
Naila pun pergi meninggalkan Brian di kamar seorang diri. Dan Brian termenung dengan apa yang telah terjadi padanya. Brian tersadar sudah menyakiti wanita yang begitu amat dia cintai, bahkan sampai menangis.
Kenapa aku harus menyakiti Naila, kenapa harus membuat Naila menangis. Padahal aku sudah dititipkan untuk menjaga dan melindungi Naila. Kenapa aku yang menyakiti nya, kenapa. Kenapa aku tidak mendengarkan penjelasan nya Naila lebih dulu. Kenapa aku lebih percaya dengan foto dan video yang di kirim kan Riska.
Ow ternyata Riska yang menjadi biang kerok dalam pertengkaran Naila dan Brian. Iiihhh othor jadi ikut kesel tau gak guys.. hihihi....
Naila menuruni anak tangga, lalu masuk ke kamar tamu. Yang di mana letaknya di lantai bawah. Naila mengunci pintu kamarnya, agar Brian tidak mudah masuk ke kamar itu.
Naila merasa saat ini kepalanya sangat berat, dan matanya pun terasa kunang kunang. Dan Naila berusaha menahan rasa berat di kepalanya dengan berpegang meja namun apa daya, Naila tidak kuat. Dan akhirnya Naila terjatuh kelantai dan tak sadarkan diri.
Brian yang baru sadar kalau Naila tidak di samping nya berlari keluar mencari Naila. Brian menghampiri satpam di rumahnya.
"Pak Dedi maaf apa istri saya keluar barusan.?" Pak Dedi menggelengkan kepalanya.
"Maaf mas Brian saya tidak melihat mba Naila keluar. Apa mas Brian sudah melihat ke kamar lain nya.?"
"Saya belum liat, baik kalau begitu saya cari dulu di kamar lain. Trimakasih pak." Pak Dedi mengangguk.
Pak Dedi melihat wajah majikan nya sangat kusut, dengan mata yang merah dan sembab.
Setelah Brian pergi meninggalkan pak Dedi dan masuk ke rumahnya. Pak Dedi yang masih melihat Pergi nya majikan nya itu. Hanya menggelengkan kepalanya.
Pak bos abis bertengkar seperti nya kusut banget mukanya. Aduh pengantin baru udah berantem aja ya. Saya mah dulu pas masih pengantin baru masih anget anget nya...
Pak Dedi pun akhirnya masuk ke dalam pos nya.
Brian mengecek kamar tamu yang hanya ada 3 kamar. Mencoba membuka pintu kamarnya, ternyata ada 1 kamar tamu yang terkunci. Dan Brian pun tersenyum, dia yakin kalau istrinya ada di sana.
Tok tok tok.... Brian mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban dari dalam. Brian menempelkan telinganya di pintunya, untuk mendengar kan sesuatu dari dalam. Namun Brian tidak mendengar apapun, sunyi.
Brian sedikit khawatir dengan kondisi istrinya di dalam kamar tersebut. Brian pun keluar , untuk melihat nya dari balik jendela di luar. Brian mengintip, tidak ada istrinya di kasur. Hanya ada bantal, dan guling. Namun saat melihat ke arah dekat pintu dan ke arah lantai, ternyata Brian di buat terkejut. Mata Brian terbelalak Karena Naila berada di lantai, tak sadarkan diri.
Astaghfirullah Naila.. Naila Naila... Ya ampun dia pingsan..
Akhirnya Brian masuk kembali, dan mengetuk pintu kamar di mana Naila berada di kamar itu.
__ADS_1
"Naila, sayang buka pintunya. Naila kamu kenapa.." Brian memanggil dengan nada suara bergetar.
Brian pun memanggil Bu Fitri, asisten rumah tangganya.
" Bu, Bu Fitri...." Teriak Brian.
Dari dalam wanita yang usianya seperti Bunda. Sekitar umur 45 tahun, menghampiri Brian.
"Ada apa mas Brian memanggil ibu.?"
"Bu, kunci cadangan kamar ini di mana ya. Istri saya di dalam dia pingsan Bu." Brian berbicara dengan bibir bergetar.
Mungkin kalau Brian tak menahannya air matanya pun juga akan turun.
" Astaghfirullah... Mba Naila di dalam.?" Brian mengangguk.." Ada mas kuncinya di laci sebelah sini, sebentar biar ibu cari kan."
Bu Fitri membuka lacinya untuk mencari kunci cadangan kamar yang Naila tempati.
Setelah dapat Brian langsung mengambilnya, dan membuka pintunya dengan kunci cadangan tersebut.
Naila...
Brian menghampiri Naila, lalu mengangkat Naila dan membawa Naila ke tempat tidur di kamar itu.
Tubuh Naila sangat dingin, mungkin karena berada di lantai. Brian menutupi nya dengan selimut sampai ke pundak nya, agar tubuh Naila hangat kembali.
"Naila, bangun sayang..Aku mohon bangun, maafkan aku Nai." Brian di samping Naila menggenggam erat tangan Naila.
Lalu Brian mengingat sesuatu, Brian ke kamarnya dan mengambil alat gawai nya. Brian menghubungi seseorang .
"Aku minta tolong sama kamu, tolong kami kesini. Istri ku sakit." Telpon pun langsung di tutup.
5 menit kemudian Bu Fitri datang dengan membawa seorang dokter laki laki.
"Ada apa si, kenapa istri mu Brian. Untung saja kamu telpon aku, pas aku lagi di rumah. Kalau aku lagi keluar bagaimana..?"
__ADS_1
"Sudah berdebat nya nanti saja di lanjutkan. Sekarang istri ku dulu bagaimana keadaan nya..?"
"Iya iya..." Dokter pria itu pun memeriksa Naila dengan menggunakan stetoskop.
Dokter itu menunjukan wajah serius, menggelengkan kepalanya, dan tersenyum kearah Brian. Setelah itu dokter pria melepaskan stetoskopnya, lalu tersenyum kembali ke arah Brian.
"Kenapa kamu tersenyum, bagaimana ke adaan istri ku.?"Omel Brian.
"Istri mu sebentar lagi akan sadar. Istri mu harus banyak istirahat, jangan terlalu kecapean. Dan jangan membuat istri kamu stres karena itu tidak baik untuk ibu yang sedang mengandung." Penjelasan dokternya.
Jeeedddeerr.... Brian sangat terkejut mendengar kabar baik dari dokter pria yang ada di hadapannya ini. Ada perasaan bahagia sekaligus rasa bersalah terhadap dirinya ke Naila.
"Mengandung, maksudnya.?"
"Selamat Broo, istri kamu sedang mengandung. Selamat Brian kamu akan menjadi calon ayah.." Dokter itu bersalaman kepada Brian.
" Kamu serius Al, istri ku sedang hamil..?"
"Brian Brian mana pernah dokter Alvin berbohong sama pasien. Apalagi istri mu yang menjadi pasien ku.." Alvin menggelengkan kepalanya." Sekali lagi selamat Bro.. Tapi kalau boleh saran, jangan buat istri kamu tertekan,atau mudah stress. Biasanya akan berdampak sama janinnya, karena janin nya masih sangat muda. Dan jangan terlalu cape juga istri mu itu..."
"Sorry Al, dan trimakasih saran nya. Aku akan jaga istri ku dan janinnya. Trimakasih banyak, aku hanya takut istri ku kenapa kenapa. Untung ada kamu di rumah, kalau tidak bisa pusing aku. Maaf aku jadi merepotkan mu..?"
"Tenang saja, sama tetangga sekaligus teman. Tidak ada kata merepotkan Kalau kita saling tolong menolong.."
"Thank ya.."
"Yasudah aku pulang dulu, biarkan istri mu istirahat. Dan besok kamu bawa istri mu ke rumah sakit, nanti ku suruh teman ku yang dokter kandungan untuk memeriksa istri mu."
"Iya baik, besok aku ketempat mu, dan membawa Naila. Sekali lagi trimakasih ya. Ayo aku antar sampai depan.?"
"Tidak usah, rumah kita hanya melangkah 1 rumah saja mau nganterin segala. Lebih baik kamu temani istri mu, selesai kan masalah mu. Aku tidak tau, kamu ada masalah apa dengan istri mu. Karena aku lihat wajahmu sangat kusut sekali, Mangkanya aku mengatakan itu ." Dokter Alvin tersenyum, lalu menepuk pundak Brian." Aku permisi ya, sampai ketemu besok."
Brian mengangguk, lalu dokter Alvin pun keluar meninggalkan Brian bersama Naila.
Brian berjalan mendekati istrinya kembali. Di sana Brian memperhatikan wajah istri yang masih belum sadarkan diri. Brian merasa bersalah kepada Naila, karena tidak mendengarkan penjelasan Naila. Harus sampai seperti ini, dan saat ini Brian menyesal.
__ADS_1
Bersambung..