Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Naila terbaring lemah


__ADS_3

"Pasti Dev, dia itu teman baik kita .." Devi mengangguk." Yasudah aku pulang ya, kamu juga jaga kesehatan kamu..."


Rara dan Emiil pun kini pamitan kepada para keluarga . Setelah pamitan, Rara dan Emiil pun meninggal kan rumah sakit di mana Naila di rawat ...


Dan kini hanya Brian yang menemani Naila, karena hanya di perbolehkan 1 orang saja yang menunggu. Brian pun menyuruh keluarga nya untuk pulang agar bisa istirahat. Dan Brian memperbolehkan besok pagi untuk datang kembali..


Kini Brian sedang menatap wajah Naila yang sedang terpejam..


"Semoga kamu hanya tertidur ya sayang. Dan semoga besok kamu bisa membuka mata kamu kembali. Memang kamu tidak ingin melihat putri kita, dia sangat cantik lucu seperti kamu... Kamu janji ya, besok kamu harus bangun. Kamu jangan tertidur terlalu lama ya, aku mana bisa tidur jika tidak ada kamu di samping aku .I love you Naila Aprilia."


Cup...


Brian mengecup kening Naila. Brian tersenyum getir saat melihat Naila yang hanya diam tertidur dengan begitu pulas..


Brian masih terus menggenggam tangan Naila. Perlahan mata Brian pun terasa berat, dan Brian pun tertidur di kursi samping Naila. Dengan tangannya yang tak melepaskan tangan Naila..






Pagi pagi pukul 7 pagi Brian terbangun, setelah sholat subuh Brian tertidur kembali..


Entahlah Brian sendiri tidak ingin menjauh dari Naila. Rasanya Brian ingin selalu menemani Naila di sampingnya.. rasa untuk ingin sarapan pun, rasanya malas. Brian merasa tidak ingin apa apa selain bersama Naila..


"Naila, kamu ko belum bangun. Jangan tidur terus dong sayang.. Kamu tidak kangen sama aku, kamu memang tidak ingin melihat anak kita.." Air mata Brian mengalir di sudut matanya.


Tok tok tok... Suara ketukan pintu dari luar. Ternyata bunda dan ibu Farida yang datang.. Brian segera menghapus air matanya..


"Bunda, ibu.." Brian mencium tangan kedua ibu nya.." Kalian datang dengan siapa.?"


"Dengan ayah dan pak Tommy.. Mereka menunggu di luar, mereka pun ingin melihat kondisi Naila. Bagaimana Naila, sudah ada tanda tanda baik.?" Brian menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Belum ada tanda-tanda baik. Naila masih belum sadarkan diri, Naila masih tertidur pulas.."


Bunda dan Bu Farida kembali bersedih. Dari rumah berharap saat mereka datang, bisa melihat Naila sudah sadar.. Namun apa daya, Naila masih betah dalam tidurnya.


"Kamu yang sabar nak, kita doakan agar Naila cepat sadar, dan bisa kumpul kembali di tengah tengah kita..." Bu Farida menepuk pundak Brian.


Brian pun tersenyum dan mengangguk kan kepalanya."Amiiin..."


"Brian kamu makan dulu ya. Kamu dari kemarin tidak makan loh, hanya minum kopi saja. Sekarang makan yuk, bunda dan ibu masak pagi pagi tadi untuk kamu nak".


"Nanti saja Bun, rasanya aku tidak ingin apapun saat ini. Aku hanya ingin Naila membuka matanya.."


"Iya bunda paham, tetapi kamu harus tetap makan... Kalau kamu tidak makan, terus kamu sakit karena kelelahan. Siapa yang akan menjaga Naila,dan anak kamu..." Tidak ada jawaban dari Brian .


"Sekarang kamu makan ya nak. Biar Naila ibu Farida yang menjaganya.."


"Ya sudah aku makan dulu." Bunda dan Bu Farida pun tersenyum.." Bu, aku titip Naila."


"Iya nak, kami makan lah saja dulu.. Biar Naila ibu yang jaga..." Brian mengangguk..


Kini Brian dan bunda Rossa keluar kamar. Dan bu Farida duduk di samping Naila. Bu Farida menatap Naila yang sedang terlelap dalam tidurnya. Ada rasa tak tega dan merasa bersalah saat melihat keponakannya yang kini terbaring lemah.


Tanpa Bu Farida sadari, sejak tadi pak Tommy mendengar kan Bu Farida bicara..


Sekarang kamu sudah menyesali setiap kesalahan kamu kepada Naila. Aku sangat bahagia, melihat sikap kamu yang seperti ini... Kamu menjadi pribadi yang lembut dan penuh kasih sayang. Bukan hanya kepada ku, kepada anak anak dan Naila pun kamu sudah berubah menjadi lembut.. Terima kasih tuhan, kamu sudah membalikkan hati istri ku menjadi lembut. Ku mohon berikan Naila kesembuhan, agar dia dapat kumpul kembali di tengah tengah kami...( Tommy)


Puuuk... Ada tangan yang menempel di pundak Bu Farida. Saat dirinya menoleh, ternyata ada suaminya di sampingnya.


"Mas...Aku sedih melihat kondisi Naila seperti ini.. Aku teringat, saat aku selalu menyakiti nya dulu."


"Yasudah, yang berlalu biar saja berlalu. Sekarang yang terpenting kamu sudah baik. Kita doakan saja semoga Naila baik baik saja, dan dapat berkumpul kembali dengan kita.."


" Pasti yah.." Ucap Bu Farida.


Pak Tommy pun tersenyum. Kini pak Tommy memandangi wajah keponakannya, yang sedang terlelap.

__ADS_1


"Ayah yakin kamu kuat, kamu wanita yang kuat nak .. Cepat buka mata kamu, jangan terpejam seperti ini. Kami semua sedih melihat kondisi kamu nak, terutama suami kamu.. Dia begitu amat rapuh nak, dan lagian ada putri kecil kalian yang harus kalian jaga.."Pak Tommy berusaha menahan air matanya agar tidak keluar..


"Ayah keluar dulu ya nak. Kamu buka mata kamu,jangan kamu tertidur terlalu lama.." Pak Tommy pun mengecup kening Naila.


Karena tak tahan, pak Tommy pun keluar dari kamar Naila. Lalu duduk di kursi dengan menutup wajahnya dengan tangan nya.


Pak Haris pun menghampiri Tommy saat melihat pak Tommy pun terlihat sedih .


"Tommy..."


"Haris, aku tak tega melihat Naila yang terlelap seperti itu ... Seakan akan aku di ingat akan kembali, dengan kesalahan yang telah ku perbuat pada ibunya dulu. Naila begitu sudah banyak mengeluarkan air matanya, saat bersama kami dulu.. Dan kini dia memejamkan matanya, seakan dia menemukan ketenangan saat ini...."


"Sebenarnya aku pun juga tak tega Naila terbaring lemah di rumah sakit. Bagaimana pun Naila juga sudah ku anggap seperti putri ku juga..Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdoa untuk Naila." Ucap pak Haris.


Malam pun datang kembali, namun belum ada tanda-tanda Naila membuka matanya.. Brian sudah terlihat sangat menyedihkan penampilan nya. Walaupun sudah mengganti pakaiannya, namun rambutnya masih acak-acakan..


Saat Brian sedang Meletakkan kepalanya di tempat tidur pasien, dengan menggenggam tangan Naila. Brian merasakan tangan Naila bergerak, Brian pun langsung mengangkat kepalanya, dan melihat apa benar tangan Naila bergerak.


Dan benar saja, jari tangan Naila bergerak dengan sendirinya.. Brian tersenyum saat melihat Naila menunjukan tanda-tanda baik. Brian pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Naila.


Dokter itu memeriksa Naila dengan meletakkan alat stetoskopnya di bagian dada Naila. Dokter itu juga mengecek denyut nadi,dan juga melihat kedua mata Naila..


"Istri anda sudah menunjukkan tanda-tanda baik. Anda hanya perlu menunggu istri anda membuka matanya... mungkin beberapa saat lagi istri anda siuman dan membuka matanya." Ucap dokter itu dengan senyuman.


Brian pun tersenyum, dan mengangguk kan kepalanya." Semoga saja istri saya membuka matanya. "


"Kalau begitu, saya harus permisi. Karena saya akan memeriksa pasien lainnya.."


"Iya dok. Baik kalau begitu, sebelum nya saya mengucapkan Trimakasih sama dokter.."


"Sama sama pak.... Kalau begitu saya permisi, selamat malam.."


"Malam dok."


Dokter pria itu pergi meninggalkan Brian.

__ADS_1


Untuk kali ini, Brian tersenyum. Brian sangat senang, Karena Naila menunjukan tanda-tanda baik..


Bersambung...


__ADS_2