
"Kalau aku menyerempet nya, itu benar paman. Tetapi saat aku ingin tanggung jawab ingin membawa nya kelinik dia menolaknya. Dan sekarang pria ini datang ingin meminta tanggung jawabnya itu dengan melamar Nai, untuk menjadikan Naila istri ke 3 nya."
Naila pun langsung menangis, dan paman nya pun menenangkan nya.. Pak Tommy menatap Sandi dengan tatapan membunuh, dan pak Tommy pun juga menatap istrinya dengan tatapan marah.
"Sekarang saya minta kamu pergi dari rumah saya, sekarang juga. Saya tidak akan membiarkan kamu menikahi keponakan kesayangan saya ini. Apalagi menjadikan nya sebagai istri ke 3, saya tidak akan membiarkan itu. Mau siapapun itu yang memintanya, Paham. Kalau kamu masih memaksanya saya tak akan segan-segan akan melaporkan kamu ke polisi karena sudah mengancam dan membuatnya tak nyaman.!"
Dengan perasaan kesal Sandi pun meninggalkan Rumah itu. Sedangkan Bu Farida hanya diam menatap kesal ke arah suaminya dan Naila.
"Dasar manusia tak tau di untung, masih untung ada yang mau sama kamu dan ingin melamar kamu. Pakai di tolak segala, jelas jelas pacar kamu itu sudah lumpuh masih mengharapkan dia." Hardik Bu Farida dengan menatap Naila tak suka.
"Hati hati kamu kalau bicara Bu, jangan bicara seperti itu. Harusnya kamu sebagai bibi nya dan teman ibu nya kamu harus melindunginya, buka menjerumuskan Naila".
"Tak Sudi aku melindungi nya, dia hanya menyusahkan ku saja. Asal kamu tau yah, putra kamu itu mencintai keponakan kamu itu." Pak Tommy terkejut dengan ucapan istrinya itu. Dan Naila pun juga terkejut, bagaimana bibi nya bisa tau akan hal itu .?
"Apa maksud kamu Bu, tau dari mana kamu tau kalau Fandi menyukai Naila.?"
"Tanya saja sama keponakan kamu yang ke gatelan itu. Jawab Nai jangan diam saja kamu, jujur tuh sama paman kesayangan kamu itu. Aku sudah muak dengan ini, kamu, Fandi dan Melly selalu membela nya. Jadi dia ngelunjak sampai bikin malu saja, sudah numpang menyusahkan orang saja." Lagi lagi Bu Farida menghardik Naila.
"Cukup Bu". Bentak pak Tommy. "Naila sekarang kamu masuk ke kamar kamu ya, paman ingin bicara sama Bibi kamu dulu ya.?"
Dengan nada lembut pak Tommy menyuruh Naila masuk, dan Naila pun masuk ke kamarnya. Sambil memegang pipinya yang masih terasa panas.
Setelah Naila masuk ke kamarnya, pak Tommy menatap istrinya dengan tatapan marah.
"Siapa yang kamu maksud Menyusahkan hah... Aku tanya siapa yang menyusahkan Bu.? Aku coba tahan marahku sama kamu, tapi sepertinya kamu makin menjadi-jadi. Kamu menghina menghardik Naila, sadar Bu Naila yatim piatu. Dia tidak punya saudara selain kita, hanya kita dan anak anak saudaranya. Tidak sepatutnya kamu menghina nya, kamu ingat apa yang kamu lakukan dulu sama ibunya. Sekarang kamu lakukan sama anaknya, kamu tidak takut dosa Bu. Kamu jual harta peninggalan orang tuanya, sekarang kamu menghinanya. Kalau aku tidak mengingat anak anak, aku sudah ceraikan kamu sejak dulu Bu. Kalau kamu menginginkan dia pergi , baik aku akan membawa dia pergi keluar dari sini. Biar kamu puas, aku tidak ingin dia terus tersiksa oleh kamu ."
Setelah berbicara seperti itu pak Tommy masuk ke kamarnya. Membanting pintu dengan sangat keras.
__ADS_1
Sedangkan di kamar nya, Naila sedang merenung sambil menatap handphone nya yang rusak.
"Ya Allah jika memang harus begini aku ikhlas, berikan kesabaran padaku. Handphone ku rusak, kira kira uang tabungan ku cukup tidak untuk membeli handphone ku."
Ternyata Melly melihat kakaknya sedang di dalam kamar. Karena pintu kamarnya tidak rapat jadi Melly bisa mendengar apa yang Naila katakan.
"Kasian kak Naila." Lalu Melly pun tersenyum karena mengingat sesuatu. Melly kembali ke kamarnya mengambil sesuatu di dalam lemari nya, lalu kembali ke kamar Naila.
Krieeekk.. Melly membuka pintu kamarnya Naila, lalu tersenyum.
"Kakak". Lalu Melly duduk di samping tempat tidur Naila, sambil menatap Naila.
"Maafkan ibu ya ka, Melly gak tega melihat kakak seperti ini."
"Kamu bicara apa sih Mel, kenapa jadi kamu yang meminta maaf. Kan kamu gak salah sayang, jadi kamu tidak usah bicara seperti itu .?"
"Aku hanya sedih ka, kakak selalu di perlakukan buruk sama ibu. Aku kadang malu sama ibu yang seperti itu ka, apalagi selalu kasar sama kakak.?"
Melly meletakkan paper bag di samping Naila." Ini untuk kakak ya." Naila mengerenyitkan mata nya ke arah Melly.
"Apa ini.?"Naila membuka bingkisan paper bag tersebut, saat di lihat ada kotak handphone di dalamnya." Ini bukan punya kamu dek.?" Melly mengangguk.
" Kenapa kamu bawa kesini.?"
"Untuk ka Nai, biar ka Naila pakai handphone itu.!"
"Gak, kakak gak mau pakai ini. Ini punya kamu, ini hasil kamu karena berhasil menjawab pertanyaan kan.?"
__ADS_1
"Iya memang benar itu punya ku, tapi handphone milik aku masih bagus. Ini kan hadiah juga dari kak Nai, karena handphone ku waktu itu tercebur di bak mandi dan basah." Melly tersenyum ke arah Naila." Karena sekarang aku lagi tidak butuh, dan kakak lah yang butuh. Sekarang kakak pakai ya, siapa tau aja kakak butuh handphonenya ini."
Naila merasa terharu, tentu saja Naila tidak enak menerima nya. "Dek, tapi tetap saja kakak tidak enak memakainya.?"
Melly nampak berpikir lagi, bagaimana caranya agar kakaknya ini menerima pemberian nya. Melly tau kakak nya itu tidak mau menerima barang cuma cuma.
"Eeemmm, begini saja ka. Kakak bisa bayar handphone itu berapa saja, tapi jangan mahal mahal. Kan aku niat nya ngasih, bukan jual ke kakak, bagaimana.? Lagian tuh barang aku tidak membelinya, itu barang hasil dapat menebak jawaban. Anggap aja ketiban rezeki . Heheheh...." Melly terkekeh,dan Naila pun juga sama.
Naila tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah kakak bayar aja ya, memang tidak seharga aslinya. Anggap saja bayar separuh nya ya, bagaimana kamu setuju.?" Melly mengangguk." Yasudah nanti ikut kakak yuk, temani kakak ke depan.?"
"Ok siap ka. Ooh iya ka, itu luka kakak aku obati ya.?" Naila mengangguk.
Melly mengobati luka di wajah Naila dan juga kedua sikut dan lutut Naila. Pak Tommy memperhatikan Melly yang sedang mengobati luka Naila. Pak Tommy tersenyum melihat sikap anak bungsunya yang sayang dengan Naila. Pak Tommy pun kembali ke dapur untuk makan malam, seorang diri.
Setelah mengobati luka kakaknya, mereka berdua hendak bersiap siap untuk pergi. Tiba tiba pak Tommy pun datang dengan membawa sepiring makanan dan juga minuman.
"Loh paman, paman mau makan.?"
"Tidak, makanan ini untuk kamu. Pasti kamu belum makan kan, yuk makan dulu.!" Pak Tommy melihat Naila sudah memegang kunci motor, dan Melly memegangi lengan Naila." Kalian berdua ingin kemana.?"
"Ini paman Naila ingin minta anterin Melly ke depan, Naila ingin ke ATM soalnya."
"Yasudah nanti saja ke ATM nya, sekarang kamu makan dulu ya. Nanti paman yang anterin kamu nak, jangan Melly soalnya sudah malam. Ayah tidak ingin kedua putri ayah kenapa kenapa."
Melly dan Naila saling menatap, di sana Melly tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Iya yah, biar ka Nai sama ayah saja. ?" Pak Tommy pun mengangguk.
"Sekarang kamu makan dulu ya Nai, nanti paman antar kamu." Naila pun mengangguk." Paman ke kamar dulu ambil kunci motor paman, kamu habisin makanan kamu ya nak." Dengan prihatin pak Tommy menatap keponakan nya itu.