Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Denis seperti pahlawan


__ADS_3

"Tidak neng, bapak sudah dari pagi. Yang beli nya aja baru 2 bungkus tadi. Mangkanya bapak seneng bener, dagangan bapak di borong Eneng." Naila tersenyum." Ow iya neng ini mau di taro di mana kue nya..?"


"Ow sebentar ya pak, biar nanti di dalam mobil saja. Tunggu suami saya dulu." Bapak penjual kue pun mengangguk.


Tidak lama nya Brian datang dengan membawa 3 botol minuman.


"Ini pak, saya beli minuman untuk bapak."


"Tidak usah nak, nanti beli bapak beli minum sendiri."


"Tidak apa-apa pak sekalian, ayo pak rezeki gak boleh ditolak." Dengan senyuman Brian menyodorkan minumannya ke arah bapak penjual kue semprong.


"Terimakasih banyak nak. Bapak ambil ya minuman nya." Brian mengangguk.


Bapak itu mengambil minuman nya dari tangan Brian.Lalu meminum air dari minuman yang di berikan oleh Brian.


"Mas kue nya mau di letakan di mana.?"


"Aaah iya, biar mas masukan nanti sayang." Naila mengangguk." Pak berapa harga semua nya pak.?"


"Harganya 15 ribu di kali 20 bungkus nak.."


"300 ribu ya pak berarti.?" Bapak itu pun mengangguk.Lalu Brian memberikan 4 lembar uang merah ke bapak penjual kue tersebut.


Saat bapak melihat uang nya lebih dari harga di bayar, bapak itu mengembalikan selembar uang berwarna merah ke Brian.


"Maaf nak, ini kelebihan uang nya. Kan hanya 300 ribu, kenapa ini ini 400 ribu.?"


Brian dan Naila tersenyum menatap bapak itu." Gak apa-apa pak, itu untuk bapak. Saya beruntung ketemu bapak di sini, kalau tidak saya harus muter-muter jauh lagi untuk mencari kue ini. Karen untuk istri saya yang sedang ngidam, ingin makan kue semprong. Dan karena kebetulan saya bertemu nya bapak, jadi ini rezeki bapak. Di ambil aja ya pak, ini rezeki jangan di tolak."


"Ya Allah nak, Alhamdulillah. Terimakasih banyak ya nak, dan kalian juga sudah memborong dagangan bapak."


"Iya pak sama sama."


"Semoga kehamilan istrinya sehat, dan janinnya juga sehat ya nak. Dan sampai waktu lahirnya pun ke duanya selamat dan sehat."


"Aaamiin...." Brian dan Naila mengangkat tangan dan mengusap wajah mereka.


"Terimakasih, sudah di doakan. Kalau begitu saya dan istri saya harus pamit." Bapak itu mengangguk.


Sebelumnya Brian memasukkan bungkusan yang berisikan 10 bungkus plastik, yang berisikan kue semprong ke dalam bagasi mobil. Dan pasti nya 2 bungkus di pegang oleh Naila.

__ADS_1


Kini mereka berdua berada di dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan menuju kediaman rumah bunda Rossa.


Kriuk.. kriuk...kriukk.... Begitu asyik Naila memakan kue semprong. Ya kue berbahan dasar dari tepung beras, dan santan itu, membuat Naila sangat menikmati makanan itu.


Brian sesekali melirik Naila dengan senyumannya. Ya Brian tidak sia sia menuruti permintaan Naila, karena makanan yang di cari benar benar di makan. Yang biasanya kalau wanita hamil, menginginkan sesuatu makanan. Dan setelah di beli hanya di makan sedikit,tapi tidak dengan Naila. Naila memakannya, bahkan begitu menikmati kue semprong itu.


"Mas, kamu mau gak.?"


"Memang boleh aku minta, seperti kamu lupa menawarkan aku sejak tadi.?" Sambil tersenyum.


"Hihihi.... Iya aku lupa, habis kue nya enak mas. Ow iya kata bapak penjualannya ini kue baru di ambil, dan ada macam macam rasa juga. Ada wijen, dan ada coklat pula.. Tapi aku makan yang ini saja, nanti yang lainnya kalau sampai rumah bunda." Brian mengangguk.


Naila mengarahkan bungkusan kue nya ke arah Brian,dan Brian pun mengambil nya dan ikut mencicipi kue nya.


"Bagaimana mas, enak kan kue nya.?"


"Iya enak sayang. Untung kita beli banyak ya."


"Iya kamu beli banyak banget mas. Memang keluarga kamu suka juga ya.?"


"Suka lah sayang, bahkan kata bunda. Saat bunda sedang mengandung aku, bunda selalu menginginkan makan kue ini loh. Eeh sekarang istri ku yang ingin makan ini, benar benar ya titisan Brian gak jauh beda. " Brian terkekeh, Naila pun ikut tertawa.


"Ow ya,ada si mas.?" Brian mengangguk dan tersenyum. Pandangan nya masih fokus menyetir. " Benar benar ya, anak kamu ini gak jauh beda seperti kamu. Semoga aja anak ini gak galak kaya kamu mas.?"


"Idih ga sadar ya, kamu itu galak banget waktu dulu. Dan bukan hanya itu, kamu itu jahil, dan sering bikin aku nangis. Ingat gak kamu, bahkan setiap aku nangis karena kamu galak, selalu ada Denis yang selalu menghibur aku."Raut wajah Brian sedikit berubah masam." Eh justru sekarang malah kamu yang jadi suami aku."


"Jangan di bahas lagi Nai, apalagi tentang adikku yang selalu melindungi kamu saat dulu.."


Entah kenapa ada rasa panas di hati Brian saat Naila selalu memuji kebaikan adik nya. Sepertinya Naila menganggap Denis itu seperti pahlawan nya saja. Ya saat ini Brian merasa cemburu saat mendengar Denis.


Flashback


Di saat Naila sedang belajar naik sepeda oleh Denis di halaman rumah meraka. Dan di saat Naila berhasil mengayuh sepedanya dengan baik, tiba tiba sepeda Naila menginjak batu batu kerikil. Dan alhasil, sepeda yang Naila naikkan goyang dan tidak seimbang.


Aaaaahhh.... Denis ini bagaimana, aku tidak bisa, sepedanya oleng.. aaaaa Brrruuuuugghhh....


Naila terjatuh di halaman rumah bunda Rossa. Naila menangis, membuat Brian dari dalam pun datang.


"Ada apa ini.?Astaga tanaman ku,buat di bawa besok ke sekolah." Wajah Brian menunjukkan wajah kesal dan marah saat tanamannya rusak, dan pot nya pun juga pecah. "Kalian apa apaan si, liat nih pohon kakak buat di bawa besok jadi hancur. kalian tau gak susah payah aku tanam pohon bunga Bougainvillea ini, untuk di bawa ke sekolah. Sekarang hancur karena kamu , lihat Nai."


"Maaf ka, jangan salahkan Naila. Aku yang salah, Naila lagi belajar sepeda Ka". Timpal Denis yang membela Naila di marahi Brian.

__ADS_1


"Maafkan aku kak Brian. Aku tidak sengaja, dan membuat tanaman kakak jadi rusak. Hiks hiks..." Ucap Naila sambil menangis.


"Bisa nya hanya menangis, sudah tau gak bisa naik sepeda pake di naikin sepeda nya." Bentak Brian. " Sudah sana awas, tanaman aku makin rusak gara gara kamu. Dasar anak manja, bisa nya hanya nangis."


"Huuuuaaaaa.... Ibu ayah... Kakak jahat, kak Brian galak. Aku sudah minta maaf malah di marahin." Rengek Naila.


"Kak, Naila sudah minta maaf. Kenapa kakak masih marah si, kan Naila juga gak sengaja..." Denis membela Naila.


"Bela saja anak manja gitu, bisa nya hanya ngadu. Dasar anak manja, iiisshh ...." Brian merasa geram.


Dari dalam bunda Rossa datang dengan tergesa-gesa, mendengar Naila menangis, Brian dan Denis beradu mulut.


"Hei ada apa si, bunda dengar dari dapur rame banget. Astaga Naila sayang kamu kenapa nak, ko bisa jatuh.? Kamu juga Denis Brian kenapa kalian bertengkar.?"


Brian menceritakan Naila terjatuh, dan mengenai tanamannya yang akan di bawa besok. Denis pun juga menceritakan dan membela Naila. Bunda Rossa merasa kepalanya berdenyut mendengar Denis dan Brian mengadu, dan merasa tak tega dengan Naila yang terisak tangis.


"Brian sayang,Naila kan tidak sengaja, dan sudah meminta maaf juga. Maafkan lah Naila, kasian Naila kan dia sudah minta maaf. Masalah tanaman untuk sekolah, besok bunda Carikan lagi tanamannya. Di bawa lusa kan, nanti bunda tanamkan lagi ya untuk kamu sayang." Brian mengangguk, tapi wajah nya masih terlihat kesal.


"Denis lain kali kalau mau ngajarin Naila naik sepeda,di lapangan atau di kebun dekat rumah Naila. Kan kasian kakak kamu sudah menanam tanamannya jadi rusak."


"Iya bunda maaf, maafkan aku ka." Ucap Denis, dan Brian mengangguk tanpa ekspresi.


"Denis gak salah bunda, aku yang salah. Maaf ka Brian, nanti Naila ganti tanaman kakak yang rusak dengan punya Naila yang baru. Tapi ada di rumah tanaman Naila,.maaf kan Naila ya ka.?" Tanpa menjawab Brian langsung masuk ke dalam.


Dan Naila pun nampak murung, karena Brian tidak memaafkan dirinya. Denis pun tersenyum dan berjengkok di depan Naila.


"Sudah jangan di pikirkan sikap kakak, nanti juga dia baik lagi ko. Sekarang aku antar kamu pulang ya, nanti aku obati luka di kaki kamu. Sekarang ayo aku gendong di belakang, kamu pegangan ya. Aku antar kamu pulang, nanti aku obati luka nya. Dan aku beliin es krim deh biar kamu gak nangis lagi.?"


"Beneran Denis." Denis mengangguk, lalu Naila pun naik di punggung Denis,dengan wajah tersenyum.


"Bunda, aku antar Naila dulu ya.?"


"Iya nak, kamu antar Naila ya. Hati hati jangan sampai jatuh kalian berdua.?"


"Iya bunda." Akhirnya Naila di antar Denis pulang, dengan Naila di gendong di punggung Denis.


Bunda yang melihat sikap Denis yang begitu manis kepada Naila, hanya tersenyum. Bunda sendiri bingung dengan sikap Brian yang selalu emosi jika dekat dengan Naila.


Dan tanpa di sadari mereka, Brian diam diam juga memperhatikan Denis menggendong Naila di punggung belakang.


Flashback of.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2