya kamu terserempet mobil. Beneran aku takut kamu kenapa-kenapa Nai, jangan bikin orang bingung apa Nai". Cerocos Devi membuat Naila hanya tersenyum mendengarnya." Kebiasaan kamu kalau di omelin senyum senyum, ampun dah kamu Nai." Devi menepuk jidatnya.


Brian dan Naila memperhatikan sikap Devi yang seperti ibu memarahi anaknya.


Lalu Devi melihat di sebelahnya ada pria berpostur tinggi, wajah tampan dan hidung mancungnya.


'Ganteng banget nih cowok, apa ini pangeran ya. Atau ini Malaikat yang menampakkan wajahnya yang sempurna. Asli adem banget muka nya, uuuhh....' Gumam Devi dalam hatinya.


Ekhem.... Naila berdehem.


"Eeh... Sorry , Nai siapa dia.?" Melirik ke arah Brian.


"Maaf ya sudah membuat kamu khawatir, dengan Naila. Sebenarnya saya yang tidak sengaja menyerempet Naila..." Belum selesai Brian bicara Devi sudah menyela lagi.

__ADS_1


"Oow... Jadi kamu yang sudah menyerempet Naila. Eeh mas kalau mengendarai mobil itu jangan Meleng, di kata jalanan itu punya nenek moyang mu. Kalau teman saya kenapa-kenapa bagaimana, dan lagian mas itu ...mmmppphh...." Naila berhasil menutup mulut Devi biar gak terus menyerocos di depan Brian.


Mmmmppphh... Naila tersenyum ke arah Devi, karena merasa geram. Dan maksudnya agar Devi paham akan isyar6 Naila.


Dan akhirnya Naila menginjak kaki Devi ,dan Devi pun berteriak dengan mulut yang masih di bekap. Mmmmmmppppphhh... Teriakan Devi. Karena Devi tidak paham mangkanya terpaksa Naila melototi Devi serta menginjak kaki Devi. Barulah setelah itu Devi paham akan kode dari Naila.


Naila tersenyum melihat ke arah Brian, dan Brian tersenyum melihat tingkah lucu dua wanita di depan nya saat ini.


"Diem diem combro, kamu bisa diem gak.?" Bisik Naila yang sudah geregetan dengan Devi.


Devi pun mengangguk, dan Naila tersenyum.


"Ka maafin teman aku ini ya, dari tadi nyerocos terus."


"Gak apa-apa Nai, seharusnya aku yang minta maaf sudah membuat teman kamu khawatir. Tanda nya dia itu sayang sama kamu Nai. Maaf ya Dev, sudah membuat kamu khawatir, sekali lagi maaf." Devi mengangguk dengan bibir di majuin, karena kesal dengan Naila sudah menginjak kakinya.


Brian melihat jam tangan nya.


"Naila, aku pamit dulu ya.? Nanti aku boleh kan mampir lagi ke sini.?"


"Boleh ka."


"Trimakasih ya ka, hati hati


Salam sama bunda ayah Devi dan Denis." Brian pun mengangguk.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Brian


"Waalaikumsallam.." jawab Naila dan Devi.


Lalu Brian masuk ke dalam mobil lalu melaju kendaraan meninggalkan kontrakan Naila.


Devi menatap Naila yang masih tersenyum melihat Brian yang sudah pergi. Entah kenapa Devi merasa ada yang aneh dengan sikap Naila. Devi tau betul karakter Naila yang sedikit pendiam itu. Tapi kenapa Dia sendiri tidak mengenal karakter Naila yang sekarang dia lihat.


'Siapa pria itu ya, kenapa Naila seperti berbeda. Asli ini bukan Naila yang aku kenal, dia kan biasanya sama cowok itu biasa aja. Mudah akrab tapi masih bisa jaga jarak, pandangan dan senyuman. Lah ini masih senyum senyum sendiri, orang nya juga udah kabur. Kesambet setan mana ya nih anak, wah gak beres ini urusannya.' Devi memperhatikan Naila sambil tukak pinggang.


"Orang nya udah gak ada kale, ngeliatin apaan si neng sampai segitunya.?" Devi sengaja bicara di dekat telinga Naila.


Dan Naila pun tersadar, lalu tersenyum ke arah Devi .

__ADS_1


"Apaan si Devi. Eeeh iya ada 2 bubur nih, kita makan yuk." Ajak Naila, namun saat berjalan Naila sedikit meringis.


"Aku kira dengan memandangi dia pergi sambil tersenyum, bisa bikin sembuh sakitnya. Ternyata gak bisa ya." Sindir Devi, Naila hanya tersenyum mendengarnya.


"Udah jangan berisik ya Bu, kita sarapan dulu." Ledek Devi.


Dan akhirnya mereka berdua menikmati sarapan bubur pemberian Brian. Di sela sela makan, Devi bertanya tentang Brian.


"Nai, siapa pria itu. Bukankah dia yang menyerempet kamu, tapi kenapa kamu akrab dengannya.?"


"Iya dia memang yang nyerempet aku tadi. Dan aku juga baru tau kalau dia Brian teman masa kecil aku, itu pun dia sendiri yang memberi tau. "


Naila pun menceritakan kronologi kejadian tadi pagi ke Devi. Dan Devi mendengar kan ceritanya Naila disertai dengan bubur masuk ke dalam mulutnya.


" Ooohhh begindang toh, aku baru paham. Kalau si ganteng tadi teman kecil kamu, bagus aja aku gak main nyerocos panjang kali lebar kali tinggi. Heheheh...."


Devi terkekeh.


"Hehehe... Gak nyerocos, lah tadi apaan Dev". Naila memutar matanya karena jengah kala Devi mengelak. Devi hanya cengengesan.


Selesai sarapan Naila bersiap siap untuk berangkat kerja. Karena hari ini Sabtu, dan besok Minggu. Di mana besok adalah hari libur untu Naila, sedangkan Devi sendiri libur di hari ini.


Saat sedang mengambil loyang, Bagas melihat jalan Naila sedikit pincang.


"Kaki kamu kenapa Nai.?"


"Ow ini, tadi terserempet mobil. Tapi sudah di obati ko, sama yang menabrak nya".


"Mendingan kamu libur aja Nai, istirahat aja.?"


"Gak aah, besok kita udah libur kan. Jadi aku mau masuk, kan orderan juga lagi banyak banyak nya." Naila menolak di suruh pulang oleh Bagas.


"Ya sudah terserah kamu Nai,tapi kerja nya hati hati loh.!" Bagas tersenyum.


"Iya iya, aku hati hati. Trimakasih Bagas sudah diingatkan." Bagas mengangguk.


"Ekhemm..... Aku di sini rasanya seperti obat nyamuk di tengah tengah kalian. Eh bukan deh, tapi di pojokan seorang diri, karena kalian lah yang berdua di tengah situ. Heheheh... "Kata Anto yang terkekeh meledek Bagas dan Naila.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2