
"Apa yang kamu rasain sayang, di mana . Kaki kamu pegal, sini aku pijit kaki kamu.?"
"Bukan kaki, tapi di sini." Menujuk bagian dadanya.
Brian mencoba menyentuh tangan Naila, namun Naila menolak tangan nya untuk di sentuh.
"Sayang kamu kenapa si, heemm.. ko gak mau tangan nya aku sentuh."
"Kamu bohong sama aku mas, kamu jahat mas."
"Jahat kenapa sayang, aku gak ngerti apa yang kamu maksud. Coba ceritakan ke mas, jangan marah seperti ini dong. Aku gak mau kamu sampai kenapa Kenapa.?"
"Minggu kemarin, saat kamu bilang pulang telat. Kamu habis dari mana mas.?"
Kini air mata yang Naila bendung sudah tak bisa Naila menahannya lagi. Naila kini menangis karena sejak tadi rasa sesak nya yang ia tahan.
Brian mencoba menghapus air matanya, namun Naila menoleh kearah lain.
Brian menatap Naila lekat lekat, Naila enggan menoleh sedikitpun ke arah Brian. Dan akhirnya Brian membuang nafas nya dengan kasar.
Hufffhh..." Kamu bicara apa si Nai. Naila kamu tau kan, mas ini baru pulang. Jadi mas mohon jangan seperti ini, mas gak ingin bertengkar."
Naila menatap Brian dengan mata yang basah.
"Aku tidak ingin bertengkar, yang aku inginkan jujur dari kamu mas. Aku tau mas kamu menyembunyikan sesuatu dari aku mas.?" Brian enggan menjawab pertanyaan Naila." Baik kalau kamu tidak ingin menjawab, gak apa-apa. Dan aku gak akan tanya apa apa lagi ke kamu." Naila hendak bangun dari hadapan Brian, dan Brian menahannya untuk tidak pergi.
Brian tersenyum menatap Naila, Brian berusaha agar tidak terpancing emosi.
"Baik aku akan jujur, apa yang kamu ingin tanyakan. Apa tentang parfum di baju aku, iya.?" Naila mengangguk." Terus mau tentang mana lagi, apa yang ingin kamu tanyakan lagi hemm...?"
__ADS_1
"Apa kamu ketemuan dengan mantan kamu si Riska itu.? Apa kamu masih menyukainya, apa kamu diam diam masih ketemuan dengan dia mas." Pertanyaan beruntun dari Naila.
"Apa kamu bertemu dengan dia tadi saat jalan dengan Debby dan Devi. Gak mungkin kamu semarah seperti ini ke aku.?" Brian dengan sabar bertanya.
"Iya aku bertemu dengan dia tadi, kamu juga habis ketemuan kan sama dia mas belum lama ini.? Kenapa kamu harus bohong si, kamu bilang aja ketemuan ma dia.?"
"Terus kalau aku bilang ke kamu. Kamu yakin gak akan marah sama aku.?" Naila malah tidak menjawab dan pula tidak melihat wajah Brian." Ya sudah aku minta maaf sama kamu, sudah ketemuan dengan dia tanpa sepengetahuan kamu. Tapi aku melakukan itu ada maksud tertentu Nai."
"Maksud tertentu apa mas.? Maksud tertentu nya karena kangen ingin ketemu dia, dan ingin pel...uk dan ci...um dia. Iya mas, kamu jahat tau gak. Nyebelin mas..."
Hikss hiks hiks.... Naila menangis.
"Gak gitu Nai, aku ingin cerita tapi aku takut kamu akan lebih marah sama aku sayang.."
"Apa mas kamu gak ingin aku marah. Tapi kamu tega bohong sama aku, aku gak suka di bohongi mas." Nada bicara Naila mulai emosi.
Jeder... Naila terkejut dengan apa yang Brian ucapkan. Naila tidak menyangka kalau suaminya lebih percaya dengan bukti yang di kirim kan mantan nya itu. Ketimbang penjelasannya dari istrinya sendiri.
" Aku minta maaf sayang. Mangkanya aku terpaksa menemuinya saat itu, untuk mengingat kan dan aku kesana marah oleh Riska. Aku mohon jangan marah Nai, aku minta maaf."
"Aku tidak menyangka ternyata kamu lebih percaya dengan dia ketimbang aku istrimu. Aku kecewa sama kamu mas, aku kecewa mas." Brian menunduk meratapi kesalahan nya.
Naila berdiri dan hendak berjalan meninggalkan Brian. Namun Brian segera menghalangi Naila untuk tidak pergi.
"Kamu mau ke mana.?" Kini Brian berdiri di hadapan Naila."Sayang aku minta maaf, please jangan seperti ini.?"
Tidak ada jawaban dari bibir Naila, Brian paham Naila masih kesal.
"Yasudah kalau kamu ingin sendiri, kamu di sini saja. Biar aku yang keluar." Naila diam di tempat.
__ADS_1
Naila menoleh ke arah lain, tak ingin melihat suaminya saat ini. Ingin sekali Naila marah, namun tidak bisa. Naila bukan gadis yang pemarah, yang mudah meluapkan emosi hanya Dengan berteriak. Naila hanya bisa diam, dan meluapkan nya dengan berdiam diri dan menangis.
Itulah kebiasaan Naila semenjak kedua orang tuanya tiada, lebih baik diam dan menahan marahnya. Naila tidak bisa marah, atau berteriak layaknya orang emosi lainnya.
Karena memang itu yang Naila lakukan ketika marah, Naila tidak bisa marah.
Semenjak Naila tinggal bersama bibi Farida, seringkali bibi membentak Naila. Dan bahkan sering kali Naila di perlakukan kasar oleh bibi nya.
Pernah suatu ketika Naila duduk di bangku SMP ,Naila mencoba melawan bibi saat marah. Namun balasan bibi lebih menyeramkan, dan itupun di saat paman dan Fandi tidak di rumah. Naila di kurung di dalam gudang yang gelap dan pengap ,di sana banyak tikus. Naila tidur di gudang hanya beralasan tikar tipis yang sudah tak layak di pakai, dan Naila tak di kasih makan. Melly yang membela Naila , justru Melly pun mendapatkan hukuman dari bibi Farida. Jadi Naila hanya pasrah dengan sikap bibi nya itu, dari pada orang lain yang ikut terkena masalah, hanya karena membela nya .
Ya di bilang Naila lemah memang Naila wanita yang lemah. Tapi Naila bisa kuat dengan siksaan yang di berikan bibi nya setiap hari, dan Naila bisa bertahan. Naila melakukan apa yang di perintahkan bibinya, agar Naila tidak di kurung di dalam gudang, dan di siksa oleh bibi nya. Naila kuat dengan perilaku bibi, hanya demi pamannya. Karena bagi Naila, hanya mereka lah keluarga yang Naila punya. Jadi Naila hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan bibi nya.
*****
Kini Naila berada di dalam kamar dengan memandangi foto kedua orang tuanya.
Andaikan ibu dan ayah masih ada, Naila akan sangat bahagia. Naila bisa berbagi cerita ke ibu dan ayah, bagaimana perasaan Naila. Aya, ibu, aku kangen kalian. Hanya dengan seperti ini yang bisa Naila lakukan setelah berdoa, memandangi foto kalian. Aku lelah, aku ingin bertemu kalian di mimpi. Ayah ibu datang ya ke mimpi Naila, Naila ingin di peluk oleh kalian.
Hiks.. hiks... hiks... Sambil menangis Naila memeluk foto kedua orang tuanya. Matanya pun terpejam karena lelah sejak tadi menangis.
Sebenarnya Brian melihat istrinya yang menyendiri di kamar. Brian melihat di balik pintu nya yang sengaja di buka sedikit. Ada rasa bersalah dan penyesalan, Brian merasa tak tega dengan istrinya itu. Brian tau kehidupan Naila saat kepergian orang tuanya. Naila tidak hidup bahagia dengan bibi nya, Naila di perlakukan kasar oleh bibinya.
Kini justru Naila di buat kecewa dengan dirinya, Brian merasa telah melukai Naila.
Aku sudah membuat istri ku kecewa dan membuatnya sedih. Suami macam apa aku ini. Aku tidak mempercayai istri ku, malah percaya dengan Riska. Dan kini dia memanfaatkan kejadian kemarin, dan kini Naila marah oleh ku. Astaga aku bodoh sekali sebagai suami, maafin aku sayang.
Brian duduk di sofa sambil merenung kesalahannya dan rasa penyesalan nya di ruang tamu. Karena waktu masih menunjukkan jam 8 malam.
Bersambung...
__ADS_1