
Devi pun langsung meninggalkan Denis yang kini masih menatapnya.
"Beruntung nya aku menikahi kamu. Sudah cantik,pintar, dan lucu.. Ternyata seperti ini setelah menikah, ada yang membuatkan kopi. Dan tentunya yang pasti ada teman tidurnya Hihihi...."
Di kediaman Brian.
Kini Melly, Sarah dan Naila kini sedang duduk di taman, sambil menikmati kue dan secangkir teh hangat. Naila dan Sarah menceritakan masa masa kecil mereka. Dan Melly sebagai pendengar cerita sangat menikmati cerita dua wanita dewasa tersebut.
"Masa si ka Sarah, kalau dulu itu ka Brian galak sama ka Nai.?"
"Iya, Kakak kamu ini dulu yang sering di jahilin sama Ka Brian. Eehh ternyata kakak kamu yang jadi istrinya ka Brian. Terus yang dulunya garang sekarang bucin tingkat dewa lagi. Khikhikhik...." Sarah cekikikan saat tau sifat Brian yang sekarang..
Sedangkan Naila hanya tersenyum mendengar kan nya..
"Sepertinya ada yang lagi ngomongin saya nih.?" Tiba tiba terdengar suara Brian dari arah belakang, mengangetkan Sarah, Melly dan Naila.
"Heheheh.... Ka Brian kita lagi nggak ngomongin kakak ko. Ka Sarah lagi cerita masa kecil kalian, yang sangat asik di ceritakan.." Brian tersenyum lalu duduk di samping Naila." Sekarang kenapa tidak ada tempat yang seperti kalian ceritakan. Di sana sekarang sudah banyak perumahan baru. Udah gak ada tempat untuk berpetualang lagi, seperti kak Naila ceritakan waktu masih kecil."
"Iya sekarang sudah berbeda, banyak perumahan, toko, dan macam macam tempat baru lainnya. Kebun dan tanah kosong, tempat main anak anak sudah jarang. Sudah tidak seperti dulu, sekarang sudah jarang, sudah banyak bangunan baru Melly."
"Iya dulu kalian pasti ngebolang terus pasti nya ya ka.?" Sarah, Naila dan Brian mengangguk..." Aaahh pasti seru deh... Sekarang di sana sudah tidak ada lagi, tempat seperti itu ka.. Dan kadang aku suka sebel ka, kalau lagi ada acara dengan teman-teman, atau lagi kumpul. kadang ada yang Asyik sendiri sama gadget nya. Jadi gak fokus sama acara yang sudah di buat,jadi males gitu ka.?"
__ADS_1
Brian tersenyum mendengar keluhan nya Melly.
"Itu lah perbedaan anak anak dulu dan anak anak zaman sekarang. Anak anak dulu sibuk membuat dunia nya sendiri, dengan permainan yang sudah mereka buat. Nah kalau anak anak sekarang beda, mereka sibuk dengan permainan yang sudah di sediakan oleh aplikasi di dalam gadget. Apalagi gadget sekarang sudah canggih canggih, dan sudah di sediakan banyak aplikasi game yang bagus-bagus. Jadi lebih enak dan simpel membuat dunia mereka sendiri. Coba dulu, yang punya handphone hanya di kalangan orang berada saja. Dan itu pun di pergunakan untuk berkomunikasi saja, dan anak anak dulu pun juga jarang ada yang punya Mel. Mangkanya anak anak dulu lebih suka berpetualang dari pada bermain gadget. Karena memang hidup anak anak dulu itu lebih menarik dan lebih indah dunianya. Beda dengan anak anak sekarang, yang lebih di manjakan oleh gadget dan aplikasi yang keren keren." Naila dan Sarah mengangguk kan kepalanya.
"Kamu jangan khawatir Mell. Sekarang juga banyak tempat tempat untuk adventure ko Mell. Banyak juga tempat tempat yang lebih keren, untuk ngebolang. Kamu juga bisa membuat dunia kamu sendiri jika kamu memang suka berpetualang." Kata Naila,dan Melly mengangguk.
"Bagaimana kalau kita liburan, pasti seru deh. Kita kan sekarang udah kumpul lagi nih, kita bikin acara reunian lagi aja. Yukk Nai, Ka brian. Kita ajak Debby Denis Devi dan Raka. Ow iya kita ajak Boim juga, biar tambah seru...?" Usul Sarah.
"Terus aku gak di ajak nih.?" Tanya Melly dengan wajah melas.
"Ya kalau Naila dan Ka Brian mau. Ya pastinya kamu di ajak dong sayang.." sambil mengacak rambut Melly." Bagaimana Nai, ka Brian kalian setuju gak.? Gak usah yang jauh, yang dekat dekat aja sini. Ayo dong jangan diam aja, kalian berdua.?"
Naila dan Brian hanya diam. Naila tidak berani menjawab pertanyaan Sarah, jika suaminya belum menjawab. Sedangkan Brian sendiri sedang berpikir, Brian mengkhawatirkan istrinya. Apalagi kondisi Naila saat ini sedang berbadan dua, itu yang membuat Brian sedikit khawatir.
Sarah tersenyum melihat sikap Brian yang sekarang lebih perhatian dan begitu amat menyayangi Naila. Begitupun juga Melly yang tersenyum melihat Brian begitu perhatian dengan keadaan kakaknya.
"Tidak apa-apa ka, santai aja. Kakak betul, kita juga harus memikirkan kondisi Naila yang kini sedang mengandung. Next time aja kita buat acaranya kembali. Apalagi kalau baby kalian hadir di tengah-tengah kita,pasti seru deh.. iya kan dek.?" Bertanya ke arah Melly.
"Iya ka, next time aja. ?"
"Maaf ya.?"
__ADS_1
"Santai aja ka".
Saat siang harinya keluarga ayah Haris datang ke rumah Brian. Ya ayah Haris dan Bunda ingin bertemu pak Tommy. Karena pak Tommy dan keluarga, sore hari mereka akan meninggalkan rumah Brian.
Ayah Haris berbincang dengan pak Tommy, sambil mengingat kejadian masa masa waktu kerja dulu.
"Kenapa kamu tidak menginap lagi aja Tom.?"
" Sebenarnya aku juga masih ingin lama lama di sini, karena semenjak Naila tidak di rumah lagi rasanya aku menyibukkan diri sendiri. Untung saja masih ada Melly yang bisa menghilangkan rada bosan ku dirumah."
"Yasudah menginap lagi aja di sini. Kan Melly juga masih libur sekolah kan.?"
"Iya inginnya seperti itu. Tapi aku sudah harus masuk kerja lagi Ris...?" Pak Tommy pun tersenyum.." Aku titip Naila ya, dia keponakan kesayangan ku. Aku merasa bersalah karena istri ku, Naila selalu sedih. Aku merasa bersalah kepada almarhum Dina dan Fahmi, yang menelantarkan putri sematang wayang mereka."
"Jangan seperti itu Tommy, kamu sudah merawat Naila dengan baik. Naila tumbuh menjadi gadis cantik, dan baik. Buktinya Brian anakku sampai jatuh hati kepada Naila. Dina dan Fahmi pun pasti sangat berterimakasih kepada kamu Tom. Bagaimana pun kamu sudah melindungi dan merawat Naila." Ucap ayah Haris, sambil menepuk punggung pak Tommy.
"Iya mas Tommy, walaupun kamu gagal melindungi Dina dulu. Tapi sekarang kamu melindungi Putri nya, Dina pasti sangat senang." Pak Haris mengangguk kan kepalanya. Membenarkan ucapan istrinya itu .
" Iya aku melindunginya lebih dari melindungi diriku sendiri. Sebisa mungkin Naila aku selamat kan dari kejahatan istri ku. Sebenarnya Farida itu cemburu, apalagi Naila anak Dina. Kalian tau lah dan pasti mengingat nya. Sebenarnya aku kasihan juga dengan istri ku itu, apalagi dia sedang berada di dalam jeruji besi. Belum lama ini, aku di kabarkan kalau dia sekarang sakit sakitan di lapas. Dan aku merasa khawatir dengan kesehatan nya dia di sana. Dan saat aku jenguk pun, dia menjadi pendiam dan tubuh nya pun kurus. Dia selalu menangis,saat aku menyebutkan nama Naila. Ada rasa tak tega di benakku, saat melihat kondisi istri ku." Mata pak Tommy mengembun.
Pak Haris dan bunda Rossa merasa prihatin mendengar kondisi Farida di dalam lapas. Pak Haris menepuk punggung pak Tommy agar pak Tommy sabar.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Naila mendengarkan pak Tommy bercerita tentang kondisi bibinya. Ada rasa tak tega dan sedih saat mendengar nya.
bersambung...