Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Brian mengajak seseorang


__ADS_3

"Ow ya, bagus dong. Jadi kamu akan bertemu dengan orang baik yang sudah kamu Anggap keluarga itu.?" Naila tersenyum dan mengangguk." Aku jadi senang mendengarnya, semoga saja kamu menjadi bagian keluarga nya. Aaamiiin ".


"Aaamiin..." Naila pun mengikuti ucapan Devi tanpa sadar,dan Devi terkekeh mendengarnya.


" Eeh.. Maksudnya apaan nih, aku main jawab Aamiinn aja lagi...?" Naila baru sadar.


Alhasil Devi pun tertawa geli mendengar jawaban Naila yang baru sadar itu.


"Semoga para malaikat mencatat jawaban Aamiin kamu itu Nai. Lalu ucapan aku itu di ijabah, kalau kamu nanti akan jadi bagian keluarga Brian sebenarnya. Khikhikhik..." Devi terkikik geli.


"Devi, kamu ngerjain aku ya.?"


"Loh ko ngerjain si.? Nai itu kamu jawab dari hati kamu loh, kenapa jadi aku.?" Devi tersenyum jahil, dan Naila pun tersipu malu .


"Apaan si Devi, sudah aah aku mau tidur istirahat , cape." Naila sudah membelakangi Devi yang sedang terkekeh.


Kini Naila tiduran dengan memeluk guling, dengan menghadap ke tembok. Diam diam Naila tersenyum mengingat ledekkan temannya itu.


Sedangkan di suatu tempat, di suatu kamar. Brian yang sedang duduk di depan meja, berhadapan dengan layar laptopnya. Namun pikirkan pria itu tidak pada kerjaan nya di depan layar laptopnya. Entahlah hanya Brian yang tau sedang memikirkan apa, soal nya Brian sambil tersenyum, dengan pandangan menatap arah luar jendela.


Dan tanpa Brian sadari ada seorang wanita paruh baya sedang mengamati Brian yang sedang tersenyum seorang diri.


"Ekhemm.... " Wanita itu berdehem, membuyarkan lamunan Brian.


Brian langsung menoleh ke arah suara itu. Dan Brian pun tersenyum saat melihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik alami tanpa make up.


"Eehh,, ada bunda. Belum tidur Bun sudah malam.?"


" Pertanyaan itu harusnya untuk kamu Brian. Kamu belum tidur, masih di depan layar laptop aja.?"


Brian tersenyum." Brian sedang chating dengan Raka, dan sedang melihat foto masa kecil kami dulu Bun. Ternyata Raka menyimpan foto-foto dulu Bun."


"Ow ya, tapi kamu senyum senyum sendiri gitu tadi. Terus pandangan kamu tadi keluar jendela loh, buka ke laptop Kamu.?" Brian tersenyum mendengar.


" Coba bunda liat Brian foto kalian. Loh Brian ini bukan foto ulang tahun Raka ya, yang ini Naila kan. Ya bunda ingat ini Naila, dia sedang berdiri di depan untuk menyanyikan lagu. Dan ini juga Naila kan, saat acara 17 Agustusan dulu. Saat di suruh ikut lomba makeup dengan mata tertutup, kamu menyuruh Naila untuk ikut masuk dengan kelompok kamu kan.?" Lagi lagi Brian mengangguk, dan terkekeh.


"Ya ampun anak itu, benar benar membuat bunda kangen. Sekarang dia bagaimana ya, pasti dia sekarang tambah cantik ya Brian.?"


"Cantik Bun, pasti sangat cantik." Jawaban Brian membuat bunda Rossa tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Memang kamu pernah melihat .?" Bunda mencebik kan bibirnya." Andaikan dia ada di sini, bunda senang sekali Brian.?"


"Bun kalau Brian berhasil membawa Naila kesini bagaimana.?"


Bunda Rossa menatap wajah putra nya lekat lekat." Apa kamu serius sayang akan membawa Naila kesini.?" Brian mengangguk.


"Apa sih yang gak buat bunda, apalagi permintaan bunda." Bunda Rossa tersenyum. " Sekarang bunda istirahat ya. Ow iya bunda, besok aku ingin mengajak seseorang kesini. Bunda minta tolong sama ibu Ani, untuk masak makanan yang enak ya."


"Siapa tamu nya tuh, kalau bunda boleh tau.?"


"Ada deh kejutan buat bunda. Pokoknya besok Brian akan bawa seseorang kesini, sudah lama dia tidak bertemu kita katanya.?"


"Ow ya, siapa ya.? Ko bunda jadi deg degan ya nak.? Ya sudah besok bunda dan Bu Ani akan masak pagi pagi untuk tamu istimewa kamu itu.?"


Brian mengangguk." Yasudah bunda ke kamar dulu ya, kamu juga harus istirahat ya. Sudah malam soalnya, jangan tidur malam loh.!"


"Iya bunda ku sayang." Brian tersenyum.


Bunda Rossa pun tersenyum, lalu berjalan meninggalkan kamar Brian. Setelah Bunda nya keluar, Brian tersenyum memandangi foto Naila saat masa kecilnya dulu.


"Naila..." Setelah itu Brian menutup laptopnya, lalu kembali ke tempat tidurnya, dan beristirahat.


Keesokan paginya, setelah selesai mencuci baju,dan hendak menjemur pakaian. Devi datang dari luar dengan membawa sarapan nasi uduk 2 bungkus.


Devi mengambil dua piring dua sendok dua gelas untuk nya dan Naila.


"Iya iya aku jemur dulu sebentar Dev."


"Sekarang Naila, kamu jangan menunda-nunda sarapan. Kalau sudah biasa sarapan pagi, ya makan dulu. Kerjaan belakangan, kamu sudah tidak tinggal sama nenek sihir lagi jadi santai aja. Ayo cepat makan, jangan entar entar kaya anak kecil di suruh makan aja susah." Kata Devi yang mengomeli Naila seperti ibu yang menyuruh anaknya untuk makan.


"Iya budeh. Hihihi..." Naila meledek Devi.


"Budeh, budeh sejak kapan aku nikah sama pakdeh mu Nai.?" Ceplos Devi membuat Naila terkekeh mendengarnya..


Naila pun meninggalkan tugas menjemur pakaiannya. Dan Kini Naila sudah duduk bersama Devi, dan mereka pun menikmati sarapannya dengan menu nasi. Ya nasi uduk buatan mpo Ella, memang kesukaan Naila dan Devi selama mereka mengontrak rumah di sana.


Biasanya pagi pagi sekali Naila dan Devi sudah memasak untuk makan mereka. Karena biasanya Naila dan Devi kalau makan siang suka pulang, jadi Naila dan Devi memasak untuk mereka. Katanya biar tidak boros untuk beli makan di luar kalau tiap hari harus membeli makanan. Selain itu juga kan dengan masak makanan sendiri lebih higienis, karena mereka sendiri yang masak. Terkadang mereka juga susah kalau mencari menu makanan. Sesekali mereka membeli makanan di luar, jika memang mereka menginginkan makanan yang dia inginkan.


"Ow iya abis ini aku berangkat ya, kamu jadi kan mau jalan sama bang tamvan Brian.?"

__ADS_1


Naila tersenyum. "Iya aku jadi, ow iya bagaimana ini mau masak atau tidak.?"


"Gak usah lah Nai, lagian kamu keluar kan sama dia. Kalau aku makan sendirian di kontrakan gak mau ah sendiri iseng. Mending aku makan di toko, beli makan di warung Bu Ning".


"Ya sudah, kalau begitu."


"Ya sudah aku berangkat ya Nai. Daaah..." Devi pun berjalan meninggalkan kontrakan menuju toko.


Sedangkan Naila sendiri melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda tadi.


Tepat pukul 10 pagi, terdengar suara motor di depan kontrakan Naila. Saat Naila intip di balik tirai jendela, ternyata yang datang adalah Brian. Naila tersenyum melihat Brian yang datang, Naila merapihkan penampilan di kaca.


Tok..tok tok terdengar suara seseorang mengucapkan salam dan ketukan pintu.


Ceklak... Pintu pun terbuka, Naila tersenyum saat membuka pintu. Begitu pun juga Brian yang juga tersenyum melihat Naila yang nampak cantik bagi Brian.


"Bagaimana sudah siap.?" Naila mengangguk.


"Sudah ka, mau mampir dulu atau mau langsung berangkat.?"


"Langsung saja ya Nai, gak sabar ingin kasih kejutan ke bunda". Brian tersenyum dan Naila pun mengangguk.


"Ok, sebentar ya, aku mau ambil tas ku dulu." Brian pun mengangguk.


Naila masuk kedalam untuk mengambil tas dan sebuah bungkusan, lalu kembali keluar menemukan Brian.


"Yuk Ka.!"


Brian melihat Naila membawa bungkusan, dengan nama toko tempat Naila bekerja.


"Kamu bawa apa itu Nai.?"


"Ow ini kue untuk bunda ka.?"


"Kamu ngapain bawa kue segala si dek. Jadi nya ngerepotin kamu loh.?"


"Gak lah ka, ini kue buatan aku sendiri kemarin sore. Dan aku memang sengaja membawa ini untuk kalian agar mencicipi kue buatan aku. Sekaligus promosi ka, hihihihi....."


Brian tersenyum." Ya sudah tidak apa-apa, siapa tau bunda suka kue buatan kamu. Kan lumayan kalau bunda ada acara, bunda bisa pesan sama kamu Nai.?"

__ADS_1


"Betul betul betul... Hihihi...." Naila terkekeh, begitupun juga Brian.


Kini Brian dan Naila sudah berada di atas motor. Kini Naila berpegangan di pinggang Brian, sebenarnya Naila bingung harus berpegang di mana. Namun tangan Brian menarik tangan Naila untuk melingkari di pinggang nya.


__ADS_2