
Tanpa bertanya lagi, Naila langsung masuk kedalam mobilnya. Naila meninggalkan Brian yang masih berdiri memperhatikan dirinya.. Setelah Naila masuk Brian pun juga masuk ke dalam mobil, dan mengendarai mobilnya.
Flashback of
****
Walaupun tak ada obrolan di antara Brian dan Naila. Tetapi tangan Brian tak melepaskan tangan Naila, Brian menggenggam tangan Naila. Sesekali Brian melepaskan tangan, lalu menggenggamnya kembali.
Karena tak bisa Brian di diamkan oleh Naila, akhirnya Brian mengalah untuk bertanya..
"Aku minta maaf, aku gak bermaksud untuk kasar sama kamu sayang... Aku hanya cemburu saat istri ku mengobrol dengan sangat akrab, apalagi dengan seorang pria..."
"Aku sudah bilang dia itu teman SMA ku, dan kami selalu 1 meja. Aku tidak mengenalnya saat karena dia itu dulu suka memakai kacamata. Dan tadi dia tidak menggunakan kacamata lagi, aku tidak mengenalnya, tapi dia mengenali aku..."
"Ko bisa dia mengenali kamu, kenapa.? Kamu aja tidak mengenali dirinya..?"
"Sudah jangan di bahas, aku tidak mau kalau makin panjang urusannya..."
"Katakkan kenapa dia bisa mengenal kamu. Padahal kamu sudah lama tidak ketemu dia.?"
"Dia mengenal aku, kata nya karena rambut aku yang di kuncir seperti ini... Dia ingat saat acara perpisahan di sekolah waktu SMA.."
" Ow.. Berarti kamu teman yang istimewa ya, bagia dia itu. Sampai sampai gaya rambut kamu saja dia masih mengingatnya.."
"Ya ampun mas, kenapa si memang nya.. Sudah aah.. aku tidak mau membahasnya lagi.." Ucap Naila dengan rasa kesalnya...
Brian pun hanya diam, namun untuk kali ini Naila menolak tangan nya untuk di sentuh Brian.
Kini Brian dan Naila sudah sampai di halaman rumah bunda Rossa.. Naila pun keluar dari mobil terlebih dahulu, dan meninggalkan Brian.
Apa aku keterlaluan, apa aku salah aku cemburu dengan pria itu. Jelas dia memiliki wajah yang lumayan, walaupun lebih tampan aku. Dari penampilan, dia cukup keren. Ya sedikit di bawah aku, aku lebih unggul. Dan suaranya pun bagus di acara tadi juga lumayan bagus.. Aku cemburu terang terangan dia memuji Naila sangat cantik. Pusing aku kalau seperti ini, kenapa aku jadi begitu pencemburu seperti ini . Padahal sama sebelumnya, aku tidak cemburuan seperti ini...
__ADS_1
Brian pun berjalan menyusul Naila, Naila tidak bisa berjalan cepat karena kaki nya terkilir.
"Sayang, kamu sudah sampai. Bukannya kalian mau dinner bareng.?"
"Tidak jadi Bun, Briana di mana Bun.?"
"Briana di tempat tidurnya, bunda baru turun karena habis menemani nya bobo."
Naila mengangguk, bunda Rossa melihat raut wajah Naila sangat berbeda seperti berangkat tadi..
"Kalau begitu aku ke kamar dulu ya Bun..?"
"Iya nak, kamu istirahat lah.." Naila mengangguk...
Bunda memperhatikan Naila, Naila berjalan dengan kaki yang sedikit pincang.
Kenapa dengan Naila ya. Apa ada masalah dengan mereka berdua.
Bunda melihat Brian berjalan cepat, mengejar Naila. Namun saat di dekat bunda, Brian meletakkan jari di bibirnya. Bunda pun mengerti, dan bunda pun diam dan duduk kembali. Bunda tidak ingin ikut campur masalah antara mereka berdua..
Naila berjalan hati hati saat menaiki anak tangganya, karena kaki Naila terasa sakit.. Setelah sampai kamar, Naila duduk sementara di sofa, untuk melepas rasa lelahnya...
Brian pun kini juga sampai di kamar, Brian menutup pintu kembali dan menguncinya.. Brian berjalan mendekati Naila yang duduk di sofa..
Brian berlutut di hadapan Naila, menggenggam erat tangan nya..
"Maafkan dengan sikap ku yang terlalu berlebihan.. Maafkan aku yang pencemburu ini, karena aku sangat sayang sama kamu. Aku tidak mau ada pria lain yang terlalu mengagumi kamu Nai, apalagi sekarang kamu itu istri ku. Aku tidak rela sayang, kamu mengerti kan.?"Brian menunjukkan wajah bersalah nya, dan memohon untuk di maafkan..
Naila memperhatikan wajah pria yang dulu saat masa kecilnya. Pria itu sangat membenci diri. Dan sekarang pria ini, sudah menjadi suaminya. Suami yang cemburuan, tapi begitu amat menyayangi dan mencintainya..
Ada rasa tak tega di benak Naila, melihat suaminya yang memohon maaf dengan cara seperti itu ..
__ADS_1
"Iya aku maafin kamu mas." Brian tersenyum saat mendapat kan maaf dari Naila.." Mas, apa aku boleh minta sesuatu sama kamu.?"
"Boleh sayang, kamu mau katakan apa..?"
"Mas, kamu sayang sama aku ya.?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu..? Naila Aprilia, aku bukan hanya sayang sama kamu. Aku sangat mencintai kamu Nai, melebihi diriku. Mungkin saat kita kecil, aku sangat membenci kamu. Karena kamu anak manja, so pemberani.. Dan mungkin, setelah dewasa kita di pertemukan kembali. Dan dalam jarak waktu yang cepat, aku meminta kamu untuk menjadi istri ku. Aku tidak mau kalau ada pria yang mengagumi kamu, hanya aku yang boleh mengagumi kamu dan mencintai kamu .. Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain ataupun kamu menilai ku overprotektif, cemburuan, bucin atau apalah itu. Karena itu kenyataannya, dan aku tidak perduli Nai, akan perkataan mereka..."
"Mas jangan mencintai aku terlalu berlebihan seperti itu. Aku tidak mau nanti nya akan melukai kamu. Jika aku pergi dan tidak bisa menjadi milik mu lagi bagaimana.?" Brian segera menutup mulut Naila dengan tangannya..
"Jangan katakan seperti itu Naila, aku mohon.Aku tidak ingin kamu pergi dariku.." Brian menggelengkan kepalanya ." Kamu tidak akan pergi, kamu tetap akan menjadi milikku. Sudah jangan di bahas lagi. Aku minta maaf ya sama kamu.?"
"Iya mas, aku juga minta maaf. Karena sepertinya aku harus lebih sabar lagi menghadapi suami yang cemburuan seperti kamu..."
"Naila..." Brian melototi Naila, Naila pun justru tertawa di pelototi seperti itu. Brian tersenyum melihat Naila sudah berbaik kan dengannya...
Esok harinya
Hari ini bunda dan Denis mengantar Devi ke rumah sakit,untuk memeriksa kandungan nya untuk pertama kalinya..
Kini mereka sudah berada di ruangan dokter, Devi merebahkan di bed rumah sakit untu di periksa. Dan sebuah alat stetoskop dokternya menyentuh bagian dada dan bagian perut nya Devi . Dokter pun tersenyum saat mendengar ada dua detak jantung secara bersamaan..
"Mari ibu, kita lihat berapa usia kandungan ibu Devi saat ini.. kita lihat janinnya dari alat USG." Denis dan Devi mengangguk dan memperhatikan layar yang terlihat sebuah janin..
Setelah di periksa Devi dan Denis duduk di depan dokter. Bunda Rossa pun juga duduk di samping Devi.
"Ibu Devi dan pak Denis. Tadi bapak ibu lihat ya, kandungan ibu Devi sudah memasuki usia kandungan 12 minggu. Apa ibu Devi tidak merasakan tanda tanda kalau ibu sedang mengandung.?" Devi menggelengkan kepala nya .
"Saya tidak merasakan tanda-tanda kehamilan, dan memang saya juga tidak tau tanda tanda kehamilan seperti apa. Selain datang bulan telat dan juga mual. Cuma akhir akhir ini, saya merasa fisik saya sedikit lemas. Dan saya juga merasa tubuh saya ini jadi lebih sedikit gemuk. Saya kira, karena saya sering suka makan akhir akhir ini, ternyata karena ada baby nya..." Ucap Devi sambil mengelus perutnya.
Dokter itu pun tersenyum. Nah memang biasanya kehamilan 12 Minggu ini, banyak sekali ibu ibu mengalami kenaikan berat badan sekitar 2 kg. Dan Rahim pun juga mulai berkembang pesat dan mencapai perut bagian bawah ibu sedikit menonjol. Apa ibu Devi tidak merasakan bagian bawah ibu menonjol..?" Devi pun mengangguk kan kepalanya." Dan mungkin ibu Devi juga mulai memerlukan baju hamil agar terasa lebih nyaman. Sebab, bentuk perut hamil 12 minggu pun akan membesar dan menonjol."
__ADS_1
Segala macam penjelasan dari dokter yang bernama dokter Sanny pun . Di dengarkan oleh Denis dan Devi. Dokter pun menjelaskan nya dengan santai dan sabar, dan itu yang membuat Devi dan Denis mendengarkan dengan baik.
Bersambung..