
Naila terharu, dan air mata pun sudah tak bisa di bendung lagi. Naila merasa sangat bahagia. Jika memang seandainya ini adalah mimpi, Naila tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini.
Brian memasang kan cincin di jari manis kiri Nail, lalu mengecup tangan Naila. Naila tersenyum bahagia, begitupun juga Brian. Brian mem..eluk Naila kembali, dan membelai rambut Naila yang begitu lembut.
Kini Naila duduk mengobati luka di bibir Brian.
Sssssttt.... Aaaww Brian meringis karena Naila membersihkan lukanya.
"Sakit ya mas.?" Brian menggelengkan kepalanya." Terus Kenapa tadi bilang aaaww...?"
"Ya itu tadi, sebelum kamu panggil aku Mas. Tapi pas kamu manggil Mas, sakitnya hilang."
"Dasar gombal."
"Ko gombal sih sayang, serius gak bohong.." Naila mencebikkan bibirnya.
"Kenapa, kamu gak percaya sama aku.?"
"Gak, sini aku obati lagi. Jangan gombal Mulu." Naila hendak memberikan salep, untuk bagian lukanya.
Tapi tangan Brian menghalangi tangan Naila. Brian tersenyum jahil ke arah Naila. Naila menatap Brian dengan tatapan menyelidik.
"Kenapa mas, ko obatnya di taro lagi.?"
"Tau gak, ada obat yang paling ampuh dan mujarab untuk luka ku ini.?"
"Apa, memang ada.?"
"Ada, kamu mau tau apa obatnya.?" Naila mengangguk.
Brian mengangkat dagu Naila, tatapan Brian mengarah ke bibir Naila yang sangat ranum.
Tatapan Mereka saling bertemu. Naila tidak bodoh, Naila tau apa yang akan di lakukan Brian.
Mmmmpppphhh .....
Bib..ir mereka sudah saling menempel. Ya Brian Menc...ium bib..Ir ranum Naila. Brian mengecap manisnya bib..ir ranum Naila. Mata Naila terpejam, Brian melanjutkan permainan yang hanya berani di bagian itu.
Brian masih menjaga batasan nya, walaupun tau bagian itu juga di larang. Namun Brian mengikuti suasana hatinya. Cukup lama Brian memainkan, dan memimpin permainan nya. Karena bagi Naila itu adalah pertama kalinya Naila melakukan itu. Dan akhirnya mereka menghentikan permainan itu, karena Brian tidak mau berlarut permainannya itu.
__ADS_1
Brian menghapus Silva nya, di bibi...rnya Naila. Dan Naila nampak malu, dengan kejadian yang terjadi tadi.
Kini Brian mengantar Naila pulang, mobil Brian berhenti di depan kontrakan Naila. "Mas, aku turun dulu ya. Kamu hati hati ya.?"
"Iya sayang. Naila maaf ya.?"
"Maaf, untuk apa mas.?"
"Untuk yang tadi, aku sudah mencuri Ci..uman pertama kamu?"
"Iya, sekali saja ya. Gak boleh lebih.?"
"Loh, loh ko gitu.?"
"Iya sampai kita sah baru boleh." Sebenarnya Naila mengatakan itu, sudah sangat malu.
"Siap sayang, aku akan menunggu sampai kamu sah menjadi istri aku. Ya sudah kamu istirahat ya, sampai besok. Dan mimpi indah ya Nai.?" Naila pun mengangguk...
Setelah Naila masuk ke dalam, Brian meninggalkan kontrakan Naila, menuju kediaman bunda Rossa.
Brian kini sudah berada di rumahnya dan kini sedang berada di dalam kamarnya. Brain sejak sampai rumah tadi selalu tersenyum. Brian mengingat kejadian yang tadi siang di rumah.
Lain Brian lain Naila. Justru Naila merasa ada kekhawatiran yang dia rasakan. Bukan memikirkan kejadian bersama Brian, saat menyentuh bibirnya. Tetapi Naila memikirkan tentang bertemu dirinya dengan Emiil kembali.
"Aku takut Emiil datang kembali, dia orangnya nekat. Semoga dengan datang nya Emiil tidak membuat hubungan ku menjadi masalah.
Devi yang melihat Naila sedang melamun, Devi pun mendekatinya.
"Hei, kamu kenapa beb.?"
"Devi, tadi aku bertemu Emiil."
"Apa Emiil. Maksud kamu Emiil teman kita itu, eehh salah maksudnya Emiil mantan kamu.?"
"CK.. kamu itu selalu saja ngeledek aku.?" Naila menatap nya dengan kesal.
"Iya iya begitu aja baper, sensitif banget si Bu.?"Naila tersenyum mendengar Devi yang justru kesal kepada nya. " Terus bagaimana,pass ketemu Emiil. Maksudnya apa Brian juga melihat Emiil,dan terus tanggapan Brian dan Emiil bagaimana.?" Jiwa kepo Devi sudah mulai meronta-ronta..
"Bukan liat lagi Dev. Ka Brian dan Emiil sampai adu jotos, bahkan dia bilang ingin tidak melanjutkan perjodohan ini."
__ADS_1
Devi terkejut mendengar perkataan Naila.
"Apa, kamu seriusan Nai.?" Naila mengangguk." Ko bisa, sampai bilang seperti itu. Kenapa begitu, ko bisa gitu si Brian bicara seperti itu .?"
"Ka Brian gak tau kalau Emiil itu mantan aku, dan di tambah lagi Emiil tadi mem..eluk aku di toko itu..? Bukan hanya itu saja Devi. Emiil bilang kalau aku itu berarti baginya. Dan dia juga begitu menantang Brian, dengan segala ucapannya."
"Astaga, Emiil benar benar keterlaluan Nai. Pokoknya kalian harus hati hati dengan Emiil, kita tau Emiil sangat nekat orangnya. Dia belum berhenti kalau belum mendapatkan apa yang dia inginkan..?" Naila mengangguk.
Naila mengusap wajah, karena merasa lelah. Dan di saat itu juga Naila melihat jari manis Naila ada cincin sudah melingkar di jarinya.
"Cie cie, ada yang habis di lamar nih.?" Devi mengambil tangan Naila sebelah kiri, dan melihat nya.
Naila tersenyum dan mengangguk.
"Brian ngelamar kamu Nai. Ya ampun sweet banget tau gak si, KA Brian itu.?"
"Iya tadi kita sempat bertengkar, dan di akhir pertengkaran itu ada hal manis yang di lakukan ka Brian."
"Aaahh manis banget si Brian itu.. Terus terus ada apaan lagi yang di lakukan Brian, yang manis manis bikin tidur mimpi indah.?" Devi ngeledek Naila, membuat Naila kembali tersenyum mengingat apa yang mereka lakukan.
"Apaan si kamu Dev, kepo banget sih.?" Naila Sambil tersenyum.
"Cie cie, jangan bilang kalian berdua cemewew.?"
Kedua tangan Devi di berbentuk kerucut, lalu di adukan kedua bentuk tangan kerucut itu. Dan Devi juga memanyunkan bibirnya sendiri, dengan kedua alisnya di naik turunkan.
Pipinya Naila bersemu merah, karena malu dengan ledekkan Devi.
"Cie cie pipinya udah kaya tomat tuh say, warna merah." Naila menutupi pipinya dengan tangannya." Cie cie,, pertama kalinya nih Yee... Pasti gak bisa tidur ingat kejadian nya yang so sweet deh...?"
"Devi kamu rese banget si.." Naila menutup wajahnya sendiri dengan mengguna boneka pemberian Brian .
"Hahahaha... Naila Naila kamu itu lucu banget si..." Devi tertawa terbahak-bahak melihat tingkah temannya itu." Sudah sudah kita tidur, sudah malam." Naila mengangguk.." Cie cie gak bisa tidur, gak bisa tidur. Hahahah....." Goda Devi lagi.
Devi menutupi badannya dengan selimut, takut Naila membalas dendamnya. Sambil tertawa di bawah selimut, Devi terus meledek Naila.
Sedangkan Naila tersenyum mendengarnya temannya masih ngeledekin dirinya.
Keesokan harinya, Naila dan Devi bekerja seperti biasa nya. Ada senyuman yang menghiasi di bibir Naila, dan Naila bekerja hari ini juga cukup semangat. Mungkin karena hubungannya dengan Brian, yang sudah terpasang cincin di jari nya.
__ADS_1
Bersambung.