Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Mengatakan sesuatu


__ADS_3

Brian tersenyum, dan berjalan mendekat ke arah Naila dan Devi.


"Devi, Naila sudah menganggap kamu saudaranya. Kamu juga baik dengan Naila, berarti kamu juga bagian keluarga kami . Jadi jangan sungkan."


"Iya ka Brian."


Naila dan Devi pun tersenyum. Brian melihat ke arah Naila, dan Naila mendapat tatapan mata dari Brian menjadi salah tingkah. Dan itu justru membuat Brian tersenyum akan salah tingkah Naila.


"Nai, kamu pulangnya nanti ya sama aku.?"


"Terus Devi pulang dengan siapa kalau aku sama kakak.?"


"Devi di antar sama Denis. Tidak apa-apa kan Devi, kami pulangnya di antar Denis.?" Brian melihat ke arah Devi.


Devi pun mengangguk dan tersenyum.


"Iya tidak apa apa ka. Naila aku pulang nya di antar Denis saja gak apa-apa, kamu biar sama Ka Brian. Barangkali ada yang ingin kalian bicarakan berdua, jangan khawatir sama aku." Devi menepuk pundak Naila.


"Beneran gak apa-apa Dev.?"


"Ya ampun Naila, kamu kaya sama siapa aja. Santai aja, memang aku anak kecil yang takut di kontrakan sendirian. Aku bukan kamu kali, hihihi...." Naila melototi Devi, sedangkan Brian menatap Naila .


"Yasudah aku pamitan sama bunda dan Semuanya dulu ya.?" Brian dan Naila pun mengangguk.


Setelah di dalam, Devi pun pamitan dengan keluarga Brian.


"Devi, nanti kamu main lagi ya. Bunda senang jika kamu main kesini.?"


"Iya bunda insyaallah nanti Devi main lagi sama Naila. Terimakasih ya bunda untuk semuanya."


"Iya sama-sama sayang." Lalu Devi dan Bunda Rossa cipika-cipiki." Kamu di antar siapa Devi.?"


"Sama aku Bun." Denis membuka suaranya.


"Ow di antar kamu, hati hati ya. Jangan ngebut loh boncengin Devi.?"


"Iya bunda ku sayang.. Yasudah aku antar Devi ya Bun, assalamualaikum bunda... Muuaaacchh... " Kata Brian yang mengecup pipi bunda Rossa.


"Waalaikumsallam... Anak itu selalu saja seperti itu.?" Bunda Rossa menggelengkan kepalanya.


Lain Devi lain juga Naila. Tidak lama Devi pamitan, Brian pun mengajak Naila untuk pamitan juga ke bunda.


Kini Naila dan Brian berada di dalam mobil. Tidak ada suara dari mereka berdua, mungkin mereka masih canggung. Yang terdengar hanya suara deru mesin mobil saja.


Kurang lebih 45 menit mereka Sampai di sebuah restauran , Brian sengaja mencari tempat yang santai untuk bisa mengobrol dengan nyaman. Di sebuah roof top di mana letaknya yang sengaja Brian pilih.


"Kamu mau pesan apa Nai.?"


"Aku ingin eskrim Ka , boleh kan aku pesan itu.?"

__ADS_1


"Kamu mau eskrim..?" Naila mengangguk." Yasudah aku pesankan eskrim untuk kamu ya.?".Naila tersenyum.


Setelah memesan pesanannya Brian membuka obrolan ke Naila.


"Nai, apa menurut kamu perjodohan ini salah.?" Brian menatap Naila.


Naila tersenyum." Perjodohan ini tidak salah ka, justru karena perjodohan ini. Aku bisa dekat dengan bunda kembali. Dan aku bisa merasakan kasih sayang ibu lagi, yang sudah lama tidak aku dapatkan. Apa kakak menyesal dengan perjodohan kita ini.?"


'kalau aku menyesal untuk apa aku mencari kamu Nai selama ini.' Gumam Brian dalam hatinya.


"Gak, selagi itu yang terbaik untuk semua akan aku lakukan." Brian tersenyum ke arah Naila.


Naila sedikit malu malu dapat senyuman seperti itu dari Brian.


"Ka apa aku boleh tanya.?"


"Tanya saja, kamu mau tanya apa Hem...?" Brian menunjang janggutnya dengan tangannya dan menatap ke arah Naila.


Naila semakin jadi salah tingkah, dan Brian malah jadi terkekeh melihat Naila salah tingkah.


"Katanya mau tanya ko malah nunduk seperti itu.?" Brian tersenyum.


"Kakak jangan melihat aku seperti itu.?"


"Terus mau nya seperti apa.? Kan aku melihat kamu yang sekarang sudah menjadi calon istri ku.? Apa itu salah Hem...?"


Naila tak tau harus bagaimana lagi, Naila merasa malu, di perlakukan seperti itu. Padahal yang Naila tau dulu Brian itu dingin garang, jahil. Kenapa bisa seperti ini, berubah 90%.


"Nai, kamu kenapa menutup wajah kamu.?"


"Kakak sih, terus memandang aku seperti itu.?"


"Hehe... Ya sudah, sekarang kita serius, kamu mau bicara apa.?"


Baru ingin bicara pesanan mereka pun datang.


"Mau lanjut cerita atau mau makan eskrim nya dulu nih.?"


"Dua duanya". Naila tersenyum.


"Hemmm... Kebiasaan kamu tuh dari dulu, selalu ingin dua duanya. Untung makanan kalau sama pasangan jangan ya.?"


"Apa sih ka garing deh". Naila dan Brian tersenyum.." Begini Ka, apa benar selama ini kakak selalu mencari aku.?"


"Pasti kamu kata Debby atau Denis ya.?" Naila mengangguk." Ya selama ini aku selalu mencari kamu, semua itu karena bunda. Dan apalagi saat aku mendengar ayah dan bunda bicara berdua, kalau aku sudah di jodohkan sama kamu dari kecil. Aku berusaha keras untuk mencari kamu, bukan cuma karena bunda. Dan bukan hanya itu Nai, aku jadi teringat sesuatu yang pernah di katakan ibu kamu dulu."


"Ibu mengatakan sesuatu ke kamu.?" Tanya Naila dan Brian menganggukkan kepalanya.


" Apa, ibu mengatakan apa sama kamu..?"

__ADS_1


"Kamu tau kan saat ibumu tiada aku sudah SMA, ibu mu mengatakan sesuatu ke aku."


Flashback.


Suatu ketika saat Brian hendak berangkat ke sekolah. Brian sudah duduk di bangku SMA, ya tiap hari Brian berangkat selalu mengendarai motornya.


Saat itu Brian yang sedang mengendarai motor, melihat Bu Dina yang hendak berangkat ke pasar.


Tin tin.... Brian membunyikan klakson motornya,dan Bu Dina menoleh dan tersenyum.


"Brian..." Brian pun berhenti di samping Bu Dina, dan tersenyum.


"Ibu mau kemana.?"


"Mau ke pasar, mumpung Naila sudah di antar ayah nya. Kamu mau baru berangkat nak.?" Bu Dina tersenyum.


"Iya Bu, Brian kalau berangkat jam segini. Ayo bareng Bu, sampai depan sana, dari pada ibu jalan lumayan jauh."


"Tidak apa-apa Brian, nanti kamu kesiangan.?"


"Gak Bu, sekalian aja yuk. Kan searah juga, jadi gak akan kesiangan...?" Brian bicara nya begitu sopan.


Bu Diana pun mengangguk kan kepalanya. Dan akhirnya Bu Diana menaiki motornya Brian, dan Brian pun tersenyum.


Saat di perjalanan.


"Brian tidak terasa sekarang kamu sudah besar. Padahal belum lama kamu itu suka menjahili Naila, bahkan sering kamu suka bikin Naila menangis.?" Brian terkekeh.


"Ibu, itu karena aku masih SD dan SMP. Masa sekarang aku masih suka membuat nangis Naila yang sudah ku anggap seperti adikku. Yang ada aku bisa kena ceramah bunda dan ayah."


"Pintar kamu, sekarang sudah dewasa." Brian lagi lagi tersenyum karena Bu Dina selalu memujinya." Brian ibu cuma ingin bilang. Ibu dan ayah Fahmi titip Naila ya di kamu dan kalian..?"


"Titip Naila,memang ibu mau kemana, ko pake titip Naila.?"


Dari situ Brian mulai merasa tidak beres.


"Iya jika ibu dan ayahnya Naila sedang pergi, dan tidak bisa membawa Naila yang sudah besar seperti itu. Mana mungkin kami juga membawa Naila, lebih baik kan ibu menitipkan pada kamu dan keluargamu. Soalnya hanya keluarga kalian yang sudah ibu anggap keluarga dan ibu percaya."


"Oooh begitu... Siap Bu, tenang aja urusan itu mah gampang. Selain bunda Brian juga akan menjaga Naila, seperti Brian menjaga Debby dan Denis, adik Brian." Bu Dina tersenyum dengan ucapan Brian yang kini fokus menyetir.


Saat itu Brian memang tidak memikirkan yang aneh tentang ucapan Bu Dina. Tetapi sebulan setelah Bu Dina mengucapkan itu, dan saat itu Brian sendiri yang melihat. Tubuh pak Fahmi dan Bu Dina di masukkan ke liang lahat, dan Naila menangis meraung-raung karena kepergian ke dua orang tua nya untuk selamanya.


"Bu jangan pergi meninggalkan Naila sendirian di sini Bu. Naila dengan siapa, jika kalian pergi, kenapa kalian pergi hanya berdua, kenapa Naila tidak di ajak".


Itu lah kata kata yang Naila ucapkan, dan Brian kembali mengingat apa yang di ucapkan Bu Dina saat naik motor bersamanya.


Dari situlah Brian baru paham. Apa yang di ucapkan oleh Bu Dina saat itu, jika di gabungkan dengan kejadian apa yang barusan Brian lihat.


Flashback of.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2