Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Selalu Denis


__ADS_3

Naila lupa kalau dia tidak mengajak suaminya yang kini sedang menatapnya yang menggandeng tangan ke dua adiknya itu.


Ayah dan bunda pun menepuk pundak Brian. Agar Brian sabar menghadapi istri nya yang sedang hamil. Brian mengangguk kan kepalanya, karena mengerti kondisi Naila.


Brian menatap istrinya yang saat ini sedang duduk di tengah tengah Denis dan Debby. Naila begitu senang nya mendapatkan rujak dari Denis.


Saat ini Brian bingung harus bagaimana. Satu sisi dia sedikit cemburu dengan Denis. Karena Denis lah yang paling bisa memahami dan mengerti Naila dari dulu sampai sekarang. Seharusnya Brian senang karena Denis, Naila jadi bisa tertawa bahagia karena berhasil terturuti keinginannya, untuk memakan rujak dan bisa tertawa bersama kembali.


Aku harus bagaimana, nafas ku sesak saat tau Denis lah yang mengerti kondisi Naila. Denis lah yang justru yang membawakan rujak untuk istri ku. Sedangkan aku apa, aku melarangnya karena tak ingin dia sakit. Justru membuat Naila merajuk dan sedih pula, suami macam apa aku ini. Bodoh aku ini, istriku yang hamil, Denis lah yang mengambilkan keinginan nya.


Huuuffhh huuuuffhh.. haaahhh...


"Pedas .... Tapi enak. Hahahah.... Aku jadi tidak eneg dan pusing lagi." Kata Naila dengan wajah yang penuh keringat dan bibir yang bengkak karena kepedasan.


" Memangnya tadi kamu eneg dan mual Nai.?" Tanya Debby, Naila pun mengangguk.


"Tapi aku minta sudah ya Nai, jangan kebanyakan makan rujaknya. Ini minum dulu, wajah dan bibir kamu sudah memerah." Denis memberikan segelas air putih.


Naila pun meminum air dari Denis, sampai air di dalam gelas nya kosong. Brian yang masih di ruang tamu, diam diam memperhatikan nya merasa panas melihatnya. Padahal Brian berusaha membuang perasaan cemburu nya itu kepada adiknya. Namun tetap saja sedikit percikkan api cemburu itu masih ada.


Akhirnya Brian bangun dan berjalan menaiki anak tangganya. Untuk masuk ke kamar agar tidak melihat nya yang membuatnya semakin panas.


Brian membuka layar komputernya untuk mengalihkan rasa kesalnya itu.


Denis Denis Denis dan Denis... Apa apa Denis, selalu Denis yang di kagumi Naila. Apa Naila tidak kagum dengan ku, kan aku suaminya. Dan yang di kandungan Naila kan anak ku, aku ayahnya. Kenapa dia tidak menolak aja pemberian Denis. Kenapa Naila tidak merengek ke aku untuk memintanya. Astaga kalau begini aku bisa stress...


Brian berbicara sendiri di depan komputer, Brian meluapkan kekesalannya kepada komputer.


Ceklak... Suara pintu terbuka, dan ternyata Naila yang membuka pintunya. Naila tersenyum saat melihat suaminya di depan komputer.


"Mas ko kamu di sini, kenapa gak gabung dengan aku tadi.?"


Dia gak sadar, memang tadi dia nawarin aku atau ngajak aku untuk gabung. Yang ada aku di diami nya." Gumam Brian dalam hatinya.


"Gak .." Jawab asal nya.

__ADS_1


"Mas kamu marah sama aku ya. Ko jawab begitu doang..?"


"Aku gak marah, aku hanya malas bicara."


Dengan mata yang masih fokus depan layarnya. Padahal hatinya saat ini sedang dongkol, karena cemburu.


"Kamu malas bicara kenapa si mas. Aku tau kamu kalau seperti ini sedang kesal dengan seseorang, Kamu lagi kesal dengan siapa si mas.?" Naila mendekati Brian dan tangannya menggelayuti leher Brian.


Brain melepaskan tangan Naila dari pundaknya. Lalu Brian berdiri dan menatap Naila.


"Aku ingin keluar sebentar, kamu istirahat ya. Kamu kan sudah makan rujaknya, bagaimana rasanya enak. Sayang maaf aku belum bisa menuruti keinginan kamu. Justru yang menuruti keinginan kamu itu, adik aku Denis. Dia selalu mengerti tentang kamu, maaf ya. KLai begitu Aku mau keluar sebentar ya, kamu istirahat lah dulu, pasti kamu lelah." Sambil membelai wajah Naila. Kemudian Brian Pergi meninggalkan Naila di kamarnya.


Hati Naila terasa di cubit saat Brian mengatakan itu.


"Apa mas Brian beneran cemburu oleh Denis yang membelikan aku rujak. Padahal aku gak bermaksud untuk membuatnya marah atau cemburu. Aku harus bagaimana sekarang. Aku menganggap Denis itu seperti saudara ku sendiri. Padahal hanya mas Brian lah dari dulu sampai sekarang yang selalu berada di hatiku. Bagaimana biar mas Brian tidak salah paham." Kini Naila duduknya di tempat tidurnya.


Kepala Naila pun kini terasa pusing, akhirnya Naila merebahkan tubuhnya. Naila masih memikirkan perkataan suaminya. Air mata pun mengalir di sudut matanya. Naila merasa semenjak hamil, Naila menjadi lebih sensitif dan mudah menangis. Tapi Naila sadar saat ini dirinya sudah membuat suaminya kesal, hingga harus menjauh dari dirinya.


Naila mengirimkan pesan ke Debby untuk minta tolong di ambilkan minum. Karena Naila lupa tadi tidak membawa minum ke kamarnya.


"Maaf ya Debby, aku jadi minta tolong sama kamu.?"


"Apaan si Nai, santai aja kali. Nih minuman nya aku letakkan disini ya.?" Naila mengangguk.


Debby melihat Naila memegang minyak kayu putih, sambil memijat keningnya.


"Kamu kenapa Nai, kamu sakit.? Mau aku bantu pijat .?"


"Gak usah Debby, ini aku gak apa apa kok. Hanya saja kepala aku sedikit pusing, aku bawa istirahat juga enakkan ko."


"Beneran Nai, Yasudah kalau gitu kamu istirahat. Aku keluar dulu, jika kamu butuh apa apa bilang ke aku seperti tadi ya." Naila mengangguk.


Naila pun merebahkan tubuhnya dan Debby pun keluar kamarnya Naila.


Debby menuruni anak tangga, dan mencari kakak pertamanya. Dan ternyata Debby melihat Brian sedang berada di kolam ikan sedang memberi makan ikan ikan.

__ADS_1


Debby pun menghampiri kakaknya.


"Ka ko di sini, aku kira kakak di kamar.?"


"Gak dek, kakak di sini lagi kasih makan ikan. Kamu ngapain cari kakak tumben banget.?" Brian sambil terkekeh.


"Gak kenapa kenapa, hanya saja aku tadi ke kamar kakak. Tapi kakak nya gak ada di kamar."


Brian melihat ke.arah Debby.


"Kamu ngapain ke kamar, kan ada Naila di kamar."


"Iya aku tau, aku ke kamar tadi bawain minuman untuk Naila. Dia sepertinya sakit, tadi dia memijat kepalanya. Aku mau bantuin pijitin kepalanya,tapi dia gak mau."


"Apa kata kamu, Naila sakit." Debby mengangguk." Astaga Naila, yasudah kakak ke kamar dulu ya." Debby mengangguk.


Brian mencuci tangannya,lalu berjalan masuk kedalam menghampiri istrinya di kamar. Brian sedikit khawatir dengan Naila. karena Naila akhir akhir ini sering merasakan lelah.


Ceklak.... Brian membuka pintu kamarnya, lalu di tutup kembali dan di kunci.


Brian melihat mata Naila terpejam, dengan posisi miring.


Kini Brian berlutut di depan Naila yang sedang tertidur.


" Maafkan aku ya Nai, aku tadi menghindar dari kamu. Aku sebenarnya bingung harus bagaimana, menyikapi perasaan aku ini ke kamu. Jujur aku cemburu saat Denis yang selalu ngertiin kamu, sedangkan aku apa sebagai suami aku tidak ngertiin keinginan kamu. Apalagi di saat kamu sedang menginginkan rujak , dia seakan tau jika kamu sedang menginginkan itu. Aku harap anak kamu itu kelak tidak membenci aku sebagai papahnya yang tidak mengerti kamu. Yang selalu membuat kamu sedih, dan kesal." Brian menyentuh perut Naila.


"Jangan benci papah ya nak, kalau kamu tau papah dulu itu sangat membenci mamah kamu, sering membuat mamah kamu menangis. Papah minta sama kamu ya nak, jangan membuat mamah kamu cepat lelah. Dan kamu harus kuat di perut mamah, papah tidak ingin mamah kamu lelah ataupun sakit. Papah sangat sayang sama kamu dan mamah kamu. " Brian menci....um perut Naila.


Tanpa Brian sadari, Naila sejak tadi mendengar kan Brian bicara. Naila pun juga memperhatikan Brian bicara, sampai Naila pun menitikan air mata saat mendengarkan Brian bicara.


Bersambung...


Hai hai hai apa kabar kalian semuanya. Terimakasih ya, sudah mau setia membaca cerita ini. Author hanya ingin ingatkan, jaga kesehatan ya buat kalian semuanya.. Semoga kalian di berikan kesehatan Aamiiin.... Sekali lagi terimakasih semuanya.


...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak 👍 dan komentar kalian. Terimakasih 🙏🙏🙏🤗...

__ADS_1


__ADS_2