
Pak Haris dan bunda Rossa merasa prihatin mendengar kondisi Farida di dalam lapas. Pak Haris menepuk punggung pak Tommy agar pak Tommy sabar.
Tanpa mereka sadari, Naila mendengarkan pak Tommy berbicara tentang kondisi bibinya. Ada rasa tak tega dan sedih saat mendengar nya.
****
Kini paman Tommy, Melly Fandi dan Sarah sudah pamitan dan kembali pulang. Waktu sudah menunjukkan waktu malam hari, saat Brian keluar dari dalam kamar mandi. Brian melihat Naila sedang melamun.
Brian berjalan menuju tempat tidurnya, dan duduk di sebelah Naila. Tapi Naila masih melamun, dia tidak menyadari kalau suaminya sudah di sampingnya.
Brian menyentuh tangan Naila dengan lembut. Naila terkejut dan menoleh ke arah suaminya.
"Mas..." Naila tersenyum.
"Kamu kenapa, ko kamu melamun.? Apa yang kamu pikirkan si Nai, aku tidak mau loh sampai kamu banyak pikiran dampaknya akan ke janin kamu.?"
"Iya maaf mas, aku hanya kepikiran ucapan paman saat mengobrol sama bunda dan ayah tadi."
"Memang mereka ngobrolin apa sampai kamu kepikir seperti ini.?"
"Masalah bibi Farida mas. Kata paman, kalau bibi di sana sakit sakitan mas. Dan seperti nya bibi sudah menyesal apa yang telah dia lakukan..." Brian mendengarnya dengan tatapan menyelidik.
"Terus intinya dari pembicaraan kamu ini apa. Jangan bilang kamu minta aku buat membebaskan bibi Farida.?" Brian menebak.
Dan Naila pun mengangguk kan kepalanya,tanda membenarkan ucapan suaminya. Brian menarik nafas lalu menoleh ke arah lain.
Haaaaah.... Lalu membuangnya dengan kasar.
"Mas Brian..."
" Sudah malam Nai, lebih baik kita istirahat. Jangan membahas masalah bibi kamu itu. Biarkan dia mendekam di sana, karena perbuatannya itu. Aku tidak ingin membahasnya sekarang. Sekarang kita tidur, aku tidak ingin terjadi sesuatu sama kandungan kamu. Karena kamu memikirkan bibi kamu, yang sudah jahat sama kamu." Ucap Brian dengan tegas, membuat Naila sedikit takut dengan tatapannya itu.
Dan akhirnya Naila pun menuruti perkataan suaminya. Tidak ada obrolan saat ini, Naila hanya diam menatap wajah Brian yang sudah terpejam. Padahal Brian belum tertidur, Brian hanya tidak ingin Naila melanjutkan obrolannya tentang bibi nya itu.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Pagi hari, Brian dan Naila sarapan bersama. Brian yang akan berangkat kerja, kini sedang menikmati sarapan masakan istrinya.
Padahal Brian sudah menyuruh Naila untuk tidak membuatkan sarapan. Brian sudah meminta by Fitri untuk memasak, namun Naila kekeh ingin membuat masakan untuk suaminya.
Naila saat makan, matanya sesekali melirik ke arah suaminya yang sedang menikmati sarapannya. Brian tau kalau istrinya diam diam melirik ke arahnya, tapi Brian pura pura tidak melihatnya.
" Mas... "
"Heeem.... " Sambil memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya. Sambil menatap Naila.." Ada apa lagi Nai. Kenapa itu makanannya tidak dihabiskan, ayo habiskan."
"Aku sudah kenyang mas.." Brian mengangguk.
Brian lalu mengambil gelas berisikan minum. Lalu di minum nya sampai habis airnya.
Taaak... Brian meletakkan gelasnya kembali di atas meja..
"Ada apa si Nai, apa yang kamu pikirkan si. Sampai makanan kamu tidak di habiskan. Kamu masih ingin melanjutkan pertanyaan kamu yang semalam itu, tentang bibi kamu.?" Naila mengangguk. Brian membuang nafasnya dengan kasar. "Ya ampun Nai nai.kamu minta bibi kamu di bebaskan gitu maksudnya..?"
Naila mengangguk kan kepalanya, dan menundukkan. Naila tidak berani menatap wajah suaminya, yang sudah menahan marahnya.
"Tapi mas, aku hanya kasian sama paman dan Melly. Paman menghawatirkan bibi di sana, kata nya dia sudah menyesal. Kasian mas paman tidak ada yang mengurus dia di rumah. Paman sekarang terlihat sekali tidak terurus."
"Memang selama ini, bibi kamu yang mengurus paman kamu.? Bukan kan. Justru yang mengurus makan, pakaian paman itu kamu Saat masih bersama mereka. Bibi kamu itu hanya bisa foya foya menghabiskan uang saja. Benar kan apa yang aku katakan..?" Naila diam, karena apa yang di katakan suaminya itu benar adanya..
"Tapi mas ...?"
"Kamu paham tidak si Nai, aku melakukannya itu. Semata-mata ingin melindungi kamu, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Apalagi sekarang kamu sudah menjadi istriku. Sudah kewajiban aku melindungi kamu dari orang jahat seperti bibi kamu. Kamu ingat, saat kita ke rumah bibi kamu. Dia memperlakukan kamu dengan kasar, itu di depan mata kepalaku ku sendiri loh Nai. aku tidak terima Nai, Kamu di sakiti oleh dia seperti itu. Kamu ngerti gak si maksud aku..?"
Bentak Brian yang sudah mulai emosi. Sampai Naila menaikan kedua bahunya dan memejamkan matanya. Brian sadar, kalau dia sudah menyakiti istrinya, dengan membentak Naila. Brian pun diam sejenak, mengontrol emosi nya.
Sampai Bu Fitri yang sedang menyetrika pakaian pun mendengar suara Brian yang cukup kencang.
Brian memejamkan matanya, sambil menarik nafasnya. Agar rasa kesalnya hilang. Brian memijat di bagian tengah alisnya.
"Aku harus berangkat, jangan bahas ini dulu. Aku minta maaf... Sekarang aku berangkat dulu ya, kamu jangan lupa minum vitaminnya..." Lalu mengecup kening Naila.
__ADS_1
Setelah itu Brian berjalan meninggalkan Naila yang masih duduk di ruang makan. Brian meninggalkan Naila dengan rasa bersalahnya.
Brian kini sedang berada di dalam mobil, dan menyalakan mesin mobilnya. Setelah itu Brian melaju kendaraan nya meninggalkan rumah, menuju kantornya.
Bu Fitri, yang membantu di rumahnya. Kini mendekati Naila yang masih duduk di kursi.
"Mba Naila.."
"Iya Bu Fitri...?"
"Mba Naila tidak apa-apa kan.. Mau lanjutin makan nya atau bagaimana.?"
"Naila mau ke kamar saja Bu." Dengan mata yang mengembun membuat Bu Fitri tak tega melihatnya.
"Ya sudah ibu antar ke kamar ya mba Naila. Mba Naila biar bisa istirahat di kamar." Naila mengangguk. Bu Fitri membantu mengantarkan Naila ke dalam kamarnya.
Setelah sampai kamar, Naila duduk di tempat tidurnya.
"Bu Fitri...?"
"Iya neng... Ada yang bisa ibu bantu .?"
"Naila salah ya, bicara seperti itu ke mas Brian.?" Bu Fitri bingung maksud dari perkataan majikan nya itu.." Naila hanya kasian mendengar bibi Farida yang sekarang sakit sakitan. Apalagi saat sakit tidak ada yang merawatnya, di dalam penjara juga...kata paman juga, bibi sekarang tubuhnya sangat kurus. Dan kata paman bibi menyesal kerena sering berbuat jahat kepadaku. Maksud aku hanya minta pendapat mas Brian. Tapi nyatanya aku yang sudah membuat mas Brian marah.." Air mata Naila kini sudah tak dapat dibendung lagi.
"Neng, maaf bukan ibu ikut campur. Mungkin maksud dari mas Brian. Mas Brian tidak mau sampai mba Naila di sakiti bibinya lagi, kalau sampai bibi nya bebas. Mas Brian hanya ingin melindungi mba Naila saja. Mungkin saat ini, mas Brian masih lelah. Mungkin nanti, kalau mba Naila ceritakan dengan pelan pelan, pasti nanti mas Brian akan mengerti. Mba Naila yang sabar saja. Mas Brian melakukan seperti itu, mungkin mas Brian sangat mencintai mba, dan takut mba Naila kenapa-kenapa." Naila mendengarkan perkataan Bu Fitri, dengan mengangguk kan kepalanya.
"Apa masih ada lagi yang di butuhkan mba Naila. Kalau tidak ada lagi ibu ingin melanjutkan pekerjaan ibu.?"
"Tidak ada Bu. Kalau begitu terimakasih ya Bu, maaf jadi mengajak ibu untuk mendengarkan curhatan Naila..?"
"Tidak apa apa mba Naila. Ow iya mba Naila apa mau di buatkan susu nya, atau mau minum vitaminnya...?"
"Nanti saja Bu Fitri, aku ingin istirahat dulu."
" Yasudah kalau begitu ibu permisi ya mba Naila.?" Naila mengangguk. Setelah biru Bu Fitri meninggalkan kamar Naila.
__ADS_1
bersambung...