
"Trimakasih ya ka sudah mengobati luka Naila." Dan Naila tersenyum sangat manis ke arah Brian.
Brian tersenyum dan mengangguk kan kepalanya, tanpa menjawabnya. Setelah itu, Brian langsung masuk ke dalam kamarnya. Brian menyentuh pipinya, bekas kecupan Naila, kalau tersenyum.
Flashback of
Kini Naila sudah sampai di rumah sedangkan Brian langsung pulang setelah mengantarkan Naila pulang.
Saat sampai kontrakannya Naila melihat kalau Devi sudah pulang.
"Dev, kamu sudah makan.?"
"Belum Nai, ini aku baru mau keluar beli makanan. Eeh tapi kamu itu bawa apa di tangan kamu.?"
"Ow ini, ini makanan dari bundanya ka Brian. Tadi di suruh bawa pulang katanya biar kita bisa makan di rumah, cobain masakan bunda."
"Wah pas banget Nai, sini Nai kita makan bareng. Cacing cacing di perut ku sudah pada demo, minta di isi kata nya. Heheheh..." Sambil menyuruh Naila duduk, dan Devi pun segera mengambil alat dan perlengkapan tempur untuk perang menikmati makanan tersebut.
Kini di depan mereka ada 2 piring, ada nasi sendok dan 2 gelas minum. Sekarang mereka berdua menikmati makanan itu dengan sangat nikmat.
Seminggu sudah berlalu, hari hari Devi dan Naila melewati nya dengan semangat. Saat sore hari, saat hendak Pulang Bagas menahan Naila untuk pulang.
"Nai, kamu sibuk tidak. Aku ingin ajak kamu keluar.?"
"Eeemm... Gak sih aku gak sibuk. Mau Kana Gas.?"
"Aku mau ngajak kamu makan di luar. Tapi kamu aja jangan ngajak Devi.!"
"Ow oke, kapan.?"
"Sekarang bisa gak. Kita langsung OTW aja.?" Naila pun mengangguk.
Dan akhirnya Naila dan Bagas jalan berdua ketempat yang Bagas tuju. Dan kini mereka berdua sudah duduk di sebuah cafe di mana mereka sudah memesan makanan dan minuman.
Bagai dan Naila kini mereka sedang menikmati makanan yang sudah di pesan. Namun Naila merasa aneh dengan Bagas, Karena Bagas menatap Naila diam diam. Dan setiap kali Naila melihatnya kembali, Bagas menghindar. Naila merasa, sudah beberapa melihat Bagas Bagas selalu bersikap aneh.
"Nai.."
"Ya Gas ada apa.?" Naila terkejut saat Bagas menyentuh tangannya,dan menggenggamnya.
__ADS_1
'Ya ampun dia mau bicara apa ya, ko dia memegang tangan ku kaya gini sih'. Gumam Naila dalam hatinya.
Naila melihat ke arah Bagas yang sepertinya akan mengatakan sesuatu. Bagas menunjukkan wajah yang serius..
"Nai, aku ingin bicara sesuatu.?"
"Iya Bagas kamu ingin bicara apa.?"
"Maaf sebelumnya, kalau aku lancang bicara ini sama kamu. Naila jujur Selama sebulan ini aku merasa tak tenang, apalagi setiap dekat dengan kamu. Seperti ada yang mengganjal yang membuat aku merasa sesak. Aku ingin bicara ini sebenarnya dari kemarin, tapi aku tidak ada keberanian untuk bicara. Tapi hari ini aku berusaha memberanikan diri untuk bicara sama kamu. Kalau selama ini aku menyukai kamu, aku jatuh cinta sama kamu Naila".
Naila terkejut mendengar ungkapan isi hati Bagas. Naila bingung harus menjawab apa, karena memang Naila tak memiliki rasa apapun ke Bagas. Jika Naila menolaknya Naila merasa tak tega dengan Bagas, tapi kalau di terima. Naila nampak bimbang untuk menjawab nya.
Cukup lama Naila diam dan berpikir, dan akhirnya Naila berbicara.
"Bagas, sebelumnya aku mengucapkan terimakasih sama kamu. Jika kamu menyukai aku, dan jujur aku menyukai kamu yang juga baik sama aku." Naila berhenti bicara, terlihat ada senyuman di bibir Bagas." Tetapi maaf Bagas,aku tidak bisa menerima perasaan kamu. Karena aku menganggap kamu sebagai teman baik aku, gak lebih. Maaf ya Bagas jika kamu harus kecewa mendengar jawaban aku ini." Sambil menyentuh tangan Bagas.
Naila tau Bagas kecewa, Naila dapat melihat itu. Namun Bagas memberikan senyuman ke Naila. Ya Naila dapat melihat senyuman kekecewaan pada Bagas. Naila merasa tak tega kepada Bagas, jujur Naila merasa saat ini dirinya sangat jahat dengan Bagas.
"Maaf ya Bagas, dengan jawaban aku. Aku harap kamu gak marah sama aku, atau menghindar dari aku." Naila menunduk kerena merasa tidak enak hati dengan Bagas.
Bagas tersenyum kecut, lalu membuang nafasnya agar rasa sesak nya hilang.
"Maafkan aku Bagas." Bagas menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang perlu di maafin Nai, aku mengerti ko. Sudah jangan sedih lagi, dan jangan khawatir kita masih bisa berteman baik ko."
"Beneran kamu tidak marah sama aku Gas.?"
"Iya beneran Naila.
"Janji kita masih temanan.?"
Naila mengarahkan jari kelingkingnya. Bagas tersenyum melihat Naila Seperti itu. Bagas pun mengulurkan jari kelingkingnya lalu , di tempelkan di kelingking Naila.
"Janji kita akan tetap berteman." Naila dan Bagas pun akhirnya tersenyum.
Setelah selesai makan, Bagas mengantar Naila pulang. Dan di saat itu pula Kiki melihat Bagas yang sedang mengantar Naila pulang. Sebenarnya Kiki melihat Bagas dan Naila keluar cafe, sejak keluar cafe .
Setelah mengantar Naila pulang Bagas pun pulang ke kontrakan nya.
__ADS_1
Besok harinya, saat sore harinya. Naila merasa Kiki cuek dengan dirinya.
" Kiki, tadi aku di telpon Sama Bu Leni. Katanya ada catatan orderan untuk hari Sabtu ya.? Aku di suruh minta sama kamu.?"
"Eem nih." Jawab Kiki dengan ketus sambil memberikan catatan orderannya.
"Kamu kenapa Ki, lagi ada masalah ya.?"
"Udahlah gak usah sok peduli, urus saja kerjaan kamu." Dengan ketus Kiki menjawabnya.
"Kamu kenapa si Ki, sensi banget sama aku. Memang aku punya salah ya sama kamu.?"
"Pikir sendiri, kamu itu sepertinya lagi senang ya..?"
"Maksudnya, maaf aku gak paham..?"
"So lugu, so gak paham. Masih kurang ya ada cowok yang suka nyamper dan jemput kamu. Masih kurang sampe Bagas kamu deketin. Kemaren malam sama yang pake mobil, terus semalam sama Bagas. Maruk banget si jadi cewek, mentang mentang cantik, jadi carmuk ( cari muka) gitu."
"Kamu bicara apa si Ki, kamu punya masalah sama aku. Kenapa kamu sentimen sama aku ha. Siapa yang kamu maksud carmuk, buat apa aku cari muka untungnya apa. Aku di sini untuk kerja bukan buat nyari saingan. Dan satu lagi aku kerja bukan untuk mencari cowok atau cari musuh. Kalau kamu suka sama seseorang bilang jangan diem aja, jika kamu cemburu aku dekat Bagas harus nya kamu katakan kalau kamu suka sama dia. " Naila menahan kesalnya, sampai mengepalkan tangan nya.
"Naila, Kiki kalian Kenapa.?" Rara baru masuk, yang habis dari toilet.
Mendengar suara Kiki yang sedikit meninggi , Rara buru buru menghampiri mereka. Sedangkan Anto dan Bagas sedang keluar mengantarkan pesanannya, sekaligus membeli sesuatu barang.
"Hallo kawan kawan, nih minuman kalian". Devi yang baru masuk dengan cerianya sambil membawakan 4 gelas minuman.
Naila yang melihat Devi datang segera masuk ke dalam, sambil membawa catatan di tangannya.
" Trimakasih catatannya." Naila langsung masuk ke produksi.
Devi melihat suasana terasa tegang.
" Ada apa ya, ko kaya nya tegang deh.?" Rara menaikan kedua bahunya. Sedangkan Kiki hanya diam melihat Naila pergi." Kalian bertengkar Ki, masalah apa.?"
"Iya Ki, Naila orang nya diam loh. Kenapa dia semarah seperti tadi.?"
"Naila marah tadi Ra.?" Rara mengangguk." Kiki sekarang kamu ceritakan kenapa di antara kalian. Aku tau Naila seperti apa, dia akan cuek kalau hanya masalah sepele."
Kiki pun menceritakan masalahnya dengan Naila ke Rara dan Devi. Devi dan Rara sampai menggelengkan kepalanya dan ikut kesal mendengarnya.
__ADS_1
" Kamu parah Ki, Naila bukan orang seperti itu. Harus nya kamu bilang kalau kamu suka sama dia bukan diam. Bagas gak akan tau kalau kamu juga suka sama dia Ki.?"