Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Kedatangan Brian dan Naila


__ADS_3

"Ya aku tau, tuhan maha pengasih dan maha pemaaf. Tapi buat aku, sulit untuk memaafkan bibi kamu. Lihat saja anaknya, dia saja berani menyakiti kamu, apalagi jika bibi kamu di bebaskan. Kalau dia sadar dan bertaubat, kalau tidak. Bisa merajalela Nai, aku tidak mau itu terjadi..."


Naila pun langsung diam, Naila tidak ingin berdebat dengan suaminya itu. Naila sendiri bingung, dengan sikap suaminya yang pendendam itu. Naila merasa cukup lelah jika harus berdebat dengan suaminya. Naila hanya diam dan menatap ke arah lain. Naila tidak ingin melihat wajah suaminya yang kini sedang memperhatikan dirinya....


Brian pun akhirnya meninggalkan Naila di kamar seorang diri. Brian berjalan keluar kamar, untuk mengambil barang belanjaan nya tadi.


Bunda Rossa melihat Brian menuruni anak tangga, dengan raut wajah yang seperti menahan kesalnya.


Brian kini berjalan menuju halaman, tapi bukan untuk mengambil barang. Brian justru berjalan menuju kolam ikan, yang di mana Brian dan ayahnya memeliharanya.


Kini Brian sedang memberi makan ikan ikan, Brian menyukai saat melihat ikan ikan bergerombol. Dan saling berebutan makanan saat di lempar oleh Brian.


Saat melihat ikan ikan itu berebutan makanannya, ada senyuman di bibirnya. Namun seketika senyuman Brian hilang, saat mengingat permintaan Naila, untuk membebaskan bibi nya..


Huuuffhh.... Apa yang harus aku lakukan dengan permintaan Naila. Aku hanya ingin melindungi Naila, dari bibi nya yang jahat itu. Kalau di bilang pendendam, aku memang mengakuinya. Tapi itu karena istri ku dulu selalu di perlakukan tidak baik olehnya. Dan aku ingin memberikan dia hukuman yang setimpal dengan apa yang Naila rasakan selama 10 tahun tinggal bersamanya.. Apa salah aku lakukan itu, kenapa Naila meminta nenek sihir itu di bebaskan.


Brian sambil melempar makanan ikan dengan sedikit emosi..


Bunda Rossa yang melihat anak sulungnya bersikap aneh, lantas menghampiri nya.


"Brian..." Brian pun menoleh ke belakang, ternyata bunda nya yang memanggilnya.


"Bunda.. kenapa Bun, bukannya bunda lagi bercerita dengan Devi dan Debby.?"


Bunda tersenyum,lalu duduk di samping Brian.


" Justru bunda yang harusnya bertanya kepada kamu nak. Kamu kenapa di sini, kan harusnya kamu di dalam dengan istri mu.?"


"Tadi aku berniat ingin mengambil barang belanjaan ku Bun. Tapi aku mengurungkannya, jadi aku kesini memberi makan ikan ikan ku". Brian sambil tersenyum, untuk menutupi rasa kesalnya.

__ADS_1


"Tapi tidak harus melempar makanan itu dengan kasar kan. Kamu tidak bisa membohongi bunda sayang, coba ceritakan ke bunda. Siapa tau bunda bisa kasih bantu ke kamu sayang.."


Brian diam sejenak, berpikir apa dia harus menceritakan ke bunda tentang masalahnya..


"Bunda tau kamu sedang ada masalah sama istri kamu..Wanita hamil itu,ada saja keinginannya yang membuat kamu pusing sayang.?"


"Bukan itu Bun, masalah apa yang Naila inginkan seperti makanan. Kadang aku masih bisa mengabulkan keinginannya itu Bun. Tapi ini lain Bun, yang dia minta...." Brian diam sejenak.." Naila meminta bibi nya di bebaskan Bun. Itu yang membuatku kesal.


Brian pun akhirnya menceritakan apa yang Naila inginkan. Dan apa yang terjadi oleh Naila, saat sepupu nya hampir menyelakai Naila. Bunda Rossa sedikit terkejut dengan apa yang Brian ceritakan. Namun bunda mendengar kan nya dengan tersenyum, bunda pun juga menjelaskan dan memberikan jawaban kepada Brian dengan tenang. Agar Brian bisa menerima solusi yang bunda Rossa berikan. Brian pun mendengarnya pun juga dengan tenang..


"Bagaimana nak solusi bunda. Nak, memang sudah menjadi kewajiban kamu melindungi Naila, yang kini sudah menjadi istri kamu... Tetapi menjadi seorang pemaaf itu juga perlu, di saat seseorang itu sudah menyesali apa yang pernah dia lakukan. Nah orang itu sudah meminta maaf dengan tulus dan bertaubat, masa sebagai sesama manusia kamu tidak ingin memaafkan. Jangan jadi manusia pendendam, tidak baik untuk dirimu nak." Nasihat bunda Rossa.


"Iya Bun, aku tau tapi kan....?"


"Tapi apa sayang. Kamu khawatir dengan Naila,takut istri kamu di sakiti Farida lagi.?" Brian mengangguk.." kan Naila sekarang sudah bersama kita. Kamu bisa melindungi Naila, seperti bodyguard. Dia akan melindungi Naila kemana Naila pergi. Atau kamu khawatir dengan sepupunya itu, yang sudah ingin mencelakai Naila. Kalau Masalah itu gampang sayang, kita berikan saja dia peringatan kepada nya. Kalau sampai dia melanggar dan masih menyakiti Naila, tinggal jebloskan dia ke dalam penjara."


Brian mendengarkan bunda benar adanya.


"Sayang, kita jalan jalan yuk. Mau gak kamu, kita keluar yuuk....?"


"Mau kemana. Aku sedang tidak ingin kemanapun."


"Yakin kamu tidak ingin kemana mana. Kalau ketempat paman Tommy kamu mau gak.?" Naila pun langsung menoleh ke arah Brian dan tersenyum..


"Serius mas, kamu mengajak aku kesana.?" Brian mengangguk." Kamu tidak bohong kan mas.?"


"Tidak sayang, mas tidak berbohong. Apa kamu mau kita menginap di sana.?" Mata Naila terbelalak saat mendengar nya..


"Apa mas, menginap di sana. Kamu beneran mau kesana, dan kamu mau nginap di sana.?"

__ADS_1


"Iya sayang, kita menginap di sana. Aku ingin merasakan tidur di kamar kamu di sana.?"


"Beneran mas, kasur aku sempit loh mas.?"


"Tidak apa apa, kan kalau kasurnya sempit kita tidurnya makin nempel. Jadi makin romantis kan sayang..?" Brian mengedipkan mata Sebelahnya.


"Sesak aku nya mas,kalau tidur nempel begitu. Liat aja perut aku gendut begini.?"


"Gak apa-apa, kamu seperti ini terlihat tambah cantik dan se*si loh sayang". Naila terus saja tersenyum, setiap kali Brian menggodanya..


Naila pun berkemas pakaian nya dan juga di bantu oleh Brian. Naila dan Brian pun langsung berpamitan kepada bunda Rossa dan lainnya. Dan saat siang hari, jam 2 siang. Naila dan Brian sampai di kediaman rumah paman Tommy.


Mendengar suara deru mesin mobil di halaman rumah nya. Pintu pun di buka dari dalam, dan ternyata Melly yang keluar dari dalam rumahnya.


Mata Melly berbinar saat melihat yang datang kerumahnya adalah Naila dan Brian.. Melly pun langsung menghampiri Naila,dan memeluk karena rindu dengan kakaknya yang ini..


"Kakak, ya ampun.. Mimpi bukan si, kalau kakak dan ka Brian datang ke sini.?" Brian dan Naila tersenyum melihat tingkah lucu Melly.


"Bukan mimpi anak jahil.. Ini beneran kakak main kesini,memang kamu tidak senang kakak main kesini.?" Sambil mencubit pipi Melly.


"Ya senang dong ka, ya kalee gak senang. Kakak itu yang aku tunggu-tunggu kapan main kesini. Saking aja jauh Ka, dekat aja aku mampir terus deh ke rumah kakak. Hehehe.." Melly terkekeh, membuat Naila dan Brian ikut terkekeh." Apalagi kak Brian yang Dateng. Beeuuh... Pasti heboh deh, oppa Korea, kawe 2 Dateng kesini..hihihi...." Brian yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya..


"Siapa yang kamu maksud kawe 2 Melly.?" Dari belakang Melly ada yang menjawab, Melly pun terkejut mendengar..." Ko kakak kamu datang bukan di suruh masuk malah asyik sendiri si.?"


"Hehehe... Iya ayah, ini aku mau suruh kakak buat masuk kedalam. Ayo Ka masuk yuk... Sini oppa Brian, biar tas nya Melly bantu bawakan.?"


"Yakin kamu kuat bawa tas nya, ini berat loh Mell.?"


"Yaaah... Dia ngeremehin aku. Tas segini doang mah, kecil." Sambil menempelkan jari jempol dan telunjuk nya.

__ADS_1


Brian pun tersenyum lalu memberikan nya ke arah Melly." Aduh duh duh... Lumayan juga nih tas kalau di timbang. Hehehe...." Ledek Melly...


bersambung....


__ADS_2