
"Aku harus aktifkan handphone ini, dan aku juga harus beritahu Devi dengan rencana ini. Aku tidak bisa lanjut kerja di Sana, aku juga harus pergi dari sini."
Dan Melly pun mendengar ucapan Naila, saat dia akan pergi dari rumah. Melly saat terkejut mendengarnya.
Ceklak, Naila terkejut karena ada yang membuka pintunya. Naila tersenyum karena Melly lah yang datang ke kamarnya. Melly duduk di samping Naila dengan wajah cemberut.
"Kak Nai..?"
"Heemm..." Jawab Naila yang sedang mengambil dompetnya dari dalam jaketnya." Nih dek untuk mu, kamu ambil ya uang nya. Kalau nanti ada rezeki lagi nanti aku tambahin lagi."
"Udah Ka gak usah, ini aja cukup. Lagian itu kan barang dadakan, jadi udah segini aja." Melly mengambil uang senilai 1 JT dari tangan Naila." Ini juga nanti aku masukkan ke tabungan aku Ka kalau aku pegang nanti habis."
"Tabungan ,memang kamu punya rekening dek.?"
"Punya ayah bikinin aku kartu rekening untuk pelajar". Dengan bangganya Melly memberi tahu Naila.
"Iiisshh... Tau begitu kakak transfer aja ke kamu, ngapain kakak kasih cash." Melly terkekeh." Yasudah kamu gunakan baik baik, nanti kakak transfer aja." Melly mengangguk.
"Kak."
"Eeemmm... Kenapa, kamu mau ngomong apa sama kakak.?"
"Kakak mau pergi ya dari sini.? Tadi aku dengar ka, saat kakak ngomong.?"
Naila menatap Melly lekat lekat.
"Maaf ya dek, kakak seperti nya akan meninggalkan rumah ini. Kamu tau kan yang kakak alami di sini, dan kejadian tadi saat ada pria yang ingin melamar kakak. Kakak tidak bisa harus seperti ini, kakak tidak mau Sampai ayah dan ibu kamu selalu bertengkar kerena membela kakak..?"
Setiap ucapan kakaknya, Melly resapi. Dan Melly mengerti kondisi Naila saat ini, karena ibunya selalu membuat Naila terluka.
"Yasudah ka, kalau Niat kakak seperti itu tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin kakak di benci ibu, atau ibu menyakiti kakak lagi. Aku ingin kakak bahagia, untuk masa depan kakak. Aku juga tidak ingin sampai kakak menikah dengan pria macam pria tadi, sudah mempunyai istri 2 masih ingin menjadikan kakak yang ke 3. Aku gak rela , kalau kakak seperti itu ?"
__ADS_1
Naila tersenyum kalau mengacak rambut Melly." Trimakasih ya kamu selalu mengerti kakak, Kaka beruntung mempunyai adik seperti kamu, mempunyai rasa peduli kepada sesama. Kakak sayang sama kamu Mell, padahal kakak ini hanya kakak sepupu saja. Tapi kamu peduli dengan kakak." Ada rasa sedih yang kini Naila rasakan.
"Kakak, jangan sedih dong. Aku ini adik nya ka Nai, sampai kapan pun aku ini tetap adik kakak. Uuuhh... Kakak Melly jadi ikut sedih". Melly memeluk kakaknya ada rasa sedih juga yang Melly rasakan.
Bagaimana pun Melly sudah menganggap Naila itu sebagai kakaknya sendiri. Jadi kalau Naila akan jauh darinya, Melly juga ikut sedih.
" Kamu yang membuat kakak sedih Mell. Sudah sudah kakak kan mau menghindar dari pria itu, kakak bukan mau tempur ke Medan perang. Jadi kamu gak usah sedih, kita masih bisa komunikasi lewat chat." Melly mengangguk dan tersenyum."
"Kak, kakak harus janji harus baik baik aja ya. Ka ko Mell jadi mellow ya,kakak mau pergi. Kalau aku libur boleh kan aku main ketempat kakak, nanti Kaka kasih tau alamatnya ke Melly. Biar Melly langsung OTW ke tempat kakak, ya kak."
"Iya wel, bawel banget sih kamu.?" Menggoda Melly." Lagian ayah tau ko tempatnya di mana.?"
Wajah Melly berbinar.
" Serius ka ayah tau.?" Naila mengangguk."Oke nanti aku minta anterin ayah aja, yasudah aku kembali ke kamar Mell dulu ya.? Daaa ka Nai, mimpi indah, dan SEMANGAT..." Melly memberikan kepalan tangannya tanda memberikan semangat ke Naila.
Naila pun tersenyum, Naila juga mengepalkan tangannya untuk memberikan semangat pada dirinya sendiri." SEMANGAT..."
" Emiil, kini aku benar akan menjauh dari kamu. Semoga kamu cepat pulih ya, aku hanya bisa mendoakan kamu. Agar kamu bisa kembali beraktivitas kembali."
Setelah itu Naila kembali mengaktifkan kembali handphone baru nya, dan Naila masih menggunakan nomor lamanya. Setelah aktif Naila mendownload aplikasi yang warna hijau, berlogo telpon yang Naila butuhkan. Setelah berhasil di aktifkan, ternyata banyak pesan masuk. Terutama dar Devi sahabat nya.
Naila lebih memilih menulis status nya di aplikasi tersebut.
'Jika kamu ingin aku menjauh, aku akan menjauh. Menjauh sejauh Mungkin dan tak akan kau lihat kembali, semoga kamu bisa kembali sehat dan bisa beraktivitas kembali.'
Itulah yang Naila tuliskan di status nya. Hingga Devi pun membaca seratus nya Naila lalu menghubungi nya. Naila yang sedang ingin balas pesan Devi, terkejut karena sebelum di balas Devi sudah menelpon Naila.
"Hallo Nai, kamu nulis status itu maksudnya apa ya.? Kamu mau kemana memangnya, ko aku jadi takut baca nya.?"
Naila terkekeh." Apaan sih Dev bukan salam dulu malah main serobot kasih pertanyaan."
__ADS_1
"Ya lagi kamu, nulis status kaya gitu. Maksudnya apa coba sih Nai, awas jangan macem-macem. Cerita gak maksud dari status kamu Nai.?"
"Emm... Aku mau berhenti kerja Dev, aku juga gak akan tinggal di sini. Paman menyuruh aku pergi dari sini, untuk melindungi aku."
"Apa, kamu mau berhenti kerja, gak tinggal di sini pula. Mau pergi kemana neng, memangnya kenapa om Tommy ingin melindungi kamu. Coba ceritain ke aku, jangan ada yang di sembuyiin.?"
Naila pun menceritakan semuanya kepada Devi, dari Emiil, sampai masalah pria yang bernama Sandi ingin melamarnya menjadikan istri ke 3. Bukan hanya itu masalah perasaan nya Fandi terutama yang membuat Naila sedikit risih akan hal itu. Apalagi Fandi yang saat ini menjaga jarak dengan Nai, karena Naila pernah menolak perasaan Fandi.
"Gi...la itu namanya Nai, istri 2 aja masih kurang malah mau nambah lagi satu. Dia kira coklat payung yang di warung kali ya, seribu dapet 3. Lah ini kan orang, masa 2 istri aja kurang. Terus lagi bibi kamu seenaknya aja main maksa kamu buat terima itu cowok, untung aja paman kamu datang tepat waktu. Kalau tidak kamu mungkin sudah di seret kerumahnya buat di jadikan Sandra. Kalau tidak, mungkin kamu akan di nikahi paksa oleh nya malam ini juga. Iiih amit amit aku sampe kenal cowok begitu, jauh jauhin lah.
"Iya mangkanya itu untungnya, paman datang cepat waktu. Dan itu juga paman menyuruh aku untuk pergi dari sini".
"Mau kemana, aku ikut lah Nai sama kamu.? Percuma juga kerja gak ada kamu, gak asyik lah."
"Loh ko bisa begitu, Dev kamu kerja aja gak usah ikut aku".
"Gak kamu tau kita selalu sama sama, kamu pergi jauh aku ikut. Aku gak mau kamu sendirian di sana, aku temani kamu ya. Bilang paman kamu aku ikut kamu temani kamu, bilang gitu ya.?"
"Iya iya nanti aku bilang paman aku deh. Terus kerjaan kamu bagaimana.?"
"Kerjaan ya kita bilang mengundurkan diri, kita kan Upin Ipin jadi kemanapun kita sama sama. Hihihi.... Lagian ya Nai kebetulan banget, motor aku yang suka ngambek dan cemburuan. Kini dia sudah laku dan sudah dapat tuannya yang baru, lumayan kan hasil duitnya buat tambahan kita saat merantau Nai.?"
"Jadi itu si jabrik kamu jual.?
"Jadi lah, dari pada ngambek Mulu aku lepas aja. Hihihi..."
"Yasudah itu terserah kamu, yasudah nanti aku bilang ke paman. Besok pagi aku chat ya, kamu siap siap aja kemas pakaian kamu.?"
"Ok beb..."
Mereka pun masih teleponan sampai salah satu dari mereka memutuskan panggilan telponnya.
__ADS_1