
Otak Denis sudah mulai terkontaminasi dengan hal hal yang li*r. Yang membuat aliran darah Denis berdesir, jantung Denis pun kini berdebar sangat cepat Nafasnya semakin terasa sesak, dan suhu udara di kamar pun, tiba-tiba menjadi panas.
Denis menatap Devi seakan terpaku akan kecantikannya, tenggorokan nya pun tercekat, karena terasa kering. Denis menatap Devi, seakan merasa dirinya sedang berada di gurun pasir, yang begitu panas, dan terasa haus.
Denis tersenyum ke arah Devi, Devi nampak gugup.
"Sini...!" Denis menepuk tempat di sebelahnya,agar Devi ikut duduk di samping nya.
Devi pun menuruti apa yang Denis ucapkan, Devi duduk di samping Denis. Dengan tangannya yang masih menyilang di bagian depan. Dengan bantal yang menutupi bagian bawahnya.
"Kenapa ko tangan kamu seperti ini. Kamu malu karena aku, kan aku suami kamu sekarang."
"Eeemmmm... Maaf Denis aku hanya belum terbiasa memakai pakaian seperti ini. Maaf ya, aku hanya sedikit risih saja. Kamu tau sehari harinya aku seperti apa, mana pernah aku memakai pakaian feminim. Baru hari ini, aku seharian memakai kebaya, gaun dan ini lihat pakaian kurang bahan seperti ini .. Aku hanya belum terbiasa saja... Kamu jangan marah ya Denis..?"
"Sebenarnya kamu tanpa memakai pakaian seperti ini pun, kamu sudah terlihat manis dan cantik. Tapi karena ini malam spesial kita, ya setidaknya malam ini kamu membuat aku gelisah.."
Devi menyentuh tangan Denis. Otomatis di bagian dua gunung, pun terlihat jelas oleh Denis saat ini. Dan Devi pun tidak menyadari itu.
" Gelisah... kamu gelisah kenapa Denis.?"
Keringat Denis pun kini sudah membasahi wajahnya. Karena suhu kamarnya tiba tiba terasa panas dan sesak. Devi yang melihat sikap Denis yang aneh, dengan keringat yang sudah membasahi wajah Denis. Devi sedikit khawatir dengan Denis.
"Denis, kamu kenapa si.? Kamu berkeringat, kamu sakit.?" Tanya Devi panik, yang kini sudah berada di hadapan Denis dengan jarak yang dekat.
Astaga, kalau seperti ini aku tidak bisa mengendalikan diriku. Devi begitu sangat cantik, apa aku harus memulai nya sekarang. Tapi aku takut Devi tidak siap. Tapi kalau seperti ini, aku yang gila menahan has*at ku. Tapi bagaimana pun juga aku dan Devi sudah SAH menjadi suami istri.( Denis)
"Aku tidak kenapa-kenapa sayang. Hanya saja aku...."
"Hanya saja kamu kenapa si, kamu jangan begitu dong. Kamu berkeringat, padahal suhu di kamar ini dingin loh.?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin....?" Denis menghentikan ucapannya, dan menatap Devi lekat lekat.
Denis menyentuh lengan Devi, dan akhirnya.
Ggrrreeeppp... Devi di tumbangkan oleh Denis. Dan kini posisi Devi berada di bawahnya. Devi pun terkejut dengan posisinya yang sekarang, berhadapan dengan Denis.
"Maafkan aku sayang, aku harus melakukan ini sama kamu. Darah ku sudah berdesir, kepala ku pusing dan tak kuat untuk menahan nya. Apa kamu mau melakukan nya sekarang, walaupun di mulai dari pemanasan sebelum olahraga di mulai. Bagaimana kamu siap sayang ?"
Devi pun mengangguk, tentu saja Denis bahagia mendapatkan jawaban dari anggukan istri nya itu. Yang memberikan kode, kalo di izinkan melakukan pemanasan dan boleh melakukan permainan pertandingan yang dia nanti nanti kan.
"Terimakasih kasih sayang, tentunya aku akan melakukannya dengan hati hati. Jika kamu malu, kamu bisa menutup mata kamu biar aku yang menuntun arah pertandingan nya." Sambil mengedipkan matanya.
Tentunya Devi pun tersenyum malu, saat melihat Denis terlihat genit di depan matanya. Biasanya Devi selalu menghindar dari sikap Denis yang selalu menggombal dan genit kepadanya. Tapi untuk kali ini Devi tidak bisa menghindar, tubuhnya dan tatapan sudah di kunci oleh Denis.
Tap.. Denis mematikan lampu tidurnya. Dan kini suasana kamar itu gelap hanya ada cahaya lampu kecil LED berbentuk bola-bola. Yang sengaja di hias Debby sebelum acara pernikahan Denis dan Devi.
Cahaya lampu yang di hias cantik, dengan udara yang sejuk. Di tambah gemericiknya tetesan air hujan, membuat suasana malam itu sangat Romantis. Sangat pas bagi Denis dan Devi, sebagai sepasang pengantin baru.
Untuk kali ini mereka benar benar melakukan nya yang di lakukan pada sepasang pengantin baru. Yaitu membuka amplop dan kado dari para undangan, dan mereka ekhem ekhem...
Next Naila..
Bukan hanya sepasang pengantin baru itu. Brian dan Naila pun juga berada di dalam kamar, tapi yang mereka lakukan bukan membuka amplop atau kado ya.!
Kini Naila dan Brian sedang berada di tempat tidur. Naila sedang duduk dan bersandar, sedangkan Brian sedang berbaring sambil menatap istrinya.
Brian menyentuh tangannya Naila, dan meletakkan tangannya di kepalanya. Naila tau apa yang harus di lakukan saat ini, membelai dan memijat kepala suami dengan lembut. Brian tersenyum dengan kepekaan Naila kepada dirinya.
"Haaaah... Sekarang aku lega Nai, akhirnya Denis menikah juga.?"
__ADS_1
"Maksudnya mas, kamu lega kenapa.?"
"Ya lega, pangeran dan pahlawan kecil kamu sekarang sudah menikah. Dan sekarang sudah memiliki istri yang tak lain sahabat kamu juga. Jadi aman lah buat aku.."
Naila tersenyum mendengar Brian mengatakan pahlawan dan pangeran kecilnya. "Aman kenapa si mas, jangan bilang kamu masih cemburu sama adik kamu mas.?"
"Naila Aprilia, aku orangnya santai. Tapi jika milik aku ada yang melirik, tentunya aku gak suka. Apalagi saat aku tau adikku sendiri menyukai kamu, aku gak bisa berbuat apa-apa. Mau marah, ya bagaimana sama adik sendiri selagi tidak mengusik dan merebut kamu. Ya aku hanya perlu mengawasi sampai mana dia dekat sama kamu. Bagaimana pun kan kalian itu dulu bersahabat baik, dan dia juga dulu selalu melindungi kamu. Dan aku hanya tidak ingin menghalangi persahabatan kalian, dengan rasa cemburuku. Jadi aku harus berusaha sabar dan mengawasi kedekatan kalian. Selama ini adikku juga mengerti, dengan setatus kamu yang sudah menjadi istriku. Di tambah lagi ada gadis baik yang membuatnya jatuh cinta, dan sekarang sudah SAH menjadi milik nya. Ya tentu saja aku merasa senang dan Aman." Brian terkekeh sendiri.
Naila pun ikut tersenyum mendengarnya. Tiba tiba kepala Naila terasa berdenyut, Naila memijat keningnya sendiri.
"Sayang, kamu kenapa. Hem....?" Brian mengubah posisinya menjadi duduk. Wajah Brian terlihat sedikit khawatir saat melihat istrinya menyentuh kepalanya dan memejamkan kan mata.
"Kepala aku tiba-tiba saja terasa pusing mas."
Brian mengambilkan segelas minum air putih untuk Naila, lalu Naila pun meminum nya.
"Terimakasih mas.." Naila memberikan gelas kosong nya kepada Brian.
"Iya sayang.." Brian meletakkan kembali gelas nya di atas meja." Mungkin kamu kelelahan Sayang. Dari tadi kamu di suruh istirahat malah gak mau, malah kamu ngajak cerita.Kalau seperti ini aku yang khawatir Sayang..?"
Naila tersenyum." Aku tidak apa-apa mas, hanya saja sedikit pusing. Dan sekarang kaki aku baru terasa pegal-pegal, padahal tadi tidak kenapa-kenapa."
"Ya sudah sekarang kamu istirahat aku gak mau dengar alasan kamu apa. Ayo kamu istirahat, jangan membantah ucapan mas. Sekarang kamu berbaring, nanti kaki kamu biar mas pijat biar tidak pegal lagi." Naila pun mengangguk.
Dan Naila menuruti perkataan suaminya yang menyuruh nya untuk berbaring istirahat. Benar saja Brian memijat kaki nya Naila dengan minyak gosok dengan aroma green tea , aroma yang Naila sukai selama hamil.
Naila memperhatikan suaminya yang kini sedang memijat kakinya, sambil bernyanyi. Ya Naila menyukai suara Brian yang sangat merdu saat bernyanyi, dan Naila betah memandangi wajah suaminya lama lama.
Dan tentunya bagi Brian tidak membuatnya keberatan, dengan permintaan istrinya itu. Brian memijat kaki Naila sambil bernyanyi, untuk membuat istri nyaman dan senang. Walaupun sebenarnya Brian sendiri merasakan ngantuk dan cukup lelah hari ini. Tapi demi istrinya, Brian menahan rasa ngantuk nya. Brian terus memijat kaki Naila, sampai Naila tertidur pulas. Setelah Naila tertidur, Brian menyelimuti istrinya, dan Brian pun ikut tertidur di samping Naila. Tidak butuh waktu lama Brian pun tertidur pulas .
__ADS_1
Bersambung...