
Brian mengangguk, lalu dokter Alvin pun keluar meninggalkan Brian bersama Naila.
Brian berjalan mendekati istrinya kembali. Di sana Brian memperhatikan wajah istri yang masih belum sadarkan diri. Brian merasa bersalah kepada Naila, karena tidak mendengarkan penjelasan Naila. Harus sampai seperti ini, dan saat ini Brian menyesal.
Brian menggenggam tangan Naila, lalu di kecup nya. Brian memejamkan mata, menyesal karena telah membentaknya. Apalagi saat tau kondisi Naila yang sekarang ada janin di perutnya. Benar benar Brian sangat menyesal.
Hiks hiks. Brian meniti kan air matanya di saat tangannya menyentuh bagian perut Naila. Entahlah hati Brian terasa bergetar saat menyentuhnya.
"Maafin aku Nai, aku sudah jahat sama kamu. Maafin aku, aku sudah percaya dengan orang lain bukan dengan kamu. Maafkan aku Nai, aku sudah membuat kamu menangis."
Tangan Naila yang diletakkan di atas perutnya, membuat Brian ingin menci...um perut istrinya, yang kini ada anak nya hasil buah cinta nya dengan Naila.
"Maafkan ayah ya nak, sudah membuat ibu mu bersedih karena ayah. Semoga kamu tidak membenci ayah, ayah sayang kalian."
Tiba-tiba mata Naila terbuka, ya Naila kini sudah sadarkan diri. Brian tersenyum saat melihat Naila sadar.
"Sayang, syukur lah kamu sudah bangun. Kamu mau minum.?" Naila mengangguk.
Brian mengambilkan minuman lalu membantunya untuk Naila minum.
"Aku di mana.?"
Naila merasa kalau sekarang ini, dirinya sedang tidak berada di kamar mereka.
"Kamu ada di kamar tamu sayang. Tadi kamu mengunci kamar ini dari dalam, dan aku lihat kamu tak sadarkan diri di lantai."
Di saat itu Naila baru mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya, kenapa dia bisa berada di kamar itu. Seketika tangan yang di genggam oleh Brian ,Naila lepaskan. Dan Naila menoleh ke arah lain, dan enggan untuk melihat Brian saat ini.
Brian merasa sedih karena saat ini istri nya kembali marah, dan tak mau melihatnya.
"Nai, aku minta maaf sayang." Tidak ada jawaban dari Naila." Sayang aku tulus meminta maaf sama kamu Nai. Aku memang salah, aku sudah membuatmu menangis, dan terluka. Aku tulus minta maaf sama kamu sayang.."
__ADS_1
"Mas keluar, aku ingin sendiri. Aku gak ingin bicara sama kamu, atau membahasnya lagi. Kepala aku masih pusing, aku mohon mas. Pergi dari kamar ini, aku ingin sendiri dulu."
Naila bicara dengan nada bergetar, dan Brian pun mengerti. Brian tidak ingin Naila kembali tertekan, dan takut terjadi sesuatu pada Naila dan janinnya.
"Baik, mas akan keluar. Mas mengalah, mas tidak ingin kamu dan calon anak kita kenapa kenapa. Tadi saat kamu pingsan, mas meminta dokter untuk memeriksa kamu. Dan kamu sedang mengandung saat ini, mas keluar karena tidak ingin kamu tertekan." Mendengar itu air mata Naila mengalir dengan sempurna.
Dan Naila menyentuh perutnya, di saat Brian memberi tau kondisi nya saat ini. Karena merasa bahagia mendengar kabar tersebut.
"Dan mas hanya ingin bilang jika kamu menginginkan sesuatu jangan segan-segan untuk minta tolong sama mas ya. Mas ada di luar kamar ini menunggu kamu, jadi kamu tinggal panggil mas aja ya."
Tidak ada jawaban dari Naila, dan Brian pun pasrah akan hal itu. Brian pun pergi meninggalkan Naila yang masih membelakangi nya. Dan Brian pun keluar kamar dan menutup nya.
Di saat Brian menutup pintunya, di saat itu juga Naila menangis. Sedangkan Brian mendengar Naila menangis di balik pintu di luar. Karena sudah malam dan sunyi, jadi terdengar jelas Naila menangis.
" Trimakasih ya Allah, kamu memberikan kepercayaan kepada ku. Ibu ayah, kalian pasti senang jika kalian masih ada. Kalian mempunyai cucu, Karena Naila saat ini sedang mengandung anak mas Brian." Naila menghapus air matanya, dan tersenyum. " Aku dan mas Brian akan menjadi orang tua, kita akan mempunyai baby yang lucu."
Naila Sambil mengusap perut nya yang masih rata itu, seketika senyum nya pudar. Saat Naila kembali mengingat apa yang telah terjadi antara Naila dan suami nya itu.
Gumam Naila dalam hati sambil mengusap perutnya yang rata dan tersenyum.
Brian yang sedang menunggu di sofa panjang di depan kamar yang Naila tempati. Matanya semakin tak kuat menahan kantuknya, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Begitu pun juga Naila yang berada di dalam kamar, nampak terlelap dan bermimpi indah.
Saat pukul 1 malam, Naila terbangun. Ya Naila merasa perutnya merasakan lapar, dan Naila tidak bisa tertidur karena lapar melanda.
Akhirnya Naila turun dari tempat tidur, dan berjalan keluar kamarnya. Naila terkejut, karena suaminya saat ini menunggu di luar dan tertidur di sofa.
Naila ingin sekali membangun kan Brian untuk pindah tidurnya. Namun rasa laparnya itu tidak bisa di tahan lagi. Ya sejak jalan jalan honeymoon nya saat itu, Naila sangat malas untuk makan, yang Naila inginkan hanya tidur saja. Mangkanya Naila tak pernah keluar, setelah seminggu di rumah barulah Naila keluar bersama Devi dan Debby.
Namun bukannya senang sehabis jalan malah menjadi malapetaka yang membuatnya bertengkar dengan suaminya. Karena bertemu Emiil dan di foto diam diam oleh seseorang, dan orang itu malah mengirimkan nya ke Brian membuat Brian salah paham dan marah padanya.
Naila kini sedang berada di dapur, Naila sedang membuat makanan. Karena Naila merasa perutnya sangat lapar. Naila mencari bahan makanan di kulkas. Naila saat ini menginginkan nasi goreng, sebenarnya Naila malas memasak namun apalah daya, tidak mungkin Naila meminta di buatkan sama Brian.
__ADS_1
Eemmm.... Nasi goreng dengan telor mata kodok setengah matang, sepertinya enak dengan irisan timun . Aku membayangkan saja sudah ngiler, tapi aku malas membuatnya. Ingin nya sih tinggal makan saja, hihihi.... Tapi siapa yang mau bikin, aku sebenarnya ingin mas Brian yang memasak nya.. Tapi mas Brian nya lagi tidur, membangun kan nya tidak tega.
Naila mencari sesuatu di kulkasnya. Mengambil bahan bahan yang dia siapkan untuk memasak. Namun saat Naila selesai menutup pintu kulkas,dan membalikkan badannya. Naila di buat terkejut karena suaminya kini ada di belakangnya, dan kini suaminya sedang tersenyum kepadanya.
Aaaa... Teriak Naila, dan tubuh Naila hampir terjatuh karena terkejut.
Hhaaappp...
Untung ada Brian yang menahannya, jadi Naila aman.
Sebenarnya Brian tidak betul-betul pulas, dan Brian tau kalau Naila keluar kamarnya. Dan Brian mendengar Naila bicara dan apa yang Naila lakukan, Brian memperhatikan nya sejak tadi.
"Hati hati sayang, kalau kamu sampai jatuh bagaimana.?" Naila hanya menunduk kan wajahnya." Kamu mau ngapain Hem... Kamu lapar.?" Brian bicara sangat lembut agar Naila tidak takut.
Dan Naila pun mengangguk kan kepalanya. "Ii...iya aku lapar aku mau makan mas." Jawab nya dengan gugup.
"Yasudah kamu duduk manis saja, biar aku buatkan makanan untuk kamu. Kamu mau makan apa sayang hemm...?"
"Aku mau nasi goreng dengan telor ceplok mata kodok di atasnya. Dan juga dengan irisan timun di atas nasi gorengnya."
Brian tersenyum mendengarnya istrinya sudah mau bicara kepada nya.
"Yasudah kamu duduk saja ya, biar aku buatkan makanan untuk kamu dan baby kita. Duduk yuk, mau duduk di mana, di sini atau di ruang tamu. Barangkali kamu ingin nonton tv sayang.?"
"Aku mau duduk di sini aja mas. Aku takut Sendirian nonton tv di ruang tamu, kalau tidak ada yang temani." Brian mendengar nya tersenyum.
"Yasudah kamu di sini saja. Aku ke dapur dulu ya, kamu duduk sini aja. Kalau ingin minum bilang ya, biar aku ambilkan. Hemm...." Seraya membelai wajah Naila dengan manja.
Naila pun mengangguk, dan berjalan menuju kursi makan.
Sebenarnya Naila saat ini hatinya benar-benar meleleh di perlakukan manis oleh Brian. Entahlah perasaan marah dan kesal Naila seakan hilang begitu saja. Jika Brian memperlakukan Naila sangat manis.
__ADS_1
Bersambung...